Minggu, 21 Agustus 2016

Rakyat

Saat ini, bagi generasi muda, kata rakyat akan terdengar begitu rumit. Iya sering terdengar, namun terasa ada jarak, hingga rakyat menjadi demikian abstrak. Rakyat ada di sekeliling kita, di depan rumah kita, di dekat kampus, di kampung halaman kita, namun kita tidak mengerti apa sebenarnya persoalan dari rakyat ini, yang tentunya merupakan persoalan kita juga, yang termasuk rakyat Indonesia.

Rakyat menjadi hiasan bibir kita, yang terdengar prihatin, moral kita teriris ketika melihat warga desa disiksa oleh aparat, dibunuhi preman, atau mendengar jutaan warga terendam rumahnya oleh lumpur, namun hanya sebatas itu saja. Kita terenyuh, tapi tak tahu apa yang harus diperbuat. Karena tidak ada jalan keluar terhadap keprihatinan itu, kita sengaja melupakan, kembali ke kebiasaan lama. Kita mengerjakan kesibukan kita masing-masing, menjadi pekerja yang baik, agar posisi kita di tempat kerja tidak bergeser atau agar kita memperoleh kenaikan gaji.

Lantas, apa yang menyebabkan kita merasa tak mampu untuk berbuat sesuatu, kecuali menggerutu. Lantas, ketika kita memperoleh kekuasaan, juga akan bersikap sewenang-wenang terhadap bawahan kita? Tampaknya, kita tak tahu karena memang tidak tahu, atau tidak perlu tahu.

Kita, generasi 2000-an, mulai lupa dengan apa yang telah dilakukan oleh pendahulu-pendahulu generasi muda, yang sejak abad etis selalu diwakili oleh mahasiswa. Kelompok minoritas terdidik yang mengambil beban sebagai pemimpin rakyat, yang bertekad mengangkat derajat rakyat yang sepanjang zaman selalu tertindas oleh kekuatan kolonial, kekuatan feodal.

Mahasiswa sejak saat itu mendekati rakyat dengan strategi pendidikan, kursus, tulisan pamflet, media massa, dan pidato-pidato massa. Turun ke desa-desa, mengajak warga desa untuk berfikir kritis terhadap kondisi sosial ekonomi mereka, melatih pemuda-pemuda desa, tentang ilmu-ilmu humaniora, ilmu ekonomi, hingga ilmu eksakta. Model pendidikan rakyat seperti itu membuat rakyat merasa terlibat dalam pengelolaan negara. Suara-suara mereka didengar, dan mereka turut berjuang melalui sertikat petani, serikat nelayan, dan serikat warga miskin kota. Mereka pun mengerti tentang arti demokrasi, arti revolusi, mengerti tentang cita-cita keadilan sosial. Mereka menuntut pemerataan ekonomi, menuntut pembagian tanah, dan hingga turut berperan dalam mendukung kekuatan dunia baru, yaitu dunia non blok. Namun, model perjuangan yang menyatu dengan rakyat tersebut berhenti pas di puncak-puncaknya. ketika politik dan kebudayaan rakyat mulai menggelinjat, ketika forum rakyat berada di awan-awan pikiran, ketika tuntutan revolusi sosial kian membuncah.

Pendekatan langsung ke rakyat akhirnya dibungkam dengan kejam oleh satu versi kekuatan baru yang menganggap Teknik-teknik mobilisasi massa yang sarat dengan politik, atau demam politik dapat memancing konflik internal, dan membuat negara kita tak mampu fokus pada peningkatan ekonomi. Mahasiswa yang bergerak di desa-desa, bersama guru-guru desa, pejuang-pejuang serikat, diangkut dengan paksa, diintrogasi, dan akhirnya lenyap bersama ide-ide nation-nya.

Lalu, faksi moral yang lain, yang juga terdiri sebagian kecil mahasiswa, memanfaatkan metode lama, yaitu mobilisasi massa, khususnya mobilisasi massa mahasiswa itu sendiri, untuk pamer kekuatan di jalan-jalan, dengan tujuan merangsek orde lama lengser keprabon. Mereka diberi kesempatan oleh kekuatan baru, sebab harus ada satu kelompok sosial di masyarakat, yang mengambil peran atau representasi masyarakat sipil. Sedangkan, masyarakat sipil yang lain, yaitu kaum petani, nelayan, buruh, tidak boleh lagi bersentuhan dengan politik.

Untuk itu, mekanisme "massa mengambang" dikembangkan. Massa menjadi lebih fasif, massa diarahkan murni untuk proses pembangunan semata. Jika dia seorang petani, dia harus menjadi petani yang rajin, jika dia seorang petambak, dia hanya berurusan dengan budidaya ikan yang baik. Tidak ada lagi urusan, petambak yang memprotes karena adanya pabrik yang mencemari perairan sehingga pembudidaya mengalami kegagalan panen.

Untuk itu, pemerintah membentuk sistem yang ketat untuk pengontrolan rakyat, hingga ke desa-desa. Demam politik sebelumnya, diganti dengan demam kerja, yang dalam hal ini sesuai dengan visi golongan karya, yang mengharapkan warga negara menjalankan fungsi kemasyarakannya sesuai dengan profesinya masing-masing.

Maka, sejak saat itu, pikiran Ali Moertopo tentang massa mengambang betul-betul terwujudkan. Kerja-kerja partai politik yang asyik masyuk dengan rakyat pada periode sebelumnya, digantikan dengan kerja-kerja pemberdayaan yang dilakukan oleh pemerintah, melalui pranata-pranatanya, seperti badan-badan departemen, pemerintah desa, dan badan penyuluh. Rakyat akhirnya menjadi objek yang disuluh, diterangi oleh pihak yang berwenang.

Dimana posisi mahasiswa saat itu? Mahasiswa masih menjadi perwakilan sipil, yang bisa melakukan protes kepada pemerintah. Makanya, mereka beberapa kali melakukan demonstrasi besar-besaran kepada pemerintah, karena protes terhadap arah gerak pembangunan yang berlandaskan pada modal asing, pemborosan dana negara untuk pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), penggunaan dana negara yang tidak tepat pasca meledaknya bom minyak tahun 70-an. Namun, gerak mahasiswa ini murni gerakan moral, dan tidak bermaksud untuk melakukan perubahan sosial politik yang radikal. Mahasiswa masih terpisah dari massa rakyat yang di luar enklave mahasiswa.

Posisi sipil mahasiswa yang bersifat khusus ini pun mulai dianggap membahayakan pemerintah. Dan karena saking meresahkannya, yang diakibatkan suasana demokratis di kampus-kampus. Pemerintah akhirnya juga menerapkan konsep massa mengambang di universitas. Berlakulah konsep Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) di universitas. Mahasiswa kembali ke kelas, mahasiswa kembali belajar. Dema (Dewan Mahasiswa) dihapuskan, mahasiswa betul-betul dinetralkan dengan aktivitas politik. Dan posisinya sebagai penjaga moral menjadi bablas, dan hanya menjadi penjaga ilmu saja.

Tapi, itu tidak berlangsung lama. Beberapa tahun kemudian, pasca aktivis kiri lepas dari kekangan Pulau Buru, beberapa orang diantaranya yang tergabung dalam Hasta Mitra, menerbitkan novel tetralogi pulau Buru Pramodya Ananta Toer. Novel ini segera menginspirasi para mahasiswa dan aktivis gerakan bawah tanah. Bumi Manusia hingga Rumah Kaca menjadi model pergerakan untuk memulai kembali penemuan terhadap metode organisasi massa, yang dilakoni oleh seorang pelajar individual bernama Minke-Tirto Adi Soeryo , yang tersiksa melihat penderitaan rakyat, dan menginisiasi terbentuknya Sarekat Priyayi, perkumpulan bagi kaum terperintah serta medan Priyayi, media massa yang mengakomodir kepentingan kaum priyayi atau pegawai pemerintah. Novel itu dibahas oleh kelompok-kelompok study club mahasiswa, dan dari situ, lahirlah satu generasi kritis yang mulai melakukan kembali pengorganisasian di masyarakat.

Sejak saat itu, mahasiswa memulai pendekatan yang terasa baru, tapi sebenarnya merupakan teknik lama, salah satunya yaitu inlive di desa-desa. Apalagi saat itu, terdapat permasalahan rakyat yang membutuhkan dukungan moral dan strategi dari mahasiswa aktivis bagi korban pembangunan bendungan Kedung Ombo di Jawa Tengah. Saat itu pula, bermunculan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang melakukan pendataan mengenai kondisi rakyat, sehingga diperoleh banyak informasi mengenai penderitaan rakyat di berbagai daerah di Indonesia. Pers-pers nasional juga banyak mengangkat persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat, sehingga persoalan sosial ekonomi rakyat mulai menjadi wacana publik yang kerap didiskusikan secara intens. Akumulasi faktor-faktor sosial seperti itu, membuat para aktivis mulai bersentuhan langsung dengan warga, dan tampaknya mulai menimbulkan perlawanan sistematis terhadap pemerintah.

Gerakan tahun 80-an, yang banyak dimotori oleh aktivis mahasiswa itu berlanjut ke gerakan tahun 90-an. Tahun 1990-an lebih tajam lagi, karena lembaga-lembaga yang punya tujuan yang sama dan bergerak di tempat yang berbeda, mulai bersatu dalam bentuk partai, dalam hal ini Partai Rakyat Demokratik (PRD). Gerakan PRD dan beberapa organ pendamping para buruh pabrik, betul betul massif, dan mulai mengorganisir buruh-buruh pabrik di Jakarta dan sekitarnya untuk melakukan demonstrasi tuntutan kenaikan upah, cuti hamil, dan jam kerja, dan lain-lain. Beberapa aktivis keluar masuk penjara, diantaranya Dita Indah Sari, yang dalam setiap aksinya selalu berurusan dengan aparat keamanan.

Hingga akhirnya, pada pertengahan 90-an akhir, gerakan semakin meluas, dan massa rakyat yang kecewa pada pemerintah orde baru mulai keluar di jalan-jalan Jakarta saat pesta demokrasi pemilihan umum 1997. Mereka menunjukkan identitas “Mega-Bintang” sebagai simbol protes terhadap dominasi Golkar, meski pada dasarnya mereka tidak punya keterikatan secara ideologi dengan PDI maupun PPP. Apalagi saat pemerintah mengumumkan kemenangan Golkar 70 persen, yang ditengarai penuh dengan kecurangan, memancing para aktivis mahasiswa mengorganisir demonstrasi di berbagai daerah di Indonesia. Memuncak pada tahun 1998, yang memperoleh momentum saat indonesia juga mengalami krisis ekonomi, yang tertular dari krisis ekonomi yang menimpa Thailand beberapa bulan sebelumnya.

Pasca reformasi, mahasiswa kembali ke kampus, meski sebagian mahasiswa masih bersentuhan dengan rakyat. Tapi, kondisi realitas sosial politik setelah reformasi cukup berbeda, sebab mahasiswa bukan lagi satu-satunya perwakilan sipil yang punya hak keistimewaan, seperti hak untuk bersuara dan berserikat. Suasana demokratis membuat orang ramai-ramai berkumpul dalam partai, meski tidak semua partai yang eksis, justru PRD yang konsisten membela rakyat kecil tidak bisa eksis sebagai partai. Namun, pada kenyataan, partai-partai yang terbentuk, masih terpengaruh oleh sistem “massa mengambang” yang dikembangkan selama 32 tahun oleh pemerintah orde baru. Dimana partai masih bersifat transaksional, tidak berjalannya pendidikan politik di tingkat rakyat, dan begitu kencangnya politik uang.

Di tahun 2000-an, di kampus sendiri, mahasiswa semakin disibukkan dengan urusan akademik, dengan bertambahnya tugas-tugas kuliah. Di Makassar, mulai diterapkan jam malam, mahasiswa yang biasa berdiskusi pada malam hari akhirnya dibatasi ruang geraknya untuk membicarakan persoalan rakyat. Mahasiswa diarahkan untuk aktif di UKM-UKM, seperti UKM catur, renang, sepak bola, dan lain-lain. Dosen pun mulai mengkritik mahasiswa yang aktif demonstrasi, karena dinilai tidak punya masa depan dan juga paling lambat sarjana. Sehingga, akibat dari demoralisasi aktivis kampus, menyebabkan menurunnya minat mahasiswa pada organ-organ kepemimpinan mahasiswa di kampus, serta organ – organ ekstra yang berbasis ideologi pergerakan. Dan akhirnya, ketika mahasiswa merancang aksi-aksi, dengan gampang pimpinan-pimpinan mereka dibungkam dengan makan malam bareng Presiden, ataupun dengan bagi-bagi nasi bungkus di tengah terik hari.

Akibat dari itu semua, mahasiswa mulai menjauh dari rakyat. Rakyat pun kembali menjadi massa mengambang, disodori program – program pemerintah yang lebih bersifat produktif. Mahasiswa jauh dari rakyat, menjadi lebih individualis, dan kembali menjadi intelektual pekerja, Kerja-kerja-kerja.

Dan, ketika mahasiswa melihat penderitaan rakyat, mahasiswa hanya bisa mengeluh, menggerutu.

Tamalanrea, 21 Agustus 2016
Terinspirasi dari Buku Unfinished Nation - Max Lane

Read more...

Kognisi

Terbit di Website Khittah

Menarik sekali tulisan Kanda Asra Tillah mengenai "Kognisi dan Nafas Kehidupan", menunjukkan teori yang tentu berangkat dari pendekatan ilmiah, bahwa organisme lain juga punya mekanisme untuk menalar dan mengorganisir informasi atau kognisi menjadi sesuatu yang inheren dalam kehidupan, sesuai dengan stratanya masing-masing.
Pertanyaan paling mungkin untuk menerima logika ini, bahwa ketika materi dengan sistem kompleksnya mampu menghasilkan sesuatu yang baru atau autopoesis, apakah setelah materi itu terpisah-pisah, destruksi, pada akhirnya menyebabkan hilangnya sifat baru tersebut. Berarti jiwa yang bersifat inheren dalam materi dengan sendirinya hilang begitu saja.
Sebab, jiwa ataupun kognisi hanya dapat bertahan jika ada syarat-syarat material, yang dalam hal ini faktor-faktor biologi, fisika dan kimia sebagai struktur atau basis tempatnya bermukim kesadaran. Begitu halnya kebudayaan, yang disokong oleh individu-individu yang berinteraksi dalam komunitas, yang beraktivitas dengan sadar, yang pada akhirnya memiliki pandangan-pandangan berdasarkan suasana hidupnya, berdasarkan metode atau cara individu bertahan hidup. Seperti nelayan yang memiliki sifat boros, lantaran mereka dapat memperoleh ikan setiap kali melaut. Seperti petani, yang lebih terencana dalam hal keuangan karena harus betul-betul bersabar dalam menumbuhkan padi sebagai sarana hidupnya.
Ataukah ruh itu, yang kata literatur mulai ditiupkan ketika calon bayi sudah berusia 4 bulan dalam kandungan dapat terpisah secara konsekuen dari tubuh setelah tubuh tidak terkoordinasi lagi. Ruh membentuk entitas baru, dimana ruh juga mengalami perkembangan secara bertahap sesuai dengan usia dan konsumsi ruhaniahnya, yang juga dipengaruhi oleh tindak tanduk ruh itu dalam kehidupan material. Ruh dapat keluar dari tubuh lantaran sudah memiliki dasar-dasar materialnya sendiri, yang sangat halus. Yang berarti ide itu dapat terpisah dari materi, sesuai dengan pendapat Hegel ataupun Plato, namun bertentangan dengan pendapat Aristoteles maupun Marx.
Di sinilah letak kesulitannya, kognisi pascastruktur apakah mungkin? saat kognisi kita yang saat ini bermukim dalam tubuh dan belum pernah melakukan eksperimen pemisahan ruh-kognisi terhadap tubuh. Jika mungkin, bagaimana kah struktur penyokong ruh tersebut? apakah ruangnya tak lagi membutuhkan materi, seperti materi yang dapat kita lihat dan kita rasakan sejauh ini. Sementara ruang dan waktu adalah syarat mutlak hadirnya sebuah kesadaran ataupun intuisi itu sendiri.
Saya pikir, kita butuh menelusuri peristiwa pascastuktur yang kita kenal tersebut. Yang tidak dapat kita buktikan secara empirik, tapi barangkali dapat kita prediksi secara logika, mungkin logika klasik. Dimana ide atau esensi yang utama, ide membentuk dunia, ide mencipta realitas, ide selalu ada dan mengalir dalam dunia. Ide berdialektika dan mewujud, ide yang abadi, menghancurkan dan membentuk dunia baru dimana ide bercokol di dalamnya.
Namun, apakah Maturana dan Varela sepakat dengan model logika seperti itu? Kalau ya, berarti kodok, ular, nyamuk, dan hewan-hewan lain pun mungkin dapat meloncat dari materialitas fisiknya. Jika kira-kira begitu, ruang dan waktu masa pascastruktur itu akan dipenuhi oleh ruh-ruh binatang yang begitu banyak jumlahnya. 

Read more...

Kamis, 28 Juli 2016

Kepemimpinan

Menindaklanjuti artikel Kanda Asra Tillah tentang kepemimpinan. Saya kepincut untuk menyumbang sedikit unek-unek, yang dipungut dari lembaran-lembaran kuna. Yang saya cicip sikit-sikit, dari waktu saya sempit, dan kesehatan saya yang selalu berada di horizon.
Ya, tak dapat disandingi para pemimpin praproklamasi itu, jumlahnya banyak, semangat membara, dan cerdas bukan kepalang. Apa lantas yang membentuk suluh, dalam kondisi bangsa yang carut marut itu?
Kebijakan politik etis, dengan hadirnya sekolah, baik untuk jajaran pegawai elit, maupun untuk khusus pribumi. Politik ini hasil diskursus parlemen Belanda, yang akhirnya memberi peluang kepada penduduk asli untuk mengecap pendidikan, sebagai balas jasa atas penjajahan yang telah lama berlangsung.
Melalui politik etis ini, generasi pribumi yang sebelumnya telah mapan, yaitu bangsawan feodal, birokrat yang bekerja untuk memperlancar urusan pemerintah jajahan, maupun para saudagar, yang memetik hasil dari kebebasan berusaha, khususnya usaha perkebunan, menyekolahkan anak-anak mereka di ELS, HBS, dan MULO.
Anak-anak ini dengan cepat beradaptasi, turut berbahasa Belanda, membaca karya-karya sastra kolonial yang dapat mengasah nurani mereka, melibatkan jiwanya dalam ilmu-ilmu alam yang dapat mengasah rasionalitas mereka. Akibat dari itu, setara sekolah menengah, sudah menceburkan diri dalam pendidikan rakyat. Seperti yang dilakoni oleh Sutan Sjahrir di Bandung, siswa AMS bergabung dalam Pemoeda Indonesia (Jong Indonesie), yang dimana Pemoeda Indonesia ini menyiarkan pendapat-pendapatnya dalam terbitan Jong Indonesie, Kabar Kita (Cabang Surabaya) dan Soera Kita (Cabang Yogyakarta). Tidak hanya itu, mereka mendirikan Tjahja Volksuniversiteit (Universitas Rakyat), dalam universitas ini, para pemuda itu mengajar rakyat membaca dan menulis, serta memberi pengajaran bahasa - bahasa asing, ekonomi, fisika, dan lain-lain. Para siswa pun tidak ada yang dikenakan biaya.
Pemoeda-Pemoeda ini juga menghanyutkan dirinya ke dalam dunia politik. Pertama-tama mereka menangkis paradigma kolonial, bahwa Indonesia tidak bisa disatukan. Tentu, dengan didampingi oleh para pejuang-pejuang yang lebih tua, mereka pun menyelenggarakan pertemuan pemoeda-pemoeda se nusantara, yang dikenal dengan Soempah Pemoeda, Ada bahasa yang satu, bangsa yang satu, tanah toempah darah yang satu, yang juga dengan diiringi musik klasik, keronjcong, sambil dansa-dansi.
Sebagian dari mereka lanjut ke dalam universitas, dalam negeri dan luar negeri. Dalam berjuang, mereka tak lupa menikmati kehidupan avan garde di lingkungan beraroma Bauhaus Bandung, anggaplah Sjahrir, meluangkan waktu banyak untuk nonton di bioskop bersama teman-teman Pemoeda sebelum berangkat ke Belanda untuk rencana Sekolah di sana. Ekstase dalam pentas-pentas teater, melakonkan kisah pemoeda-pemoeda yang tak menyerah di tengah tekanan orang toea maupun pemerintah Colonial. Sementara Soekarno, saat itu telah selesai di Perguruan Teknik Bandung, yang karena membaca banyak buku asing, dan begitu terpengaruh oleh sosialisme dan komunisme, serta Islam, membentuk Perserikatan Nasionalis Indonesia. PNI ini kemudian memiliki pengikut hingga ribuan, begitu merindukan suara Soekarno, yang dengan lantang menyerukan perlawanan, yang dengan garang menyambung lidah rakyatnya.

Di Belanda, pemoeda-pemoeda digodok oleh suasana demokratis, dengan begitu banyak perkumpulan-perkumpulan berideologi sosialis komunis. Rasa Indonesia semakin menebal seiring jauhnya jarak mereka dari tanah airnya. Membuatnya untuk terus menghantam kolonial di jantungnya sendiri. Mereka membentuk Perhimpoenan Indonesia, tempat Bung Hatta bagai artis, juru bicara, juru tulis, dielukan, diharapkan, tempat teman-temannya berjangkar untuk memperjuangkan Indonesia Merdeka.
Hatta, begitu halnya Sjahrir, ikut dalam konferensi-konferensi, pertemuan-pertemuan yang bertemakan kemerdekaan bangsa-bangsa, dan hak setiap bangsa untuk mengatur dirinya sendiri-sendiri. Sjahrir melangkah lebih jauh, ia hidup bersama kelompok anarkis, dimana mereka membatasi segala hal yang diperuntukkan untuk kepentingan pribadi, segala halnya dibagi, hingga alat kontrasepsi, kecuali sikat gigi. Ia bersahabat teman-teman dari perkumpulan mahasiswa sosialis, yang lalu mendorongnya untuk berkuliah juga di Leiden, yaitu mengambil studi Hukum Adat, mengikuti jejak tetua-tetuanya.
Apalacur, Pemerintah Kolonial di Hindia Belanda kian protektif dan alergi, dihukumlah Soekarno, maka kosonglah kepemimpinan nasional. Meski di balik jeruji, doa-doa rakjat, khususnya rakjat Jawa menggelumbung, dan dengan sabar menanti pahlawannya bak menunggu Ratu Adil.
Berarti, ada yang kosong, ada yang punya kompetensi, ada yang masih setengah-setengah? Pemoeda-Pemoeda menyadari hal itu. Dengan ragu-ragu, mereka membentuk kembali Partindo, yang anggotanya berasal dari PNI-nya Soekarno yang sebelumnya telah dibubarkan, dengan kepemimpinan Sartono, gerak perjuangan tentu berbeda jika di tangan Soekarno.
Melihat hal tersebut, adalah tugas Bung Hatta, yang sudah sembilan tahun di Belanda untuk kembali ke Hindia Belanda, mengisi kekosongan kepemimpinan. Namun, Hatta harus menyelesaikan terlebih dahulu sekolahnya yang tinggal beberapa bulan. Sjahrir mengambil inisiatif, yang menunda dulu melanjutkan sekolah untuk kembali ke tanah air. Sjahrir mengumpulkan kembali teman-teman lamanya di Pemoeda Indonesia, untuk membentuk organisasi kepemimpinan yang baru, yaitu PNI-Pendidikan. Berbeda dengan PNI-nya Soekarno, yang lebih agitatif, PNI-Pendidikan menggunakan tenaganya untuk mendidik, mengkader, menyebar ilmu sebagai persiapan Indonesia Merdeka. Kepemimpinan patah, kemudian disambung lagi, kepemimpinan terpusat kemudian tersebar lagi. Terjadi perbedaan paham diantaranya, meski demikian, tidak menghalangi mereka untuk tetap fokus memperjuangkan kebebasan.
PNI Pendidikan dan Partindo terus menerus menebar tjahaja, lewat pertemuan-pertemuan, orasi, melalui terbitan, surat kabar, siaran-siaran radio. Jang tak henti-henti mengibas-ngibas semangat untuk bersatu, tak lelah, pantang untuk menyerah pada kolonialis dan imperealis. Mereka-mereka juga memposisikan diri sebagai pendidik, menyelenggarakan kursus-kursus politik, menambah wawasan kader dengan pengetahuan sosiologi, sejarah, ekonomi dan bahasa-bahasa pengetahuan, Bahasa Belanda. Mendidik sekaligus memetakan jalan menuju kemerdekaan.
Hingga akhirnya, tokoh-tokoh ini dibuang, diantar kepengasingan. Soekarno termenung di bawah pohon sukun di Ende-Flores, Hatta dan Sjahrir mengapung-apung dalam perjalanan ke Digoel. Sementara seorang pemimpin lagi, bersembunyi, menyamar dan berpindah-pindah negara, antara Hongkong, Filipina, Singapura, hingga Tiongkok, yaitu Tan Malaka.
**
Apa soal yang dibicarakan di sini, yaitu tentang kepemimpinan. Betul kata Kanda Asra Tillah, pasca Demokrasi Terpimpin dan Orde Baru, yang dicetak banyak adalah para teknokrat, yang tahu tentang bidang keahliannya. Tapi, kemana Indonesia ini dibawa? bagaimana memakmurkan rakyat? Bagaimana kita bisa berdaulat? Ini pertanyaan-pertanyaan untuk para pemimpin.
Menjawab itu, apakah perlu kita menggali lebih dalam lagi, pemikiran-pemikiran Bapak-Bapak Bangsa? Seperti mereka menggali pengetahuan dari pemikiran tokoh-tokoh sebelum mereka, baik tokoh nasional maupun pemikir-pemikir barat. Untuk menjawab konteks masa kini. Seperti pepatah Prancis, Petite Historie, Sejarah Selalu Berulang.

Read more...

Senin, 25 Juli 2016

Coretan 25 Juli 2014

Sejauh ini kita disuguhi gambar-gambar mengerikan korban kekejaman tentara Israel. Gambar bayi yang hangus, gambar anak kecil yang kepalanya pecah dan terhambur. Mengerikan memang dan telah memantik emosi serta simpati. Tapi kita tak berhenti di titik itu. Baiknya digali lebih dalam lagi, kira-kira apa kepentingan dari penyerangan tersebut? alasan-alasan formalnya seperti apa? landasan moral dan etikanya bagaimana? apakah ada pengaruh dari interpretasi kitab-kitab kuno yang keliru, tentang kelompok lain (goyim)? ataukah ini sepenuhnya tindakan negara totaliter yang ingin memperluas wilayahnya dan mengusir kelompok manusia lain dengan cara apa pun. Negara yang mungkin saja telah mengembangkan nasionalisme tertentu dan kemudian membius warganya untuk turut serta dalam tindakan peperangan tak seimbang, anti kemanusiaan. Lantas, dimanakah posisi kita? apa yang tidak kita setujui. Mungkin ada kawan yang melawan karena alasan ideologis karena yang menyerang itu beda kepercayaan dan yang diserang ada kesamaan kepercayaan. Saya tidak percaya itu, yang saya tahu bahwa tindakan tersebut telah mengusik rasa kemanusiaan kita. Secara tidak sadar, Negara Israel telah mengidap amnesia total, dia lupa bahwa dahulu kaum mereka pernah juga menjadi korban perang, korban hilangnya rasa kemanusiaan suatu bangsa lain (Bangsa Jerman-NAZI), serta korban kekerasan bangsa-bangsa terdahulu, seperti Asyiria, Babilonia, Mesir, dll. Lantas, dimanakah ingatan itu mereka simpan? sepertinya, kehendak untuk berkuasa, kehendak untuk menjadi kerajaan yang kukuh telah membius dan menutupi hati nurani mereka. Selama hati nurani mereka tertutup, selama itu pula mereka menjadi musuh kemanusiaan.

Idham, 25 Juli 2014

Read more...

Sabtu, 09 Juli 2016

Ramadhan

Ia telah lewat, kata orang banyak. Ia melintas serupa angin, yang terasa namun tak mampu kita tangkap. Kita hanya bisa menikmati getarnya, menembus kulit, ke dalam relung. Namun, Kita tak tahu, sejauh mana rasa itu hinggap? Apakah mampu merombak lagi bayangan yang sebelumnya telah terbentuk dengan beragam sentuhan? Lalu muncul gambar baru, orientasi baru.
Foto : Istimewa
Ramadhan memberi kita sebuah pengalaman pada spirit. Pengalaman yang spesial, yang sebelumnya hanya terbersit, kadang-kadang, sebab jangkarnya melekat pada batu licin. Ramadhan barangkali cukup membantu untuk kembali menemukan dalam diri kita, sesuatu yang suci. Jika terkoneksi, dampaknya serupa senter kepala, mampu menerangi kita saat terperangkap dalam gelap.
Persentuhan dengan yang suci atau apalah namanya. Yang kata seorang filsuf, Heidegger, yaitu persentuhan dengan Ada, merupakan momentum kita untuk hadir di sebuah dunia, saat ini ramai disebut sebagai eksis. Namun, Islam dan Ramadhan, hanya salah satu jalan dimana Ada itu merambat. Ada serupa rumput liar yang akarnya tak habis-habis, tiba dimana saja, namun tak terlihat. Ada hanya eksis jika jiwa-jiwa terbuka padanya, membiarkannya melintas, sadar.
Saya tak tahu, apakah fenomenologi Ontologis Heidegger ini mengafirmasi jalan batin para tarekat, jalan suci para petualang, dimana "Ada dan pengetahuan akan Ada" merasuk melalui bening hati?
Ramadhan dapat juga disebut sebagai teknik, sebagai metodelogi, memandu kita untuk bersentuhan dengan hakikat. Tentu, banyak rintangan, misalnya pekerjaan rutin yang membuat kita lupa, terjebak pada keseharian. Tapi, jika keseharian itu kita lemparkan ke dasar, bertanya-tanya dengan hati gundah, kita pun dapat terhubung kembali, membuat mata kita terang, penglihatan kita otentik. Kita pun melakukan koreksi-koreksi terhadap keseharian,
Apa yang tersisa dari Ramadhan? yang tersisa adalah pengalaman bersentuhan dengan diri kita sendiri. Kenapa kita merasa ada yang hilang setelah Ramadhan? Karena kita dengan sengaja lupa, dan lebih memikirkan hal-hal sepele, teknis sehari-hari.
Saya pun begitu.
Minal Aidin wal Faidzin. Maaf Lahir Batin.

Read more...

Kamis, 12 Mei 2016

Ramai-Ramai tentang Cina

Dalam novel Putri Cina, Shindunata dengan ciamik menggambarkan bagaimana etnis Cina, diperlakukan tidak adil di Nusantara. Melalui kisah Putri Cina (anak Kaisar Cina) yang tidak lain istri Brawijaya V (raja terakhir Majapahit) yang lalu diceraikan dan dikawinkan pada anaknya Arya Damar si Penguasa Palembang saat hamil 7 bulan, unsur Cina menjadi penting untuk kepentingan sesaat para penguasa, sekaligus menjadi korban juga untuk menyelamatkan kekuasaan politik.
Tersebutlah sang Putri yang berkunjung ke Jawa untuk menemui anaknya, Raden Patah yang sudah terdengar kemahsyurannya dalam menyebarkan agama Islam setelah berguru pada Sunan Ampel. Saat tiba di jantung Majapahit, kerajaan itu sudah luluh lebur akibat serangan Raden Patah, yang tak bukan putra Brawijaya sendiri. Dalam kondisi yang tak menentu itu, dia lalu mengunjungi negeri baru yang makmur, yaitu Medangkumulan. Di negeri ini, dia mendapati raja yang dahulunya bijaksana berubah menjadi lalim lantaran bisikan nafsu untuk mempertahankan kekuasaan.
Di situ pula ia menyadari bahwa setiap terjadi kerusuhan, kaumnya selalu menjadi kambing hitam. Mulanya memang kaumnya dipuja, karena keuletannya dalam urusan dagang dan akumulasi modal, namun ketika kondisi ekonomi politik balau, si Cina lah yang disalahkan, secara beramai-ramai.
**
Di karyanya yang lain, yaitu "Kambing Hitam : Teori Rene' Girard, dijelaskan lebih detail tentang asal muasal pengkambinghitaman. Kambing Hitam hadir di ujung keresahan, saat setiap pihak mencari titik selamat, di sisi lain semua pihak punya potensi menjadi korban. Untuk itu, agar semua selamat, haruslah ada satu yang dikorbankan . Kekerasan model begini menurut Girard dapat menimbulkan penyelamatan. Termasuk selamatnya para penguasa dari kecaman rakyatnya. Atau selamatnya semua suku pribumi dalam segala bencana keruntuhan, yang disebabkan oleh kelemahan diri sendiri.
Begitu halnya dengan Cina, yang bahu membahu membangun Nusantara, dari banyak sisi, mulai dari menggiatkan perdagangan di pesisir utara Jawa, menyebarkan agama Islam hingga ke jantung kerajaan-kerajaan hindu, membantu melawan penjajah Eropa, dan memperlihatkan tabiat kerja keras saat diperbudak oleh penguasa Belanda di Deli Serdang sebagai buruh perkebunan karet dan tembakau, yang karena kemampuannya dalam mengatur keuangan, banyak yang naik kelas dan memulai usaha kecil-kecilan, dan akhirnya menjadi pengusaha kelas kakap (sumber Cina menjadi budak perkebunan tahun 30-an, dari buku Greet Mak, Abad Bapak Saya).
Kelompok yang telah menjunjung tinggi semangat asimilasi pada masa Orba ini pada akhirnya selalu dicerca dengan alasan ekslusifitasnya, dan mentalitas ekonominya (homo economicus). Dan buntutnya adalah konflik berdarah, seperti peristiwa kerusuhan 98 yang korbannya toko-toko dan gadis-gadis keturunan Cina. Krisis ekonomi, yang disebabkan oleh ketidaksanggupan pemerintah dalam menjaga ekonomi kita tetap stabil, akhirnya ditumpahkan dengan membunuh Cina.
**
Saat ini, Cina lagi yang jadi top perbincangan, di koran-koran, di warkop-warkop, dan di group group whatsapp. Lantaran pemerintah kita banyak teken kerjasama dengan Cina, mulai dari utang luar negeri, kereta cepat, hingga tenaga kerja untuk aktivitas pembangunan infrastruktur. Hal ini tentunya menimbulkan kerisauan lagi, karena Cina yang di seberang sana, masih kadang-kadang dihubungkan dengan Cina yang di dalam sini, bersama kita sebagai warga Indonesia.
Cina yang di seberang sana, yang dulu kita sama-sama dijajah oleh fasisme Jepang, dalam catatan sejarah, tidak terlalu ada sangkut pautnya dengan kemerosotan ekonomi politik kita. Memang, dahulu, Kubilai Khan, yang menguasai Dinasti Yuan yang China, pernah hampir menerkam Singosari, namun sempat ditangkis oleh Raden Wijaya. Itu pun bukan dari Cina yang asli, tapi dari Cina yang Mongol.
Cina di seberang sana, adalah kawan senasib kita dalam memperjuangkan kebebasan-emansipasi manusia semesta. Mesti dengan gaya yang berbeda. Dahulu, kita sama-sama negeri petani, Cina berjalan lambat namun pasti, kita dengan tergesa-gesa mengembangkan pertanian dalam deretan REPELITA, namun terjebak juga dalam krisis pangan, meski sejenak berbuih dalam swasembada pangan (katanya).
Poros Jakarta - Peking pernah mengalami masa bulan madunya, dengan beragam pekik revolusi. Saat mahasiswa Indonesia ramai-ramai belajar ke Cina, mengikuti sunnah Rasul. Meski, dengan cepat menjadi benci pasca 65, karena Cina bermerek merah, dan merah di Indonesia dianggap penghianat bangsa. Namun, karena Cina juga berganti baju, dengan adagium Deng Xiaoping (pemimpin Cina), terserah kucing putih atau kucing merah, yang penting dapat menangkap tikus. Akhirnya Cina dapat bekerjasama lagi dengan Indonesia. Di saat Indonesia mesra-mesranya juga dengan Jepang untuk pasar mobil dan produk teknologi Negeri Matahari.
Buntutnya, keturunan Cina di Indonesia sendiri lah yang menjadi agen utama dalam perbaikan hubungan Indonesia - Cina. Tentu melalui urusan bisnis. Cina keturunan menjadi perantara barang-barang murah dari Cina tersebar ke Indonesia, mulai dari silet, sumpit, mangkuk, peniti, jarum, handphone hingga motor Cina. Barang-barang itu demikian mudahnya diproduksi di Cina, karena surplus tenaga kerja. Cina berhasil memanfaatkan bonus demografinya.
Cina di sana bangkit, karena betul-betul memanfaatkan sumberdaya manusia dan alam mereka, dengan kekuatan politik satu atap. Mereka membangun infrastruktur dimana-mana, dengan kecepatan super, warganya juga bekerja siang malam untuk pengembangan ekonomi. Ujungnya adalah surplus dengan tingginya pertumbuhan ekonomi, Orang Kaya Baru (OKB) melunjak dimana-mana. OKB Cina pun banyak meluangkan waktunya untuk berjalan-jalan ke luar negeri, Amerika, Eropa, dan juga Indonesia. Sambil jalan-jalan, mereka pun menanamkan investasinya, yang terlanjur melimpah dan sudah mulai jenuh di negaranya.
Pada 2012, ekonomi RRC jenuh, pertumbuhan ekonomi menurun. Indonesia juga kena getahnya (berdasarkan artikel dalam : Menatap Indonesia 2016, Kompas). Indonesia yang dulunya banyak diuntungkan oleh pertumbuhan ekonomi Cina, melalui ekspor bahan mentah (raw material), akhirnya berdampak fatal terhadap eknomi kita. Harga rumput laut turun drastis, harga produk-produk pertanian yang lemparannya ke cina anjlok. Yang menderita adalah petani rumput laut, nelayan yang selama ini menikmati harga tinggi dari aktivitas ekspor ke negeri Bambu.
Akhirnya, Indonesia juga meniru Cina, dari segi semangat membangun infrastruktur, yang harapannya ke depan sangat mendukung pengembangan industri, sehingga produk ekspor ataupun untuk konsumsi industri atau pasar dalam negeri sudah dalam bentuk setengah jadi atau produk hilir. Peningkatan nilai tambah ini pastinya akan mengembalikan kondisi perekonomian kita, dengan tidak lagi bergantung pada pasar bahan mentah ke Cina, yang disinyalir hingga 80%. Mumpung, pasar dalam negeri kita mencapai 50% dan usia kita sedang mekar-mekarnya (bonus demografi).
Jokowi meminta utang ke Cina (sebenarnya untuk menutupi utang pada negara-negara barat : utang adalah pengikat komitmen kerjasama, selain untuk memperlancar pembangunan infrastruktur), mempekerjakan orang Cina, bekerjasama dalam bidang usaha transportasi dengan Cina, tidak dengan akal bolong begitu saja. Tentu ada alasan-alasan bernas, untuk menguatkan posisi strategis kita pada geopolitik ekonomi antar bangsa-bangsa. Tentu, dalam diplomasi ada deal-deal tertentu, yang menguntungkan bangsa kita. Saya percaya pada kemampuan diplomatik para diplomat-diplomat kita, termasuk yang berada di negeri Cina.
Pun pemerintah tidak menutup mata untuk menangkis atau tersedia alternatif selain Cina. Dengan membangun ekonomi Asia Tenggara, dengan skema Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), negara kita bisa sedikit menghindar dari Cina, dengan bekerjasama dengan sesama negara Asia Tenggara.
Gitu deh, akhirnya saya terprovokasi dengan isu Cina belakangan ini. Melihat Pemerintah mempekerjakan tenaga Cina sebesar 100 ribu orang, saya kira tidak masalah, dan sebanding dengan Malaysia yang mempekerjakan tenaga dari Indonesia yang jumlahnya jauh lebih banyak.
Namun, entah sampai kapan bulan madu ini bertahan... ? Dan bagaimana ujung dari bulan madu ini? Jika ekonomi kita merosot entah karena apa, apakah kelak akan menjadikan keturunan atau orang Cina kambing hitam lagi? Wallahu alam.

Tamalanrea, 12 Mei 2016

Read more...

Rabu, 27 April 2016

Hariadi Adnan : Perintis Rumput Laut Indonesia

Hariadi bersentuhan dengan dunia rumput laut tanpa rencana dan kesengajaan. Bermula dari ajakan Soerdjo Dinoto, pegawai Lembaga Oseanografi Indonesia (LON) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Direktorat Hidrografi, yang juga kakak iparnya, untuk melakukan penelitian rumput laut jenis spinosum di Pulau TIkus, Gusus Pulau Pari, Kepulauan Seribu pada 1967. Waktu itu Hariadi baru saja lulus dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan belum punya pekerjaan, ajakan Soerdjo baginya merupakan peluang untuk mencari pengalaman di dunia kerja.

Meski tak ada pengalaman sama sekali, Hariadi menekuni budidaya rumput laut spinosum, yang bibitnya diperoleh dari alam setempat atau bibit lokal. Menurutnya, perkembangan spinosum di Pulau Seribu cukup bagus, waktu itu kendala penyakit belum terlihat dan rumput laut tumbuh sesuai dengan yang kita impikan. Namun penelitian ini sempat tersendat pada 1969, tidak adanya anggaran lantaran kurangnya perhatian dari pemerintah. Meski begitu, penelitian tetap berlanjut hingga kakak ipar Hariadi meninggal pada 1970 yang berbuntut pada bubarnya proyek penelitian ini. Dari pengalaman Pulau Seribu, Hariadi menyimpulkan bahwa rumput laut dapat dikembangkan di Indonesia, meski dengan fasilitas yang sederhana, seperti penggunaan tali ijuk untuk bentangan, yang mesti harus diganti setiap bulan.


                         Sumber : foto facebook Hariadi Adnan   

Pada tahun 1974 hasil kerja Hariadi dkk di Kepulauan Seribu dilirik oleh perusahaan dari Denmark, yaitu Kopenhagen Pactin, perusahaan Amerika Martina Koloid, dan Perusahaan Francis, AUB SA. Ketiga-tiganya melakukan survey di Pulau Samaringga, Selat Banggai, Sulawesi Tengah. Tapi, yang melanjutkan ketertarikannya hingga ke tahap pemberian bantuan untuk pelaksanaan proyek adalah Kopenhagen Pactin. Penelitian rumput laut di Kepulauan Seribu direkonstruksi ulang, juga dengan peralatan seadanya. Saat itu, Hariadi dibantu dua sahabatnya, yaitu Bambang Tjipto Rahadi dan Bambang Basuki.

Hariadi dan rekannya mengembangkan rumput laut spinosum dari bibit hingga pembesaran, aktivitas budidaya rumput laut ini ternyata diperhatikan oleh masyarakat setempat. Mereka tertarik untuk turut membudidayakan rumput laut. Hariadi menanganinya dengan memberikan ke mereka bibit dengan harapan ketika rumput laut mereka berkembang, bibit yang diberikan dahulu dapat dikembalikan. Saking dekatnya Hariadi dkk dengan masyarakat, seorang kawan penelitinya, menikah dan memperistrikan warga setempat.

Pada 1978, Hariadi dan timnya meninggalkan Samaringga dan membawa bibit spinosum 6 kilogram basah ke Bali, tepatnya di Tenure, Benoa.  Ujicoba di Bali terbilang berhasil, selain karena kualitas air yang baik, juga karena diterapkan metode pembibitan khusus dan pembesaran yang sudah maju. Pada 1981, mereka untuk pertama kalinya melakukan pengiriman ekspor ke Kopenhagen-Denmark dengan jumlah fantastis waktu itu, yaitu 81 ton. Pada tahun-tahun itu juga permintaan terhadap rumput laut cotoni meningkat, untuk itu Hariadi dan kawannya berkunjung ke Filipina untuk memperoleh bibit langsung dari Filipina. “Bibit dari Filipina inilah yang digunakan hingga sekarang,” terang Hariadi.

Penelitian dan pengembangan rumput laut di Bali berlangsung hingga tahun 2008. Pada tahun itu, Hariadi mengaku jenuh dan ingin mengerjakan hal lain. Makanya dia meninggalkan Bali dan memilih menjadi freelance setelah mengurus rumput laut selama lebih dari 40 tahun. Bapak yang lahir pada 4 November 1943 ini beberapa tahun terakhir berjuang sebagai Ketua Dewan Pengawas Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI). Melalui ARLI, Hariadi turut memberi sumbangan pemikiran dan advokasi kepada pengembangan rumput laut masyarakat kecil. Menurutnya, kelemahan kita hingga saat ini, yaitu lemahnya pendataan, sehingga pemerintah kesulitan mengukur jumlah rumput laut yang dapat diekspor dan jumlah rumput laut yang diserap oleh industri nasional. Untuk itu, salah hal yang harus dibenahi segera adalah pendataan tersebut, agar pemerintah dapat mengambil dasar yang kuat untuk kebijakan perdagangan rumput laut serta pembangunan infrastruktur industry rumput laut, demi pensejahteraan pembudidaya rumput laut.

Sampai saat ini, Hariadi masih malang melintang di dunia rumput laut, melakukan pembinaan dan pemberian arahan pada para pelaku rumput laut Indonesia. Beliau menetap di Jogjakarta, kota yang lekat dengan kata rindu, pulang dan angkringan, menyempatkan mengajar di Universitas PN Veteran Yogyakarta. Beliau memang sudah berumur 73 tahun, tapi semangatnya untuk memajukan rumput laut tidak pernah surut.

Idham Malik

Read more...

About This Blog

pemimpin yang baik: integritas, tanggungjawab, forgiveness, dan COmpassion
Loading...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP