Minggu, 11 September 2016

Kenang-Kenangan dari Kei

Rasa-rasanya, tak cukup waktu untuk mendalami kehidupan manusia Kei. Empat hari di Maluku Tenggara, membuat saya tenggelam dalam suasana nuchter, alamiah, dengan rasa sari yang terjalin dalam jejaring manusia yang berjuang untuk hidup - menghidupi.
Kepulauan Kei, dengan segala kemelutnya, menyimpan bejibun keindahan, berupa bentang alam pantai, teluk, batu-batu kapur, pepohonan yang menjadi habitat burung-burung elok dan langka, yang tanpa disadari turut membentuk jiwa manusia. Jiwa yang tanpa tedeng aling-aling, yang terbuka terhadap beragam kebudayaan lain, yang ekspresif dan tanggap. Tercermin dalam tawa lepas mereka, dan respon radikal terhadap segala ancaman yang mengusik kehormatan mereka.
Terbentang pemahaman dalam benak, bahwa nilai-nilai manusia sebagai bentukan alam yang berdialektika dengan tekanan material maupun waktu. Serta sebentuk kompromi ideal akan hidup bersama.
Hidup bersama, yang begitu lentur manifestasinya dalam setiap konteks dan momentum, seperti kebudayaan kota, akan terasa berbeda jika kita menemukanya dalam kehidupan masyarakat Kei, tepatnya yang berada jauh dari pusat-pusat kekuasaan, di desa-desa, di pulau-pulau.

            Bersama Om Udin (foto Dhelon)

Hidup di Pulau, di tengah Papa-Papa dan Mama-mama, di antara pepohonan kelapa dan rumah kayu, menimbulkan kenyamanan melalui obrolan-obrolan ringan tentang ketam kenari (kalomang), petuah dan sasi, cerita-cerita kriminal dan horor, keluh kesah akan sulitnya hidup dan kendala dalam berbudidaya rumput laut.
Ya, dalam suasana intim itulah, kita bersama-sama mencoba untuk lebih berfikir mendalam dalam melihat akar-akar penyebab penyakit rumput laut, serta mengajak mereka untuk mengerti dan mencerna informasi tentang rumitnya kongkalikong perdagangan rumput laut di dunia, yang berefek pada rendahnya harga rumput laut yang mereka hasilkan.
Pada momen-momen ringkas ini, terasa betul semangat perjuangan manusia Kei untuk mencapai apa yang kita sebut sebagai kemakmuran. Makmur, yang dalam hal ini terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan hidupnya, serta masing-masing pribadi memperoleh martabat dalam percaturan hidup bersama.
Untuk itu, dalam pengelolaan rumput laut, mereka melakoninya secara bersama, tercermin dalam praktek hidup mereka sehari-hari, melaut bersama untuk memeriksa rumput laut, memetik dan mengikat bibit rumput laut bersama pada sore hari, memberi ruang kepada kerabat yang juga ingin membudidayakan rumput laut, dan kumpul-kumpul malam hari untuk bercerita lepas berbagi kisah.
Dalam segala tata pergaulan bersama itu, semangat petuanan tetap dijaga dan dipegang erat-erat, yang kadang-kadang menimbulkan prasangka dan cekcok, sebab masing-masing pihak merasa punya hak dalam pengelolaan suatu kawasan. Sebab itu, perlu kedalaman untuk mencerna praktek-praktek adat dan kekuasaan masyarakat Kei. Yang jika kita tidak peka dapat menimbulkan mala petaka.
Pada setiap kebudayaan, terdapat norma-norma yang mengikat masyarakatnya, agar dapat bergaul dengan sehat. Namun, dalam setiap kebudayaan pula, norma-norma ini menimbulkan sifat-sifat feodalistik, yang mengandung sentimen manusia satu terhadap manusia lainnya, penguasaan manusia satu terhadap manusia lainnya, atas dasar penguasaan nilai-nilai atau pengetahuan. Namun, nyatanya, dimana-mana, saat ini terjadi pergeseran nilai-nilai - pengetahuan, berbuntut pada perubahan standar dalam mengukur strata sosial, hal ini menuntut komunitas untuk beradaptasi agar dapat bertahan hidup.
Kegamangan yang saya rasakan ini, dengan latar bentang kebudayaan yang jauh, namun disertai semangat kemanusiaan yang kuat. Sangat perlu untuk menggali lagi nilai-nilai hidup Manusia Kei, yang mungkin saja mulai tercerabut lantaran berbenturan dengan nilai-nilai baru, yang hadir akibat interaksi yang intens dengan beragam kepentingan, baik dalam bentuk administrasi negara dan bersentuhan dengan dunia perdagangan - globalisasi.
Manusia Kei harus berdaulat terhadap sumberdaya alam mereka sendiri. Dan menjadi suatu keharusan bagi generasi-generasi muda Kei untuk mengerti percaturan hidup dunia, sejauh mana para pembudidaya dan nelayan Kei terlibat aktif dalam perekonomian dunia. Sejauh mana manusia Kei dapat mengambil manfaat dan tidak lagi dimanfaatkan oleh para oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab.
Bekal pengetahuan dan pendidikan yang bersifat merakyat, sangat diperlukan untuk mengangkat derajat manusia Kei, agar tidak terombang-ambing dalam lautan wacana, yang demikian halus menjerat mereka dalam ketergantungan dan keterbelakangan.
Generasi muda Kei, memegang peranan penting, dalam melihat arah ke depan, dan mesti mengambil posisi sebagai kemudi dan motor penggerak. Dan, ketika saya bersentuhan pikiran dengan Om Dhelon RawulAzis KerubunGanie Resistensi, saya yakin bahwa masa depan Kei terang benderang. Tidak begitu terperangkap oleh belenggu adat, dan tidak begitu terjerumus dalam semangat modernisasi. Berada di tengah-tengah, sembari tetap waspada dan berkepala dingin dalam menghadapi segala perubahan-perubahan.
Semangat "Ain ni Ain", saling memiliki, saling membantu, "Utnit envil atumud" kulit membungkus tubuh, nama baik harus terus dijaga. Saya pikir dua nilai ini begitu menjelma dalam pergaulan manusia Kei, mengalir dalam darah dan menuntun mereka dalam mengarungi hidup. Semangat tolong menolong membantu untuk keharmonisan hidup, dan dengan nama baik, hidup menjadi otentik, nama baik itu kita pelihara lewat tingkah laku kita, meski dengan hidup susah dan menderita.
Saya berharap dapat kembali lagi ke Kei, mempelajari nilai-nilai hidup mereka, perjuangan mereka dalam mengelola sumberdaya alam (sasi), serta bersama-sama melakukan transformasi baik dalam nilai-nilai maupun metodologi, demi kemakmuran dan kedaulatan rakyat Kei.

Maros, 11 September 2016

Read more...

Sabtu, 27 Agustus 2016

Islam dan Ekologi (Tebit di Website Khittah)

Membincangkan Islam yang dihubungkan dengan sains, selalu memancing rasa penasaran kita. Termasuk salah satu tulisan dari Dinda Mahram Mubarak di kolom opini website Khittah, yang menyuarakan Islam yang berkemajuan.

Islam merupakan identitas kita, yang kita terima secara empirik dan barangkali emphati sejak kita kecil, sedangkan sains adalah tema umum dalam perkembangan kedewasaan kita, yang identik dengan pemikiran rasional dan pemecahan masalah-masalah dalam kehidupan. Islam adalah perwujudan sesuatu yang bergumul dari dalam entitas kita atau biasa disebut fitrah, untuk menuju pada yang Baik (virtue). Sedangkan sains adalah bentuk dari pencarian kita pada kebenaran ilmiah, yang kedua-duanya sudah terformat matang dalam jiwa. 

Kali ini saya akan membahas kaitan Islam dan sains yang lebih luas, dalam artian sains adalah temuan manusia sebagai sarana hidup. Apakah Islam menginspirasi sains, atau sains mengembangkan Islam? Bisa kedua-duanya. Tapi, jika kita telusuri di awal-awal, konteks sosial dan ekonomi selalu menjadi landasan untuk turunnya ayat-ayat, lalu ayat-ayat itu pun kembali menguatkan nurani kita dengan kekayaan maknanya, lalu kemudian diturunkan lagi dalam bentuk metode untuk perbaikan kehidupan di dunia.

Ayat-ayat tersebut, karena saking lenturnya, dapat menembus ruang dan waktu. Menjadi penerang saat kita sulit, dan pemandu untuk menemukan cahaya kebaikan. Kitab sastrawi itu banyak menjadikan kisah-kisah sejarah manusia sebagai pemandu pemimpin Islam untuk membentuk masyarakat madani, di tengah dua kekuatan besar, yaitu Romawi dan Persia, yang masih bersifat konservatif feodalistik. Masyarakat madani menerapkan konsep keadilan sosial berupa kontrak sosial untuk saling tolong menolong dan menghargai kepercayaan masing-masing. Selain itu terdapat konsep baitul mal, institusi yang melakukan distribusi kekayaan yang diperoleh melalui mekanisme zakat kepada segenap warga, apalagi kaum duafa. Masyarakat madani merupakan koreksi terhadap konsep-konsep kemasyarakatan saat itu dan sebelumnya, yang terang-terangan melakukan penindasan terhadap hakekat manusia, serta tidak terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh ummat manusia.

Untuk sebuah era yang menunjukkan tanda-tanda kejemuhan, Islam, yang terinstantiasi di dalamnya kepemimpinan dan gagasan akan kemajuan (baca : hadirnya ayat-ayat yang korektif), betul – betul merekonstruksi zaman-zaman sebelumnya, memberikan pelajaran, serta arahan akan sesuatu yang ideal. Betul jika dikatakan bahwa kitab wahyu tersebut adalah mukjizat, sebab saat itu manusia dipenuhi oleh kecurigaan, dan kedangkalan berfikir. Tampaknya, Tuhan yang Maha Abstrak itu, tidak sabar lagi melihat ketimpangan yang menguasai manusia, dimana manusia dengan imajinasi liarnya mengobrak-abrik kebenaran, memutar balik fakta, hanya untuk memenuhi kepentingan kelompok-kelompok tertentu, terhadap massa manusia lainnya.

Tersebutlah dalam salah satu kisahnya yang paling popular, yakni tentang Adam sebagai manusia pertama. Betul, jika kita melihat konteks ekologi dan teknologi yang digunakan. Adam, bersama kedua putranya, telah mengembangkan pertanian dan peternakan. Berarti, jika kita hubungkan dengan penelitian-penelitian arkeologis dan sejarah manusia, menunjukkan bahwa Adam berada pada zaman modern pertama. Hal ini bisa kita telusuri dalam buku Gun, Grem, and Stell, karya Jared Diamond, bahwa zaman modern dimulai ketika sekelompok manusia di daerah Bulan Sabit Subur, Timur Tengah dengan tidak sengaja menemukan biji-bjian yang bisa dibudidayakan, serta tidak sengaja berinteraksi dengan hewan-hewan yang dapat dijinakkan (domestifikasi) dan diternakkan. Kemudian komunitas tersebut mengembangkan kultur biji-bijian dan mulai menerapkan konsep gembala pada hewan-hewan ternak.
Penemuan tersebut memacu perkembangan teknologi derivatnya, sehingga manusia akhirnya belajar menetap dalam satu kawasan, dan hanya sesekali melakukan perburuan hewan-hewan liar di dalam hutan. Manusia tidak lagi membatasi jumlah anaknya, karena anak dibutuhkan untuk mengawasi lahan-lahan yang demikian luas. Maka dengan mengikuti arus waktu, pada lokasi tersebut muncullah pemukiman pertama yang jumlah anggotanya tidak lagi dalam bentuk kelompok kecil, tapi berupa koloni-koloni. Dari kondisi material seperti itu pula lahirlah konsep masyarakat pertanian, yang mengharuskan adanya struktur kepemimpinan, untuk mengontrol jalannya pembangunan pertanian. Pemimpin, dengan sokongan pajak anggota masyarakatnya, mulai mendistribusikannya untuk pembangunan kanal-kanal, irigasi-irigasi, mulai lah muncul kelompok intelektual yang membantu pemimpin dan masyarakat untuk mengembangkan teknologi pertanian. Kelompok intelektual ini tidak berprofesi bertani, tapi sebagai pembelajar yang punya banyak waktu luang, sehingga dari orang-orang seperti ini memungkinkan lahirnya pemikiran-pemikiran abstrak, baik itu filsafat, budaya, dan ilmu tata sosial dan politik.

Dalam kondisi seperti itu, agama pun menjadi sesuatu yang penting, dan mulai dilegalkan oleh pemerintah. Agama, yang ada konsep Tuhan di dalamnya, kian dalam masuk ke alam psikologis para petani. Tuhan dianggap penentu untuk keberhasilan sebuah lahan, dimana manusia berada diantara harap cemas akan masa depan, di tengah kondisi musim, ancaman kekeringan dan hama. Agama pun dipolitisasi oleh para pemimpin, sebagai bius agar rakyatnya tetap semangat bekerja mengolah lahannya.

Dalam konteks seperti itulah, barangkali Adam menemukan Tuhannya, ataukah Tuhan mencipta manusia yang dapat memikirkan hakikat ketuhanan. Adam menemukan tuhan, dengan rasio akal murninya, yang bukan lagi dengan menyembah pohon, batu atau gunung, seperti kepercayaan-kepercayaan generasi sebelumnya atau komunitas manusia yang belum mengembangkan pertanian, tapi menyembah Tuhan yang Maha Kuasa, yang menguasai alam semesta. Adam barangkali menemukannya seperti Newton menemukan teori gravitasi. Pristiwa jatuhnya apel membuka kesadarannya akan adanya suatu hukum alam, yang disebut gravitasi. Meski pada dasarnya gravitasi sudah ada sejak adanya massa di alam raya ini. Berarti, Tuhan dan keteraturannya, sudah ada sebelum Adam (bersifat intransitive: dapat ada dengan atau tanpa pengetahuan manusia), hanya saja membutuhkan syarat-syarat tertentu, agar pemikiran akan keberadaan tuhan betul-betul dapat terwujud.

Manusia sebelum Adam, dianggap adalah mahluk yang belum sempurna, dalam artian belum memiliki kesadaran akan ketuhanan. Secara material, manusia sebelum era Adam, adalah manusia berburu, yang kesadarannya betul – betul terpaku pada lingkungan sekitarnya dan belum mampu melintas batas kesadaran ruang hidup yang melingkupinya.

Kita kembali lagi, bagaimana Islam dan Ekologi berkelindan cantik. Salah satu ajaran inti dalam Islam adalah sedekah, yaitu memberikan sebagian dari yang kita punya kepada manusia lain ataupun kepada alam. Semua entitas di alam ini, baik material maupun mahluk hidup, mulai dari tingkat sederhana hingga tingkat paling kompleks, adalah berupaya menyumbangkan sesuatu yang berharga dari dirinya kepada mahluk lain. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Khusnul Yaqin, ahli Toksikologi dari Universitas Hasanuddin, bahwa mahluk yang paling tinggi tingkat ketaatannya dalam hal sedekah adalah bakteri. Bakteri merupakan mahluk decomposer (pengurai) yang berada pada alas terbawah dalam rantai makanan. Lantaran aktivitas bakteri ini, maka memungkinkan berkembangnya lapisan – lapisan mahluk di atasnya, yaitu produsen seperti biji-bijian, konsumen pertama, konsumen kedua, hingga konsumen puncak, yang lapisan teratasnya adalah manusia, yang merupakan mahluk yang dapat mengkonsumsi semua lapisan, serta punya tingkat kesadaran tertinggi. Lantaran dapat mengkonsumsi secara materil semua tingkatan, manusia pun harus bisa mengamalkan setiap kebaikan yang ditonjolkan pada masing-masing lapisan.

Demikianlah sedikit uraian yang cenderung bersifat cocoklogi, tapi dengan cocoklogi seperti ini, kita yakin bahwa kesadaran kita sedang bekerja dan berupaya untuk tidak menghianatinya.

Tamalanrea, 26 Agustus 2016


Idham Malik  

Read more...

Minggu, 21 Agustus 2016

Rakyat

Saat ini, bagi generasi muda, kata rakyat akan terdengar begitu rumit. Iya sering terdengar, namun terasa ada jarak, hingga rakyat menjadi demikian abstrak. Rakyat ada di sekeliling kita, di depan rumah kita, di dekat kampus, di kampung halaman kita, namun kita tidak mengerti apa sebenarnya persoalan dari rakyat ini, yang tentunya merupakan persoalan kita juga, yang termasuk rakyat Indonesia.

Rakyat menjadi hiasan bibir kita, yang terdengar prihatin, moral kita teriris ketika melihat warga desa disiksa oleh aparat, dibunuhi preman, atau mendengar jutaan warga terendam rumahnya oleh lumpur, namun hanya sebatas itu saja. Kita terenyuh, tapi tak tahu apa yang harus diperbuat. Karena tidak ada jalan keluar terhadap keprihatinan itu, kita sengaja melupakan, kembali ke kebiasaan lama. Kita mengerjakan kesibukan kita masing-masing, menjadi pekerja yang baik, agar posisi kita di tempat kerja tidak bergeser atau agar kita memperoleh kenaikan gaji.

Lantas, apa yang menyebabkan kita merasa tak mampu untuk berbuat sesuatu, kecuali menggerutu. Lantas, ketika kita memperoleh kekuasaan, juga akan bersikap sewenang-wenang terhadap bawahan kita? Tampaknya, kita tak tahu karena memang tidak tahu, atau tidak perlu tahu.

Kita, generasi 2000-an, mulai lupa dengan apa yang telah dilakukan oleh pendahulu-pendahulu generasi muda, yang sejak abad etis selalu diwakili oleh mahasiswa. Kelompok minoritas terdidik yang mengambil beban sebagai pemimpin rakyat, yang bertekad mengangkat derajat rakyat yang sepanjang zaman selalu tertindas oleh kekuatan kolonial, kekuatan feodal.

Mahasiswa sejak saat itu mendekati rakyat dengan strategi pendidikan, kursus, tulisan pamflet, media massa, dan pidato-pidato massa. Turun ke desa-desa, mengajak warga desa untuk berfikir kritis terhadap kondisi sosial ekonomi mereka, melatih pemuda-pemuda desa, tentang ilmu-ilmu humaniora, ilmu ekonomi, hingga ilmu eksakta. Model pendidikan rakyat seperti itu membuat rakyat merasa terlibat dalam pengelolaan negara. Suara-suara mereka didengar, dan mereka turut berjuang melalui sertikat petani, serikat nelayan, dan serikat warga miskin kota. Mereka pun mengerti tentang arti demokrasi, arti revolusi, mengerti tentang cita-cita keadilan sosial. Mereka menuntut pemerataan ekonomi, menuntut pembagian tanah, dan hingga turut berperan dalam mendukung kekuatan dunia baru, yaitu dunia non blok. Namun, model perjuangan yang menyatu dengan rakyat tersebut berhenti pas di puncak-puncaknya. ketika politik dan kebudayaan rakyat mulai menggelinjat, ketika forum rakyat berada di awan-awan pikiran, ketika tuntutan revolusi sosial kian membuncah.

Pendekatan langsung ke rakyat akhirnya dibungkam dengan kejam oleh satu versi kekuatan baru yang menganggap Teknik-teknik mobilisasi massa yang sarat dengan politik, atau demam politik dapat memancing konflik internal, dan membuat negara kita tak mampu fokus pada peningkatan ekonomi. Mahasiswa yang bergerak di desa-desa, bersama guru-guru desa, pejuang-pejuang serikat, diangkut dengan paksa, diintrogasi, dan akhirnya lenyap bersama ide-ide nation-nya.

Lalu, faksi moral yang lain, yang juga terdiri sebagian kecil mahasiswa, memanfaatkan metode lama, yaitu mobilisasi massa, khususnya mobilisasi massa mahasiswa itu sendiri, untuk pamer kekuatan di jalan-jalan, dengan tujuan merangsek orde lama lengser keprabon. Mereka diberi kesempatan oleh kekuatan baru, sebab harus ada satu kelompok sosial di masyarakat, yang mengambil peran atau representasi masyarakat sipil. Sedangkan, masyarakat sipil yang lain, yaitu kaum petani, nelayan, buruh, tidak boleh lagi bersentuhan dengan politik.

Untuk itu, mekanisme "massa mengambang" dikembangkan. Massa menjadi lebih fasif, massa diarahkan murni untuk proses pembangunan semata. Jika dia seorang petani, dia harus menjadi petani yang rajin, jika dia seorang petambak, dia hanya berurusan dengan budidaya ikan yang baik. Tidak ada lagi urusan, petambak yang memprotes karena adanya pabrik yang mencemari perairan sehingga pembudidaya mengalami kegagalan panen.

Untuk itu, pemerintah membentuk sistem yang ketat untuk pengontrolan rakyat, hingga ke desa-desa. Demam politik sebelumnya, diganti dengan demam kerja, yang dalam hal ini sesuai dengan visi golongan karya, yang mengharapkan warga negara menjalankan fungsi kemasyarakannya sesuai dengan profesinya masing-masing.

Maka, sejak saat itu, pikiran Ali Moertopo tentang massa mengambang betul-betul terwujudkan. Kerja-kerja partai politik yang asyik masyuk dengan rakyat pada periode sebelumnya, digantikan dengan kerja-kerja pemberdayaan yang dilakukan oleh pemerintah, melalui pranata-pranatanya, seperti badan-badan departemen, pemerintah desa, dan badan penyuluh. Rakyat akhirnya menjadi objek yang disuluh, diterangi oleh pihak yang berwenang.

Dimana posisi mahasiswa saat itu? Mahasiswa masih menjadi perwakilan sipil, yang bisa melakukan protes kepada pemerintah. Makanya, mereka beberapa kali melakukan demonstrasi besar-besaran kepada pemerintah, karena protes terhadap arah gerak pembangunan yang berlandaskan pada modal asing, pemborosan dana negara untuk pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), penggunaan dana negara yang tidak tepat pasca meledaknya bom minyak tahun 70-an. Namun, gerak mahasiswa ini murni gerakan moral, dan tidak bermaksud untuk melakukan perubahan sosial politik yang radikal. Mahasiswa masih terpisah dari massa rakyat yang di luar enklave mahasiswa.

Posisi sipil mahasiswa yang bersifat khusus ini pun mulai dianggap membahayakan pemerintah. Dan karena saking meresahkannya, yang diakibatkan suasana demokratis di kampus-kampus. Pemerintah akhirnya juga menerapkan konsep massa mengambang di universitas. Berlakulah konsep Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) di universitas. Mahasiswa kembali ke kelas, mahasiswa kembali belajar. Dema (Dewan Mahasiswa) dihapuskan, mahasiswa betul-betul dinetralkan dengan aktivitas politik. Dan posisinya sebagai penjaga moral menjadi bablas, dan hanya menjadi penjaga ilmu saja.

Tapi, itu tidak berlangsung lama. Beberapa tahun kemudian, pasca aktivis kiri lepas dari kekangan Pulau Buru, beberapa orang diantaranya yang tergabung dalam Hasta Mitra, menerbitkan novel tetralogi pulau Buru Pramodya Ananta Toer. Novel ini segera menginspirasi para mahasiswa dan aktivis gerakan bawah tanah. Bumi Manusia hingga Rumah Kaca menjadi model pergerakan untuk memulai kembali penemuan terhadap metode organisasi massa, yang dilakoni oleh seorang pelajar individual bernama Minke-Tirto Adi Soeryo , yang tersiksa melihat penderitaan rakyat, dan menginisiasi terbentuknya Sarekat Priyayi, perkumpulan bagi kaum terperintah serta medan Priyayi, media massa yang mengakomodir kepentingan kaum priyayi atau pegawai pemerintah. Novel itu dibahas oleh kelompok-kelompok study club mahasiswa, dan dari situ, lahirlah satu generasi kritis yang mulai melakukan kembali pengorganisasian di masyarakat.

Sejak saat itu, mahasiswa memulai pendekatan yang terasa baru, tapi sebenarnya merupakan teknik lama, salah satunya yaitu inlive di desa-desa. Apalagi saat itu, terdapat permasalahan rakyat yang membutuhkan dukungan moral dan strategi dari mahasiswa aktivis bagi korban pembangunan bendungan Kedung Ombo di Jawa Tengah. Saat itu pula, bermunculan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang melakukan pendataan mengenai kondisi rakyat, sehingga diperoleh banyak informasi mengenai penderitaan rakyat di berbagai daerah di Indonesia. Pers-pers nasional juga banyak mengangkat persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat, sehingga persoalan sosial ekonomi rakyat mulai menjadi wacana publik yang kerap didiskusikan secara intens. Akumulasi faktor-faktor sosial seperti itu, membuat para aktivis mulai bersentuhan langsung dengan warga, dan tampaknya mulai menimbulkan perlawanan sistematis terhadap pemerintah.

Gerakan tahun 80-an, yang banyak dimotori oleh aktivis mahasiswa itu berlanjut ke gerakan tahun 90-an. Tahun 1990-an lebih tajam lagi, karena lembaga-lembaga yang punya tujuan yang sama dan bergerak di tempat yang berbeda, mulai bersatu dalam bentuk partai, dalam hal ini Partai Rakyat Demokratik (PRD). Gerakan PRD dan beberapa organ pendamping para buruh pabrik, betul betul massif, dan mulai mengorganisir buruh-buruh pabrik di Jakarta dan sekitarnya untuk melakukan demonstrasi tuntutan kenaikan upah, cuti hamil, dan jam kerja, dan lain-lain. Beberapa aktivis keluar masuk penjara, diantaranya Dita Indah Sari, yang dalam setiap aksinya selalu berurusan dengan aparat keamanan.

Hingga akhirnya, pada pertengahan 90-an akhir, gerakan semakin meluas, dan massa rakyat yang kecewa pada pemerintah orde baru mulai keluar di jalan-jalan Jakarta saat pesta demokrasi pemilihan umum 1997. Mereka menunjukkan identitas “Mega-Bintang” sebagai simbol protes terhadap dominasi Golkar, meski pada dasarnya mereka tidak punya keterikatan secara ideologi dengan PDI maupun PPP. Apalagi saat pemerintah mengumumkan kemenangan Golkar 70 persen, yang ditengarai penuh dengan kecurangan, memancing para aktivis mahasiswa mengorganisir demonstrasi di berbagai daerah di Indonesia. Memuncak pada tahun 1998, yang memperoleh momentum saat indonesia juga mengalami krisis ekonomi, yang tertular dari krisis ekonomi yang menimpa Thailand beberapa bulan sebelumnya.

Pasca reformasi, mahasiswa kembali ke kampus, meski sebagian mahasiswa masih bersentuhan dengan rakyat. Tapi, kondisi realitas sosial politik setelah reformasi cukup berbeda, sebab mahasiswa bukan lagi satu-satunya perwakilan sipil yang punya hak keistimewaan, seperti hak untuk bersuara dan berserikat. Suasana demokratis membuat orang ramai-ramai berkumpul dalam partai, meski tidak semua partai yang eksis, justru PRD yang konsisten membela rakyat kecil tidak bisa eksis sebagai partai. Namun, pada kenyataan, partai-partai yang terbentuk, masih terpengaruh oleh sistem “massa mengambang” yang dikembangkan selama 32 tahun oleh pemerintah orde baru. Dimana partai masih bersifat transaksional, tidak berjalannya pendidikan politik di tingkat rakyat, dan begitu kencangnya politik uang.

Di tahun 2000-an, di kampus sendiri, mahasiswa semakin disibukkan dengan urusan akademik, dengan bertambahnya tugas-tugas kuliah. Di Makassar, mulai diterapkan jam malam, mahasiswa yang biasa berdiskusi pada malam hari akhirnya dibatasi ruang geraknya untuk membicarakan persoalan rakyat. Mahasiswa diarahkan untuk aktif di UKM-UKM, seperti UKM catur, renang, sepak bola, dan lain-lain. Dosen pun mulai mengkritik mahasiswa yang aktif demonstrasi, karena dinilai tidak punya masa depan dan juga paling lambat sarjana. Sehingga, akibat dari demoralisasi aktivis kampus, menyebabkan menurunnya minat mahasiswa pada organ-organ kepemimpinan mahasiswa di kampus, serta organ – organ ekstra yang berbasis ideologi pergerakan. Dan akhirnya, ketika mahasiswa merancang aksi-aksi, dengan gampang pimpinan-pimpinan mereka dibungkam dengan makan malam bareng Presiden, ataupun dengan bagi-bagi nasi bungkus di tengah terik hari.

Akibat dari itu semua, mahasiswa mulai menjauh dari rakyat. Rakyat pun kembali menjadi massa mengambang, disodori program – program pemerintah yang lebih bersifat produktif. Mahasiswa jauh dari rakyat, menjadi lebih individualis, dan kembali menjadi intelektual pekerja, Kerja-kerja-kerja.

Dan, ketika mahasiswa melihat penderitaan rakyat, mahasiswa hanya bisa mengeluh, menggerutu.

Tamalanrea, 21 Agustus 2016
Terinspirasi dari Buku Unfinished Nation - Max Lane

Read more...

Kognisi

Terbit di Website Khittah

Menarik sekali tulisan Kanda Asra Tillah mengenai "Kognisi dan Nafas Kehidupan", menunjukkan teori yang tentu berangkat dari pendekatan ilmiah, bahwa organisme lain juga punya mekanisme untuk menalar dan mengorganisir informasi atau kognisi menjadi sesuatu yang inheren dalam kehidupan, sesuai dengan stratanya masing-masing.
Pertanyaan paling mungkin untuk menerima logika ini, bahwa ketika materi dengan sistem kompleksnya mampu menghasilkan sesuatu yang baru atau autopoesis, apakah setelah materi itu terpisah-pisah, destruksi, pada akhirnya menyebabkan hilangnya sifat baru tersebut. Berarti jiwa yang bersifat inheren dalam materi dengan sendirinya hilang begitu saja.
Sebab, jiwa ataupun kognisi hanya dapat bertahan jika ada syarat-syarat material, yang dalam hal ini faktor-faktor biologi, fisika dan kimia sebagai struktur atau basis tempatnya bermukim kesadaran. Begitu halnya kebudayaan, yang disokong oleh individu-individu yang berinteraksi dalam komunitas, yang beraktivitas dengan sadar, yang pada akhirnya memiliki pandangan-pandangan berdasarkan suasana hidupnya, berdasarkan metode atau cara individu bertahan hidup. Seperti nelayan yang memiliki sifat boros, lantaran mereka dapat memperoleh ikan setiap kali melaut. Seperti petani, yang lebih terencana dalam hal keuangan karena harus betul-betul bersabar dalam menumbuhkan padi sebagai sarana hidupnya.
Ataukah ruh itu, yang kata literatur mulai ditiupkan ketika calon bayi sudah berusia 4 bulan dalam kandungan dapat terpisah secara konsekuen dari tubuh setelah tubuh tidak terkoordinasi lagi. Ruh membentuk entitas baru, dimana ruh juga mengalami perkembangan secara bertahap sesuai dengan usia dan konsumsi ruhaniahnya, yang juga dipengaruhi oleh tindak tanduk ruh itu dalam kehidupan material. Ruh dapat keluar dari tubuh lantaran sudah memiliki dasar-dasar materialnya sendiri, yang sangat halus. Yang berarti ide itu dapat terpisah dari materi, sesuai dengan pendapat Hegel ataupun Plato, namun bertentangan dengan pendapat Aristoteles maupun Marx.
Di sinilah letak kesulitannya, kognisi pascastruktur apakah mungkin? saat kognisi kita yang saat ini bermukim dalam tubuh dan belum pernah melakukan eksperimen pemisahan ruh-kognisi terhadap tubuh. Jika mungkin, bagaimana kah struktur penyokong ruh tersebut? apakah ruangnya tak lagi membutuhkan materi, seperti materi yang dapat kita lihat dan kita rasakan sejauh ini. Sementara ruang dan waktu adalah syarat mutlak hadirnya sebuah kesadaran ataupun intuisi itu sendiri.
Saya pikir, kita butuh menelusuri peristiwa pascastuktur yang kita kenal tersebut. Yang tidak dapat kita buktikan secara empirik, tapi barangkali dapat kita prediksi secara logika, mungkin logika klasik. Dimana ide atau esensi yang utama, ide membentuk dunia, ide mencipta realitas, ide selalu ada dan mengalir dalam dunia. Ide berdialektika dan mewujud, ide yang abadi, menghancurkan dan membentuk dunia baru dimana ide bercokol di dalamnya.
Namun, apakah Maturana dan Varela sepakat dengan model logika seperti itu? Kalau ya, berarti kodok, ular, nyamuk, dan hewan-hewan lain pun mungkin dapat meloncat dari materialitas fisiknya. Jika kira-kira begitu, ruang dan waktu masa pascastruktur itu akan dipenuhi oleh ruh-ruh binatang yang begitu banyak jumlahnya. 

Read more...

Kamis, 28 Juli 2016

Kepemimpinan

Menindaklanjuti artikel Kanda Asra Tillah tentang kepemimpinan. Saya kepincut untuk menyumbang sedikit unek-unek, yang dipungut dari lembaran-lembaran kuna. Yang saya cicip sikit-sikit, dari waktu saya sempit, dan kesehatan saya yang selalu berada di horizon.
Ya, tak dapat disandingi para pemimpin praproklamasi itu, jumlahnya banyak, semangat membara, dan cerdas bukan kepalang. Apa lantas yang membentuk suluh, dalam kondisi bangsa yang carut marut itu?
Kebijakan politik etis, dengan hadirnya sekolah, baik untuk jajaran pegawai elit, maupun untuk khusus pribumi. Politik ini hasil diskursus parlemen Belanda, yang akhirnya memberi peluang kepada penduduk asli untuk mengecap pendidikan, sebagai balas jasa atas penjajahan yang telah lama berlangsung.
Melalui politik etis ini, generasi pribumi yang sebelumnya telah mapan, yaitu bangsawan feodal, birokrat yang bekerja untuk memperlancar urusan pemerintah jajahan, maupun para saudagar, yang memetik hasil dari kebebasan berusaha, khususnya usaha perkebunan, menyekolahkan anak-anak mereka di ELS, HBS, dan MULO.
Anak-anak ini dengan cepat beradaptasi, turut berbahasa Belanda, membaca karya-karya sastra kolonial yang dapat mengasah nurani mereka, melibatkan jiwanya dalam ilmu-ilmu alam yang dapat mengasah rasionalitas mereka. Akibat dari itu, setara sekolah menengah, sudah menceburkan diri dalam pendidikan rakyat. Seperti yang dilakoni oleh Sutan Sjahrir di Bandung, siswa AMS bergabung dalam Pemoeda Indonesia (Jong Indonesie), yang dimana Pemoeda Indonesia ini menyiarkan pendapat-pendapatnya dalam terbitan Jong Indonesie, Kabar Kita (Cabang Surabaya) dan Soera Kita (Cabang Yogyakarta). Tidak hanya itu, mereka mendirikan Tjahja Volksuniversiteit (Universitas Rakyat), dalam universitas ini, para pemuda itu mengajar rakyat membaca dan menulis, serta memberi pengajaran bahasa - bahasa asing, ekonomi, fisika, dan lain-lain. Para siswa pun tidak ada yang dikenakan biaya.
Pemoeda-Pemoeda ini juga menghanyutkan dirinya ke dalam dunia politik. Pertama-tama mereka menangkis paradigma kolonial, bahwa Indonesia tidak bisa disatukan. Tentu, dengan didampingi oleh para pejuang-pejuang yang lebih tua, mereka pun menyelenggarakan pertemuan pemoeda-pemoeda se nusantara, yang dikenal dengan Soempah Pemoeda, Ada bahasa yang satu, bangsa yang satu, tanah toempah darah yang satu, yang juga dengan diiringi musik klasik, keronjcong, sambil dansa-dansi.
Sebagian dari mereka lanjut ke dalam universitas, dalam negeri dan luar negeri. Dalam berjuang, mereka tak lupa menikmati kehidupan avan garde di lingkungan beraroma Bauhaus Bandung, anggaplah Sjahrir, meluangkan waktu banyak untuk nonton di bioskop bersama teman-teman Pemoeda sebelum berangkat ke Belanda untuk rencana Sekolah di sana. Ekstase dalam pentas-pentas teater, melakonkan kisah pemoeda-pemoeda yang tak menyerah di tengah tekanan orang toea maupun pemerintah Colonial. Sementara Soekarno, saat itu telah selesai di Perguruan Teknik Bandung, yang karena membaca banyak buku asing, dan begitu terpengaruh oleh sosialisme dan komunisme, serta Islam, membentuk Perserikatan Nasionalis Indonesia. PNI ini kemudian memiliki pengikut hingga ribuan, begitu merindukan suara Soekarno, yang dengan lantang menyerukan perlawanan, yang dengan garang menyambung lidah rakyatnya.

Di Belanda, pemoeda-pemoeda digodok oleh suasana demokratis, dengan begitu banyak perkumpulan-perkumpulan berideologi sosialis komunis. Rasa Indonesia semakin menebal seiring jauhnya jarak mereka dari tanah airnya. Membuatnya untuk terus menghantam kolonial di jantungnya sendiri. Mereka membentuk Perhimpoenan Indonesia, tempat Bung Hatta bagai artis, juru bicara, juru tulis, dielukan, diharapkan, tempat teman-temannya berjangkar untuk memperjuangkan Indonesia Merdeka.
Hatta, begitu halnya Sjahrir, ikut dalam konferensi-konferensi, pertemuan-pertemuan yang bertemakan kemerdekaan bangsa-bangsa, dan hak setiap bangsa untuk mengatur dirinya sendiri-sendiri. Sjahrir melangkah lebih jauh, ia hidup bersama kelompok anarkis, dimana mereka membatasi segala hal yang diperuntukkan untuk kepentingan pribadi, segala halnya dibagi, hingga alat kontrasepsi, kecuali sikat gigi. Ia bersahabat teman-teman dari perkumpulan mahasiswa sosialis, yang lalu mendorongnya untuk berkuliah juga di Leiden, yaitu mengambil studi Hukum Adat, mengikuti jejak tetua-tetuanya.
Apalacur, Pemerintah Kolonial di Hindia Belanda kian protektif dan alergi, dihukumlah Soekarno, maka kosonglah kepemimpinan nasional. Meski di balik jeruji, doa-doa rakjat, khususnya rakjat Jawa menggelumbung, dan dengan sabar menanti pahlawannya bak menunggu Ratu Adil.
Berarti, ada yang kosong, ada yang punya kompetensi, ada yang masih setengah-setengah? Pemoeda-Pemoeda menyadari hal itu. Dengan ragu-ragu, mereka membentuk kembali Partindo, yang anggotanya berasal dari PNI-nya Soekarno yang sebelumnya telah dibubarkan, dengan kepemimpinan Sartono, gerak perjuangan tentu berbeda jika di tangan Soekarno.
Melihat hal tersebut, adalah tugas Bung Hatta, yang sudah sembilan tahun di Belanda untuk kembali ke Hindia Belanda, mengisi kekosongan kepemimpinan. Namun, Hatta harus menyelesaikan terlebih dahulu sekolahnya yang tinggal beberapa bulan. Sjahrir mengambil inisiatif, yang menunda dulu melanjutkan sekolah untuk kembali ke tanah air. Sjahrir mengumpulkan kembali teman-teman lamanya di Pemoeda Indonesia, untuk membentuk organisasi kepemimpinan yang baru, yaitu PNI-Pendidikan. Berbeda dengan PNI-nya Soekarno, yang lebih agitatif, PNI-Pendidikan menggunakan tenaganya untuk mendidik, mengkader, menyebar ilmu sebagai persiapan Indonesia Merdeka. Kepemimpinan patah, kemudian disambung lagi, kepemimpinan terpusat kemudian tersebar lagi. Terjadi perbedaan paham diantaranya, meski demikian, tidak menghalangi mereka untuk tetap fokus memperjuangkan kebebasan.
PNI Pendidikan dan Partindo terus menerus menebar tjahaja, lewat pertemuan-pertemuan, orasi, melalui terbitan, surat kabar, siaran-siaran radio. Jang tak henti-henti mengibas-ngibas semangat untuk bersatu, tak lelah, pantang untuk menyerah pada kolonialis dan imperealis. Mereka-mereka juga memposisikan diri sebagai pendidik, menyelenggarakan kursus-kursus politik, menambah wawasan kader dengan pengetahuan sosiologi, sejarah, ekonomi dan bahasa-bahasa pengetahuan, Bahasa Belanda. Mendidik sekaligus memetakan jalan menuju kemerdekaan.
Hingga akhirnya, tokoh-tokoh ini dibuang, diantar kepengasingan. Soekarno termenung di bawah pohon sukun di Ende-Flores, Hatta dan Sjahrir mengapung-apung dalam perjalanan ke Digoel. Sementara seorang pemimpin lagi, bersembunyi, menyamar dan berpindah-pindah negara, antara Hongkong, Filipina, Singapura, hingga Tiongkok, yaitu Tan Malaka.
**
Apa soal yang dibicarakan di sini, yaitu tentang kepemimpinan. Betul kata Kanda Asra Tillah, pasca Demokrasi Terpimpin dan Orde Baru, yang dicetak banyak adalah para teknokrat, yang tahu tentang bidang keahliannya. Tapi, kemana Indonesia ini dibawa? bagaimana memakmurkan rakyat? Bagaimana kita bisa berdaulat? Ini pertanyaan-pertanyaan untuk para pemimpin.
Menjawab itu, apakah perlu kita menggali lebih dalam lagi, pemikiran-pemikiran Bapak-Bapak Bangsa? Seperti mereka menggali pengetahuan dari pemikiran tokoh-tokoh sebelum mereka, baik tokoh nasional maupun pemikir-pemikir barat. Untuk menjawab konteks masa kini. Seperti pepatah Prancis, Petite Historie, Sejarah Selalu Berulang.

Read more...

Senin, 25 Juli 2016

Coretan 25 Juli 2014

Sejauh ini kita disuguhi gambar-gambar mengerikan korban kekejaman tentara Israel. Gambar bayi yang hangus, gambar anak kecil yang kepalanya pecah dan terhambur. Mengerikan memang dan telah memantik emosi serta simpati. Tapi kita tak berhenti di titik itu. Baiknya digali lebih dalam lagi, kira-kira apa kepentingan dari penyerangan tersebut? alasan-alasan formalnya seperti apa? landasan moral dan etikanya bagaimana? apakah ada pengaruh dari interpretasi kitab-kitab kuno yang keliru, tentang kelompok lain (goyim)? ataukah ini sepenuhnya tindakan negara totaliter yang ingin memperluas wilayahnya dan mengusir kelompok manusia lain dengan cara apa pun. Negara yang mungkin saja telah mengembangkan nasionalisme tertentu dan kemudian membius warganya untuk turut serta dalam tindakan peperangan tak seimbang, anti kemanusiaan. Lantas, dimanakah posisi kita? apa yang tidak kita setujui. Mungkin ada kawan yang melawan karena alasan ideologis karena yang menyerang itu beda kepercayaan dan yang diserang ada kesamaan kepercayaan. Saya tidak percaya itu, yang saya tahu bahwa tindakan tersebut telah mengusik rasa kemanusiaan kita. Secara tidak sadar, Negara Israel telah mengidap amnesia total, dia lupa bahwa dahulu kaum mereka pernah juga menjadi korban perang, korban hilangnya rasa kemanusiaan suatu bangsa lain (Bangsa Jerman-NAZI), serta korban kekerasan bangsa-bangsa terdahulu, seperti Asyiria, Babilonia, Mesir, dll. Lantas, dimanakah ingatan itu mereka simpan? sepertinya, kehendak untuk berkuasa, kehendak untuk menjadi kerajaan yang kukuh telah membius dan menutupi hati nurani mereka. Selama hati nurani mereka tertutup, selama itu pula mereka menjadi musuh kemanusiaan.

Idham, 25 Juli 2014

Read more...

Sabtu, 09 Juli 2016

Ramadhan

Ia telah lewat, kata orang banyak. Ia melintas serupa angin, yang terasa namun tak mampu kita tangkap. Kita hanya bisa menikmati getarnya, menembus kulit, ke dalam relung. Namun, Kita tak tahu, sejauh mana rasa itu hinggap? Apakah mampu merombak lagi bayangan yang sebelumnya telah terbentuk dengan beragam sentuhan? Lalu muncul gambar baru, orientasi baru.
Foto : Istimewa
Ramadhan memberi kita sebuah pengalaman pada spirit. Pengalaman yang spesial, yang sebelumnya hanya terbersit, kadang-kadang, sebab jangkarnya melekat pada batu licin. Ramadhan barangkali cukup membantu untuk kembali menemukan dalam diri kita, sesuatu yang suci. Jika terkoneksi, dampaknya serupa senter kepala, mampu menerangi kita saat terperangkap dalam gelap.
Persentuhan dengan yang suci atau apalah namanya. Yang kata seorang filsuf, Heidegger, yaitu persentuhan dengan Ada, merupakan momentum kita untuk hadir di sebuah dunia, saat ini ramai disebut sebagai eksis. Namun, Islam dan Ramadhan, hanya salah satu jalan dimana Ada itu merambat. Ada serupa rumput liar yang akarnya tak habis-habis, tiba dimana saja, namun tak terlihat. Ada hanya eksis jika jiwa-jiwa terbuka padanya, membiarkannya melintas, sadar.
Saya tak tahu, apakah fenomenologi Ontologis Heidegger ini mengafirmasi jalan batin para tarekat, jalan suci para petualang, dimana "Ada dan pengetahuan akan Ada" merasuk melalui bening hati?
Ramadhan dapat juga disebut sebagai teknik, sebagai metodelogi, memandu kita untuk bersentuhan dengan hakikat. Tentu, banyak rintangan, misalnya pekerjaan rutin yang membuat kita lupa, terjebak pada keseharian. Tapi, jika keseharian itu kita lemparkan ke dasar, bertanya-tanya dengan hati gundah, kita pun dapat terhubung kembali, membuat mata kita terang, penglihatan kita otentik. Kita pun melakukan koreksi-koreksi terhadap keseharian,
Apa yang tersisa dari Ramadhan? yang tersisa adalah pengalaman bersentuhan dengan diri kita sendiri. Kenapa kita merasa ada yang hilang setelah Ramadhan? Karena kita dengan sengaja lupa, dan lebih memikirkan hal-hal sepele, teknis sehari-hari.
Saya pun begitu.
Minal Aidin wal Faidzin. Maaf Lahir Batin.

Read more...

About This Blog

pemimpin yang baik: integritas, tanggungjawab, forgiveness, dan COmpassion
Loading...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP