Senin, 25 Juli 2016

Coretan 25 Juli 2014

Sejauh ini kita disuguhi gambar-gambar mengerikan korban kekejaman tentara Israel. Gambar bayi yang hangus, gambar anak kecil yang kepalanya pecah dan terhambur. Mengerikan memang dan telah memantik emosi serta simpati. Tapi kita tak berhenti di titik itu. Baiknya digali lebih dalam lagi, kira-kira apa kepentingan dari penyerangan tersebut? alasan-alasan formalnya seperti apa? landasan moral dan etikanya bagaimana? apakah ada pengaruh dari interpretasi kitab-kitab kuno yang keliru, tentang kelompok lain (goyim)? ataukah ini sepenuhnya tindakan negara totaliter yang ingin memperluas wilayahnya dan mengusir kelompok manusia lain dengan cara apa pun. Negara yang mungkin saja telah mengembangkan nasionalisme tertentu dan kemudian membius warganya untuk turut serta dalam tindakan peperangan tak seimbang, anti kemanusiaan. Lantas, dimanakah posisi kita? apa yang tidak kita setujui. Mungkin ada kawan yang melawan karena alasan ideologis karena yang menyerang itu beda kepercayaan dan yang diserang ada kesamaan kepercayaan. Saya tidak percaya itu, yang saya tahu bahwa tindakan tersebut telah mengusik rasa kemanusiaan kita. Secara tidak sadar, Negara Israel telah mengidap amnesia total, dia lupa bahwa dahulu kaum mereka pernah juga menjadi korban perang, korban hilangnya rasa kemanusiaan suatu bangsa lain (Bangsa Jerman-NAZI), serta korban kekerasan bangsa-bangsa terdahulu, seperti Asyiria, Babilonia, Mesir, dll. Lantas, dimanakah ingatan itu mereka simpan? sepertinya, kehendak untuk berkuasa, kehendak untuk menjadi kerajaan yang kukuh telah membius dan menutupi hati nurani mereka. Selama hati nurani mereka tertutup, selama itu pula mereka menjadi musuh kemanusiaan.

Idham, 25 Juli 2014

Read more...

Sabtu, 09 Juli 2016

Ramadhan

Ia telah lewat, kata orang banyak. Ia melintas serupa angin, yang terasa namun tak mampu kita tangkap. Kita hanya bisa menikmati getarnya, menembus kulit, ke dalam relung. Namun, Kita tak tahu, sejauh mana rasa itu hinggap? Apakah mampu merombak lagi bayangan yang sebelumnya telah terbentuk dengan beragam sentuhan? Lalu muncul gambar baru, orientasi baru.
Foto : Istimewa
Ramadhan memberi kita sebuah pengalaman pada spirit. Pengalaman yang spesial, yang sebelumnya hanya terbersit, kadang-kadang, sebab jangkarnya melekat pada batu licin. Ramadhan barangkali cukup membantu untuk kembali menemukan dalam diri kita, sesuatu yang suci. Jika terkoneksi, dampaknya serupa senter kepala, mampu menerangi kita saat terperangkap dalam gelap.
Persentuhan dengan yang suci atau apalah namanya. Yang kata seorang filsuf, Heidegger, yaitu persentuhan dengan Ada, merupakan momentum kita untuk hadir di sebuah dunia, saat ini ramai disebut sebagai eksis. Namun, Islam dan Ramadhan, hanya salah satu jalan dimana Ada itu merambat. Ada serupa rumput liar yang akarnya tak habis-habis, tiba dimana saja, namun tak terlihat. Ada hanya eksis jika jiwa-jiwa terbuka padanya, membiarkannya melintas, sadar.
Saya tak tahu, apakah fenomenologi Ontologis Heidegger ini mengafirmasi jalan batin para tarekat, jalan suci para petualang, dimana "Ada dan pengetahuan akan Ada" merasuk melalui bening hati?
Ramadhan dapat juga disebut sebagai teknik, sebagai metodelogi, memandu kita untuk bersentuhan dengan hakikat. Tentu, banyak rintangan, misalnya pekerjaan rutin yang membuat kita lupa, terjebak pada keseharian. Tapi, jika keseharian itu kita lemparkan ke dasar, bertanya-tanya dengan hati gundah, kita pun dapat terhubung kembali, membuat mata kita terang, penglihatan kita otentik. Kita pun melakukan koreksi-koreksi terhadap keseharian,
Apa yang tersisa dari Ramadhan? yang tersisa adalah pengalaman bersentuhan dengan diri kita sendiri. Kenapa kita merasa ada yang hilang setelah Ramadhan? Karena kita dengan sengaja lupa, dan lebih memikirkan hal-hal sepele, teknis sehari-hari.
Saya pun begitu.
Minal Aidin wal Faidzin. Maaf Lahir Batin.

Read more...

Kamis, 12 Mei 2016

Ramai-Ramai tentang Cina

Dalam novel Putri Cina, Shindunata dengan ciamik menggambarkan bagaimana etnis Cina, diperlakukan tidak adil di Nusantara. Melalui kisah Putri Cina (anak Kaisar Cina) yang tidak lain istri Brawijaya V (raja terakhir Majapahit) yang lalu diceraikan dan dikawinkan pada anaknya Arya Damar si Penguasa Palembang saat hamil 7 bulan, unsur Cina menjadi penting untuk kepentingan sesaat para penguasa, sekaligus menjadi korban juga untuk menyelamatkan kekuasaan politik.
Tersebutlah sang Putri yang berkunjung ke Jawa untuk menemui anaknya, Raden Patah yang sudah terdengar kemahsyurannya dalam menyebarkan agama Islam setelah berguru pada Sunan Ampel. Saat tiba di jantung Majapahit, kerajaan itu sudah luluh lebur akibat serangan Raden Patah, yang tak bukan putra Brawijaya sendiri. Dalam kondisi yang tak menentu itu, dia lalu mengunjungi negeri baru yang makmur, yaitu Medangkumulan. Di negeri ini, dia mendapati raja yang dahulunya bijaksana berubah menjadi lalim lantaran bisikan nafsu untuk mempertahankan kekuasaan.
Di situ pula ia menyadari bahwa setiap terjadi kerusuhan, kaumnya selalu menjadi kambing hitam. Mulanya memang kaumnya dipuja, karena keuletannya dalam urusan dagang dan akumulasi modal, namun ketika kondisi ekonomi politik balau, si Cina lah yang disalahkan, secara beramai-ramai.
**
Di karyanya yang lain, yaitu "Kambing Hitam : Teori Rene' Girard, dijelaskan lebih detail tentang asal muasal pengkambinghitaman. Kambing Hitam hadir di ujung keresahan, saat setiap pihak mencari titik selamat, di sisi lain semua pihak punya potensi menjadi korban. Untuk itu, agar semua selamat, haruslah ada satu yang dikorbankan . Kekerasan model begini menurut Girard dapat menimbulkan penyelamatan. Termasuk selamatnya para penguasa dari kecaman rakyatnya. Atau selamatnya semua suku pribumi dalam segala bencana keruntuhan, yang disebabkan oleh kelemahan diri sendiri.
Begitu halnya dengan Cina, yang bahu membahu membangun Nusantara, dari banyak sisi, mulai dari menggiatkan perdagangan di pesisir utara Jawa, menyebarkan agama Islam hingga ke jantung kerajaan-kerajaan hindu, membantu melawan penjajah Eropa, dan memperlihatkan tabiat kerja keras saat diperbudak oleh penguasa Belanda di Deli Serdang sebagai buruh perkebunan karet dan tembakau, yang karena kemampuannya dalam mengatur keuangan, banyak yang naik kelas dan memulai usaha kecil-kecilan, dan akhirnya menjadi pengusaha kelas kakap (sumber Cina menjadi budak perkebunan tahun 30-an, dari buku Greet Mak, Abad Bapak Saya).
Kelompok yang telah menjunjung tinggi semangat asimilasi pada masa Orba ini pada akhirnya selalu dicerca dengan alasan ekslusifitasnya, dan mentalitas ekonominya (homo economicus). Dan buntutnya adalah konflik berdarah, seperti peristiwa kerusuhan 98 yang korbannya toko-toko dan gadis-gadis keturunan Cina. Krisis ekonomi, yang disebabkan oleh ketidaksanggupan pemerintah dalam menjaga ekonomi kita tetap stabil, akhirnya ditumpahkan dengan membunuh Cina.
**
Saat ini, Cina lagi yang jadi top perbincangan, di koran-koran, di warkop-warkop, dan di group group whatsapp. Lantaran pemerintah kita banyak teken kerjasama dengan Cina, mulai dari utang luar negeri, kereta cepat, hingga tenaga kerja untuk aktivitas pembangunan infrastruktur. Hal ini tentunya menimbulkan kerisauan lagi, karena Cina yang di seberang sana, masih kadang-kadang dihubungkan dengan Cina yang di dalam sini, bersama kita sebagai warga Indonesia.
Cina yang di seberang sana, yang dulu kita sama-sama dijajah oleh fasisme Jepang, dalam catatan sejarah, tidak terlalu ada sangkut pautnya dengan kemerosotan ekonomi politik kita. Memang, dahulu, Kubilai Khan, yang menguasai Dinasti Yuan yang China, pernah hampir menerkam Singosari, namun sempat ditangkis oleh Raden Wijaya. Itu pun bukan dari Cina yang asli, tapi dari Cina yang Mongol.
Cina di seberang sana, adalah kawan senasib kita dalam memperjuangkan kebebasan-emansipasi manusia semesta. Mesti dengan gaya yang berbeda. Dahulu, kita sama-sama negeri petani, Cina berjalan lambat namun pasti, kita dengan tergesa-gesa mengembangkan pertanian dalam deretan REPELITA, namun terjebak juga dalam krisis pangan, meski sejenak berbuih dalam swasembada pangan (katanya).
Poros Jakarta - Peking pernah mengalami masa bulan madunya, dengan beragam pekik revolusi. Saat mahasiswa Indonesia ramai-ramai belajar ke Cina, mengikuti sunnah Rasul. Meski, dengan cepat menjadi benci pasca 65, karena Cina bermerek merah, dan merah di Indonesia dianggap penghianat bangsa. Namun, karena Cina juga berganti baju, dengan adagium Deng Xiaoping (pemimpin Cina), terserah kucing putih atau kucing merah, yang penting dapat menangkap tikus. Akhirnya Cina dapat bekerjasama lagi dengan Indonesia. Di saat Indonesia mesra-mesranya juga dengan Jepang untuk pasar mobil dan produk teknologi Negeri Matahari.
Buntutnya, keturunan Cina di Indonesia sendiri lah yang menjadi agen utama dalam perbaikan hubungan Indonesia - Cina. Tentu melalui urusan bisnis. Cina keturunan menjadi perantara barang-barang murah dari Cina tersebar ke Indonesia, mulai dari silet, sumpit, mangkuk, peniti, jarum, handphone hingga motor Cina. Barang-barang itu demikian mudahnya diproduksi di Cina, karena surplus tenaga kerja. Cina berhasil memanfaatkan bonus demografinya.
Cina di sana bangkit, karena betul-betul memanfaatkan sumberdaya manusia dan alam mereka, dengan kekuatan politik satu atap. Mereka membangun infrastruktur dimana-mana, dengan kecepatan super, warganya juga bekerja siang malam untuk pengembangan ekonomi. Ujungnya adalah surplus dengan tingginya pertumbuhan ekonomi, Orang Kaya Baru (OKB) melunjak dimana-mana. OKB Cina pun banyak meluangkan waktunya untuk berjalan-jalan ke luar negeri, Amerika, Eropa, dan juga Indonesia. Sambil jalan-jalan, mereka pun menanamkan investasinya, yang terlanjur melimpah dan sudah mulai jenuh di negaranya.
Pada 2012, ekonomi RRC jenuh, pertumbuhan ekonomi menurun. Indonesia juga kena getahnya (berdasarkan artikel dalam : Menatap Indonesia 2016, Kompas). Indonesia yang dulunya banyak diuntungkan oleh pertumbuhan ekonomi Cina, melalui ekspor bahan mentah (raw material), akhirnya berdampak fatal terhadap eknomi kita. Harga rumput laut turun drastis, harga produk-produk pertanian yang lemparannya ke cina anjlok. Yang menderita adalah petani rumput laut, nelayan yang selama ini menikmati harga tinggi dari aktivitas ekspor ke negeri Bambu.
Akhirnya, Indonesia juga meniru Cina, dari segi semangat membangun infrastruktur, yang harapannya ke depan sangat mendukung pengembangan industri, sehingga produk ekspor ataupun untuk konsumsi industri atau pasar dalam negeri sudah dalam bentuk setengah jadi atau produk hilir. Peningkatan nilai tambah ini pastinya akan mengembalikan kondisi perekonomian kita, dengan tidak lagi bergantung pada pasar bahan mentah ke Cina, yang disinyalir hingga 80%. Mumpung, pasar dalam negeri kita mencapai 50% dan usia kita sedang mekar-mekarnya (bonus demografi).
Jokowi meminta utang ke Cina (sebenarnya untuk menutupi utang pada negara-negara barat : utang adalah pengikat komitmen kerjasama, selain untuk memperlancar pembangunan infrastruktur), mempekerjakan orang Cina, bekerjasama dalam bidang usaha transportasi dengan Cina, tidak dengan akal bolong begitu saja. Tentu ada alasan-alasan bernas, untuk menguatkan posisi strategis kita pada geopolitik ekonomi antar bangsa-bangsa. Tentu, dalam diplomasi ada deal-deal tertentu, yang menguntungkan bangsa kita. Saya percaya pada kemampuan diplomatik para diplomat-diplomat kita, termasuk yang berada di negeri Cina.
Pun pemerintah tidak menutup mata untuk menangkis atau tersedia alternatif selain Cina. Dengan membangun ekonomi Asia Tenggara, dengan skema Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), negara kita bisa sedikit menghindar dari Cina, dengan bekerjasama dengan sesama negara Asia Tenggara.
Gitu deh, akhirnya saya terprovokasi dengan isu Cina belakangan ini. Melihat Pemerintah mempekerjakan tenaga Cina sebesar 100 ribu orang, saya kira tidak masalah, dan sebanding dengan Malaysia yang mempekerjakan tenaga dari Indonesia yang jumlahnya jauh lebih banyak.
Namun, entah sampai kapan bulan madu ini bertahan... ? Dan bagaimana ujung dari bulan madu ini? Jika ekonomi kita merosot entah karena apa, apakah kelak akan menjadikan keturunan atau orang Cina kambing hitam lagi? Wallahu alam.

Tamalanrea, 12 Mei 2016

Read more...

Rabu, 27 April 2016

Hariadi Adnan : Perintis Rumput Laut Indonesia

Hariadi bersentuhan dengan dunia rumput laut tanpa rencana dan kesengajaan. Bermula dari ajakan Soerdjo Dinoto, pegawai Lembaga Oseanografi Indonesia (LON) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Direktorat Hidrografi, yang juga kakak iparnya, untuk melakukan penelitian rumput laut jenis spinosum di Pulau TIkus, Gusus Pulau Pari, Kepulauan Seribu pada 1967. Waktu itu Hariadi baru saja lulus dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan belum punya pekerjaan, ajakan Soerdjo baginya merupakan peluang untuk mencari pengalaman di dunia kerja.

Meski tak ada pengalaman sama sekali, Hariadi menekuni budidaya rumput laut spinosum, yang bibitnya diperoleh dari alam setempat atau bibit lokal. Menurutnya, perkembangan spinosum di Pulau Seribu cukup bagus, waktu itu kendala penyakit belum terlihat dan rumput laut tumbuh sesuai dengan yang kita impikan. Namun penelitian ini sempat tersendat pada 1969, tidak adanya anggaran lantaran kurangnya perhatian dari pemerintah. Meski begitu, penelitian tetap berlanjut hingga kakak ipar Hariadi meninggal pada 1970 yang berbuntut pada bubarnya proyek penelitian ini. Dari pengalaman Pulau Seribu, Hariadi menyimpulkan bahwa rumput laut dapat dikembangkan di Indonesia, meski dengan fasilitas yang sederhana, seperti penggunaan tali ijuk untuk bentangan, yang mesti harus diganti setiap bulan.


                         Sumber : foto facebook Hariadi Adnan   

Pada tahun 1974 hasil kerja Hariadi dkk di Kepulauan Seribu dilirik oleh perusahaan dari Denmark, yaitu Kopenhagen Pactin, perusahaan Amerika Martina Koloid, dan Perusahaan Francis, AUB SA. Ketiga-tiganya melakukan survey di Pulau Samaringga, Selat Banggai, Sulawesi Tengah. Tapi, yang melanjutkan ketertarikannya hingga ke tahap pemberian bantuan untuk pelaksanaan proyek adalah Kopenhagen Pactin. Penelitian rumput laut di Kepulauan Seribu direkonstruksi ulang, juga dengan peralatan seadanya. Saat itu, Hariadi dibantu dua sahabatnya, yaitu Bambang Tjipto Rahadi dan Bambang Basuki.

Hariadi dan rekannya mengembangkan rumput laut spinosum dari bibit hingga pembesaran, aktivitas budidaya rumput laut ini ternyata diperhatikan oleh masyarakat setempat. Mereka tertarik untuk turut membudidayakan rumput laut. Hariadi menanganinya dengan memberikan ke mereka bibit dengan harapan ketika rumput laut mereka berkembang, bibit yang diberikan dahulu dapat dikembalikan. Saking dekatnya Hariadi dkk dengan masyarakat, seorang kawan penelitinya, menikah dan memperistrikan warga setempat.

Pada 1978, Hariadi dan timnya meninggalkan Samaringga dan membawa bibit spinosum 6 kilogram basah ke Bali, tepatnya di Tenure, Benoa.  Ujicoba di Bali terbilang berhasil, selain karena kualitas air yang baik, juga karena diterapkan metode pembibitan khusus dan pembesaran yang sudah maju. Pada 1981, mereka untuk pertama kalinya melakukan pengiriman ekspor ke Kopenhagen-Denmark dengan jumlah fantastis waktu itu, yaitu 81 ton. Pada tahun-tahun itu juga permintaan terhadap rumput laut cotoni meningkat, untuk itu Hariadi dan kawannya berkunjung ke Filipina untuk memperoleh bibit langsung dari Filipina. “Bibit dari Filipina inilah yang digunakan hingga sekarang,” terang Hariadi.

Penelitian dan pengembangan rumput laut di Bali berlangsung hingga tahun 2008. Pada tahun itu, Hariadi mengaku jenuh dan ingin mengerjakan hal lain. Makanya dia meninggalkan Bali dan memilih menjadi freelance setelah mengurus rumput laut selama lebih dari 40 tahun. Bapak yang lahir pada 4 November 1943 ini beberapa tahun terakhir berjuang sebagai Ketua Dewan Pengawas Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI). Melalui ARLI, Hariadi turut memberi sumbangan pemikiran dan advokasi kepada pengembangan rumput laut masyarakat kecil. Menurutnya, kelemahan kita hingga saat ini, yaitu lemahnya pendataan, sehingga pemerintah kesulitan mengukur jumlah rumput laut yang dapat diekspor dan jumlah rumput laut yang diserap oleh industri nasional. Untuk itu, salah hal yang harus dibenahi segera adalah pendataan tersebut, agar pemerintah dapat mengambil dasar yang kuat untuk kebijakan perdagangan rumput laut serta pembangunan infrastruktur industry rumput laut, demi pensejahteraan pembudidaya rumput laut.

Sampai saat ini, Hariadi masih malang melintang di dunia rumput laut, melakukan pembinaan dan pemberian arahan pada para pelaku rumput laut Indonesia. Beliau menetap di Jogjakarta, kota yang lekat dengan kata rindu, pulang dan angkringan, menyempatkan mengajar di Universitas PN Veteran Yogyakarta. Beliau memang sudah berumur 73 tahun, tapi semangatnya untuk memajukan rumput laut tidak pernah surut.

Idham Malik

Read more...

Kamis, 21 April 2016

Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), Sekelumit Pertanyaan?

MEA sudah berlaku, dengan malu-malu kucing. Karena saking licinnya, kita sebagai warga Indonesia banyak yang tidak menyadari peristiwa genting ini, jika banyak yang setuju dikatakan genting. Kita tak merasakan perubahan apa pun dengan berlakunya MEA ini, atau mungkin belum begitu terlihat dalam jangka waktu singkat, entahlah.
Memang, tingkat kesenjangan mengalami penurunan (menurut survei kompas yang terbit kemarin, 19 April 2016), tapi apakah karena MEA, tentu bukan. Ekonomi lagi merosot-rosotnya, sebab pondasi ekonomi kita lebih bersandar pada ekspor bahan baku, yang ketika ekonomi dunia, apalagi ekonomi Cina guncang, kita pun ikut bergoyang. Sedotan row material yang rendah membuat kita berubah fikir, untuk kembali membangun infrastruktur untuk mendukung industri untuk peningkatan nilai bahan baku. Agar kita tidak perlu terlalu bergantung pada pasar ekspor. Lagian, pasar dalam negeri kita cukup besar serapannya, domestik menyumbang 50 persen (Data prediksi ekonomi kompas 2016).
Lantas, dari mana ide MEA ini berasal? Dari buku Abad Bapak Saya, karya Greet Mak, dijelaskan tentang asal mula terbentuknya Masyarakat Ekonomi Eropa yang disingkat Uni Eropa pada 1957. Tahun 50-an di Eropa merupakan tahun rekonsiliasi, penyembuhan terhadap bunuh diri Eropa dalam Perang Dunia ke-2. Perubahan kebudayaan didorong oleh pertumbuhan ekonomi yang tinggi, serta perataan ekonomi akibat kehancuran bersama saat perang. Negara-negara Eropa yang semuanya punya kecendrungan nasionalis, akhirnya sepakat untuk melebur dalam satu komunitas, yang sebelumnya tidak terbayangkan sama sekali, yaitu Masyarakat Ekonomi Eropa.
Dalam MEE ini, terjadi arus tenaga kerja antar negara Eropa, begitu halnya dengan arus barang, yang ujungnya adalah penggunaan mata uang bersama. Namun, kata Greet, bendera Merah Putih Biru (Belanda) pun akhirnya harus selalu bersanding bersama dengan bendera negara eropa yang lainnya. Nasionalisme pun tidak lagi meledak-ledak seperti perasaan nasion sebelum perang dunia 1 dan 2, justru yang hadir adalah perasaan takut pada sesuatu yang lain, yang berada di seberang, yang tak lain bagian mereka juga, yaitu eropa timur, khususnya Uni Soviet. Meski sesama eropa, Eropa Timur punya karakteristik yang terasa lain, hal ini disebabkan dikotomi yang dibangun sejak dahulu kala, yaitu pembagian kristen barat yang diwakili Romawi, dan Kristen Timur pada Konstantinopel dan negara timur lainnya.
MEE menyebabkan kemakmuran meningkat, gaji pegawai meningkat berkali-kali lipat, orang dapat menikmati waktu luang lebih banyak, negara rendah dapat bantuan dari negara tinggi, jaminan sosial pun diterapkan hingga penduduk-penduduk yang kurang mampu pun dapat hidup layak. Tapi, faktor yang lebih besar sebenarnya adalah adanya trauma perang dunia dan kecemasan akan timbulnya semangat nasionalisme baru dari negara-negara eropa. MEE sebagai sarana untuk bekerjasama dalam pengembangan negara masing-masing. Selain itu, sebagai wadah untuk saling menguatkan untuk menangkal pengaruh komunisme dari Eropa Timur.
Kembali ke Masyarakat Ekonomi Asean, seperti apakah latar belakang MEA ini? Apakah hanya demi kepentingan ekonomi bersama atau adakah sesuatu yang lebih subtil, seperti perasaan senasib negara-negara di Eropa? Jika perasaan senasib, apakah karena kita pernah sama-sama dijajah oleh orang Eropa? Indonesia oleh Belanda, Malaysia-Singapura oleh Inggris, Vietnam oleh Prancis, Filipina oleh Amerika Serikat. Ataukah karena kita sama-sama mengalami agresi Jepang yang saat itu begitu fasis?
Mungkin kita perlu tanyakan ke diri kita masing-masing, seberapa kenalkah kita dengan Malaysia, Vietnam, Thailand, Filipina, Brunei Darussalam? Sudah terbangunkah rasa persaudaraan bersama antar kita, sesama warga Asean? Apakah kita perlu dulu berlama-lama membangun keakraban sebelum ekonomi kita sharing secara bersama untuk kemakmuran bersama? Atau, jangan-jangan kita sekadar meniru-niru pada model kerjasama para penjajah bangsa kita dahulu.

Read more...

Senin, 11 April 2016

Regenerasi Kader LSM

Barangkali agak basi, wacana tentang regenerasi aktivis LSM sudah saatnya kita pikirkan lagi secara bersama dan mendalam. Saya baru menyadari hal ini setelah mengamati dan mengalami begitu sulitnya menemukan anak muda yang punya ketertarikan pada dunia LSM, yang mau mendedikasikan hidupnya untuk bersusah-senang bersama masyarakat. Ada pun yang senang atau setengah senang pada kerja LSM, ketika akhirnya terlibat dalam hidup-nya LSM, tampak kesulitan untuk menemukan rasa dan denyut getar dengan masyarakat. Hingga ujungnya tiba pada kebosanan hidup, dan tenggelam dalam rutinitas yang lebih bersifat administratif.
Bukan hanya pada tataran individual, tapi juga ranah institusi/lembaga. Memang masih banyak LSM, khususnya lembaga yang lebih mengurusi wacana-wacana sosial yang umum, seperti kemiskinan, kelompok marginal, atau persoalan hukum. Tapi, LSM yang bergerak pada isu-isu spesifik, seperti isu perikanan dan konservasi lingkungan boleh dikata masih kurang. Itu pun jika ada, hidupnya kembang kempis, dan sangat tergantung pada asupan susu dari luar.
Saya mencoba untuk menganalisa lebih dalam faktor yang melatar belakangi kondisi tersebut. Kali ini saya mencoba melirik kampus sebagai sumber utama dalam pengkaderan aktivis LSM.
Pertama, kampus, sebagai benteng intelektual dan intelegensi, tidak memiliki skema yang penuh dan jelas untuk menyiapkan mahasiswa terjun ke pengembangan masyarakat kecil, dalam artian yang sebenarnya. Apalagi pada jurusan ilmu eksakta, yang memang tidak mendalami ilmu-ilmu humaniora serta ilmu sosial. Kampus justru menerapkan metode untuk menghasilkan pekerja skala perusahaan dan abdi negara. Mereka diberi kompetensi untuk mengatasi persoalan teknis pada perusahaan-perusahaan yang padat modal. Namun kurang diperkenalkan metodelogi untuk mengatasi persoalan-persoalan pada unit usaha kecil, yang kurang modal, apalagi ekonomi kecil seperti yang dimiliki petani, nelayan, dan petambak ikan.
Kedua, khusus pada jurusan eksakta, kampus tidak melatih mahasiswa untuk mengorganisir masyarakat. Yang dilakoni kampus adalah skema untuk meningkatkan kemampuan individual mahasiswa, bukan berupa kemampuan untuk meningkatkan kecerdasan bersama, atau berkembang bersama dalam sebuah komunitas. Kemampuan individual ini digodok dalam bentuk tugas-tugas ilmiah di kelas ataupun di laboratorium. Sedangkan kemampuan sosial kurang terasa karena memang mahasiswa kurang terlibat dalam kehidupan masyarakat, selain kurang membaca kajian-kajian sosial. Misalnya, mahasiswa perikanan, mereka hanya sekali-sekali mendatangi komunitas nelayan atau pun petambak tradisional. Sehingga, orientasinya tertuju pada perusahaan yang akan mempekerjakannya dengan gaji tinggi, bukan terlibat dalam masyarakat nelayan atau petambak yang minim ekonomi.
Ketiga, karena jarangnya mereka hidup bersama masyarakat, kecintaan murni terhadap warga desa atau kampung sangat sulit hadir di jiwa mereka. Hal ini berefek pada penelitian-penelitian yang dikembangkan. Rata-rata penelitian mahasiswa berkutat pada persoalan teknis yang dialami oleh perusahaan padat modal. Sedangkan persoalan masyarakat kecil, seperti petambak-petambak tradisional kurang mendapat perhatian.
Keempat, kampus seakan-akan mengendurkan semangat mahasiswa untuk berlembaga. Kampus serentak menganggap aktivitas dalam lembaga itu dapat menghambat kegiatan keilmuan yang bersifat resmi. Fatalnya, niat buruk ini sudah ditampakkan dalam bentuk ancaman sangsi akademik pada beberapa aktivis kampus yang melanggar aturan yang sengaja dibuat untuk menghalang-halangi munculnya pikiran-pikiran-gerakan-gerakan kritis mahasiswa.
Padahal, dalam kehidupan berlembaga, mahasiswa menemukan ruang untuk berdialektika, sehingga mahasiswa terbiasa menghadapi tekanan dalam komunitas, serta mampu bekerjasama dalam komunitas untuk mengembangkan komunitas. Kompetensi pun diperoleh berupa kecerdasan emosional (seni mempengaruhi dan bekerjasama) dan kognitif (seperti strategi pengelolaan lembaga). Integrasi kecerdasan tersebut, memampukan alumni mahasiswa untuk menyusun konsep yang tepat, berbasis ilmiah dan sesuai rasionalitas untuk pengembangan masyarakat.
Keadaan hidup bersama dalam susah dan senang, dapat menimbulkan kesadaran akan penderitaan yang dialami oleh orang lain, yang nantinya akan diteransformasi berupa kesadaran akan penderitaan rakyat dan adanya upaya untuk pendampingan masyarakat.
Kelima, skema KKN yang dimiliki kampus, belum betul-betul strategis dalam mengatasi persoalan di masyarakat. Mahasiswa kurang dibekali secara serius tentang strategi untuk hidup bersama dengan masyarakat dan belajar menggali persoalan masyarakat secara mendalam, serta strategi pengembangan ekonomi masyarakat. Mahasiswa banyak yang sekadar menjalankan program, yang kadang-kadang bersifat seremonial dan tidak melekat secara kuat di benak masyarakat. Sehingga, pra dan pasca kegiatan KKN, kehidupan warga tidak mengalami perubahan yang signifikan.
Buntut dari akumulasi faktor-faktor yang saya susun secara sederhana seperti di atas adalah kurangnya minat mahasiswa untuk terlibat dalam dunia LSM. Mereka rata-rata kebingungan dengan kerja-kerja LSM di masyarakat, yang terlihat lamban dan tampak tidak menghasilkan apa-apa. Selain itu, kurangnya minat ini diperkuat oleh persepsi bahwa jika kita terjun di dunia LSM maka kita akan susah kaya. Mahasiswa kebanyakan mencari pekerjaan yang bergaji tinggi, yang biasanya diperoleh pada perusahaan atau lembaga negara. Sedangkan kerja LSM di masyarakat sekadar cukup dari segi pendapatan, tapi melimpah dari segi makna hidup. Pegiat LSM pada dasarnya hidup dari nilai-nilai yang mereka pegang, atau biasa yang kita sebut sebagai ideologi. Jika ada pegiat LSM bekerja hanya karena ingin mendapat gaji, yakin saja pegiat LSM itu tidak akan bertahan lama untuk mendampingi masyarakat.
***
Untuk itu, marilah kita bersama-sama memikirkan strategi untuk regenerasi kader LSM di dalam kampus. Jika kita terlambat dalam mengantisipasi persoalan ini, ke depan, akan susah diharapkan para alumni kampus untuk terlibat dalam dunia LSM. Ataupun mereka terlibat, dalam pikiran dan hati mereka, bukan sebagai aktivis LSM, tapi sekadar pekerja dalam organisasi swadaya masyarakat.

Tamalanrea, 11 April 2016

Read more...

Sabtu, 09 April 2016

Menulis untuk Anak-Cucu

Tiga hari ini saya berkutat dengan sebuah buku, yang menurut pembaca sejarah yang masih awam seperti saya ini sunggu bagus, dengan perngertian sebenarnya. Dengan berani Geert Mak, memberi judul buku setebal 753 halaman itu "Abad Bapak Saya", ditambah gambar sampul sebuah suasana kota kuno di Deli tahun 30-an.


Geert mengisahkan tentang rona hidup keluarga besarnya, dimulai dari sebuah sudut kota pelabuhan Netherland, Schiedam, tahun 1890-an. Kota yang malam hari temaram lantaran belum tersentuh listrik, penduduk yang giat bekerja di perusahaan bir, tumpahan bir di jalan kadang-kadang dinikmati oleh anjing dan hewan-hewan ternak, membuat sapi-sapi berjalan sempoyongan.
Bapaknya lahir dengan darah religius kental dari kedua orang tuanya. Khususnya nenek, yang mengimani dengan taat konten injil dalam pengertian yang harfiah. Sedangkan bapak, meski rajin ke gereja, cenderung berfikir bebas dan tidak terlalu ngotot dengan formalisme kitab. Lanjut cerita, pada perkembangan berikutnya terjadi abad pemisahan yang begitu rumit dan meresahkan di kota dan desa Netherland, antara kaum kristen hervormd yang lebih bebas menafsirkan kitab, dan gereformeerd yang agak kaku dalam penafsiran kitab.
Pada awal abad 20, dengan perkembangan jaringan kereta api, kapal layar, listrik, dan majunya industri, serta melajunya bisnis percetakan, membuat jarak dan waktu terpangkas demikian rupa. surat kabar yang berbasis aliran ideologi agama disebar dengan cepat, dan para penganut pun dengan khidmat melahap pikiran-pikiran para pastor-pendeta dalam setiap nomor edisi. Perdebatan pun terjadi dimana-mana, bahkan dalam keluarga-keluarga.
Pada Zaman yang Indah, kata lain dari awal abad 20 itu, terjadi luapan semangat yang luar biasa pada segenap pemuda seluruh negeri di Eropa. Di sudut-sudut, di dalam gudang, pinggir-pinggir jalan, cafee-cafee, para pemuda dengan riang mendiskusikan tema nasionalisme. Mereka terhanyut dalam gelombang cinta tanah air, yang dibesar-besarkan oleh mars-mars, yang mereka dengar hampir setiap hari. Ledakan ekonomi akibat majunya industri yang digodok sekitar 40 - 50 tahun, surplus pemuda, optimisme yang melunjak, berkembangnya industri senjata, kelimpahan itu meledak dengan sengaja dalam bentuk perang dunia 1. Pemuda-pemuda diantar oleh kereta menuju medan pertempuran, sambil bercanda, "haduh, bahagianya kamu, bisa langsung ke perbatasan verdun". Mereka berangkat seakan-akan hendak ke pesta.
Keinginan pihak-pihak tertentu untuk memperluas wilayah jajahan, ekspansi industri dan pasar, desakan modal yang kian membuncit, perang pada akhirnya memakan jutaan korban. Betul, imperium runtuh, kerajaan diambil alih, dan rasionalisasi mengisi cela-cela pemerintahan pasca perang, tapi Eropa pada umumnya dirugikan, dengan separuh laki-lakinya (negara yang terlibat perang) mati di perbatasan. Ekonomi merosot hingga batas-batas terjauh. Tapi, pelan-pelan, tumbuh lagi optimisme, bentuk sastra baru muncul, aliran musik hadir dalam bentuk yang tidak dikenali sebelumnya. Para pemuda mulai mengenal pemikiran-pemikiran baru. Kehidupan baru. Eksistensi memang lahir dari tekanan tinggi pada batas-batas kesanggupan.
Dalam Abad Bapak Saya, dijelaskan Belanda merupakan negara yang terhindar dari serangan Jerman, sehingga secara kejiwaan sedikit berjarak dengan warga negara lain yang lebur hancur. Warga Belanda masih terhubung dengan tradisi-tradisi sebelumnya, namun mereka tertinggal dari bangsa-bangsa yang ikut berperang, lantaran semangat hidup serta kreatifitas mereka justru lebih menggeliat.
Menariknya, dalam buku ini dikisahkan kondisi tanah air saat Catrinus Mak, sang bapak melancong ke Hindia belanda, khususnya medan, untuk memimpin ummat kristen gereformeerd yang jumlahnya ribuan. Catatan ayahnya meninggalkan pengetahuan mendalam tentang suasana kota, perkebunan karet dan tembakau yang sedang tumbuh-tumbuhnya. Para pegawai, pekerja kebun, serta para pemberontak yang menimbulkan kegelisahan pada warga kulit putih, yang jumlahnya hanya 100.000 dibanding jutaan penduduk Hindia Belanda.

Dikisahkan bentuk kontrol operasi yang ketat perusahaan perkebunan pada para buruhnya, yaitu ordonansi kuli. Ribuan buruh dari dataran Jawa didatangkan ke Deli, mereka menandatangani kontrak kerja, dengan perjanjian-perjanjian di luar batas nalar. Salah satunya, adanya aturan pidana bagi pekerja yang lari dari kebun. Selain itu, mereka diharuskan untuk menciptakan makanan sendiri dengan menanam di perkebunan. Menurut salah seorang guru Indonesia di perkebunan, Tan Malaka, para buruh kontrak tinggal "seperti kambing dalam kandangnya", "Mereka adalah golongan yang setiap saat dipukuli atau menerima umpatan godverdomme".

Bla-bla-bla, halaman terakhir saya baca yaitu halaman 195, sehingga tak dapat lagi saya lanjutkan kisah buku yang telah saya coba untuk merangkumnya dengan cukup padat dan melompat-lompat.
***
Hikmah apa kiranya yang dapat kita peroleh dari buku "Abad Bapak Saya" ini? Satu hal yang cukup dalam terproses dalam pikiran saya, yaitu awetnya sebuah kenangan lewat catatan orang tua kepada generasi pelanjutnya, anak atau cucunya.
Generasi kita, pasti sangat ingin mengetahui kiprah kita beredar di muka bumi. Apa yang kita lakukan, apa yang kita pikirkan, apa yang kita hendak capai, bagaimana prosesnya, dalam kondisi apa kita berjuang hidup?
Mereka rindu dan menikmati kisah-kisah yang berasal dari orang tua mereka. Dan mungkin akan berpengaruh terhadap persepsinya kepada dunia. Itulah sebabnya, coretan-coretan seseorang akan sangat berharga, bukan hanya saat ini, jika terdapat korelasi di zaman ini. Tapi, lebih pada di masa depan. Dimana pembacanya adalah darah daging kita sendiri. Yang mungkin akan melanjutkan kisah kita kepada generasi berikutnya lagi.
Untuk itu, tidak ada alasan untuk tidak mencatat, membuat ulasan tentang peristiwa saat ini. Apa yang kita pikirkan terhadap kasus-kasus yang muncul saat ini. Bukan hanya untuk legacy-warisan kita kepada pembaca di zaman ini, tapi juga bagi generasi kita, yang rindu kisah pendahulu-pendahulunya.

Sekretariat identitas, 9 April 2016

Read more...

About This Blog

pemimpin yang baik: integritas, tanggungjawab, forgiveness, dan COmpassion
Loading...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP