Sabtu, 21 Januari 2012

Hutan


Hutan selalu menjadi dilema, walau sebenarnya sesuatu yang konkrit. Melihat hutan yang dicampuri oleh kebudayaan, kita ditohok antara dua pilihan, manusia ataukah lingkungan? Satu sisi kita dibuat was-was oleh prediksi chaotik masa depan, yang diliputi simulacrum tak pasti, bak teori termodinamika, hutan menjadi lokus perubahan menuju katastrophi. Kita selalu dihantui tapal batas yang sebentar lagi, yang tak jauh lagi. Ketika bumi memanas, ketika laut semakin ganas. Sementara sisi lain Hutan menjadi tubuh yang digerayangi, dinikmati dengan nafsu tak bertepi. Hutan menjadi obyek kerakusan, dengan legitimasi logika kemajuan, pertumbuhan, ekonomi, demi kesejahteraan manusia. Hutan menjadi tulang punggung pergerakan sebuah peradaban dan sebuah bangsa.

Kita tahu bahwa pada titik waktu tertentu, dimasa lalu, hutan menjadi target, hutan menjadi sumbu perputaran ekonomi Negara kita. perambahan hutan besar-besaran terjadi sejak Presiden Soeharto resmi berkuasa pada 1967. Bahkan salah satu peraturan yang pertama dibuat Orde Baru adalah Undang-Undang Dasar Kehutanan. Isinya menyatakan kekuasaan Negara atas seluruh jengkal hutan. Itu sama dengan mengangkangi hak wilayah adat terhadap hutan yang sudah mereka pelihara selama beberapa generasi. Hutan menjadi pemasok devisa terbesar setelah minyak bumi dan gas. Menurut sebuah penelitian, setidaknya 40 juta hektar hutan hilang selama pemerintahan Orba.

PBB memperingatkan bahwa bisnis perkebunan kelapa sawit merupakan pangkal kerusakan hutan. Sejak 1990 lebih 28 juta hektar hutan rusak akibat perluasan kelapa sawit. Itu sepertiganya dari banyaknya hutan yang dibiarkan terlantar begitu saja. Kedua adalah bisnis industri pulp dan kertas. Industry kertas berkembang pesat sejak 1980, hingga mencapai kapasitas 6 juta ton pertahun. Untuk mencapai kapasitas seperti itu, industry membutuhkan 30 juta meter kubik kayu. Dari mana mereka memperoleh itu semua?

Badan Pangan Dunia (FAO) sudah mencatat bahwa Indonesia menghancurkan kira-kira 51 kilometer persegi hutan setiap hari, setara dengan hancurnya 300 lapangan bola setiap jam. Angka deforestasi Indonesia tahun 2000 – 2005 mencapai 1,8 juta hektar pertahun. Secara kasar Indonesia menyatakan luas hutan Indonesia sebesar 133,57 juta hektar, namun menurut greenpeace, dalam separuh abad terakhir Indonesia telah kehilangan separuh hutannya. Hutan telah disulap menjadi perkembunan sawit, atau dianggurkan begitu saja. Bahkan, saya pernah melihat di pinggiran Banjarmasin, lahan lapang sudah menjadi alang-alang, yang katanya dulu adalah hutan belantara.

Di atas adalah sepintas sejarah suram, dan akan terus berlanjut entah sampai kapan. Kini, dunia mulai meributkan, tentang siapakah yang bertanggungjawab terhadap kesuraman itu. hancurnya hutan Indonesia tak bukan adalah kaitan carut-marut globalisasi dan ekonomi pasar, dimana negara-negara lain turut menyumbangkan kerusakan. Ada negara yang meminta dan menikmati, ada yang memproduksi, namun, kini kita tahu bahwa semua warga dunia akan menjadi korban perusakan lingkungan, contoh kecilnya adalah banjir, rob dan longsor pada musim hujan, bencana kekeringan, krisis air dan pangan pada musim panas, dan kegalauan kita terhadap hantu global warming.

Dalam kekhawatiran itu, hutan pun menjadi pertaruhan. Hutan dianggap sebagai penyelamat, menyanggah kenaikan suhu lewat reduksi emisi karbon yang diproduksi negara maju. Hutan menyerap, ia menampung carbon, sementara negara industri terus membangun, membuang sampah karbon. Protocol Kyoto disepakati untuk menurunkan emisi karbon setiap Negara industri hingga 26 – 40 persen pada 2020. Namun, kisruh kembali terjadi di Bali pada 2007 lalu, Negara maju seperti Amerika, Jepang, Kanada, dan Australia ogah menurunkan emisi karbonnya. Diplomasi buntu, tak ditemukan jalan keluar. Namun, protocol tetap berjalan, REDD pun ditargetkan bergerak total pada 2012 ini. Dimana setiap Negara yang mempunyai hutan tropis berhak meminta jatah dari Negara maju lantaran peranannya menurunkan emisi karbon. Namun, ini masih menjadi dilema, tentang tujuan dan mekanismenya? Banyak LSM yang belum paham mengenai hitung-hitungan carbon itu, dan kenapa Negara berkembang tak boleh membangun, sementara maju tetap melaju kencang..?

Tentang itu saya belum tahu. Kita hanya sama-sama tahu kalau di dunia ini ada negara yang serakah, dan mungkin negara kita termasuk jua. Meski begitu, tetap ada cara, walau masih sebatas wilayah komunitas, karena persoalan hutan bukan sekadar persoalan lingkungan dan emisi karbon, tapi juga persoalan perut manusia yang tinggal di sekitar hutan. Mereka butuh makan dan selalu bergantung sumberdaya hutan. Pertanyaannya, bagaimana mendamaikan antara perut manusia dengan keberlangsungan hutan? Bisakah manusia tetap bergantung tanpa merusak ekologi hutan?

Saya hanya paham masyarakat bukanlah mesin, bukan industri yang memangkas, mereka bukan manusia yang rakus, mereka hanya kumpulan manusia yang telah menyatu dengan alam dan telah mengikatkan dirinya dengan hutan. Tak mungkin mereka menghabisi sumberdaya leluhurnya. Yang diperlukan mungkin hanyalah informasi, penyadaran, dengan pendekatan pemberdayaan. Masyarakat diajak memberdayakan hutan tanpa mengurangi kemampuannya mereduksi karbon serta tetap terjaga keberlangsungannya sepanjang zaman. Yang saya tahu tentang ini adalah dengan hadirnya konsep “hutan lestari”.

Nah, dari belitan masalah ini, hutan lestari semoga bisa menjadi jalan tengah. Menjadi benang merah antara masyarakat hutan dan ekologi hutan. Semoga..

Sabtu, 21 Januari 2012

Read more...

Minggu, 15 Januari 2012

mengartikan makna, menghayati arti


mengartikan makna berarti mengartikan sebuah pengertian.. saya juga kadang dibingungkan dengan makna. ada apa dengan kata ini? makna sepengertian saya adalah pemahaman yang membuat sesuatu berarti dalam hidup, yang serta merta merombak alam berfikir dan menemukan nilai baru.. kita tak mungkin hidup tanpa nilai.. nah, darimanakah nilai itu berasal?

nilai ini menambah kualitas kita, sehingga dapat lebih mudah berkreasi dan menjalani hidup. Makna kadang, kita peroleh setelah mengetahui atau merasa bahwa diri kita tak bermakna lagi, yang biasanya diujungnya berakhir dengan tindak bunuh diri.. tapi, bagi mereka yang mendapatkan makna dari perasaan ketidakbermaknaan itulah kita melakukan peroses penghayatan arti.. "menemukan dirinya"

menghayati arti: menemukan diri dalam kekosongan (kondisi jatuh: tak bermakna: ditinggal pergi) dalam kondisi ini kita kembali menjadi manusia yang bebas, karena dipaksa memilih berdasarkan suara hati yang tidak bergantung pada yang terbatas (material).. lantaran sangat berdampak bagi masa depan..

dalam penghayatan itu, kita bersentuhan dengan cakrawala tak berbatas, yang melingkupi objek-objek. karena yang 'Mutlak' itulah yang menyelamatkan kita dari lubang kosong (absurb). Dari Cakrawala inilah bertaburan sumber nilai yang selalu kita kejar itu, menjadi pondasi terhadap segala kebaikan dan keadilan. sehingga saat yang terbatas meninggalkan kita, kita masih mendapatkan cinta dari yang Maha Mencintai, Kekasih sejati.. nun, Ia memberi kebebasan terhadap alam untuk bergerak mandiri dan menimbulkan penderitaan-penderitaan, dimana hal itu tak lain mengandung simbol cobaan berupa dramatisasi ilahi yang begitu cantik, membuat kita jatuh bangun tak terperi..

saya telah banyak berceloteh, dan mungkin akan kian menjadi tak bermakna..

makna tak mungkin ada tanpa kehadiran tujuan.. dan keberadaan tujuan meniscayakan tindakan. kita melakukan sesuatu tak lain untuk memperoleh makna.. dan "Mahluk yang paling berguna yaitu mereka yang paling bermanfaat (bermakna) bagi orang lain". limpahan makna ini pula yang membuat hidup kita bahagia.. semoga..

"Pasti gemilang"!!!!!!!!!!!!!

Read more...

Jumat, 06 Januari 2012

Revolusi Hijau dan Norman Borlaug




Sebagaimana lazimnya revolusi, ia menyimpan harapan dan juga gelisah. Revolusi memang tak setengah-setengah, ia menghentak, mendobrak, membakar gelora. Ada yang digadang-gadang selepas revolusi, tentu sebuah harapan akan masyarakat yang bebas, dari segala bentuk penghambaan atau pun perbudakan ekonomi.

Revolusi lahir dari sebuah informasi yang dibagi rata, dari sebuah penemuan yang tak disangka, berupa sebuah lompatan akan kuantitas dan kualitas, berkenaan dengan massa dan masa depan dunia. Namun, logika revolusi juga menyimpan gelisah. Begitu banyak nyawa dipertaruhkan untuk mengejar sebuah cita-cita, untuk mewujudkan slogan kebebasan. Revolusi memang membutuhkan korban, bahkan berasal dari anak kandungnya sendiri.

Revolusi pastinya memperkenalkan nama-nama besar dan juga ide-ide. Nama besar inilah yang merumuskan, meramalkan masa depan, dialektika sejarah. Mereka menemukan cara untuk berubah, untuk setara, adil, untuk bebas. kini, saya mencoba melirik satu revolusi yang pengaruhnya juga sampai ke negeri kita. Ia tak berbau gelora massa, justru ia berbau pembangunan, efisiensi, intensifikasi, dan juga teknologi. Sesuatu yang mungkin sangat diharapkan di negeri ini.

Norman Borlaug adalah sebuah sebuah nama yang dilahirkan revolusi, yang dikenal dengan revolusi hijau. Ia adalah penemu dan pendongkel pendulum sejarah yang namanya mungkin asing, tak dikenal, atau tertutupi nama-nama besar lain cetusan sebuah revolusi sosial. Tapi, ini memang revolusi yang lain. Revolusi yang hadir pasca perang dunia II, dimana teknologi persenjataan sudah demikian maju, pabrik-pabrik baja berdiri kokoh, dan industri-industri rumah tangga dan berat mulai membentuk kota beton. Namun, ditengah gemuruh teknologi dan modernisasi itu, di belahan bumi yang lain, sepotong roti terpaksa dibagi banyak. tahun 1960-an itu, India, Nepal, termasuk Indonesia adalah negeri yang terancam kelaparan, lantaran penduduknya banyak sementara jumlah produksi benih terbatas. Nah, dari hasil perjuangannya menemukan formula bercocok tanam, penggunaan pupuk, pengairan (irigasi), penggunaan pestisida, serta bibit unggul, ia pun dianugerahi nobel perdamaian pada tahun 1970, atas jasanya mengatasi ancaman kelaparan massal. Tampaknya, mengatasi kelaparan akan berujung pada perdamaian dunia.

Norman Borlaug muncul secara apik dalam karya Leon Hasser dalam buku The Man Who Fed the World. Borlaug lahir pada 1914 dari keluarga petani miskin di Cresco, Iowa, melewati masa kecilnya dengan keakraban di sekolah sederhana di lingkungan kaum petani migrant di frontier Amerika. Setelah itu, meneruskan pendidikannya ke Universitas Minnesota. Ialah generasi pertama yang melanjutkan sekolah tinggi.

Di Mennesota ia berkenalan dengan Prof. E. C. Stakman, ketua Jurusan Patologi Tanaman. Lantaran sebuah ceramah Stacman, ia merubah cara pikirnya memandang dunia pertanian, dan akan merubah pandangan dunia 20 tahun ke depannya.

Setelah meraih doktornya, Borlaug menerima tawaran Stacman untuk mengembangkan pertanian di Meksiko yang saat itu mengalami krisis pangan. Program tersebut dibiayai oleh The Rockefeller Pondation yang membuat 20 tahun hidupnya menetap di Meksiko untuk melakukan riset pengembangan tanaman gandum. Di sana ia menampilkan ketekunan dan kerja keras yang luar biasa, ia mempelajari dan terus menerus menyilangkan ribuan varietas gandum untuk mencari bibit-bibit baru yang tahan terhadap hama dan lebih produktif.

Lantaran usahanya bertahun-tahun itu, ia menemukan metode untuk melakukan persilangan varietas dalam jumlah massal, dan yang lebih penting adalah temuannya mengenai bibit gandum dengan batang yang jauh lebih pendek, hasil penyilangan dari bibit asal Jepang, Norin-10. Dengan batang pendek, varietas ini akan menghasilkan lebih banyak butiran gandum, lebih tahan terhadap hempasan angin, serta lebih responsive terhadap aplikasi pupuk. Dari sini, ia memulai rangkaian berkelanjutan, yang disebut Revolusi Hijau.

Borlaug berhasil mengentaskan krisis pangan di Meksiko pada 1950, namanya mulai berkibar. Saat itu juga terjadi krisis pangan di India dan Pakistan, lalu dikobarkan oleh pesimisme Paul Ehrlich yang pada tahun 1960-an itu menulis sebuah buku The Population Bomb, tapi Borlaug tidak tenggelam dalam nada pesimisme ini. Saat diundang ke India tahun 1961 oleh Penasihat Mentri Pertanian India, M.S Swaminathan. Namun di India ia bergulat dengan birokrasi yang agak ribet, baru setelah pecah Perang India-Pakistan, Borlaug masuk dan mulai menerapkan metode produksi massalnya. Ia kemudian menebar bibit meksiko ke lahan-lahan luas India, menebar pupuk, dan menerobos administrasi agar petani diberi kredit usaha. Akhirnya India dapat melepas jerat krisis pangan dengan swasembada pangan pada 1970. Pakistan justru dua tahun sebelumnya, 1968.

Lalu, melihat kesuksesan di Meksiko, The Rockefeller bersama The Ford foundation berinisiatif mendirikan IRRI (International Rice Research Institute) di Filipina. Institute ini banyak menghasilkan jenis padi yang tahan terhadap hama dengan batang yang lebih pendek. Keberhasilan ini kemudian diadopsi oleh pemerintah Indonesia melalui insinyur-insinyur dari IPB Bogor pada masa orde baru.


Aroma revolusi hijau adalah aroma domestifikasi, upaya menjinakkan alam dengan bantuan teknologi dan bahan-bahan ajaib (kimiawi). Atau seperti logika determinisme yang berakar dari positif logis. Yang menganggap bahwa alam itu obyektif, ia bisa dikendalikan, diatur, sesuai dengan keinginan kita. paham linear ini pun memproduksi, ia berhasil menghidupkan begitu banyak orang, begitu banyak unsur.
Memang, akibat massifikasi danintensifikasi itu, lahan atau bumi bisa menghasilkan banyak, namun ini pada akhirnya juga berakhir simalakama. Karena bumi, juga tak sudi dipaksa, kemudian malah mengalami penurunan produksi dari tahun ke tahun, akibat lahan aus (tidak produktif), ketergantungan pada pupuk kimiawi, kebuntuan irigasi (krisis air), serta sawah yang akibat kerseragaman jenis tanam, justru semakin mengurangi keanekaragaman hayati pada ekosistem sawah tersebut.

Sebuah revolusi pada akhirnya selalu memakan anak kandungnya sendiri..

6 Januari 2012

Read more...

Resolusi untuk Tambak Tradisional Sulsel


Pada januari ini, sebulan sudah perjalanan, perjuangan, dan harapan. Hidup memang tak pernah putus untuk diterjemahkan, dalam pengalaman masing-masing orang, dalam sebuah moment, dalam perangkap suasana. Dalam penempuhan itu, kita kemudian mengenal istilah gagal dan berhasil, tepat sasaran atau melenceng dari perkiraan. Pada semua itu, kita menangkap sebuah rasa dan warna, yang mungkin cerah ataukah kelabu.

Pada sebulan ini, saya mencurahkan cukup banyak waktu untuk mengenal lebih jauh seluk beluk tambak dalam sebagian masyarakat Sulsel. Sebelumnya, pengetahuan tentang tambak sudah banyak saya peroleh di bangku kuliah, juga dalam pengalaman penelitian saat mahasiswa, yang banyak dilakoni di tambak. Namun, kala itu tambak sekadar menjadi media yang diam, yang tak tahu ingin bicara apa. Kini, dalam pandanganku, tambak mulai membuka mulut, suara-suaranya mulai sedikit terdengar, ia mengeluh.

Sebulan lalu, akhir November, saya sempat ke Malili dan Palopo. Di sana tambak masyarakat sangat luas, diisi bandeng dan udang. Sistem pengelolaannya menerapkan metode tradisional, memanfaatkan air pasang. Tampaknya, petani di sana masih sering was-was dengan tambak mereka. Suatu waktu mereka berhasil, namun di waktu lain mereka menuai kegagalan. Dan kegagalan telak biasa ditemukan pada tambak udang, sementara bandeng cukup tahan terhadap serangan penyakit mematikan. Sehingga petani kadang menerapkan sistem campur, udang dan bandeng diisi bersama.

Sayangnya, petani agak sulit menemukan solusi dari persoalan yang memberatkan itu. sebenarnya, petani selalu punya cara untuk belajar, seperti belajar pada petani lain yang berhasil. Misalnya, pada satu kecamatan terdapat satu petani yang berhasil dan yang lainnya pada gagal, otomatis petani yang satu itu menjadi rujukan tentang metode bertambak untuk kondisi daerah setempat. Namun, kadang petani yang berhasil itu juga belum menemukan prosedur yang betul-betul efisien dan ramah lingkungan. Petani mengandalkan pupuk yang lebih condong ke pupuk kimia, mereka menganggap bahwa penggunaan pupuk yang banyak dapat meningkatkan produktivitas ikan dan udang. Solusi lain yang mereka terapkan dengan pengelolaan air, yaitu dengan melakukan penggantian air. Namun, mekanisme itu kadang juga tidak rutin dan terbengkalai, lantaran air tergantung dari pasang. Kadang juga air yang ingin masuk itu keruh, sehingga percuma saja dimasukkan ke kolam.

Petani di malili agak sulit menangani tambaknya yang sangat luas, karena pemakaian terus menerus, otomatis kandungan hara di dalam tanah sudah berkurang, sehingga memerlukan pupuk yang banyak. Namun, endapan pupuk, kotoran ikan dan udang itu sangat jarang dibersihkan dengan cara pengangkatan lumpur atau sekadar dengan pengeringan. Sehingga, kandungan bahan organic semakin meningkat, yang tentu akan berbahaya bagi kehidupan udang. Material organic ini mempengaruhi pH, metabolism organisme, dan menjadi racun bagi udang. Selain itu, bisa diduga juga bahwa material organic menjadi lahan subur tempat tumbuhnya bakteri dan virus berbahaya. Sementara bakteri positif (probiotik) yang berguna untuk mengurai bahan organic dan sisa-sisa plankton mati semakin kurang jumlahnya dalam tambak lantaran kurangnya oksigen, pH rendah, atau lantaran suhu yang ekstrim. Bertumpuknya bahan organic ditandai dengan bau yang tak sedap, lumpur berwarna hitam, yang biasanya banyak mengandung H2S (Hidrogen Sulfida), besi, dan mangan.

Sementara penyakit yang ditemukan pada udang biasanya virus white spot, vibrio, mio, insang merah, atau kropos. Penyakit ini bisa berasal dari inang atau bibit yang tidak tahan penyakit atau bisa jadi indukan awalnya berpotensi terkena virus, bisa juga berasal dari factor eksternal seperti kondisi suhu ekstrim, salinitas tinggi, atau oksigen sangat rendah. Dalam kondisi seperti itu, udang biasanya mengalami stress, kurang nafsu makan, metabolisme tubuh terganggu, pencernaan terhambat, dan ujung-ujungnya pertumbuhan lambat dan kematian.

Sebenarnya, ditinjau dari penyebab munculnya penyakit pada umumnya, di tambak tradisional tidak terlalu banyak. Misalnya padat penebaran pada tambak tradisional sangat renggang, mungkin hanya 5 - 10 ekor permeter, selain itu tidak menggunakan pakan buatan, sehingga sisa pakan tidak tergradasi menjadi kotoran. Namun, kotoran terbentuk dari akumulasi pupuk yang banyak, juga dari feses ikan dan udang, yang dari siklus ke siklus tidak mendapatkan penanganan maksimal. Persoalannya terletak pada pola kebiasaan petani yang selalu memaksakan alam berproduksi. Namun, sulit juga untuk berharap petambak untuk bersabar, karena mereka juga dikejar target untuk memenuhi kebutuhan ekonomi sehari-harinya..

Untuk itu, sangat dibutuhkan penelitian atau metode yang tepat agar petambak tetap berproduksi tapi lahan juga tidak tergerus kondisinya. Di sini kita mengandaikan dengan teori Malthus, bahwa kebutuhan manusia meningkat, sementara sumberdaya alam semakin menipis. Langkah-langkah taktis yang bersifat berkelanjutan sangat diperlukan, dan pemerintah, masyarakat sipil, tokoh masyarakat, serta akademisi harus merenungkan hal ini. Petambak pun diajak selalu merefleksi aktivitasnya, dan mencari sendiri formula untuk bangkit dari kegagalan..

Kondisi tambak di kecamatan Suppa juga tak beda jauh, petakan tambak di Suppa luasnya hingga 5 hektar, atau sekitar 3 – 4 hektar perpetak. Tapi petambak di sana sudah jauh lebih mengenal tentang teknologi pertambakan udang. Dalam mengatasi persoalan krisis unsur hara dan menurunnya pH tanah dan air, mereka menggunakan kapur. Tentu hal ini sangat menolong, karena menurunnya pH dapat membahayakan kehidupan udang. Di samping itu, mereka melakukan pengeringan, walau kurang maksimal. Untuk mengatasi hama, mereka menebar saponin. Pupuk yang digunakan pun cuma jenis tertentu, rata-rata menggunakan posca dan sp 36 karena mereka anggap dapat mengeraskan tanah. Namun, tambak itu lagi-lagi bermasalah dengan kondisi tanah.

Dari satu petakan yang telah dikuras airnya, akan tampak lumpur hitam dan baunya yang menyengat. Pada tambak ini pun banyak yang kurang dalam dan tak memiliki Karen atau parit. Sehingga, jika tingkat kecerahan meningkat dapat mengganggu aktivitas udang akibat sengatan matahari. Jika terdapat caren dan tinggi air cukup (1 meter lebih), udang bisa bersembunyi dan tidak kewalahan dengan sinar matahari. Harus diketahui pula tingkah hidup udang windu, jenis udang yang lazim dibudidayakan di pinrang dan malili, udang windu selalu beristirahat di dalam lumpur. Celakanya, udang jenis ini punya kebiasaan jika dalam kondisi lapar suka memamah lumpur. Sehingga, pada tambak tradisional yang tidak menggunakan pakan tambahan, sangat rawan terkena penyakit atau udang keropos, lantaran nafsu makan udang yang menurun akibat cuaca ekstrim atau oksigen menurun. ini bisa diamati jika punggung udang kehitaman karena udang justru memakan lumpur.

Di samping hal teknis, pola produksi masyarakat Suppa juga sangat dipengaruhi dengan sistem sewa atau gadai yang lahan tambak yang dilakoni oleh petambak. Petambak sangat memperhitungkan unsur waktu, sehingga setelah panen, mereka mengupayakan dalam jangka waktu dekat akan melakukan penebaran lagi untuk mengejar waktu target penggunaan lahan. Namun, kegagalan sebelumnya sering juga diiringi dengan kegagalan selanjutnya. Mereka seperti bermain dadu, kadang berhasil dan kadang gagal. Alam lah yang mempermainkan tambak mereka. Tapi, mereka mengantisipasi hal itu dengan pengisian bandeng dan udang secara bersamaan. Meski udangnya bermasalah, masih ada bandeng yang menjadi penopang hidup mereka.

Namun, itu adalah cara berfikir yang keliru. Karena benur yang ditebar juga mengeluarkan ongkos, walau ditutupi dengan keberhasilan bandeng. Kalau misalnya ragu akan hasil udang, sebaiknya tidak usah menebar udang, karena pada akhirnya akan gagal juga jika kualitas lahan tidak memadai.

Untuk sementara ini saya berfikir dua paket resolusi untuk pengelolaan tambak tradisional bagi masyarakat Malili dan Suppa. Pertama adalah gerakan pengeringan dan pengangkatan lumpur dalam satu masa dalam setahun. Pola ini harus dipelopori oleh pemerintah beserta tokoh masyarakat yang terkait. Misalnya setelah dua siklus pemeliharaan, butuh waktu jeda pada musim panas untuk sesekali pengangkatan lumpur yang dilanjutkan pengeringan. Pengangkatan lumpur ini bermanfaat juga untuk memperdalam tambak pada bagian parit, mempertinggi pematang. Petambak kurang berminat mengangkat lumpur karena akan mengeluarkan ongkos lagi. Tapi, dengan bantuan pemerintah, saya pikir bisa dimasukkan ke dalam program bantuan. Selain bantuan benur dan pupuk.

Kedua adalah meminimalisir pupuk kimia dan mensubtitusikannya dengan pupuk organik. Kelebihan pupuk kimia dianggap berbahaya bagi kelangsungan tambak, karena akan mengeluarkan amoniak. Sementara pupuk organik akan meningkatkan kualitas tanah dan tanpa melahirkan residu. Petambak butuh informasi tentang pembuatan pupuk organik, misalnya dari pupuk kompos, pupuk biogas, atau dengan kultur fermentasi. Keberadaan kelompok tani yang mengorganisir dan memberdayakan petambak untuk memproduksi pupuk organik sangat menunjang perbaikan kualitas tambak. Mungkin suatu ketika, pemerintah dapat menginisiasi untuk memasukkan informasi dan teknologi pupuk organic ke masyarakat tambak. Di samping itu, tambahan probiotik juga akan membantu merombak bahan organic yang merugikan.

Untuk sementara, hanya dua inilah yang perlu diperioritaskan, khususnya untuk tambak tradisional di Sulawesi Selatan.. ke depannya, semoga akan muncul solusi-solusi baru, yang akan memecahkan problem masyarakat tambak. Seiring dengan semangat dan niat yang tulus, untuk kesejahteraan rakyat sekitar kita.. amin..

Makassar, 6 Januari 2012

Read more...

Minggu, 01 Januari 2012

Sejarah Pupuk, Kisah Jhon Bennet Lawes yang Culas


Pupuk mungkin sudah seperti makanan pokok, walau sebenarnya hanya makanan untuk tanah. Dalam kondisi bumi sekarang ini, dan juga beberapa dasawarsa tahun lalu, bumi sudah mulai aus dengan tingkah manusia memproduksi pangan yang dilakukan secara kontinyu, tanpa jarak waktu. Pupuk pun menjadi partner, sepanjang siklus, sejauh perjuangan. Pupuk tak lain adalah senjata ampuh untuk menumbuhkan apa saja, untuk memperoduksi pangan sebanyak yang kita inginkan.

Saat ini, pupuk yang digunakan sebagian besar petani adalah pupuk kimia (urea, TSP, Poska), sebagian lagi pupuk organik (nutrilake). Pupuk kimia masih popular, lantaran harganya yang murah dan efektivitasnya. Sekali tebar dalam jumlah kilogram, tanah telah mengandung unsure nitrat dan posfat yang sangat dibutuhkan tumbuhan. Namun, setelah melihat perkembangannya, pupuk jenis kimiawi ini pun mengandung problem, yaitu ekses kimiawinya yang cukup membahayakan, seperti reduksi amoniak.

Zaman ini ditandai dengan bergesernya pola dan gaya hidup masyarakat, khususnya golongan menengah dalam memandang makanan. Mereka, mulai berorientasi pada produk yang dikenal ‘alami’ atau ‘organik’. Maka menjamurlah produk olahan makanan di gerai-gerai toko yang berlabel organik. Mulai dari jenis beras, jus, buah-buahan. Dan tampaknya, pola konsumsi ini sudah menjadi semacam style, yang bersifat khusus. Namun, ini belum bersifat massif, karena petani yang di lapangan belum terlalu paham dengan pola itu, yang mereka ketahui adalah efisiensi dan produktivitas, tentu dengan tambahan pupuk.

Nah.. lantaran pentingnya pupuk bagi kelangsungan peradaban kita ini, baik kalau kita uraikan sekilas sejarah singkat penemuan pupuk ini.

****
Di daratan Inggris, tepatnya di Harpenden, dekat lingkaran puing-puing kuil Romawi, satu rumah besar telah dibangun pada awal abad ketiga belas. Rothamsted Manor, terbuat dari bata dan kayu, dikelilingi pagar dan parit yang lebar, luasnya 120 hektar, telah dihuni oleh beberapa generasi sekian abad, sampai seorang anak delapan tahun mewarisinya pada 1814, bernama John Bannet Lawes.

Lawes bersekolah di Eton, kemudian melanjutkan ke Oxford, di sana ia belajar geologi dan kimia. Di sekolah cambangnya tumbuh subur, namun ia tak mendapatkan gelar. Saat kembali ke Rothamsted, ia lalu melakukan sebuah teknik pengolahan tanah yang akhirnya mengubah cara orang bertani sejak saat itu.

Kisah John Bannet Lewis dimulai dengan tulang, kata sebagian orang berhubungan dengan kapur. Sebelumnya, selama berabad-abad para petani Hertfordshire telah menggali kapur sisa mahluk laut purba yang terkubur di bawah lapisan lempung tanah mereka untuk ditebarkan pada parit-parit di sekitar lading mereka, karena telah terbukti menyuburkan tanaman lobak dan biji-bijian. Dari kuliahnya di Oxpord, Lawes tahu bahwa kapur yang ditebarkan di lading-ladang bukan merupakan makanan tambahan bagi tanaman, melainkan bahan melunakkan tanah sehingga tidak terlalu asam. Jadi, apa sesungguhnya yang menyebabkan tanaman lebih subur?

Seorang ahli kimia Jerman, Justus von Liebig, tidak lama sebelumnya mencatat bahwa tulang-tulang yang dijadikan tepung dapat mengembalikan kebugaran tanah. Setelah direndam dahulu dalam asam sulfat encer, tulisnya, bubuk tulang itu bahkan lebih mudah dicerna. Lawes mencobanya di ladang lobak, dan ia terkesan.

Justus von Liebig dikenang sebagai pelopor industry pupuk, tetapi ia mungkin tak berkeberatan andai ia bisa menukar kehormatan itu dengan sukses luar biasa yang diraih oleh John Bannet Lawes. Von liebig tidak pernah berpikir untuk mematenkan prosesnya. Setelah sadar betapa merepotkan bagi para petani yang sibuk untuk membeli, merebus, dan menggiling tulang, kemudian membeli asam sulfat dari pabrik gas di London untuk merendam bubuk tulang, dan menggiling hasilnya yang menjadi keras lagi. Dan, Lawes justru mematenkan metode itu atas namanya sendiri. Dengan paten di tangan, ia membangun pabrik pupuk buatan pertama di dunia di Rothmasted tahun 1841. Tidak lama kemudian ia menjual “superfosfat” kepada semua tetangganya.




Pabrik pupuknya pindah ke lahan yang lebih besar dekat Greenwich di Sungai Thames. Sewaktu penggunaan bahan penyubur tanah kimiawi menyebar, pabrik-pabrik Lawes makin banyak, dan daftar produknya pun bertambah panjang. Produknya tidak hanya bubuk tulang dan mineral fosfat, tetapi juga dua pupuk nitrogen: natrium nitrat dan ammonium sulfat (keduanya belakangan digantikan dengan ammonium nitrat yang lazim digunakan sekarang). Lagi-lagi, von Liebig yang telah menemukan nitrogen sebagai komponen penting asam-asam amino dan asam-asam nukleat yang vital bagi tumbuhan itu terlambat berfikir untuk memanfaatkan temuannya. Sementara von Liebig sibuk menerbitkan temuannya, Lawes mematenkan campuran nitratnya.

Untuk mempelajari mana pupuk yang paling efektif, 1834 Lawes memulai rangkaian lahan uji yang masih diterapkan sampai sekarang, yang menjadikan Rothamsted Research baik sebagai pusat penelitian pertanian paling tua di dunia, juga sebagai tempat eksperimen lapangan berkelanjutan yang paling lama di dunia. Lawes dan John Henry Gilbert, ahli kimia yang menjadi mitranya selama 60 tahun, yang sama-sama menjadi sasaran kebencian Justus von Liebig, mulai dengan menanami dua bidang ladang: yang satu ditanami lobak, yang lain ditanami gandum. Mereka membagi keduanya dalam 24 lajur, kemudian menerapkan perlakuan yang berbeda kepada setiap lajur.

Kombinasi-kombinasi yang diterapkan meliputi pemakaian pupuk nitrogen dalam jumlah banyak, sedikit, atau tidak sama sekali; pemakaian bubuk tulang mentah, superfosfat buatannya, atau tanpa fosfat sama sekali; pemakaian mineral-mineral seperti senyawa kalium, magnesium, belerang, natrium; dan pemakaian pupuk kandang mentah atau pupuk kandang olahan. Ada lajur yang ditaburi batu kapur setempat, ada yang tidak. Tahun-tahun berikutnya, sebagai plot dirotasi dengan jelai, kacang, havermut, semanggi, dan kentang. Sebagian lajur diistirahatkan secara berkala, sebagian lain ditanami terus menerus dengan tumbuhan yang sama. Sebagian difungsikan sebagai control, tanpa penambahan apa pun.

1850-an, hasil panen bertambah ketika pupuk nitrogen dan fosfat diberikan, sedangkan penambahan mineral mikro berpengaruh baik terhadap sebagian tanaman, tapi berpengaruh buruk kepada tanaman lain. Bersama Gilbert, setelah pengambilan sampel yang sangat cermat dan pencatatan hasil-hasilnya, Lawes bersedia menguji teori apa pun – entah ilmiah, awam, atau tidak masuk akal – tentang apa yang membantu pertumbuhan tanaman. Menurut George Vaughn Dyke, penulis biografinya, percobaannya meliputi pembuatan superfosfat dari tepung gading, dan melumuri tanaman dengan madu. Satu eksperimen yang masih dilakukan sampai sekarang adalah tidak menggunakan tanaman pangan sama sekali, tapi hanya menggunakan rumput.

Sehamparan padang penggembalaan purba tidak jauh dari Rothamsted Manor dibagi menjadi lajur-lajur dan diberi perlakuan dengan bermacam-macam senyawa nitrogen anorganik dan penambahan mineral. Belakangan Lawes dan Gilbert menambahkan tepung ikan serta pupuk kandang dari ternak yang diberi bermacam-macam makanan. Dalam abad kedua puluh, dengan peningkatan hujan asam, lajur-lajur itu dibagi lagi, sebagian ditaburi kapur untuk menguji pertumbuhan dalam kondisi angka pH atau keasaman berbeda-beda.

Dari eksperimen di ladang rumput ini, mereka melihat bahwa walaupun pupuk nitrogen anorganik membuat rumput pakan tumbuh setinggi pinggang, namun keanekaragaman hayati menjadi korban. Sementara 50 spesies rumput, gulma, kacang-kacangan, dan sayur-sayuran bisa tumbuh di lajur-lajur yang tidak diberi pupuk, lajur-lajur bersebelahan yang diberi nitrogen hanya ditumbuhi dua atau tiga spesies. Karena petani tidak ingin benih tumbuhan lain bersaing dengan benih yang mereka tanam, mereka tidak berkeberatan dengan hasil tersebut, tetapi tidak demikian dengan alam.

Itu suatu paradoks, tetapi begitu juga Lawes. Pada 1870-an, setelah menjadi kaya raya, ia menjual bisnis pupuknya tetapi gairahnya untuk bereksperimen ia lanjutkan. Di antara beberapa hal yang diperhatikannya adalah berapa lama sebidang lahan dapat ditanami tanpa henti. Penulis biografinya mencatat bahwa ia pernah mengatakan bahwa petani mana pun yang berfikir dapat “menghasilkan panen sama bermutu entah ketika ia menggunakan beberapa kilogram bahan kimia atau ketika menggunakan sekian ton pupuk kandang,” petani itu hanya berhayal. Lawes memberikan nasihat kepada siapa pun yang bertanam sayuran dan biji-bijian bahwa, kalau ia yang melakukannya, ia akan “memilih sebuah tempat yang memungkinkan pasokan besar pupuk kandang dengan harga murah”.


Perkembangan berikutnya semakin pesat, dengan ditemukannya teknologi dan metode pembuatan pupuk, industri-industri pertanian semakin giat berproduksi. Hingga tiba sebuah revolusi, khususnya di dunia ketiga seperti di Indonesia, yaitu revolusi hijau, dimana intensifikasi dan massifikasi pertanian digenjot. Dengan logika efisiensi, kecepatan, dan produksi massal, penggunaan pupuk pun semakin massif. negara penghasil pangan seperti Indonesia pun pada akhirnya memperoleh surplus dan bebas pangan. Namun, luapan kegembiraan nasional ini cuma beberapa dasawarsa saja, kini kita kembali terseok-seok dengan produksi nasional kita. Kini kita bertarung dengan kualitas dan keberlanjutan produksi, dimana kebutuhan meningkat, semakin banyak mulut yang ingin diberi makan, sementara lahan semakin sempit dan kualitas lahan yang menurun drastis. Lagi-lagi, pupuk menjadi senjata, namun, sampai sejauh manakah pupuk dapat menolong kita, dari bencana terbesar, yaitu krisis pangan..??

Ulasan Sejarah di peroleh dari Buku “The World Without Us” karya Alan Weisman..
Ahad, 1 Januari 2012

Read more...

Kamis, 15 Desember 2011

Catatan tentang Klasifikasi Tambak di Indonesia

Indonesia merupakan salah satu pengeksport udang terbesar di dunia. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia mengalami penurunan jumlah eksport, lantaran diterjang beragam persoalan di tingkat teknis, seperti banyaknya kisah kegagalan panen udang karena diserang penyakit. Berikut adalah permukaan penjelasan tentang teknis tambak udang di Indonesia, sebagai pembuka wacana kita tentang kondisi perudangan Indonesia yang selalu luput dari perhatian bapak-bapak pengelola Negara kita.



Tambak ekstensif (tradisional)

Luas petakan tambak ekstensif berkisar 1-3 ha, dengan satu pintu air pada setiap petak. Pemasukan dan pembuangan/pengeringan air lewat pintu air yang sama. Suplai air secara gravitasi, tergantung sepenuhnya dari gerakan pasang surut. Tambak yang dibangun di lahan pasang surut umumnya berupa hutan bakau, kadang-kadang rawa pasang surut bersemak/rerumputan.

Dasar tambak terdiri dari pelataran di bagian tengah dan caren di sekelilingnya dengan lebar 6 – 8 m, dan dalam 0,3-0,5 m. Pelataran dan caren perlu dibuat pada tambak tradisional, karena selama pertumbuhan, udang sangat tergantung dari makanan alami yang ditumbuhkan melalui persiapan tanah dasar dengan pemupukan, sedang kedalaman air hanya berkisar 40-60 cm di daerah pelataran. Kincir air belum diperlukan tetapi pompa air harus tersedia untuk menjamin penggantian air bila diperlukan.

Tambak Udang Semi Intensif

Luas petakan tambak semi-intensif lebih kecil dari tambak ekstensif yaitu sekitar 0,5 – 1 Ha, tujuannya adalah untuk mempermudah kontrol : penggantian air, pemberian pakan, pembersihan kotoran dan sebagainya. Pemasukan dan pembuangan air melewati saluran dan pintu air yang terpisah. Pada petakan seluas 0,5 ha, pintu pembuangan air dan kotoran sebaiknya diletakkan di tengah-tengah petakan. Petakan berbentuk bujur sangkar, dengan lantai dasar miring ke tengah, ke arah pintu pembuangan di tengah.

Dengan konstruksi semacam ini semua kotoran udang dapat dibuang dengan tuntas ke luar tambak lewat pintu tengah, karena putaran kincir air mengalirkan semua kotoran ke bagian tengah.

Di samping pintu pembuangan yang terdapat di tengah juga akan sangat praktis kalau dibuat monik di pematang sisi saluran pembuang. Pintu ini penting untuk panen dan penggantian air secara gravitasi mengikuti gerak air pasang surut. Pipa goyang atau pipa pembuangan T di sudut petakan berguna untuk membuang air hujan dari lapisan permukaan dan untuk membuang plankton/air kotor yang terkonsentrasi di daerah sudut karena tiupan angin.

Petakan yang luasnya 1 ha berbentuk persegi panjang dengan perbandingan 1 :2 sampai 2 : 3. Bentuk yang terlalu sempit (lebar 30 m) dan memajang, mempersulit pengumpulan kotoran di tengah, karena akan selalu teraduk oleh gerakan arus yang ditimbulkan oleh kincir. Pengadukan kotoran akan menimbulkan kekeruhan, hal mana sangat berbahaya bagi udang yang dipelihara. Pintu pasok dan pembuangan terletak di pematang yang berhadapan.

Dasar tambak tanpa caren. Agar tanggul tidak merembes perlu dibuat parit keliling kecil (bukan caren) dengan ukuran lebar/dalam 20 – 25 cm, memanjang tepat di bawah kaki tanggul. Parit semacam ini, sangat penting untuk membuang air rembesan, sehingga waktu pengeringan tanah dasar tidak terganggu dan dapat dilakukan pengeringan dengan sempurna.

Tambak Udang Intensif

Luas petakan tambak intensif adalah terkecil dari ketiga jenis tambak, yaitu antara 0,4 – 0,5 ha. Bentuknya bujur sangkar, dilengkapi dengan pintu pembuangan di tengah dan pintu model monik di pematang saluran pembuangan. Lantai dasar harus dipadatkan sampai keras, bisa dilapisi pasir atau kerikil, dengan elevasi miring ke tengah tanpa caren. Parit kecil pembuang air rembesan di sepanjang kaki tanggul perlu dibuat untuk menjaga kemungkinan perembesan.

Karena pembuatan petakan kecil sangat intensif, tanggul bisa dibuat dari tembok. Pada saluran pasok dapat dibentuk dari bata atau talang semen yang dipasang sepanjang pematang pada jalur pintu pasok sepanjang petakan. Air laut dan tawar dicampur di dalam bak pencampur sebelum masuk ke dalam petakan tambak.

Saluran pembuangan berupa parit biasa yang elevasi dasarnya terletak jauh di bawah elevasi lantai dasar petakan. Dengan demikian semua petakan dapat dikeringkan dengan mudah dan sempurna secara gravitasi waktu surut rendah.

Pipa goyang atau pipa sambungan T di pasang di daerah mati (sudut-sudut) yang tujuannya adalah untuk pembuangan air hujan dan kotoran-kotoran yang terkumpul di daerah tersebut. Keselamatan udang yang dipelihara dalam kondisi padat penebaran tinggi sangat tergantung pada kemampuan mempertahankan kualitas air selama pemeliharaan. Karena itu kotoran di dalam tambak harus dibersihkan secara rutin terutama setelah memasuki bulan ketiga sampai panen. Pembuatan tambak intensif sangat ideal untuk tujuan ini.

Demikian catatan untuk jenis tambak di Indonesia, di catat dari buku “Pembuatan Tambak Udang di Indonesia”, Karya A. Poernomo. Departemen Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Balai Penelitian Perikanan Budidaya Pantai, Maros, 1988.

Read more...

Mengungkit Kenangan di Ambon dan Maluku Tenggara


Di luar jendela masih gelap, mesjid terdengar sayup-sayup, subuh terasa dingin saat itu. Saya memang berencana bangun cepat-cepat, untuk bisa sedikit menikmati udara subuh di kawasan Balai Budidaya Laut Ambon. Pukul delapan saya ikut melihat prosesi apel pegawai BBL, sembari menunggu tukang ojek yang saat itu masih dalam perjalanan. Setelah berdiskusi dengan Kak Umar dan Pak Rusli, saya pun memberanikan diri untuk menjelajah lagi ke kota ambon hari itu, ditemani oleh seorang teman yang siap mengantar ke sana kemari yang bernama Imran.

Jam sepuluh saya tiba di kota, kembali ke Dinas Perindustrian lagi yang kemarin menjanjikan data rumput laut. Sesampai di kantor Dinas, saya mencari Pak Ongki, tapi beliau tidak ada, dan nomor hp-nya tidak aktif. Saat itu rasa jengkel mulai muncul, lalu muncul pikiran untuk ketemu langsung dengan Bapak Kepala Dinas. Kata pegawai di sana, pak dinas ada di kantor Badan Metereologi. Di pintu gerbang, saya mensampiri bapak pegawai, saya bertanya tentang rumput laut, ternyata dia informasi tentang hal itu. Saya kembali lagi masuk ke dalam kantor, untuk melihat hasil dokumentasi bapak itu. Katanya, sentra produksi dan perencanaan pembangunan dinas terletak di desa Letvuan, Kab. Maluku Tenggara.

Saya lalu bertemu dengan Pak Yan, kepala bagian perindustrian, dia menjelaskan permasalahan yang dihadapi oleh dinas perindustrian dalam hal perolehan dan pengolahan data. “Di Maluku ini pendataan mempunyai banyak kendala, pertama Maluku merupakan daerah kepulauan, kedua di sini banyak pegawai yang sudah terlatih mengambil dan mengimput data yang selalu pindah ke provinsi. Sehingga kabupaten-kabupaten selalu kekurangan sumberdaya manusia,” papar Pak Yan. Mendengar itu saya mulai maklum. Tak lama kemudian hadir Pak Effendi, dia alumni pertanian Unhas, dan dari cara bercakapnya tampak akrab. Mereka menjanjikan akan memberikan data via email. Saat itu saya memberi dua email saya ke mereka.

Cukup lama saya dan Imran di Dinas Perindustrian, hingga mendekati waktu lohor. Dari situ kami bergerak ke Bapedalda dan badan Investasi dan Penanaman Modal. Rupanya kantornya terletak di daerah Islam, dimana di daerah itu rawan terjadi bentrok di Kota Ambon. Kantor Bapedalda yang tampak megah itu pun ternyata kosong melompong, yang ada cuma penjaga. Kata Pak penjaga, para pegawai mengungsi ke kantor gubernur divisi humas. Kami pun bergegas ke kantor gubernur untuk mencari posko Bapedalda, setiba di sana, ternyata di divisi humas para pegawai sudah pada bubar. Wadeuh,,, saya pun melupakan kemungkinan untuk bertemu dengan bapedalda, untuk mengecek kondisi amdal daerah yang akan didirikan pabrik pengolahan rumput laut. Lalu bergerak ke lantai 4 kantor gubernur, untuk bertemu dengan bagian Bappeda Maluku. Dari bappeda ini, saya mendapat gambaran besar tentang rencana pengembangan rumput laut di Maluku, 5 tahun ke depan. Dari bappeda, diketahui bahwa Maluku telah dan tetap akan mendapat bantuan pelatihan teknologi rumput laut dari Unido, PBB.

Sore hari kami kembali ke waeheru,, malamnya saya konsultasi kembali dengan Pak Rusli yang merupakan peneliti rumput laut. Setelah menimbang-nimbang, saya memutuskan untuk berangkat ke Maluku utara besok pagi, untuk meliput dan mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang rencana pendirian industry rumput laut di sana. Malamnya saya tak bisa tidur nyenyak,, entah karena apa, sering bangun tiba-tiba dan gelisah. Sialnya, saya bangun agak kesiangan, bayangkan, saya bangun jam 7.30 sementara jam penerbangan ke tual jam 8.20.. saya pun mandi seperti ular, lalu berjalan tergesa-gesa menuju kawan ojek. Untung ojeknya suka balap, jadi saya tiba di bandara hanya dengan waktu 20 menit. Tiba di bandara, saya uring-uringan lagi mencari tiket, pertama ke loket wings air,, tapi terlalu mahal. Kemudian melongok ke tagana air, untuk masih ada satu tiket yang tiba-tiba dibatalkan orang,, tawar menawar terjadi, saya minta kalau bisa harga tiketnya 800 ribu saja, dan bapak penjaga loket akhirnya menerima, yang awalnya dia tawarkan satu juta rupiah. Deal, saya pun berlari menuju trigana, ternyata pesawatnya agak kecil dan memiliki baling-baling. Saya duduk bersama bapak yang ingin ke dobu,, perjalanan juga cukup lama 1,5 jam. Asyikk..

Senang rasanya menginjakkan kaki di bandara dumatubun, langgur. Di tual, saya mengontak kawan Gani, seorang senior yang merupakan aktivis mahasiswa LMND waktu masih di Makassar. Beliau teman dari saudara Babra Kamal, seniorku di perikanan Unhas. Saya naik ojek menuju pasar tual untuk bertemu dngn kak gani, lalu menuju kediaman rumahnya dekat pasar. Saya tak bisa melupakan rumah itu, yang penuh dengan kehangatan keluarga, kenyang dengan cerita-cerita, dan juga kesan bahagia dari seorang bapak muslim (ayah gani) yang merupakan veteran militer yang setiap duduk bersama selalu menceritakan masalalunya yang penuh warna. Untung ada kak gani dan rumah itu, saya tak bisa membayangkan kalau saya sendirian bergerak di kota tual, dimana harus nginap di hotel lagi, makan diwarung, dalam waktu sekitar 5 hari, saya tak bisa mengira berapa ongkos yang saya keluarkan untuk tinggal sejenak di sana. Sementara keluarga kak gani dengan segala kebaikannya memberikan semua yang mereka miliki untuk kelancaran kerjaku.. saya tak bisa melupakan mereka..

Hari jumat saya tiba di tual, menyewa ojek ke dinas kelautan perikanan. Waktu itu sudah jam 2 siang, orang dinas sudah pada mau pulang, tapi saya sempat bertemu dengan ibu kepala dinas. Tapi, saat itu ibu kepala dinas cukup resisten dan membangun tembok mental, ia mengamati surat pengantar saya yang lebih diarahkan ke dinas perindustrian. Meski begitu, dia tetap menjalin komunikasi, dan saya mendatanginya lagi esok hari. Dari dkp, tukang ojek mencari alamat dinas perindustrian, pas ketemu, kantor dinas sudah tutup. Jadi, besoklah waktu untuk meyisir semuanya.

Sabtu itu, pagi-pagi benar saya ke dinas perindustrian, bertemu dengan sekertaris dinas dan ibu bagian perindustrian, juga bapak bagian koperasi, mereka menyarankan agar saya ke letvuan untuk menemui pak hironimus, pegawai yang merintis budidaya rumput laut di Maluku, dan saat ini lagi membangun industry rumput laut skala chip dan bubuk. Dari sini, kembali lagi ke DKP, dengan susah payah saya meyakinkan ibu kepala dinas untuk memberi data-data rumput lautnya. Saya bilang, saya diutus kesini untuk mengamati lahan dan persiapan pendirian rumput laut yang dilakukan pihak daerah, karena data-data yang masuk di pusat Cuma dokumentasi, pihak atas menginginkan adanya pemantau untuk mengambil data secara independen. Setelah dijelaskan, beliau sedikit percaya dan akhirnya memberikan data-datanya dan mulai asyik diajak ngobrol.



Siangnya, saya dan kawan supir ojek menguatkan diri ke Sathean, melihat secara langsung budidaya rumput laut di sana. Ke sathean membutuhkan waktu 45 menit. Desa ini 90 persen penduduknya adalah petani rumput laut, dimana saat itu banyak rumput laut sementara dikeringkan di para-para depan rumah penduduk. Di sana, tiga nelayan sempat saya wawancarai dan ambil data tentang produksi, cara budidaya dan masalah-masalah yang terdapat di lapangan.

Dari sathean kami ke letvuan, untuk menemui bapak hironimus. Wow.. di letvuan kami akhirnya menemukan pabrik pengolahan rl tersebut, disana beliau sementara mengoprasikan alat pencuci dan penghancur chip untuk menjadi bubuk. Mulanya kami tidak diizinkan berbuat macam-macam, tapi setelah diskusi sebentar, akhirnya hatinya luluh. Saya katakan, bahwa saya juniornya kak umar dari waeheru yang berasal dari Makassar, dimana kak umar merupakan teman baik pak hiro. “saya berutang banyak sama orang Makassar, orang Makassar sering membantu saya,” ucap Pak Hiro. Maka, saya pun mendokumentasikan proses kerja mereka, dan kami diizinkan wawancara keesokan harinya di rumah pak hironimus. Malam hari baru saya balik ke rumah kak gani,, pak muslim sudah bertanya-tanya, kenapa tak ada kabar dari saya, jangan sampai terjadi apa-apa. Jam Sembilan tiba di rumah, mereka menyambut hangat, sehangat suguhan teh malam itu.

Saat itu, di dekat pabrik terdapat lahan yang disediakan oleh pemda masyarakat Ohio Letvuan secara hibah sebanyak 5 hektar di daerah Letvuan, Maltra. 3 hektar untuk industri RL (Dinas Perindustrian dan Baristand, dan 2 hektar untuk Depo gudang penyimpanan RL (DKP).

Minggu, saya Cuma ke tempat pak hiro untuk wawancara, tepatnya di kantor koperasi elomel. Pak hiro memberikan banyak data-data penting, seperti sejarah perkembangan rumput laut di maltra, bentuk-bentuk bantuan yang telah diberikan, kondisi dan keadaan real untuk pengembangan industry rl di maltra. Saya sangat bersyukur bisa ketemu dengan beliau, dan data-data saya sudah cukup lengkap.

Siangnya, kami ke tempat pak Arifuddin, pengumpul besar di kota tual. Ia mengirim barang ke Makassar dan Surabaya sebulan sekali atau dua kali, dengan kapasitas 10 – 12 ton persekali kirim/kontainer.. Kapasitas gudang 200 ton. Rata-rata masuk barang 300 kg perhari. Menggunakan kontainer dari perusahaan Speell, waktu tempuh sampai di tujuan selama sebulan. Harga satu kali pengiriman Rp. 4 juta, ditambah uang buruh 2.700.000. biasanya 8 juta tiba di tujuan. Biasanya dikirim ke Perusahaan Rapid Niaga Internasional Milik Noor Rahmah Amir. Dengan ongkos pengiriman perkilogram sekitar Rp. 1000.

Dari situ, kami singgah di secretariat LSM Elmasrum, tempat kak Gani mengasah kemampuan organisatoris dan advokasi publiknya. Di tempat itu, saya berkenalan dengan kawan-kawan yang bersahabat, mereka sementara ini melakukan penyuluhan-penyuluhan ke desa-desa pengembang rumput laut dalam hal perkembangan teknologi, juga dalam hal advokasi bantuan dari pemerintah, serta pengorganisasian kelompok tani. Bentuk-bentuk kegiatannya antara lain; monitoring ke nelayan, pemantauan kualitas bibit, pemebentukan kelompok tani, pembinaan istri-istri nelayan, dan melakukan analisis ekonomi titik impas.

Lalu, saya kembali ke pasar tual bersama kak gani untuk memesan tiket ke ambon besok harinya, ternyata penerbangan baru ada lusa. Alhamdulillah dapat tiket sedikit murah, yaitu 500 ribu rupiah. Dari situ kami mencari alamat pak pastur, pengumpul besar rumput laut untuk kawasan sathean,, tapi alamat beliau tidak diketahui dan sudah pindah tempat. Besoknya, saya menghabiskan waktu ngobrol di rumah, dan sore hari bergerak ke pesisir tual untuk wawancara dengan petani rumput laut di sana.

Selasa siang, waktu yang mengharukan, saya harus berpisah dengan keluarga kak gani yang sangat baik. Saya berfoto bersama dengan pak muslim yang saya cintai, juga dengan kak gani. Saat itu, saya tak dapat memberikan apa-apa, tapi dalam hati saya berniat akan menyumbangkan sesuatu yang berguna kelak, di kemudian hari.

Di bandara, cukup lama saya menunggu, pesawat rencana terbang jam 3 sore dan saya sudah ada ditempat itu sekitar jam 12. Jam 5 saya sudah di ambon lagi, dan beristirahat total malamnya untuk petualangan esok hari.

Rabu, saya tak memanggil ojek, saya telah berani ke kota ambon menggunakan mobil angkot. Perjalanan pertama saya menyambangi BPS untuk mencari data-data tentang rumput laut. Namun, data di BPS sangat minim, yang saya peroleh Cuma data pelabuhan, transportasi, data ekspor dan ipm. Dari bps saya menuju batu merah untuk bertemu dengan kak Rus’an, mahasiswa kehutanan angkatan 2002. Kak rus’an sudah diterima di dinas kehutanan ambon, ia mengenakan stelan pegawai, dan mengajak saya keliling kota ambon mengendarai becak. Di atas becak kami membicarakan tentang perkembangan situasi kota ambon yang masih rawan konflik. Ia membawa saya ke warung makan. Di warung ini, kami juga menunggu kawan ajis, yang sekarang sudah menjadi pegawai bank panin. Ketika datang ia terlihat parlente. Hehehe.. senang rasanya bisa bertemu kembali dengan saudara ajis,, setelah sekian lama. Kami dulu sama-sama berjuang melewati masa pemagangan di Koran kampus identitas unhas. Namun, saat itu ajis tak bisa mengikuti program pelatihan dan memilih keluar. Tapi kami selalu berkomunikasi, utamanya ketika bertemu di forum-forum diskusi kemahasiswaan dan demonstrasi,, saya saat itu wartawan kampus dan dia adalah aktivis HMI komisariat Hukum Unhas.

Setelah bertemu dengan saudara-saudara ku ini, saya ke kantor perindustrian provinsi lagi. Saat itu saya melihat pak kepala dinas ada di tempat. Dua kali saya ke sekertarisnya tapi tak diizinkan masuk. Saya memberontak, dan tiba-tiba pak kepala dinas muncul keluar. Saya berdebat dengan sekertaris dinas, dan saya menang debat. Dia tak bisa berkata-kata. Saya bilang, “saya sudah dua kali ke sini, tapi bapak ini tak memberikan data, dia bahkan menjanji saya tapi sampai sekarang dia tak memenuhi janji,” ucap saya dengan notasi cukup kasar. Pak dinas mendengarkan, dan mengajak saya bicara baik-baik. Alhamdulillah, sambutannya cukup baik, dan akhirnya beliau memfasilitasi saya untuk bertemu kembali dengan pak effendi untuk mengorganisir data dan melacak data-data yang ada di daerah, khususnya untuk daerah Maluku Tenggara Barat dan Seram Bagian Barat.

Besoknya, saya seharian di BBL, nongkrong di perpustakaan, keliling-keliling balai untuk belajar teknis pembenihan kerapu. Jumat baru saya menyiapkan diri balik ke Makassar, sehabis salat jumat saya pun berangkat ke bandara. Dan pukul 2 lewat. Saya terbang ke Makassar, dengan sepotong gelisah dan kenangan..

Kamis, di Warkop Sabana, Alauddin Makassar, 15 Desember 2011

Read more...

About This Blog

pemimpin yang baik: integritas, tanggungjawab, forgiveness, dan COmpassion

Baris Video

Loading...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP