Jumat, 06 Januari 2012

Revolusi Hijau dan Norman Borlaug




Sebagaimana lazimnya revolusi, ia menyimpan harapan dan juga gelisah. Revolusi memang tak setengah-setengah, ia menghentak, mendobrak, membakar gelora. Ada yang digadang-gadang selepas revolusi, tentu sebuah harapan akan masyarakat yang bebas, dari segala bentuk penghambaan atau pun perbudakan ekonomi.

Revolusi lahir dari sebuah informasi yang dibagi rata, dari sebuah penemuan yang tak disangka, berupa sebuah lompatan akan kuantitas dan kualitas, berkenaan dengan massa dan masa depan dunia. Namun, logika revolusi juga menyimpan gelisah. Begitu banyak nyawa dipertaruhkan untuk mengejar sebuah cita-cita, untuk mewujudkan slogan kebebasan. Revolusi memang membutuhkan korban, bahkan berasal dari anak kandungnya sendiri.

Revolusi pastinya memperkenalkan nama-nama besar dan juga ide-ide. Nama besar inilah yang merumuskan, meramalkan masa depan, dialektika sejarah. Mereka menemukan cara untuk berubah, untuk setara, adil, untuk bebas. kini, saya mencoba melirik satu revolusi yang pengaruhnya juga sampai ke negeri kita. Ia tak berbau gelora massa, justru ia berbau pembangunan, efisiensi, intensifikasi, dan juga teknologi. Sesuatu yang mungkin sangat diharapkan di negeri ini.

Norman Borlaug adalah sebuah sebuah nama yang dilahirkan revolusi, yang dikenal dengan revolusi hijau. Ia adalah penemu dan pendongkel pendulum sejarah yang namanya mungkin asing, tak dikenal, atau tertutupi nama-nama besar lain cetusan sebuah revolusi sosial. Tapi, ini memang revolusi yang lain. Revolusi yang hadir pasca perang dunia II, dimana teknologi persenjataan sudah demikian maju, pabrik-pabrik baja berdiri kokoh, dan industri-industri rumah tangga dan berat mulai membentuk kota beton. Namun, ditengah gemuruh teknologi dan modernisasi itu, di belahan bumi yang lain, sepotong roti terpaksa dibagi banyak. tahun 1960-an itu, India, Nepal, termasuk Indonesia adalah negeri yang terancam kelaparan, lantaran penduduknya banyak sementara jumlah produksi benih terbatas. Nah, dari hasil perjuangannya menemukan formula bercocok tanam, penggunaan pupuk, pengairan (irigasi), penggunaan pestisida, serta bibit unggul, ia pun dianugerahi nobel perdamaian pada tahun 1970, atas jasanya mengatasi ancaman kelaparan massal. Tampaknya, mengatasi kelaparan akan berujung pada perdamaian dunia.

Norman Borlaug muncul secara apik dalam karya Leon Hasser dalam buku The Man Who Fed the World. Borlaug lahir pada 1914 dari keluarga petani miskin di Cresco, Iowa, melewati masa kecilnya dengan keakraban di sekolah sederhana di lingkungan kaum petani migrant di frontier Amerika. Setelah itu, meneruskan pendidikannya ke Universitas Minnesota. Ialah generasi pertama yang melanjutkan sekolah tinggi.

Di Mennesota ia berkenalan dengan Prof. E. C. Stakman, ketua Jurusan Patologi Tanaman. Lantaran sebuah ceramah Stacman, ia merubah cara pikirnya memandang dunia pertanian, dan akan merubah pandangan dunia 20 tahun ke depannya.

Setelah meraih doktornya, Borlaug menerima tawaran Stacman untuk mengembangkan pertanian di Meksiko yang saat itu mengalami krisis pangan. Program tersebut dibiayai oleh The Rockefeller Pondation yang membuat 20 tahun hidupnya menetap di Meksiko untuk melakukan riset pengembangan tanaman gandum. Di sana ia menampilkan ketekunan dan kerja keras yang luar biasa, ia mempelajari dan terus menerus menyilangkan ribuan varietas gandum untuk mencari bibit-bibit baru yang tahan terhadap hama dan lebih produktif.

Lantaran usahanya bertahun-tahun itu, ia menemukan metode untuk melakukan persilangan varietas dalam jumlah massal, dan yang lebih penting adalah temuannya mengenai bibit gandum dengan batang yang jauh lebih pendek, hasil penyilangan dari bibit asal Jepang, Norin-10. Dengan batang pendek, varietas ini akan menghasilkan lebih banyak butiran gandum, lebih tahan terhadap hempasan angin, serta lebih responsive terhadap aplikasi pupuk. Dari sini, ia memulai rangkaian berkelanjutan, yang disebut Revolusi Hijau.

Borlaug berhasil mengentaskan krisis pangan di Meksiko pada 1950, namanya mulai berkibar. Saat itu juga terjadi krisis pangan di India dan Pakistan, lalu dikobarkan oleh pesimisme Paul Ehrlich yang pada tahun 1960-an itu menulis sebuah buku The Population Bomb, tapi Borlaug tidak tenggelam dalam nada pesimisme ini. Saat diundang ke India tahun 1961 oleh Penasihat Mentri Pertanian India, M.S Swaminathan. Namun di India ia bergulat dengan birokrasi yang agak ribet, baru setelah pecah Perang India-Pakistan, Borlaug masuk dan mulai menerapkan metode produksi massalnya. Ia kemudian menebar bibit meksiko ke lahan-lahan luas India, menebar pupuk, dan menerobos administrasi agar petani diberi kredit usaha. Akhirnya India dapat melepas jerat krisis pangan dengan swasembada pangan pada 1970. Pakistan justru dua tahun sebelumnya, 1968.

Lalu, melihat kesuksesan di Meksiko, The Rockefeller bersama The Ford foundation berinisiatif mendirikan IRRI (International Rice Research Institute) di Filipina. Institute ini banyak menghasilkan jenis padi yang tahan terhadap hama dengan batang yang lebih pendek. Keberhasilan ini kemudian diadopsi oleh pemerintah Indonesia melalui insinyur-insinyur dari IPB Bogor pada masa orde baru.


Aroma revolusi hijau adalah aroma domestifikasi, upaya menjinakkan alam dengan bantuan teknologi dan bahan-bahan ajaib (kimiawi). Atau seperti logika determinisme yang berakar dari positif logis. Yang menganggap bahwa alam itu obyektif, ia bisa dikendalikan, diatur, sesuai dengan keinginan kita. paham linear ini pun memproduksi, ia berhasil menghidupkan begitu banyak orang, begitu banyak unsur.
Memang, akibat massifikasi danintensifikasi itu, lahan atau bumi bisa menghasilkan banyak, namun ini pada akhirnya juga berakhir simalakama. Karena bumi, juga tak sudi dipaksa, kemudian malah mengalami penurunan produksi dari tahun ke tahun, akibat lahan aus (tidak produktif), ketergantungan pada pupuk kimiawi, kebuntuan irigasi (krisis air), serta sawah yang akibat kerseragaman jenis tanam, justru semakin mengurangi keanekaragaman hayati pada ekosistem sawah tersebut.

Sebuah revolusi pada akhirnya selalu memakan anak kandungnya sendiri..

6 Januari 2012

0 komentar:

About This Blog

pemimpin yang baik: integritas, tanggungjawab, forgiveness, dan COmpassion

Baris Video

Loading...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP