<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466</id><updated>2012-01-21T21:17:54.899+08:00</updated><category term='laboratorium'/><category term='Dari Idham Malik'/><category term='sipil'/><category term='opini'/><category term='film'/><category term='Ilmiah'/><category term='Privat'/><category term='Cerita Bersambung'/><category term='Kampus'/><category term='kepiting'/><category term='pribadi'/><title type='text'>bontocina</title><subtitle type='html'>semoga blog ini dapat menjadi media inspirasi informasi berguna dan sebagai obat kegelisahan..</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>203</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-1643864707152164945</id><published>2012-01-21T21:17:00.000+08:00</published><updated>2012-01-21T21:17:54.912+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Hutan</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-MnXLpu-ZchA/Txq6xTBfTUI/AAAAAAAAAcg/QatrvMVXGCw/s1600/hutan.jpg" imageanchor="1" style="clear:right; float:right; margin-left:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="139" width="186" src="http://1.bp.blogspot.com/-MnXLpu-ZchA/Txq6xTBfTUI/AAAAAAAAAcg/QatrvMVXGCw/s320/hutan.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Hutan selalu menjadi dilema, walau sebenarnya sesuatu yang konkrit. Melihat hutan yang dicampuri oleh kebudayaan, kita ditohok antara dua pilihan, manusia ataukah lingkungan? Satu sisi kita dibuat was-was oleh prediksi chaotik masa depan, yang diliputi simulacrum tak pasti, bak teori termodinamika, hutan menjadi lokus perubahan menuju katastrophi. Kita selalu dihantui tapal batas yang sebentar lagi, yang tak jauh lagi. Ketika bumi memanas, ketika laut semakin ganas. Sementara sisi lain Hutan menjadi tubuh yang digerayangi, dinikmati dengan nafsu tak bertepi. Hutan menjadi obyek kerakusan, dengan legitimasi logika kemajuan, pertumbuhan, ekonomi, demi kesejahteraan manusia. Hutan menjadi tulang punggung pergerakan sebuah peradaban dan sebuah bangsa. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kita tahu bahwa pada titik waktu tertentu, dimasa lalu, hutan menjadi target, hutan menjadi sumbu perputaran ekonomi Negara kita. perambahan hutan besar-besaran terjadi sejak Presiden Soeharto resmi berkuasa pada 1967. Bahkan salah satu peraturan yang pertama dibuat Orde Baru adalah Undang-Undang Dasar Kehutanan. Isinya menyatakan kekuasaan Negara atas seluruh jengkal hutan. Itu sama dengan mengangkangi hak wilayah adat terhadap hutan yang sudah mereka pelihara selama beberapa generasi. Hutan menjadi pemasok devisa terbesar setelah minyak bumi dan gas. Menurut sebuah penelitian, setidaknya 40 juta hektar hutan hilang selama pemerintahan Orba. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PBB memperingatkan bahwa bisnis perkebunan kelapa sawit merupakan pangkal kerusakan hutan. Sejak 1990 lebih 28 juta hektar hutan rusak akibat perluasan kelapa sawit. Itu sepertiganya dari banyaknya hutan yang dibiarkan terlantar begitu saja. Kedua adalah bisnis industri pulp dan kertas. Industry kertas berkembang pesat sejak 1980, hingga mencapai kapasitas 6 juta ton pertahun. Untuk mencapai kapasitas seperti itu, industry membutuhkan 30 juta meter kubik kayu. Dari mana mereka memperoleh itu semua?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badan Pangan Dunia (FAO) sudah mencatat bahwa Indonesia menghancurkan kira-kira 51 kilometer persegi hutan setiap hari, setara dengan hancurnya 300 lapangan bola setiap jam. Angka deforestasi Indonesia tahun 2000 – 2005 mencapai 1,8 juta hektar pertahun. Secara kasar Indonesia menyatakan luas hutan Indonesia sebesar 133,57 juta hektar, namun menurut greenpeace, dalam separuh abad terakhir Indonesia telah kehilangan separuh hutannya. Hutan telah disulap menjadi perkembunan sawit, atau dianggurkan begitu saja. Bahkan, saya pernah melihat di pinggiran Banjarmasin, lahan lapang sudah menjadi alang-alang, yang katanya dulu adalah hutan belantara.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas adalah sepintas sejarah suram, dan akan terus berlanjut entah sampai kapan. Kini, dunia mulai meributkan, tentang siapakah yang bertanggungjawab terhadap kesuraman itu. hancurnya hutan Indonesia tak bukan adalah kaitan carut-marut globalisasi dan ekonomi pasar, dimana negara-negara lain turut menyumbangkan kerusakan. Ada negara yang meminta dan menikmati, ada yang memproduksi, namun, kini kita tahu bahwa semua warga dunia akan menjadi korban perusakan lingkungan, contoh kecilnya adalah banjir, rob dan longsor pada musim hujan, bencana kekeringan, krisis air dan pangan pada musim panas, dan kegalauan kita terhadap hantu global warming.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kekhawatiran itu, hutan pun menjadi pertaruhan. Hutan dianggap sebagai penyelamat, menyanggah kenaikan suhu lewat reduksi emisi karbon yang diproduksi negara maju. Hutan menyerap, ia menampung carbon, sementara negara industri terus membangun, membuang sampah karbon. Protocol Kyoto disepakati untuk menurunkan emisi karbon setiap Negara industri hingga 26 – 40 persen pada 2020. Namun, kisruh kembali terjadi di Bali pada 2007 lalu, Negara maju seperti Amerika, Jepang, Kanada, dan Australia ogah menurunkan emisi karbonnya. Diplomasi buntu, tak ditemukan jalan keluar. Namun, protocol tetap berjalan, REDD pun ditargetkan bergerak total pada 2012 ini. Dimana setiap Negara yang mempunyai hutan tropis berhak meminta jatah dari Negara maju lantaran peranannya menurunkan emisi karbon. Namun, ini masih menjadi dilema, tentang tujuan dan mekanismenya? Banyak LSM yang belum paham mengenai hitung-hitungan carbon itu, dan kenapa Negara berkembang tak boleh membangun, sementara maju tetap melaju kencang..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang itu saya belum tahu. Kita hanya sama-sama tahu kalau di dunia ini ada negara yang serakah, dan mungkin negara kita termasuk jua. Meski begitu, tetap ada cara, walau masih sebatas wilayah komunitas, karena persoalan hutan bukan sekadar persoalan lingkungan dan emisi karbon, tapi juga persoalan perut manusia yang tinggal di sekitar hutan. Mereka butuh makan dan selalu bergantung sumberdaya hutan. Pertanyaannya, bagaimana mendamaikan antara perut manusia dengan keberlangsungan hutan? Bisakah manusia tetap bergantung tanpa merusak ekologi hutan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya paham masyarakat bukanlah mesin, bukan industri yang memangkas, mereka bukan manusia yang rakus, mereka hanya kumpulan manusia yang telah menyatu dengan alam dan telah mengikatkan dirinya dengan hutan. Tak mungkin mereka menghabisi sumberdaya leluhurnya. Yang diperlukan mungkin hanyalah informasi, penyadaran, dengan pendekatan pemberdayaan. Masyarakat diajak memberdayakan hutan tanpa mengurangi kemampuannya mereduksi karbon serta tetap terjaga keberlangsungannya sepanjang zaman. Yang saya tahu tentang ini adalah dengan hadirnya konsep “hutan lestari”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dari belitan masalah ini, hutan lestari semoga bisa menjadi jalan tengah. Menjadi benang merah antara masyarakat hutan dan ekologi hutan. Semoga..     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu, 21 Januari 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-1643864707152164945?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/1643864707152164945/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=1643864707152164945' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/1643864707152164945'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/1643864707152164945'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2012/01/hutan.html' title='Hutan'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-MnXLpu-ZchA/Txq6xTBfTUI/AAAAAAAAAcg/QatrvMVXGCw/s72-c/hutan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-3363008539276808089</id><published>2012-01-15T19:02:00.000+08:00</published><updated>2012-01-15T19:02:54.420+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Privat'/><title type='text'>mengartikan makna, menghayati arti</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-ocV6xkHjBvY/TxKyM6s1URI/AAAAAAAAAcU/0oJk4kjiFY0/s1600/makna.jpg" imageanchor="1" style="clear:right; float:right; margin-left:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="186" width="240" src="http://1.bp.blogspot.com/-ocV6xkHjBvY/TxKyM6s1URI/AAAAAAAAAcU/0oJk4kjiFY0/s320/makna.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;mengartikan makna berarti mengartikan sebuah pengertian.. saya juga kadang dibingungkan dengan makna. ada apa dengan kata ini? makna sepengertian saya adalah pemahaman yang membuat sesuatu berarti dalam hidup, yang serta merta merombak alam berfikir dan menemukan nilai baru.. kita tak mungkin hidup tanpa nilai.. nah, darimanakah nilai itu berasal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nilai ini menambah kualitas kita, sehingga dapat lebih mudah berkreasi dan menjalani hidup. Makna kadang, kita peroleh setelah mengetahui atau merasa bahwa diri kita tak bermakna lagi, yang biasanya diujungnya berakhir dengan tindak bunuh diri.. tapi, bagi mereka yang mendapatkan makna dari perasaan ketidakbermaknaan itulah kita melakukan peroses penghayatan arti.. "menemukan dirinya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menghayati arti: menemukan diri dalam kekosongan (kondisi jatuh: tak bermakna: ditinggal pergi) dalam kondisi ini kita kembali menjadi manusia yang bebas, karena dipaksa memilih berdasarkan suara hati yang tidak bergantung pada yang terbatas (material).. lantaran sangat berdampak bagi masa depan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam penghayatan itu, kita bersentuhan dengan cakrawala tak berbatas, yang melingkupi objek-objek. karena yang 'Mutlak' itulah yang menyelamatkan kita dari lubang kosong (absurb). Dari Cakrawala inilah bertaburan sumber nilai yang selalu kita kejar itu, menjadi pondasi terhadap segala kebaikan dan keadilan. sehingga saat yang terbatas meninggalkan kita, kita masih mendapatkan cinta dari yang Maha Mencintai, Kekasih sejati.. nun, Ia memberi kebebasan terhadap alam untuk bergerak mandiri dan menimbulkan penderitaan-penderitaan, dimana hal itu tak lain mengandung simbol cobaan berupa dramatisasi ilahi yang begitu cantik, membuat kita jatuh bangun tak terperi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saya telah banyak berceloteh, dan mungkin akan kian menjadi tak bermakna..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;makna tak mungkin ada tanpa kehadiran tujuan.. dan keberadaan tujuan meniscayakan tindakan. kita melakukan sesuatu tak lain untuk memperoleh makna.. dan "Mahluk yang paling berguna yaitu mereka yang paling bermanfaat (bermakna) bagi orang lain". limpahan makna ini pula yang membuat hidup kita bahagia.. semoga..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasti gemilang"!!!!!!!!!!!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-3363008539276808089?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/3363008539276808089/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=3363008539276808089' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/3363008539276808089'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/3363008539276808089'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2012/01/mengartikan-makna-menghayati-arti.html' title='mengartikan makna, menghayati arti'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-ocV6xkHjBvY/TxKyM6s1URI/AAAAAAAAAcU/0oJk4kjiFY0/s72-c/makna.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-3329114219602659165</id><published>2012-01-06T22:17:00.000+08:00</published><updated>2012-01-06T22:17:59.757+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Revolusi Hijau dan Norman Borlaug</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-VoRCRc1c5CU/TwcCPdmWnBI/AAAAAAAAAcI/O9xJaWv6IGg/s1600/norman%2Bborlaug.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="223" width="226" src="http://1.bp.blogspot.com/-VoRCRc1c5CU/TwcCPdmWnBI/AAAAAAAAAcI/O9xJaWv6IGg/s320/norman%2Bborlaug.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana lazimnya revolusi, ia menyimpan harapan dan juga gelisah. Revolusi memang tak setengah-setengah, ia menghentak, mendobrak, membakar gelora. Ada yang digadang-gadang selepas revolusi, tentu sebuah harapan akan masyarakat yang bebas, dari segala bentuk penghambaan atau pun perbudakan ekonomi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Revolusi lahir dari sebuah informasi yang dibagi rata, dari sebuah penemuan yang tak disangka, berupa sebuah lompatan akan kuantitas dan kualitas, berkenaan dengan massa dan masa depan dunia. Namun, logika revolusi juga menyimpan gelisah. Begitu banyak nyawa dipertaruhkan untuk mengejar sebuah cita-cita, untuk mewujudkan slogan kebebasan. Revolusi memang membutuhkan korban, bahkan berasal dari anak kandungnya sendiri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;   Revolusi pastinya memperkenalkan nama-nama besar dan juga ide-ide. Nama besar inilah yang merumuskan, meramalkan masa depan, dialektika sejarah. Mereka menemukan cara untuk berubah, untuk setara, adil, untuk bebas. kini, saya mencoba melirik satu revolusi yang pengaruhnya juga sampai ke negeri kita. Ia tak berbau gelora massa, justru ia berbau pembangunan, efisiensi, intensifikasi, dan juga teknologi. Sesuatu yang mungkin sangat diharapkan di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Norman Borlaug adalah sebuah sebuah nama yang dilahirkan revolusi, yang dikenal dengan revolusi hijau. Ia adalah penemu dan pendongkel pendulum sejarah yang namanya mungkin asing, tak dikenal, atau tertutupi nama-nama besar lain cetusan sebuah revolusi sosial. Tapi, ini memang revolusi yang lain. Revolusi yang hadir pasca perang dunia II, dimana teknologi persenjataan sudah demikian maju, pabrik-pabrik baja berdiri kokoh, dan industri-industri rumah tangga dan berat mulai membentuk kota beton. Namun, ditengah gemuruh teknologi dan modernisasi itu, di belahan bumi yang lain, sepotong roti terpaksa dibagi banyak. tahun 1960-an itu, India, Nepal, termasuk Indonesia adalah negeri yang terancam kelaparan, lantaran penduduknya banyak sementara jumlah produksi benih terbatas. Nah, dari hasil perjuangannya menemukan formula bercocok tanam, penggunaan pupuk, pengairan (irigasi), penggunaan pestisida, serta bibit unggul, ia pun dianugerahi nobel perdamaian pada tahun 1970, atas jasanya mengatasi ancaman kelaparan massal. Tampaknya, mengatasi kelaparan akan berujung pada perdamaian dunia.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Norman Borlaug muncul secara apik dalam karya Leon Hasser dalam buku The Man Who Fed the World. Borlaug lahir pada 1914 dari keluarga petani miskin di Cresco, Iowa, melewati masa kecilnya dengan keakraban di sekolah sederhana di lingkungan kaum petani migrant di frontier Amerika. Setelah itu, meneruskan pendidikannya ke Universitas Minnesota. Ialah generasi pertama yang melanjutkan sekolah tinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di Mennesota ia berkenalan dengan Prof. E. C. Stakman, ketua Jurusan Patologi Tanaman. Lantaran sebuah ceramah Stacman, ia merubah cara pikirnya memandang dunia pertanian, dan akan merubah pandangan dunia 20 tahun ke depannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah meraih doktornya, Borlaug menerima tawaran Stacman untuk mengembangkan pertanian di Meksiko yang saat itu mengalami krisis pangan. Program tersebut dibiayai oleh The Rockefeller Pondation yang membuat 20 tahun hidupnya menetap di Meksiko untuk melakukan riset pengembangan tanaman gandum. Di sana ia menampilkan ketekunan dan kerja keras yang luar biasa, ia mempelajari dan terus menerus menyilangkan ribuan varietas gandum untuk mencari bibit-bibit baru yang tahan terhadap hama dan lebih produktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Lantaran usahanya bertahun-tahun itu, ia menemukan metode untuk melakukan persilangan varietas dalam jumlah massal, dan yang lebih penting adalah temuannya mengenai bibit gandum dengan batang yang jauh lebih pendek, hasil penyilangan dari bibit asal Jepang, Norin-10. Dengan batang pendek, varietas ini akan menghasilkan lebih banyak butiran gandum, lebih tahan terhadap hempasan angin, serta lebih responsive terhadap aplikasi pupuk. Dari sini, ia memulai rangkaian berkelanjutan, yang disebut Revolusi Hijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Borlaug berhasil mengentaskan krisis pangan di Meksiko pada 1950, namanya mulai berkibar. Saat itu juga terjadi krisis pangan di India dan Pakistan, lalu dikobarkan oleh pesimisme Paul Ehrlich yang pada tahun 1960-an itu menulis sebuah buku The Population Bomb, tapi Borlaug tidak tenggelam dalam nada pesimisme ini. Saat diundang ke India tahun 1961 oleh Penasihat Mentri Pertanian India, M.S Swaminathan. Namun di India ia bergulat dengan birokrasi yang agak ribet, baru setelah pecah Perang India-Pakistan, Borlaug masuk dan mulai menerapkan metode produksi massalnya. Ia kemudian menebar bibit meksiko ke lahan-lahan luas India, menebar pupuk, dan menerobos administrasi agar petani diberi kredit usaha. Akhirnya India dapat melepas jerat krisis pangan dengan swasembada pangan pada 1970. Pakistan justru dua tahun sebelumnya, 1968.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Lalu, melihat kesuksesan di Meksiko, The Rockefeller bersama The Ford foundation berinisiatif mendirikan IRRI (International Rice Research Institute) di Filipina. Institute ini banyak menghasilkan jenis padi yang tahan terhadap hama dengan batang yang lebih pendek. Keberhasilan ini kemudian diadopsi oleh pemerintah Indonesia melalui insinyur-insinyur dari IPB Bogor pada masa orde baru.     &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Aroma revolusi hijau adalah aroma domestifikasi, upaya menjinakkan alam dengan bantuan teknologi dan bahan-bahan ajaib (kimiawi). Atau seperti logika determinisme yang berakar dari positif logis. Yang menganggap bahwa alam itu obyektif, ia bisa dikendalikan, diatur, sesuai dengan keinginan kita. paham linear ini pun memproduksi, ia berhasil menghidupkan begitu banyak orang, begitu banyak unsur. &lt;br /&gt;Memang, akibat massifikasi danintensifikasi itu, lahan atau bumi bisa menghasilkan banyak, namun ini pada akhirnya juga berakhir simalakama. Karena bumi, juga tak sudi dipaksa, kemudian malah mengalami penurunan produksi dari tahun ke tahun, akibat lahan aus (tidak produktif), ketergantungan pada pupuk kimiawi, kebuntuan irigasi (krisis air), serta sawah yang akibat kerseragaman jenis tanam, justru semakin mengurangi keanekaragaman hayati pada ekosistem sawah tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah revolusi pada akhirnya selalu memakan anak kandungnya sendiri..  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6 Januari 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-3329114219602659165?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/3329114219602659165/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=3329114219602659165' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/3329114219602659165'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/3329114219602659165'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2012/01/revolusi-hijau-dan-norman-borlaug.html' title='Revolusi Hijau dan Norman Borlaug'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-VoRCRc1c5CU/TwcCPdmWnBI/AAAAAAAAAcI/O9xJaWv6IGg/s72-c/norman%2Bborlaug.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-450661474353628</id><published>2012-01-06T11:00:00.000+08:00</published><updated>2012-01-06T11:00:27.293+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Resolusi untuk Tambak Tradisional Sulsel</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-C_eXt1Xdsc0/TwZjoCunVMI/AAAAAAAAAb8/7eegsgEilUc/s1600/tambak%2Btradisional.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="139" width="186" src="http://4.bp.blogspot.com/-C_eXt1Xdsc0/TwZjoCunVMI/AAAAAAAAAb8/7eegsgEilUc/s320/tambak%2Btradisional.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pada januari ini, sebulan sudah perjalanan, perjuangan, dan harapan. Hidup memang tak pernah putus untuk diterjemahkan, dalam pengalaman masing-masing orang, dalam sebuah moment, dalam perangkap suasana. Dalam penempuhan itu, kita kemudian mengenal istilah gagal dan berhasil, tepat sasaran atau melenceng dari perkiraan. Pada semua itu, kita menangkap sebuah rasa dan warna, yang mungkin cerah ataukah kelabu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pada sebulan ini, saya mencurahkan cukup banyak waktu untuk mengenal lebih jauh seluk beluk tambak dalam sebagian masyarakat Sulsel. Sebelumnya, pengetahuan tentang tambak sudah banyak saya peroleh di bangku kuliah, juga dalam pengalaman penelitian saat mahasiswa, yang banyak dilakoni di tambak. Namun, kala itu tambak sekadar menjadi media yang diam, yang tak tahu ingin bicara apa. Kini, dalam pandanganku, tambak mulai membuka mulut, suara-suaranya mulai sedikit terdengar, ia mengeluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sebulan lalu, akhir November, saya sempat ke Malili dan Palopo. Di sana tambak masyarakat sangat luas, diisi bandeng dan udang. Sistem pengelolaannya menerapkan metode tradisional, memanfaatkan air pasang. Tampaknya, petani di sana masih sering was-was dengan tambak mereka. Suatu waktu mereka berhasil, namun di waktu lain mereka menuai kegagalan. Dan kegagalan telak biasa ditemukan pada tambak udang, sementara bandeng cukup tahan terhadap serangan penyakit mematikan. Sehingga petani kadang menerapkan sistem campur, udang dan bandeng diisi bersama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sayangnya, petani agak sulit menemukan solusi dari persoalan yang memberatkan itu. sebenarnya, petani selalu punya cara untuk belajar, seperti belajar pada petani lain yang berhasil. Misalnya, pada satu kecamatan terdapat satu petani yang berhasil dan yang lainnya pada gagal, otomatis petani yang satu itu menjadi rujukan tentang metode bertambak untuk kondisi daerah setempat. Namun, kadang petani yang berhasil itu juga belum menemukan prosedur yang betul-betul efisien dan ramah lingkungan. Petani mengandalkan pupuk yang lebih condong ke pupuk kimia, mereka menganggap bahwa penggunaan pupuk yang banyak dapat meningkatkan produktivitas ikan dan udang.     Solusi lain yang mereka terapkan dengan pengelolaan air, yaitu dengan melakukan penggantian air. Namun, mekanisme itu kadang juga tidak rutin dan terbengkalai, lantaran air tergantung dari pasang. Kadang juga air yang ingin masuk itu keruh, sehingga percuma saja dimasukkan ke kolam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Petani di malili agak sulit menangani tambaknya yang sangat luas, karena pemakaian terus menerus, otomatis kandungan hara di dalam tanah sudah berkurang, sehingga memerlukan pupuk yang banyak. Namun, endapan pupuk, kotoran ikan dan udang itu sangat jarang dibersihkan dengan cara pengangkatan lumpur atau sekadar dengan pengeringan. Sehingga, kandungan bahan organic semakin meningkat, yang tentu akan berbahaya bagi kehidupan udang. Material organic ini mempengaruhi pH, metabolism organisme, dan menjadi racun bagi udang. Selain itu, bisa diduga juga bahwa material organic menjadi lahan subur tempat tumbuhnya bakteri dan virus berbahaya. Sementara bakteri positif (probiotik) yang berguna untuk mengurai bahan organic dan sisa-sisa plankton mati semakin kurang jumlahnya dalam tambak lantaran kurangnya oksigen, pH rendah, atau lantaran suhu yang ekstrim. Bertumpuknya bahan organic ditandai dengan bau yang tak sedap, lumpur berwarna hitam, yang biasanya banyak mengandung H2S (Hidrogen Sulfida), besi, dan mangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara penyakit yang ditemukan pada udang biasanya virus white spot, vibrio, mio, insang merah, atau kropos. Penyakit ini bisa berasal dari inang atau bibit yang tidak tahan penyakit atau bisa jadi indukan awalnya berpotensi terkena virus, bisa juga berasal dari factor eksternal seperti kondisi suhu ekstrim, salinitas tinggi, atau oksigen sangat rendah. Dalam kondisi seperti itu, udang biasanya mengalami stress, kurang nafsu makan, metabolisme tubuh terganggu, pencernaan terhambat, dan ujung-ujungnya pertumbuhan lambat dan kematian.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebenarnya, ditinjau dari penyebab munculnya penyakit pada umumnya, di tambak tradisional tidak terlalu banyak. Misalnya padat penebaran pada tambak tradisional sangat renggang, mungkin hanya 5 - 10 ekor permeter, selain itu tidak menggunakan pakan buatan, sehingga sisa pakan tidak tergradasi menjadi kotoran. Namun, kotoran terbentuk dari akumulasi pupuk yang banyak, juga dari feses ikan dan udang, yang dari siklus ke siklus tidak mendapatkan penanganan maksimal. Persoalannya terletak pada pola kebiasaan petani yang selalu memaksakan alam berproduksi. Namun, sulit juga untuk berharap petambak untuk bersabar, karena mereka juga dikejar target untuk memenuhi kebutuhan ekonomi sehari-harinya..  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, sangat dibutuhkan penelitian atau metode yang tepat agar petambak tetap berproduksi tapi lahan juga tidak tergerus kondisinya. Di sini kita mengandaikan dengan teori Malthus, bahwa kebutuhan manusia meningkat, sementara sumberdaya alam semakin menipis. Langkah-langkah taktis yang bersifat berkelanjutan sangat diperlukan, dan pemerintah, masyarakat sipil, tokoh masyarakat, serta akademisi harus merenungkan hal ini. Petambak pun diajak selalu merefleksi aktivitasnya, dan mencari sendiri formula untuk bangkit dari kegagalan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Kondisi tambak di kecamatan Suppa juga tak beda jauh, petakan tambak di Suppa luasnya hingga 5 hektar, atau sekitar 3 – 4 hektar perpetak. Tapi petambak di sana sudah jauh lebih mengenal tentang teknologi pertambakan udang. Dalam mengatasi persoalan krisis unsur hara dan menurunnya pH tanah dan air, mereka menggunakan kapur. Tentu hal ini sangat menolong, karena menurunnya pH dapat membahayakan kehidupan udang. Di samping itu, mereka melakukan pengeringan, walau kurang maksimal. Untuk mengatasi hama, mereka menebar saponin. Pupuk yang digunakan pun cuma jenis tertentu, rata-rata menggunakan posca dan sp 36 karena mereka anggap dapat mengeraskan tanah. Namun, tambak itu lagi-lagi bermasalah dengan kondisi tanah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari satu petakan yang telah dikuras airnya, akan tampak lumpur hitam dan baunya yang menyengat. Pada tambak ini pun banyak yang kurang dalam dan tak memiliki Karen atau parit. Sehingga, jika tingkat kecerahan meningkat dapat mengganggu aktivitas udang akibat sengatan matahari. Jika terdapat caren dan tinggi air cukup (1 meter lebih), udang bisa bersembunyi dan tidak kewalahan dengan sinar matahari. Harus diketahui pula tingkah hidup udang windu, jenis udang yang lazim dibudidayakan di pinrang dan malili, udang windu selalu beristirahat di dalam lumpur. Celakanya, udang jenis ini punya kebiasaan jika dalam kondisi lapar suka memamah lumpur. Sehingga, pada tambak tradisional yang tidak menggunakan pakan tambahan, sangat rawan terkena penyakit atau udang keropos, lantaran nafsu makan udang yang menurun akibat cuaca ekstrim atau oksigen menurun. ini bisa diamati jika punggung udang kehitaman karena udang justru memakan lumpur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping hal teknis, pola produksi masyarakat Suppa juga sangat dipengaruhi dengan sistem sewa atau gadai yang lahan tambak yang dilakoni oleh petambak. Petambak sangat memperhitungkan unsur waktu, sehingga setelah panen, mereka mengupayakan dalam jangka waktu dekat akan melakukan penebaran lagi untuk mengejar waktu target penggunaan lahan. Namun, kegagalan sebelumnya sering juga diiringi dengan kegagalan selanjutnya. Mereka seperti bermain dadu, kadang berhasil dan kadang gagal. Alam lah yang mempermainkan tambak mereka. Tapi, mereka mengantisipasi hal itu dengan pengisian bandeng dan udang secara bersamaan. Meski udangnya bermasalah, masih ada bandeng yang menjadi penopang hidup mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, itu adalah cara berfikir yang keliru. Karena benur yang ditebar juga mengeluarkan ongkos, walau ditutupi dengan keberhasilan bandeng. Kalau misalnya ragu akan hasil udang, sebaiknya tidak usah menebar udang, karena pada akhirnya akan gagal juga jika kualitas lahan tidak memadai.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sementara ini saya berfikir dua paket resolusi untuk pengelolaan tambak tradisional bagi masyarakat Malili dan Suppa. Pertama adalah gerakan pengeringan dan pengangkatan lumpur dalam satu masa dalam setahun. Pola ini harus dipelopori oleh pemerintah beserta tokoh masyarakat yang terkait. Misalnya setelah dua siklus pemeliharaan, butuh waktu jeda pada musim panas untuk sesekali pengangkatan lumpur yang dilanjutkan pengeringan. Pengangkatan lumpur ini bermanfaat juga untuk memperdalam tambak pada bagian parit, mempertinggi pematang. Petambak kurang berminat mengangkat lumpur karena akan mengeluarkan ongkos lagi. Tapi, dengan bantuan pemerintah, saya pikir bisa dimasukkan ke dalam program bantuan. Selain bantuan benur dan pupuk.         &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kedua adalah meminimalisir pupuk kimia dan mensubtitusikannya dengan pupuk organik. Kelebihan pupuk kimia dianggap berbahaya bagi kelangsungan tambak, karena akan mengeluarkan amoniak. Sementara pupuk organik akan meningkatkan kualitas tanah dan tanpa melahirkan residu. Petambak butuh informasi tentang pembuatan pupuk organik, misalnya dari pupuk kompos, pupuk biogas, atau dengan kultur fermentasi. Keberadaan kelompok tani yang mengorganisir dan memberdayakan petambak untuk memproduksi pupuk organik sangat menunjang perbaikan kualitas tambak. Mungkin suatu ketika, pemerintah dapat menginisiasi untuk memasukkan informasi dan teknologi pupuk organic ke masyarakat tambak. Di samping itu, tambahan probiotik juga akan membantu merombak bahan organic yang merugikan.      &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Untuk sementara, hanya dua inilah yang perlu diperioritaskan, khususnya untuk tambak tradisional di Sulawesi Selatan.. ke depannya, semoga akan muncul solusi-solusi baru, yang akan memecahkan problem masyarakat tambak. Seiring dengan semangat dan niat yang tulus, untuk kesejahteraan rakyat sekitar kita.. amin.. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Makassar, 6 Januari 2012&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-450661474353628?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/450661474353628/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=450661474353628' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/450661474353628'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/450661474353628'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2012/01/resolusi-untuk-tambak-tradisional.html' title='Resolusi untuk Tambak Tradisional Sulsel'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-C_eXt1Xdsc0/TwZjoCunVMI/AAAAAAAAAb8/7eegsgEilUc/s72-c/tambak%2Btradisional.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-3158481398304802564</id><published>2012-01-01T23:13:00.001+08:00</published><updated>2012-01-01T23:15:59.064+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ilmiah'/><title type='text'>Sejarah Pupuk, Kisah Jhon Bennet Lawes yang Culas</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-f9ZI9eS_QjY/TwB33S-f1YI/AAAAAAAAAbk/hHJwWzYwjIY/s1600/jhon.jpg" imageanchor="1" style="clear:right; float:right; margin-left:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="201" width="126" src="http://3.bp.blogspot.com/-f9ZI9eS_QjY/TwB33S-f1YI/AAAAAAAAAbk/hHJwWzYwjIY/s320/jhon.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pupuk mungkin sudah seperti makanan pokok, walau sebenarnya hanya makanan untuk tanah. Dalam kondisi bumi sekarang ini, dan juga beberapa dasawarsa tahun lalu, bumi sudah mulai aus dengan tingkah manusia memproduksi pangan yang dilakukan secara kontinyu, tanpa jarak waktu. Pupuk pun menjadi partner, sepanjang siklus, sejauh perjuangan. Pupuk tak lain adalah senjata ampuh untuk menumbuhkan apa saja, untuk memperoduksi pangan sebanyak yang kita inginkan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, pupuk yang digunakan sebagian besar petani adalah pupuk kimia (urea, TSP, Poska), sebagian lagi pupuk organik (nutrilake). Pupuk kimia masih popular, lantaran harganya yang murah dan efektivitasnya. Sekali tebar dalam jumlah kilogram, tanah telah mengandung unsure nitrat dan posfat yang sangat dibutuhkan tumbuhan. Namun, setelah melihat perkembangannya, pupuk jenis kimiawi ini pun mengandung problem, yaitu ekses kimiawinya yang cukup membahayakan, seperti reduksi amoniak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaman ini ditandai dengan bergesernya pola dan gaya hidup masyarakat, khususnya golongan menengah dalam memandang makanan. Mereka, mulai berorientasi pada produk yang dikenal ‘alami’ atau ‘organik’. Maka menjamurlah produk olahan makanan di gerai-gerai toko yang berlabel organik. Mulai dari jenis beras, jus, buah-buahan. Dan tampaknya, pola konsumsi ini sudah menjadi semacam style, yang bersifat khusus. Namun, ini belum bersifat massif, karena petani yang di lapangan belum terlalu paham dengan pola itu, yang mereka ketahui adalah efisiensi dan produktivitas, tentu dengan tambahan pupuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah.. lantaran pentingnya pupuk bagi kelangsungan peradaban kita ini, baik kalau kita uraikan sekilas sejarah singkat penemuan pupuk ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;Di daratan Inggris, tepatnya di Harpenden, dekat lingkaran puing-puing kuil Romawi, satu rumah besar telah dibangun pada awal abad ketiga belas. Rothamsted Manor, terbuat dari bata dan kayu, dikelilingi pagar dan parit yang lebar, luasnya 120 hektar, telah dihuni oleh beberapa generasi sekian abad, sampai seorang anak delapan tahun mewarisinya pada 1814, bernama John Bannet Lawes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lawes bersekolah di Eton, kemudian melanjutkan ke Oxford, di sana ia belajar geologi dan kimia. Di sekolah cambangnya tumbuh subur, namun ia tak mendapatkan gelar. Saat kembali ke Rothamsted, ia lalu melakukan sebuah teknik pengolahan tanah yang akhirnya mengubah cara orang bertani sejak saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah John Bannet Lewis dimulai dengan tulang, kata sebagian orang berhubungan dengan kapur. Sebelumnya, selama berabad-abad para petani Hertfordshire telah menggali kapur sisa mahluk laut purba yang terkubur di bawah lapisan lempung tanah mereka untuk ditebarkan pada parit-parit di sekitar lading mereka, karena telah terbukti menyuburkan tanaman lobak dan biji-bijian. Dari kuliahnya di Oxpord, Lawes tahu bahwa kapur yang ditebarkan di lading-ladang bukan merupakan makanan tambahan bagi tanaman, melainkan bahan melunakkan tanah sehingga tidak terlalu asam. Jadi, apa sesungguhnya yang menyebabkan tanaman lebih subur?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ahli kimia Jerman, Justus von Liebig, tidak lama sebelumnya mencatat bahwa tulang-tulang yang dijadikan tepung dapat mengembalikan kebugaran tanah. Setelah direndam dahulu dalam asam sulfat encer, tulisnya, bubuk tulang itu bahkan lebih mudah dicerna. Lawes mencobanya di ladang lobak, dan ia terkesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justus von Liebig dikenang sebagai pelopor industry pupuk, tetapi ia mungkin tak berkeberatan andai ia bisa menukar kehormatan itu dengan sukses luar biasa yang diraih oleh John Bannet Lawes. Von liebig tidak pernah berpikir untuk mematenkan prosesnya. Setelah sadar betapa merepotkan bagi para petani yang sibuk untuk membeli, merebus, dan menggiling tulang, kemudian membeli asam sulfat dari pabrik gas di London untuk merendam bubuk tulang, dan menggiling hasilnya yang menjadi keras lagi. Dan, Lawes justru mematenkan metode itu atas namanya sendiri. Dengan paten di tangan, ia membangun pabrik pupuk buatan pertama di dunia di Rothmasted tahun 1841. Tidak lama kemudian ia menjual “superfosfat” kepada semua tetangganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-LdqbBsjjQx8/TwB4IeLsy9I/AAAAAAAAAbw/PDreX12oiBA/s1600/pupuk.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="258" width="195" src="http://4.bp.blogspot.com/-LdqbBsjjQx8/TwB4IeLsy9I/AAAAAAAAAbw/PDreX12oiBA/s320/pupuk.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pabrik pupuknya pindah ke lahan yang lebih besar dekat Greenwich di Sungai Thames. Sewaktu penggunaan bahan penyubur tanah kimiawi menyebar, pabrik-pabrik Lawes makin banyak, dan daftar produknya pun bertambah panjang. Produknya tidak hanya bubuk tulang dan mineral fosfat, tetapi juga dua pupuk nitrogen: natrium nitrat dan ammonium sulfat (keduanya belakangan digantikan dengan ammonium nitrat yang lazim digunakan sekarang). Lagi-lagi, von Liebig yang telah menemukan nitrogen sebagai komponen penting asam-asam amino dan asam-asam nukleat yang vital bagi tumbuhan itu terlambat berfikir untuk memanfaatkan temuannya. Sementara von Liebig sibuk menerbitkan temuannya, Lawes mematenkan campuran nitratnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mempelajari mana pupuk yang paling efektif, 1834 Lawes memulai rangkaian lahan uji yang masih diterapkan sampai sekarang, yang menjadikan Rothamsted Research baik sebagai pusat penelitian pertanian paling tua di dunia, juga sebagai tempat eksperimen lapangan berkelanjutan yang paling lama di dunia. Lawes dan John Henry Gilbert, ahli kimia yang menjadi mitranya selama 60 tahun, yang sama-sama menjadi sasaran kebencian Justus von Liebig, mulai dengan menanami dua bidang ladang: yang satu ditanami lobak, yang lain ditanami gandum. Mereka membagi keduanya dalam 24 lajur, kemudian menerapkan perlakuan yang berbeda kepada setiap lajur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kombinasi-kombinasi yang diterapkan meliputi pemakaian pupuk nitrogen dalam jumlah banyak, sedikit, atau tidak sama sekali; pemakaian bubuk tulang mentah, superfosfat buatannya, atau tanpa fosfat sama sekali; pemakaian mineral-mineral seperti senyawa kalium, magnesium, belerang, natrium; dan pemakaian pupuk kandang mentah atau pupuk kandang olahan. Ada lajur yang ditaburi batu kapur setempat, ada yang tidak. Tahun-tahun berikutnya, sebagai plot dirotasi dengan jelai, kacang, havermut, semanggi, dan kentang. Sebagian lajur diistirahatkan secara berkala, sebagian lain ditanami terus menerus dengan tumbuhan yang sama. Sebagian difungsikan sebagai control, tanpa penambahan apa pun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1850-an, hasil panen bertambah ketika pupuk nitrogen dan fosfat diberikan, sedangkan penambahan mineral mikro berpengaruh baik terhadap sebagian tanaman, tapi berpengaruh buruk kepada tanaman lain. Bersama Gilbert, setelah pengambilan sampel yang sangat cermat dan pencatatan hasil-hasilnya, Lawes bersedia menguji teori apa pun – entah ilmiah, awam, atau tidak masuk akal – tentang apa yang membantu pertumbuhan tanaman. Menurut George Vaughn Dyke, penulis biografinya, percobaannya meliputi pembuatan superfosfat dari tepung gading, dan melumuri tanaman dengan madu. Satu eksperimen yang masih dilakukan sampai sekarang adalah tidak menggunakan tanaman pangan sama sekali, tapi hanya menggunakan rumput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehamparan padang penggembalaan purba tidak jauh dari Rothamsted Manor dibagi menjadi lajur-lajur dan diberi perlakuan dengan bermacam-macam senyawa nitrogen anorganik dan penambahan mineral. Belakangan Lawes dan Gilbert menambahkan tepung ikan serta pupuk kandang dari ternak yang diberi bermacam-macam makanan. Dalam abad kedua puluh, dengan peningkatan hujan asam, lajur-lajur itu dibagi lagi, sebagian ditaburi kapur untuk menguji pertumbuhan dalam kondisi angka pH atau keasaman berbeda-beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari eksperimen di ladang rumput ini, mereka melihat bahwa walaupun pupuk nitrogen anorganik membuat rumput pakan tumbuh setinggi pinggang, namun keanekaragaman hayati menjadi korban. Sementara 50 spesies rumput, gulma, kacang-kacangan, dan sayur-sayuran bisa tumbuh di lajur-lajur yang tidak diberi pupuk, lajur-lajur bersebelahan yang diberi nitrogen hanya ditumbuhi dua atau tiga spesies. Karena petani tidak ingin benih tumbuhan lain bersaing dengan benih yang mereka tanam, mereka tidak berkeberatan dengan hasil tersebut, tetapi tidak demikian dengan alam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu suatu paradoks, tetapi begitu juga Lawes. Pada 1870-an, setelah menjadi kaya raya, ia menjual bisnis pupuknya tetapi gairahnya untuk bereksperimen ia lanjutkan. Di antara beberapa hal yang diperhatikannya adalah berapa lama sebidang lahan dapat ditanami tanpa henti. Penulis biografinya mencatat bahwa ia pernah mengatakan bahwa petani mana pun yang berfikir dapat “menghasilkan panen sama bermutu entah ketika ia menggunakan beberapa kilogram bahan kimia atau ketika menggunakan sekian ton pupuk kandang,” petani itu hanya berhayal. Lawes memberikan nasihat kepada siapa pun yang bertanam sayuran dan biji-bijian bahwa, kalau ia yang melakukannya, ia akan “memilih sebuah tempat yang memungkinkan pasokan besar pupuk kandang dengan harga murah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan berikutnya semakin pesat, dengan ditemukannya teknologi dan metode pembuatan pupuk, industri-industri pertanian semakin giat berproduksi. Hingga tiba sebuah revolusi, khususnya di dunia ketiga seperti di Indonesia, yaitu revolusi hijau, dimana intensifikasi dan massifikasi pertanian digenjot. Dengan logika efisiensi, kecepatan, dan produksi massal, penggunaan pupuk pun semakin massif. negara penghasil pangan seperti Indonesia pun pada akhirnya memperoleh surplus dan bebas pangan. Namun, luapan kegembiraan nasional ini cuma beberapa dasawarsa saja, kini kita kembali terseok-seok dengan produksi nasional kita. Kini kita bertarung dengan kualitas dan keberlanjutan produksi, dimana kebutuhan meningkat, semakin banyak mulut yang ingin diberi makan, sementara lahan semakin sempit dan kualitas lahan yang menurun drastis. Lagi-lagi, pupuk menjadi senjata, namun, sampai sejauh manakah pupuk dapat menolong kita, dari bencana terbesar, yaitu krisis pangan..??  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ulasan Sejarah di peroleh dari Buku “The World Without Us” karya Alan Weisman..&lt;br /&gt;Ahad, 1 Januari 2012&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-3158481398304802564?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/3158481398304802564/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=3158481398304802564' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/3158481398304802564'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/3158481398304802564'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2012/01/sejarah-pupuk-kisah-jhon-bennet-lawes.html' title='Sejarah Pupuk, Kisah Jhon Bennet Lawes yang Culas'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-f9ZI9eS_QjY/TwB33S-f1YI/AAAAAAAAAbk/hHJwWzYwjIY/s72-c/jhon.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-1265085819784127105</id><published>2011-12-15T17:54:00.000+08:00</published><updated>2011-12-15T17:54:41.047+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ilmiah'/><title type='text'>Catatan tentang Klasifikasi Tambak di Indonesia</title><content type='html'>Indonesia merupakan salah satu pengeksport udang terbesar di dunia. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia mengalami penurunan jumlah eksport, lantaran diterjang beragam persoalan di tingkat teknis, seperti banyaknya kisah kegagalan panen udang karena diserang penyakit. Berikut adalah permukaan penjelasan tentang teknis tambak udang di Indonesia, sebagai pembuka wacana kita tentang kondisi perudangan Indonesia yang selalu luput dari perhatian bapak-bapak pengelola Negara kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-MjJSf2QRYYE/TunC-vchwGI/AAAAAAAAAbY/VEObMGJ4X2E/s1600/DSC03951.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="200" width="150" src="http://3.bp.blogspot.com/-MjJSf2QRYYE/TunC-vchwGI/AAAAAAAAAbY/VEObMGJ4X2E/s200/DSC03951.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tambak ekstensif (tradisional)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Luas petakan tambak ekstensif berkisar 1-3 ha, dengan satu pintu air pada setiap petak. Pemasukan dan pembuangan/pengeringan air lewat pintu air yang sama. Suplai air secara gravitasi, tergantung sepenuhnya dari gerakan pasang surut. Tambak yang dibangun di lahan pasang surut umumnya berupa hutan bakau, kadang-kadang rawa pasang surut bersemak/rerumputan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Dasar tambak terdiri dari pelataran di bagian tengah dan caren di sekelilingnya dengan lebar 6 – 8 m, dan dalam 0,3-0,5 m. Pelataran dan caren perlu dibuat pada tambak tradisional, karena selama pertumbuhan, udang sangat tergantung dari makanan alami yang ditumbuhkan melalui persiapan tanah dasar dengan pemupukan, sedang kedalaman air hanya berkisar 40-60 cm di daerah pelataran. Kincir air belum diperlukan tetapi pompa air harus tersedia untuk menjamin penggantian air bila diperlukan.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tambak Udang Semi Intensif&lt;/b&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;        Luas petakan tambak semi-intensif lebih kecil dari tambak ekstensif yaitu sekitar 0,5 – 1 Ha, tujuannya adalah untuk mempermudah kontrol : penggantian air, pemberian pakan, pembersihan kotoran dan sebagainya. Pemasukan dan pembuangan air melewati saluran dan pintu air yang terpisah. Pada petakan seluas 0,5 ha, pintu pembuangan air dan kotoran sebaiknya diletakkan di tengah-tengah petakan. Petakan berbentuk bujur sangkar, dengan lantai dasar miring ke tengah, ke arah pintu pembuangan di tengah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;        Dengan konstruksi semacam ini semua kotoran udang dapat dibuang dengan tuntas ke luar tambak lewat pintu tengah, karena putaran kincir air mengalirkan semua kotoran ke bagian tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di samping pintu pembuangan yang terdapat di tengah juga akan sangat praktis kalau dibuat monik di pematang sisi saluran pembuang. Pintu ini penting untuk panen dan penggantian air secara gravitasi mengikuti gerak air pasang surut. Pipa goyang atau pipa pembuangan T di sudut petakan berguna untuk membuang air hujan dari lapisan permukaan dan untuk membuang plankton/air kotor yang terkonsentrasi di daerah sudut karena tiupan angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Petakan yang luasnya 1 ha berbentuk persegi panjang dengan perbandingan 1 :2 sampai 2 : 3. Bentuk yang terlalu sempit  (lebar 30 m) dan memajang, mempersulit pengumpulan kotoran di tengah, karena akan selalu teraduk oleh gerakan arus yang ditimbulkan oleh kincir. Pengadukan kotoran akan menimbulkan kekeruhan, hal mana sangat berbahaya bagi udang yang dipelihara. Pintu pasok dan pembuangan terletak di pematang yang berhadapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dasar tambak tanpa caren. Agar tanggul tidak merembes perlu dibuat parit keliling kecil (bukan caren) dengan ukuran lebar/dalam 20 – 25 cm, memanjang tepat di bawah kaki tanggul. Parit semacam ini, sangat penting untuk membuang air rembesan, sehingga waktu pengeringan tanah dasar tidak terganggu dan dapat dilakukan pengeringan dengan sempurna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tambak Udang Intensif&lt;/b&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;       Luas petakan tambak intensif adalah terkecil dari ketiga jenis tambak, yaitu antara 0,4 – 0,5 ha. Bentuknya bujur sangkar, dilengkapi dengan pintu pembuangan di tengah dan pintu model monik di pematang saluran pembuangan. Lantai dasar harus dipadatkan sampai keras, bisa dilapisi pasir atau kerikil, dengan elevasi miring ke tengah tanpa caren. Parit kecil pembuang air rembesan di sepanjang kaki tanggul perlu dibuat untuk menjaga kemungkinan perembesan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Karena pembuatan petakan kecil sangat intensif, tanggul bisa dibuat dari tembok. Pada saluran pasok dapat dibentuk dari bata atau talang semen yang dipasang sepanjang pematang pada jalur pintu pasok sepanjang petakan. Air laut dan tawar dicampur di dalam bak pencampur sebelum masuk ke dalam petakan tambak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saluran pembuangan berupa parit biasa yang elevasi dasarnya terletak jauh di bawah elevasi lantai dasar petakan. Dengan demikian semua petakan dapat dikeringkan dengan mudah dan sempurna secara gravitasi waktu surut rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pipa goyang atau pipa sambungan T di pasang di daerah mati (sudut-sudut) yang tujuannya adalah untuk pembuangan air hujan dan kotoran-kotoran yang terkumpul di daerah tersebut. Keselamatan udang yang dipelihara dalam kondisi padat penebaran tinggi sangat tergantung pada kemampuan mempertahankan kualitas air selama pemeliharaan. Karena itu kotoran di dalam tambak harus dibersihkan secara rutin terutama setelah memasuki bulan ketiga sampai panen. Pembuatan tambak intensif sangat ideal untuk tujuan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Demikian catatan untuk jenis tambak di Indonesia, di catat dari buku “Pembuatan Tambak Udang di Indonesia”, Karya A. Poernomo. Departemen Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Balai Penelitian Perikanan Budidaya Pantai, Maros, 1988. &lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-1265085819784127105?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/1265085819784127105/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=1265085819784127105' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/1265085819784127105'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/1265085819784127105'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2011/12/catatan-tentang-klasifikasi-tambak-di.html' title='Catatan tentang Klasifikasi Tambak di Indonesia'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-MjJSf2QRYYE/TunC-vchwGI/AAAAAAAAAbY/VEObMGJ4X2E/s72-c/DSC03951.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-9062112462458233181</id><published>2011-12-15T15:32:00.000+08:00</published><updated>2011-12-15T15:32:40.383+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dari Idham Malik'/><title type='text'>Mengungkit Kenangan di Ambon dan Maluku Tenggara</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-nndH3nGnNg0/Tumhm19sdcI/AAAAAAAAAa0/w4QsSFtYjxc/s1600/DSC03647.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="150" width="200" src="http://3.bp.blogspot.com/-nndH3nGnNg0/Tumhm19sdcI/AAAAAAAAAa0/w4QsSFtYjxc/s200/DSC03647.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Di luar jendela masih gelap, mesjid terdengar sayup-sayup, subuh terasa dingin saat itu. Saya memang berencana bangun cepat-cepat, untuk bisa sedikit menikmati udara subuh di kawasan Balai Budidaya Laut Ambon. Pukul delapan saya ikut melihat prosesi apel pegawai BBL, sembari menunggu tukang ojek yang saat itu masih dalam perjalanan. Setelah berdiskusi dengan Kak Umar dan Pak Rusli, saya pun memberanikan diri untuk menjelajah lagi ke kota ambon hari itu, ditemani oleh seorang teman yang siap mengantar ke sana kemari yang bernama Imran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Jam sepuluh saya tiba di kota, kembali ke Dinas Perindustrian lagi yang kemarin menjanjikan data rumput laut. Sesampai di kantor Dinas, saya mencari Pak Ongki, tapi beliau tidak ada, dan nomor hp-nya tidak aktif. Saat itu rasa jengkel mulai muncul, lalu muncul pikiran untuk ketemu langsung dengan Bapak Kepala Dinas. Kata pegawai di sana, pak dinas ada di kantor Badan Metereologi. Di pintu gerbang, saya mensampiri bapak pegawai, saya bertanya tentang rumput laut, ternyata dia informasi tentang hal itu. Saya kembali lagi masuk ke dalam kantor, untuk melihat hasil dokumentasi bapak itu. Katanya, sentra produksi dan perencanaan pembangunan dinas terletak di desa Letvuan, Kab. Maluku Tenggara.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Saya lalu bertemu dengan Pak Yan, kepala bagian perindustrian, dia menjelaskan permasalahan yang dihadapi oleh dinas perindustrian dalam hal perolehan dan pengolahan data. “Di Maluku ini pendataan mempunyai banyak kendala, pertama Maluku merupakan daerah kepulauan, kedua di sini banyak pegawai yang sudah terlatih mengambil dan mengimput data yang selalu pindah ke provinsi. Sehingga kabupaten-kabupaten selalu kekurangan sumberdaya manusia,” papar Pak Yan. Mendengar itu saya mulai maklum. Tak lama kemudian hadir Pak Effendi, dia alumni pertanian Unhas, dan dari cara bercakapnya tampak akrab. Mereka menjanjikan akan memberikan data via email. Saat itu saya memberi dua email saya ke mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Cukup lama saya dan Imran di Dinas Perindustrian, hingga mendekati waktu lohor. Dari situ kami bergerak ke Bapedalda dan badan Investasi dan Penanaman Modal. Rupanya kantornya terletak di daerah Islam, dimana di daerah itu rawan terjadi bentrok di Kota Ambon. Kantor Bapedalda yang tampak megah itu pun ternyata kosong melompong, yang ada cuma penjaga. Kata Pak penjaga, para pegawai mengungsi ke kantor gubernur divisi humas. Kami pun bergegas ke kantor gubernur untuk mencari posko Bapedalda, setiba di sana, ternyata di divisi humas para pegawai sudah pada bubar. Wadeuh,,, saya pun melupakan kemungkinan untuk bertemu dengan bapedalda, untuk mengecek kondisi amdal daerah yang akan didirikan pabrik pengolahan rumput laut. Lalu bergerak ke lantai 4 kantor gubernur, untuk bertemu dengan bagian Bappeda Maluku. Dari bappeda ini, saya mendapat gambaran besar tentang rencana pengembangan rumput laut di Maluku, 5 tahun ke depan. Dari bappeda, diketahui bahwa Maluku telah dan tetap akan mendapat bantuan pelatihan teknologi rumput laut dari Unido, PBB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sore hari kami kembali ke waeheru,, malamnya saya konsultasi kembali dengan Pak Rusli yang merupakan peneliti rumput laut. Setelah menimbang-nimbang, saya memutuskan untuk berangkat ke Maluku utara besok pagi, untuk meliput dan mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang rencana pendirian industry rumput laut di sana. Malamnya saya tak bisa tidur nyenyak,, entah karena apa, sering bangun tiba-tiba dan gelisah. Sialnya, saya bangun agak kesiangan, bayangkan, saya bangun jam 7.30 sementara jam penerbangan ke tual jam 8.20.. saya pun mandi seperti ular, lalu berjalan tergesa-gesa menuju kawan ojek. Untung ojeknya suka balap, jadi saya tiba di bandara hanya dengan waktu 20 menit. Tiba di bandara, saya uring-uringan lagi mencari tiket, pertama ke loket wings air,, tapi terlalu mahal. Kemudian melongok ke tagana air, untuk masih ada satu tiket yang tiba-tiba dibatalkan orang,, tawar menawar terjadi, saya minta kalau bisa harga tiketnya 800 ribu saja, dan bapak penjaga loket akhirnya menerima, yang awalnya dia tawarkan satu juta rupiah. Deal, saya pun berlari menuju trigana, ternyata pesawatnya agak kecil dan memiliki baling-baling. Saya duduk bersama bapak yang ingin ke dobu,, perjalanan juga cukup lama 1,5 jam. Asyikk..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senang rasanya menginjakkan kaki di bandara dumatubun, langgur. Di tual, saya mengontak kawan Gani, seorang senior yang merupakan aktivis mahasiswa LMND waktu masih di Makassar. Beliau teman dari saudara Babra Kamal, seniorku di perikanan Unhas. Saya naik ojek menuju pasar tual untuk bertemu dngn kak gani, lalu menuju kediaman rumahnya dekat pasar. Saya tak bisa melupakan rumah itu, yang penuh dengan kehangatan keluarga, kenyang dengan cerita-cerita, dan juga kesan bahagia dari seorang bapak muslim (ayah gani) yang merupakan veteran militer yang setiap duduk bersama selalu menceritakan masalalunya yang penuh warna. Untung ada kak gani dan rumah itu, saya tak bisa membayangkan kalau saya sendirian bergerak di kota tual, dimana harus nginap di hotel lagi, makan diwarung, dalam waktu sekitar 5 hari, saya tak bisa mengira berapa ongkos yang saya keluarkan untuk tinggal sejenak di sana. Sementara keluarga kak gani dengan segala kebaikannya memberikan semua yang mereka miliki untuk kelancaran kerjaku.. saya tak bisa melupakan mereka..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari jumat saya tiba di tual, menyewa ojek ke dinas kelautan perikanan. Waktu itu sudah jam 2 siang, orang dinas sudah pada mau pulang, tapi saya sempat bertemu dengan ibu kepala dinas. Tapi, saat itu ibu kepala dinas cukup resisten dan membangun tembok mental, ia mengamati surat pengantar saya yang lebih diarahkan ke dinas perindustrian. Meski begitu, dia tetap menjalin komunikasi, dan saya mendatanginya lagi esok hari. Dari dkp, tukang ojek mencari alamat dinas perindustrian, pas ketemu, kantor dinas sudah tutup. Jadi, besoklah waktu untuk meyisir semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu itu, pagi-pagi benar saya ke dinas perindustrian, bertemu dengan sekertaris dinas dan ibu bagian perindustrian, juga bapak bagian koperasi, mereka menyarankan agar saya ke letvuan untuk menemui pak hironimus, pegawai yang merintis budidaya rumput laut di Maluku, dan saat ini lagi membangun industry rumput laut skala chip dan bubuk. Dari sini, kembali lagi ke DKP, dengan susah payah saya meyakinkan ibu kepala dinas untuk memberi data-data rumput lautnya. Saya bilang, saya diutus kesini untuk mengamati lahan dan persiapan pendirian rumput laut yang dilakukan pihak daerah, karena data-data yang masuk di pusat Cuma dokumentasi, pihak atas menginginkan adanya pemantau untuk mengambil data secara independen. Setelah dijelaskan, beliau sedikit percaya dan akhirnya memberikan data-datanya dan mulai asyik diajak ngobrol.&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-J54dYvh8BGs/TumiHwqVEwI/AAAAAAAAAbA/r32kTi0rCeA/s1600/DSC03681.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="150" width="200" src="http://4.bp.blogspot.com/-J54dYvh8BGs/TumiHwqVEwI/AAAAAAAAAbA/r32kTi0rCeA/s200/DSC03681.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siangnya, saya dan kawan supir ojek menguatkan diri ke Sathean, melihat secara langsung budidaya rumput laut di sana. Ke sathean membutuhkan waktu 45 menit. Desa ini 90 persen penduduknya adalah petani rumput laut, dimana saat itu banyak rumput laut sementara dikeringkan di para-para depan rumah penduduk. Di sana, tiga nelayan sempat saya wawancarai dan ambil data tentang produksi, cara budidaya dan masalah-masalah yang terdapat di lapangan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari sathean kami ke letvuan, untuk menemui bapak hironimus. Wow.. di letvuan kami akhirnya menemukan pabrik pengolahan rl tersebut, disana beliau sementara mengoprasikan alat pencuci dan penghancur chip untuk menjadi bubuk. Mulanya kami tidak diizinkan berbuat macam-macam, tapi setelah diskusi sebentar, akhirnya hatinya luluh. Saya katakan, bahwa saya juniornya kak umar dari waeheru yang berasal dari Makassar, dimana kak umar merupakan teman baik pak hiro. “saya berutang banyak sama orang Makassar, orang Makassar sering membantu saya,” ucap Pak Hiro. Maka, saya pun mendokumentasikan proses kerja mereka, dan kami diizinkan wawancara keesokan harinya di rumah pak hironimus. Malam hari baru saya balik ke rumah kak gani,, pak muslim sudah bertanya-tanya, kenapa tak ada kabar dari saya, jangan sampai terjadi apa-apa. Jam Sembilan tiba di rumah, mereka menyambut hangat, sehangat suguhan teh malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, di dekat pabrik terdapat lahan yang disediakan oleh pemda masyarakat Ohio Letvuan secara hibah sebanyak 5 hektar di daerah Letvuan, Maltra. 3 hektar untuk industri RL (Dinas Perindustrian dan Baristand, dan 2 hektar untuk Depo gudang penyimpanan RL (DKP).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Minggu, saya Cuma ke tempat pak hiro untuk wawancara, tepatnya di kantor koperasi elomel. Pak hiro memberikan banyak data-data penting, seperti sejarah perkembangan rumput laut di maltra, bentuk-bentuk bantuan yang telah diberikan, kondisi dan keadaan real untuk pengembangan industry rl di maltra. Saya sangat bersyukur bisa ketemu dengan beliau, dan data-data saya sudah cukup lengkap.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Siangnya, kami ke tempat pak Arifuddin, pengumpul besar di kota tual.  Ia mengirim barang ke Makassar dan Surabaya sebulan sekali atau dua kali, dengan kapasitas 10 – 12 ton persekali kirim/kontainer.. Kapasitas gudang 200 ton. Rata-rata masuk barang 300 kg perhari. Menggunakan kontainer dari perusahaan Speell, waktu tempuh sampai di tujuan selama sebulan. Harga satu kali pengiriman Rp. 4 juta, ditambah uang buruh 2.700.000. biasanya 8 juta tiba di tujuan. Biasanya dikirim ke Perusahaan Rapid Niaga Internasional Milik Noor Rahmah Amir. Dengan ongkos pengiriman perkilogram sekitar Rp. 1000.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Dari situ, kami singgah di secretariat LSM Elmasrum, tempat kak Gani mengasah kemampuan organisatoris dan advokasi publiknya. Di tempat itu, saya berkenalan dengan kawan-kawan yang bersahabat, mereka sementara ini melakukan penyuluhan-penyuluhan ke desa-desa pengembang rumput laut dalam hal perkembangan teknologi, juga dalam hal advokasi bantuan dari pemerintah, serta pengorganisasian kelompok tani. Bentuk-bentuk kegiatannya antara lain; monitoring ke nelayan, pemantauan kualitas bibit, pemebentukan kelompok tani, pembinaan istri-istri nelayan, dan melakukan analisis ekonomi titik impas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, saya kembali ke pasar tual bersama kak gani untuk memesan tiket ke ambon besok harinya, ternyata penerbangan baru ada lusa. Alhamdulillah dapat tiket sedikit murah, yaitu 500 ribu rupiah. Dari situ kami mencari alamat pak pastur, pengumpul besar rumput laut untuk kawasan sathean,, tapi alamat beliau tidak diketahui dan sudah pindah tempat. Besoknya, saya menghabiskan waktu ngobrol di rumah, dan sore hari bergerak ke pesisir tual untuk wawancara dengan petani rumput laut di sana.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selasa siang, waktu yang mengharukan, saya harus berpisah dengan keluarga kak gani yang sangat baik. Saya berfoto bersama dengan pak muslim yang saya cintai, juga dengan kak gani. Saat itu, saya tak dapat memberikan apa-apa, tapi dalam hati saya berniat akan menyumbangkan sesuatu yang berguna kelak, di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bandara, cukup lama saya menunggu, pesawat rencana terbang jam 3 sore dan saya sudah ada ditempat itu sekitar jam 12. Jam 5 saya sudah di ambon lagi, dan beristirahat total malamnya untuk petualangan esok hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabu, saya tak memanggil ojek, saya telah berani ke kota ambon menggunakan mobil angkot. Perjalanan pertama saya menyambangi BPS untuk mencari data-data tentang rumput laut. Namun, data di BPS sangat minim, yang saya peroleh Cuma data pelabuhan, transportasi, data ekspor dan ipm. Dari bps saya menuju batu merah untuk bertemu dengan kak Rus’an, mahasiswa kehutanan angkatan 2002. Kak rus’an sudah diterima di dinas kehutanan ambon, ia mengenakan stelan pegawai, dan mengajak saya keliling kota ambon mengendarai becak. Di atas becak kami membicarakan tentang perkembangan situasi kota ambon yang masih rawan konflik. Ia membawa saya ke warung makan. Di warung ini, kami juga menunggu kawan ajis, yang sekarang sudah menjadi pegawai bank panin. Ketika datang ia terlihat parlente. Hehehe.. senang rasanya bisa bertemu kembali dengan saudara ajis,, setelah sekian lama. Kami dulu sama-sama berjuang melewati masa pemagangan di Koran kampus identitas unhas. Namun, saat itu ajis tak bisa mengikuti program pelatihan dan memilih keluar. Tapi kami selalu berkomunikasi, utamanya ketika bertemu di forum-forum diskusi kemahasiswaan dan demonstrasi,, saya saat itu wartawan kampus dan dia adalah aktivis HMI komisariat Hukum Unhas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bertemu dengan saudara-saudara ku ini, saya ke kantor perindustrian provinsi lagi. Saat itu saya melihat pak kepala dinas ada di tempat. Dua kali saya ke sekertarisnya tapi tak diizinkan masuk. Saya memberontak, dan tiba-tiba pak kepala dinas muncul keluar. Saya berdebat dengan sekertaris dinas, dan saya menang debat. Dia tak bisa berkata-kata. Saya bilang, “saya sudah dua kali ke sini, tapi bapak ini tak memberikan data, dia bahkan menjanji saya tapi sampai sekarang dia tak memenuhi janji,” ucap saya dengan notasi cukup kasar. Pak dinas mendengarkan, dan mengajak saya bicara baik-baik. Alhamdulillah, sambutannya cukup baik, dan akhirnya beliau memfasilitasi saya untuk bertemu kembali dengan pak effendi untuk mengorganisir data dan melacak data-data yang ada di daerah, khususnya untuk daerah Maluku Tenggara Barat dan Seram Bagian Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besoknya, saya seharian di BBL, nongkrong di perpustakaan, keliling-keliling balai untuk belajar teknis pembenihan kerapu. Jumat baru saya menyiapkan diri balik ke Makassar, sehabis salat jumat saya pun berangkat ke bandara. Dan pukul 2 lewat. Saya terbang ke Makassar, dengan sepotong gelisah dan kenangan..&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kamis, di Warkop Sabana, Alauddin Makassar, 15 Desember 2011&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-9062112462458233181?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/9062112462458233181/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=9062112462458233181' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/9062112462458233181'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/9062112462458233181'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2011/12/mengungkit-kenangan-di-ambon-dan-maluku.html' title='Mengungkit Kenangan di Ambon dan Maluku Tenggara'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-nndH3nGnNg0/Tumhm19sdcI/AAAAAAAAAa0/w4QsSFtYjxc/s72-c/DSC03647.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-2108751527049643265</id><published>2011-12-14T21:23:00.001+08:00</published><updated>2011-12-15T15:40:26.964+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dari Idham Malik'/><title type='text'>Malili-Barru-Pinrang</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-1koyoPb6plc/TumkTt_zopI/AAAAAAAAAbM/J4AbovDHtj4/s1600/DSC04299.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="150" width="200" src="http://1.bp.blogspot.com/-1koyoPb6plc/TumkTt_zopI/AAAAAAAAAbM/J4AbovDHtj4/s200/DSC04299.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Rabu, 23 November, bulan lalu, saya menguatkan diri untuk ikut seminar bersama marketing utama Inve di Barru. Saat itu saya belum tahu betul tentang prospek kerja di inve, walau sudah ada sebagian samar-samar model kerja setelah 18 hari ikut keliling tambak di tuban dan lamongan. Jadi, pukul Sembilan itu saya sudah tiba di jalan arif rahman hakim, menemui ibu kiki, dan menunggu pak najib dan pak pausan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berkenalan, kedua bapak ini ternyata orang yang asyik. Tak cukup lama, kami pun bergerak ke Barru. Di kendaraan kami asyik bercerita, pak najib orangnya punya selera humor, begitu juga pak Pausan, keduanya sering memberi komentar tentang apa saja yang dilihatnya di jalan, dan saya sesekali menimpali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pukul 3.30  tiba di barru, saat itu para pegawai Mutiara Biru Kuppa sementara melakukan packing nener bandeng, Pak Rudi yang merupakan pimpinan dengan sigap dan telaten membagi-bagi nener dalam bungkusan plastik. Bos muda ini berpakaian santai, sebagai bos ia terlibat penuh dalam menjalankan bisnis hathery-nya, sehingga para pelanggan selalu puas dengan kualitas benur yang ia hasilkan. Saat itu, telah menunggu Ibu Haji Ani, penggelondong asal Mlili yang siap membeli benur Pak Rudi. Malamnya kami berbincang tentang strategi yang akan dilakoni besok, dimana besoknya kami bergerak ke Malili untuk melihat kondisi petambak di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis, 24/11 kami bergerak ke Malili, saat itu kami ditemani Pak Udin, yang merupakan supir lokal yang biasa disewa oleh pak rudi. Pak Udin mengemudi dengan tenang, tapi ia sering kali membunyikan klakson, yang kalau diperhatikan kadang lucu juga. Menuju Malili, kami harus melewati beberapa daerah, seperti pare-pare, sidrap, sengkang, siwa, hingga palopo dan masamba, kalau dihitung, perjalanan hari itu sampai 9 jam. Di palopo kami singgah di rumah ibu Lina, ibu ini penggelondong bandeng sekaligus pemberi pinjaman nener bagi para petambak binaannya. Sekilas cukup ramah dan cerdas, ia menyerap informasi yang ditawarkan oleh Pak Najib, bahwa perkembangan aquakultur harus diarahkan ke konsep alami dan organic, tentu dengan pertimbangan pemakaian suplemen yang terukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran saya terpincut setelah tahu kalau kebiasaan pemakaian pupuk yang dilakukan oleh para petambak terbilang boros. Mereka melakukan pemupukan dasar hingga ratusan kilo perpetak, bahkan ada yang sampai satu ton perpetak yang sepetaknya bisa sampai delapan hektar. Mereka melakukan itu untuk memancing tumbuhnya plankton dan lumut. Tapi, sayangnya pupuk yang digunakan total pupuk kimia, sehingga sangat memungkinkan akan menimbulkan racun pada air dan tanah tambak. Padahal, pemakaian pupuk tidak perlu terlalu berlebihan, kita harus mengukur tingkat pertumbuhan dengan kuantitas pupuk yang telah ditebar, serta kebutuhan bandeng untuk bertahan hidup. Penggunaan pupuk alami juga pantas diterapkan, selain menghemat biaya, juga akan tetap menjaga kualitas tambak sesuai dengan alamnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malamnya kami tiba di Malili, tepatnya di rumah pak Ulla, bapak yang masih muda ini menjelaskan kondisi petambak di sana. “Di sini jarang didatangi penyuluh, jadi petambak belajar sendiri dari petambak lain yang sukses panen,” katanya. Selain itu, ia menjelaskan kebiasaan para petambak, yang rata-rata masih tradisional itu. Tambak diisi oleh bandeng dan udang, dengan komposisi bandeng yang dominan. Pemasukan air pada saat pasang tertinggi, dan pembuangan pada saat air surut. Tambak berukuran luas, minimal 3-4 hektar perpetak. Tidak menggunakan pakan alami, hanya dilakukan pemupukan dasar dan pemupukan ulangan setiap pekan atau dua pekan. Tapi, lagi-lagi, petambak masih asyik menggunakan pupuk kimiawi, mereka pun belum menyadari efek negative dari pupuk kimiawi tersebut, yang akhirnya akan memupus kondisi hara tanah dan bahkan dapat menghasilkan bahan beracun berupa amoniak. Jadi, solusi untuk ini adalah memperkenalkan pada mereka teknis pembuatan pupuk buatan, baik dengan cara kompos, penebaran kotoran ayam basah atau kering ke petakan, atau pembuatan pupuk permentasi dengan bahan standar seperti dedak, ragi, gula merah dan saponin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;petambak masih selalu khawatir saat mereka menanam udang, soalnya udang kini sudah tak tahu apakah ia mau sakit apa tidak? Penyakit white spot selalu datang pada umur 1 – 2 bulan, lewat dari itu, petani sudah merasa aman. Namun, ada satu hal yang mengganjal saat melihat kondisi tambak mereka. Lumpur pada dasar tambaknya sudah sampai betis bahkan sampai lutut, ini mengkhawatirkan. Soalnya lumpur jika tak diangkat akan selalu merepotkan kondisi fisik udang, karena lumpur tersebut mungkin mengandung unsure-unsur berbahaya seperti sulfur (H2S, Fe, amoniak, mangan. Lumpur ini tak lain adalah racun bagi tubuh udang dan bisa menjadi medium penyakit virus dan bakteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paginya, kami ke tempat bu Aji ani, bu aji menyiapkan kepiting dan ikan bandeng,, ma’yoss.. lalu ke tempat pak ulla lagi untuk presentasi. Petani yang hadir cuma lima orang, salah satunya adalah Pak Sukri. Pak Sukri termasuk juru kunci, karena para petambak menjual udangnya ke pak sukri ini, untuk ia bawa ke kawasan di Makassar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore hari kami balik ke barru, dan singgah di palopo untuk nginap/istirahat malam. Paginya kami menemui bu lina lagi, untuk menjelaskan ulang program bertambak dengan baik. Setelah itu, barulah kami kembali ke barru. Di tempat pak rudi,, kami persiapkan lagi persentasi di pinrang, yang sepertinya agak lebih diterima oleh masyarakat. Di pinrang, tepatnya di Suppa, kami nongkrong di bale-bale milik pak Nunding, sejam menunggu, para petambak sudah merubungi bale-bale itu. Dengan tenang pak najib menyuguhkan presentasi yang menarik, ia mengawalinya dengan konsep organic,, bahwa dalam hidup segalanya akan kembali menjadi hidup, lewat proses daur no emisi. Ia pun memperlihatkan keadaan jika banyak menggunakan bahan kimia, yang justru membuat tambak semakin cepat aus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petambak terlihat menghayati presentasi, tapi ada juga yang tampak ogah-ogahan, dan sebagian lagi selalu membuat lelucon menggunakan bahasa bugis. Saya pun mulai ragu dengan uji coba ini. Selentingan-selentingan pun terdengar, petani di sini tak mau rugi untuk mengeluarkan uang membeli produk tambahan. Mereka ingin melihat hasilnya dulu, baru tertarik. Dengan begitu, program pertama yang harus dijalankan adalah membuat tambak percobaan dan itu harus berhasil, kalau gagal, siap-siaplah balik ke kandang dan jangan muncul-muncul lagi,, karena yang hadir hanya rasa malu dan menjadi bahan tertawaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat, kondisi awal di pinrang cukup rumit, karena para petambak rata-rata melakukan proses penanaman udang bukan ditambak miliknya pribadi, tapi ditambak sewahan atau gadai. Sehingga, petani sangat sayang jika kehilangan waktu untuk menebar bibit, makanya upaya perawatan pada tahap persiapan kurang diperhatikan betul. Padahal, persiapan sangat menentukan keberhasilan panen udang, karena dalam persiapan itu sudah diantisipasi kemungkinan munculnya penyakit, dan bahan beracun lainnya. Namun, petambak lebih mementingkan untung yang cepat, karena mereka pada mengejar target panen, untuk menutupi ongkos sewa tambak yang rata-rata 2 juta pertahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah siang itu acara ditutup dengan santapan ma’nyuss.. ikan bandeng dengan aromanya yang segar, serta sayur lodenya yang nikmat, menutup kecemasanku yang tiba-tiba timbul akan prospek di kemudian hari. Habis dari pirang, sorenya kami balik ke Makassar, dengan perasaan suka cita.. ke depannya,, saya harus berjuang sendiri,, membuka jalan untuk kemajuan perusahaan dan juga masa depanku yang saya harap terang benderang.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mammiri, 14 Desember 2011&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-2108751527049643265?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/2108751527049643265/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=2108751527049643265' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/2108751527049643265'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/2108751527049643265'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2011/12/malili-barru-pinrang.html' title='Malili-Barru-Pinrang'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-1koyoPb6plc/TumkTt_zopI/AAAAAAAAAbM/J4AbovDHtj4/s72-c/DSC04299.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-5043465233410290042</id><published>2011-11-23T02:17:00.000+08:00</published><updated>2011-12-14T21:25:44.427+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dari Idham Malik'/><title type='text'>Sepotong Kenangan di Malang</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-RCs8-eIvdWU/Tsvb5UJ2rGI/AAAAAAAAAZs/mGB0ewoYhPM/s1600/DSC04069.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="200" width="150" src="http://1.bp.blogspot.com/-RCs8-eIvdWU/Tsvb5UJ2rGI/AAAAAAAAAZs/mGB0ewoYhPM/s200/DSC04069.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-yU_RhLhX8VA/TsvdDYDe_QI/AAAAAAAAAaE/Hidr0P1E_vo/s1600/DSC04074.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="150" width="200" src="http://1.bp.blogspot.com/-yU_RhLhX8VA/TsvdDYDe_QI/AAAAAAAAAaE/Hidr0P1E_vo/s200/DSC04074.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Mengunjungi Candi Badut, di pinggir kota Malang, Bersama Supariono, sahabat yang tinggal di Malang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-xS4z6D8nPL0/TsvfLwbMEjI/AAAAAAAAAaQ/RAfhmNCJY8A/s1600/DSC04087.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="200" width="150" src="http://1.bp.blogspot.com/-xS4z6D8nPL0/TsvfLwbMEjI/AAAAAAAAAaQ/RAfhmNCJY8A/s200/DSC04087.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;taman dan kolam di depan balaikota Malang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Rx0gTKw3J1M/Tsvgy5Uhz0I/AAAAAAAAAao/yf_x632Q8x0/s1600/DSC04123.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="150" width="200" src="http://2.bp.blogspot.com/-Rx0gTKw3J1M/Tsvgy5Uhz0I/AAAAAAAAAao/yf_x632Q8x0/s200/DSC04123.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Bersama Kawan Budi, Pengusaha Jamur di Kec. Wajak, Malang..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-5043465233410290042?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/5043465233410290042/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=5043465233410290042' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/5043465233410290042'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/5043465233410290042'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2011/11/sepotong-kenangan-di-malang.html' title='Sepotong Kenangan di Malang'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-RCs8-eIvdWU/Tsvb5UJ2rGI/AAAAAAAAAZs/mGB0ewoYhPM/s72-c/DSC04069.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-2356432379362569882</id><published>2011-11-18T01:04:00.001+08:00</published><updated>2011-11-18T01:06:46.324+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Privat'/><title type='text'>Guyon</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-wPfMiaTgmJQ/TsU-jORzL9I/AAAAAAAAAY8/pf6jLcK3RVQ/s1600/hidup.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="194" width="259" src="http://3.bp.blogspot.com/-wPfMiaTgmJQ/TsU-jORzL9I/AAAAAAAAAY8/pf6jLcK3RVQ/s320/hidup.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Dalam hidup, banyak hal yang telah muncul, hadir tiba-tiba merongrong kesadaran kita. Entah kita melek atau tidak, kehadiran itu membuat kita melambung tinggi ataukah terperosok ke bawah. Dan kita kadang marah akan ketergesa-gesaan itu, kita kesal akan kemunculan sesuatu yang tidak di harapkan itu. Lalu membuat kita bersungut-sungut, menyumpah-nyumpah, ataukah melampiaskannya ke sesuatu yang tak perlu. Kemudian, sesuatu yang baik datang, tak terbayangkan, membuat kita terpesona sekaligus terlena. Namun, kita pun lupa bahwa itu hanya sementara, kita terbuai oleh lantunan hasrat yang selalu saja tidak sabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada diri kita, banyak yang suka berencana, menyusun tahap-tahap mencapai keinginannya. Ia mengarahkan langkahnya mengejar sesuatu, entah menggunakan jasa jalan tol, ataukah menempuh jalan berliku, lorong-lorong suram dan berharap menemukan cahaya. Waktu membuatnya terpacu, waktu menjadi indikator, waktu pun pada akhirnya  menjadi garis batas apakah ia akan tersenyum ataukah berteriak sunyi. Pada keadaan ini, kita yang sedang menempuh perjalanan itu akan selalu menerka-nerka, menebak setiap kemungkinan. Namun, kita semua tahu, bahwa setiap tebakan tak selamanya benar, kehidupan pun tak selalu sama dengan hitungan matematika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sebagian yang lain, ada yang membiarkan alam membuainya dalam ketidakjelasan. Memilih untuk menjadi kertas dalam arus sungai, dan berharap tiba di lautan luas lalu menyatu dengan samudera. Walau, dalam posisi itu, kita tak pernah tahu akan dibawa kemana, kita pun berprasangka baik, bahwa alam akan menuntun kita ke tempat yang tepat. Meski, pada akhirnya kita sekadar berlabuh di bantaran, dan justru bergabung dengan sampah-sampah yang lain. Kita selalu yakin, bahwa kehidupan itu seperti jam pasir, dimana kita sekadar menghabiskan waktu di dunia, lalu siap lagi menyusun kehidupan lagi di alam sana. Jika begitu, hidup itu hanya keyakinan, hidup itu hanya peta dengan bertebaran garis komando.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sama-sama tak tahu, tentang peristiwa apa yang akan menyapa kita lagi. Seperti juga kita tak mengerti kenapa orang-orang yang dekat atau ingin dekat, tiba-tiba saja menjauh. Kita tak paham dengan sebuah kepercayaan dan komitmen yang sudah kita wanti-wanti, pada akhirnya buyar dan menyisakan kesal penghianatan. Begitu banyak hal yang tidak kita mengerti, kita hanya penumpang kereta yang baru tahu stasiun itu banyak pencurinya setelah kita kecopetan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada ujungnya, hidup itu hanyalah guyon. Hidup memaksa kita untuk sekadar tertawa menyaksikan nasib. Memang, tak ada yang lebih nikmat selain menertawai kisah hidup kita sendiri. Hidup kita tak beda jauh dengan film drama yang sering kita tonton. Dimana dalam kesedihannya kita selalu menyisahkan hal lucu, dimana logika dibolak-balikkan, sesuatu yang tak ada diperebutkan, sesuatu yang nisbi dijalankan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, jika tak lucu, buat apa kita hidup? ..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-2356432379362569882?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/2356432379362569882/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=2356432379362569882' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/2356432379362569882'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/2356432379362569882'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2011/11/guyon.html' title='Guyon'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-wPfMiaTgmJQ/TsU-jORzL9I/AAAAAAAAAY8/pf6jLcK3RVQ/s72-c/hidup.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-8251456209330065154</id><published>2011-11-12T23:48:00.002+08:00</published><updated>2011-11-23T01:19:31.238+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dari Idham Malik'/><title type='text'>Tiga Hari di Mes Inve, Belajar Hachery Kerapu dan Backyard Udang</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-8o4Drud3Tr0/TsvZFe9wFPI/AAAAAAAAAZg/NDhATiDFL5E/s1600/DSC04058.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="150" width="200" src="http://3.bp.blogspot.com/-8o4Drud3Tr0/TsvZFe9wFPI/AAAAAAAAAZg/NDhATiDFL5E/s200/DSC04058.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kamis, tanggal 3 November kemarin, saya dan Mentor Heri mengunjungi tambak milik Pak Munawir di Pesisir Tuban, menuju ke tempatnya mobil harus melewati jalan-jalan desa yang sempit hingga tiba di jalur tambaknya, dimana terdapat sebuah tambak yang baru usai digali. Pak Munawir mendengar dengan simak anjuran Pak Heri, yang saat itu mendiskusikan tentang masa panen dan perbandingan-perbandingan hasil tambak milik petambak lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bapak harus mendesain posisi kincirnya agar lumpur dan kotoran dapat berkumpul di tengah,” ujar Pak Heri. Saya dapat pengetahuan baru lagi, tentang posisi kincir yang mempengaruhi sirkulasi kotoran yang diupayakan berkumpul di tengah, agar mudah dikeluarkan dengan menggunakan pipa pembuangan. Kami juga melihat udang milik Pak Munawir yang berumur 90 hari, sudah kepala 6 menurut Pak Heri. Warna airnya berwarna cokelat, artinya mengandung skeletonema dan mungkin chaetoceros. Dan di pinggir-pinggir tambak terdapat busa-busa plankton yang sudah mati, plankton yang mati ini akan diurai kembali oleh bakteri-bakteri untuk kembali menjadi nitrogen, sehingga juga dibutuhkan mikroorganisme pengurai yang cukup di dalam ekosistem tambak (probiotik), agar bakteri atau hama penyebab kematian udang bisa dilawan oleh bakteri itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari situ, kami menuju sentra tambak milik Inve di Labuan Tuban. Di sentra itu terdapat sekitar 12 unit tambak, yang dikelola oleh para tekhnisi professional tentang tambak. Cukup lama kami di sana, mulai dari jam tiga sampai jam 6.30 magrib. Pak Heri lama berbincang dan bernostalgia dengan teman-teman Inve, seperti Pak Agus, Pak Gani, dan Pak Saiful. Saya cuma menjadi pendengar saja, sekaligus menyerap ilmunya secara pelan-pelan.. hehe.. Saat itu, saya lagi-lagi mengamati model tambaknya, letak kincir-kincirnya, dan warna air-airnya.. berupaya untuk menyatu dengan alam untuk menemukan mustikanya.. jujur, jiwa saya masih mengawang-ngawang ketika bersentuhan dengan alam tambak ini.. masih sangat banyak rahasia yang belum terkuak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malamnya, kami kembali ke Mes inve, saat itu kami sangat lelah, saya pun langsung berbaring di kamar setelah menunaikan kewajiban shalat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat pagi, sekitar pukul 10.00, saya jalan-jalan ke hatchery ikan kerapu milik inve. Hatchery ini dikelola oleh Pak Basri dan beberapa staffnya. Dalam hatchery di daerah pereng yang merupakan bekas hatchery udang milik Balai Budidaya Air Payau Tuban ini, terdapat bak persegi panjang berisi kerapu dengan berbagai ukuran, misalnya bak satu ukuran 3 centi, kemudian ada bak ukuran 5 centi dan 10 centi. Jejeran bak pertama berisi kerapu, kemudian jejeran bak sebelah kiri berisi rotifera yang diberi pakan plankton clorella. Pada ruang sebelah dilakukan pengulturan plankton, praktis untuk disalurkan kelak ke bak rotifer. Kemudian di ruang depan terdapat bak-bak bundar berisi benur kerapu yang baru menetas. Benur-benur ini diberi pakan alami berupa rotifera. Bak-bak tersebut ditutup terpal biru, dengan air yang berwarna hijau, karena juga mengandung clorella, untuk menyesuaikannya dengan kondisi air air laut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, saya hanya mengamati desain hatchery dan fungsi masing-masing ruangan. di gedung sebelah terdapat juga kultur plankton, bahkan di di luar gudang terdapat juga bak kultur rotifer. Pada halaman belakang, ternyata terdapat empat bak yang cukup dalam, ternyata bak itu berisi ikan sunu, tapi jumlahnya sedikit. Di sisi kanan gedung hatchery terdapat gedung suram yang di dalamnya merupakan kolam penampungan air (tandon) yang sangat luas dan dalam. Ia tersembunyi di bawah bangunan pendek tersebut. tandon ini tidak mempunyai saringan pasir, cuma diendapkan saja lalu airnya di kirim ke bak penampungan air di sudut atas belakang hatchery. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dari hatchery, saya tak melakukan aktivitas berat, saya menghabiskan waktu membaca artikel-artikel di laptop hingga magrib menghinggapi. Saya cepat tidur malam itu, entah kenapa badan saya kurang fit dan selalu ingin tidur. Saya tak ingin kepikiran macam-macam, mending saya tidur..hehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu, saya menghabiskan hari kebanyakan di rumah, membaca buku tata lingkungan atau menonton tivi, siangnya saya mengunjungi backyard udang di samping kawasan mes inve. di backyard ini dilakukan penetasan telur udang menjadi nauplius, lalu membesarkannya hingga ukuran post larva 5 – 10. “mengurus benih udang berbeda dengan benih kerapu, kalau benih udang ukuran PL 5 harus keluar (laku), pertama karena harga masing-masing ukuran dihitung sama, sehingga dengan semakin lama perawatan maka biaya juga akan semakin bertambah. Kalau kerapu, semakin lama dan semakin besar, harganya juga semakin lumayan,” kata bapak pemilik backyard yang saya lupa namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, induk dari larva udang yang diternakkan backyard bukan merupakan induk F1, sehingga kualitas bibitnya kelak tidak terjamin, kadang bagus dan kadang jelek, tergantung nasib lah. Tapi, harga perekornya lumayan murah, misalnya berharga 7 – 15 rupiah, sementara harga bibit udang di hatchery bisa sampai 35 rupiah per ekor dengan jaminan bibit bisa tahan penyakit dan pertumbuhan cepat. Tapi, di lapangan juga membuktikan bahwa ada juga bibit hatchery yang terserang penyakit, jadi masih ada factor-faktor lain yang menjadi penyebab kegagalan panen, seperti kualitas air, pakan, ataupun plankton.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakan yang diberikan pada benur udang ini jenis skeletonema, karena mudah dikultur, ada juga yang biasa menggunakan pakan clorella, tapi plankton ini sedikit rumit untuk dibiakkan dan kalau kondisi hujan biasa sering gagal. Untuk tahap mysis dan post larva menggunakan pakan artemia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahad, 6 November pagi betul saya bangun, untuk siap-siap ikut sholat ied Adha di mesjid terdekat. Sepulang dari shalat, nongkrong-nongkrong dulu di bunda dan ngobrol dengan pegawai. Setelah itu jalan-jalan ke hatchery lagi untuk belajar siklus krapu. Mulanya saya melihat-lihat kerapu, lalu kultur rotifera, saya hendak masuk ke ruang kultur plankton, tapi tiba-tiba ditegur sama Pak Bashir, katanya setelah menyentuh bak rotifer sebaiknya tidak masuk ke area bak plankton, karena planktonnya bisa terkontaminasi. Pak Bashir pun setiap hendak masuk ke area bak plankton selalu mencuci tangan dan dengan hati-hati berinteraksi dengan wilayah plankton. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat-lihat bibit kerapu yang ukurannya masih beberapa millimeter di dalam bak-bak bundar. Makanannya adalah rotifer yang saat saya keluar gudang terdapat ibu yang sementara membersihkan bak dan mengambil rotifer hasil kultur di bak luar. Pemeliharaan di bak itu dilakukan selama 4 hari, lalu kami menuju lab untuk mengamati rotifer dengan mikroskop. Jumlahnya rotifer yang dikultur di luar berhadapan denang sinar matahari langsung lebih banyak dibanding jumlah rotifer yang dikultur di dalam ruangan. senang rasanya dapat melihat langsung rotifer menggunakan mikroskop. Rotifer bergerak-gerak lincah dalam ruang gelas kaca, membayangkannya seperti menemukan mahluk luar angkasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“menangani bibit kerapu, kita harus tekun, kerapu adalah hewan kanibal, jadi pada ukuran-ukuran yang masih kecil kerapu sering memakan temannya sendiri yang pada akhirnya membuat kerapu berkurang drastic, sehingga kita harus sering-sering memberinya makan, agar tidak memangsa kawannya sendiri,” kata Pak Bashir. Begitu pula dengan ketersediaan rotifer dan plankton, kalau tiba-tiba plankton tidak jadi, maka bibit pun akan terlambat makan pakan alami dan pada akhirnya dapat menyebabkan kematian massal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal penting yang menyebabkan kerapu milik inve ini cukup laku di pasaran, karena bibit yang dihasilkan tidak menggunakan antibiotik sedikit pun, sehingga kesehatannya terjamin. Hatchery ini banyak menggunakan probiotik dan pakan dari inve untuk menjamin ketersediaan bakteri positif bagi lingkungan perairan bak kerapu. &lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Pereng Tuban, 6 November 2011&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-8251456209330065154?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/8251456209330065154/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=8251456209330065154' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/8251456209330065154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/8251456209330065154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2011/11/tiga-hari-di-mes-inve-belajar-hachery.html' title='Tiga Hari di Mes Inve, Belajar Hachery Kerapu dan Backyard Udang'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-8o4Drud3Tr0/TsvZFe9wFPI/AAAAAAAAAZg/NDhATiDFL5E/s72-c/DSC04058.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-8387673389014692633</id><published>2011-11-12T23:41:00.003+08:00</published><updated>2011-11-23T01:11:53.002+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dari Idham Malik'/><title type='text'>Belajar Tambak Udang Intensif di Tuban dan Lamongan (Hari Kedua)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-0YBVJavUGJI/TsvXm1j-HvI/AAAAAAAAAZU/yXIlrAYJADU/s1600/DSC03992.JPG" imageanchor="1" style="clear:right; float:right; margin-left:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="150" width="200" src="http://3.bp.blogspot.com/-0YBVJavUGJI/TsvXm1j-HvI/AAAAAAAAAZU/yXIlrAYJADU/s200/DSC03992.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Rabu, 2 November adalah perjalanan ke dua ku dalam training menjadi calon konsultan dan marketing di Inve, hari itu saya mengawali pagi dengan mengunjungi kawasan tambak milik pak Sutomo di sisi jalan mes inve. Tambak pak Tomo lumayan banyak, terdapat 12 petak yang sementara beroperasi. Tambak-tambaknya terlihat segar, kincir-kincir berputar, air menggenang indah di permukaan, ada yang berwarna hijau muda dan ada yang berwarna cokelat. Pagi itu, ia baru saja terbangun, saya menghampiri dan berkenalan. Tak banyak perbincangan, dia menjelaskan bahwa perlakuan yang diberikan cukup standar, yang jelas air tetap harus diamati perubahannya, juga bagaimana pemberian pakan dengan tepat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tambak Pak Tomo kali itu baru beroperasi sekitar 50 hari, belum dilakukan pergantian air besar-besaran, lantaran kotoran masih sedikit. “tambak di sini bagus, karena dasar tanahnya berpasir, dan udang Vannamae suka pada tanah berpasir,” ujar Tomo. Nanti kalau umur sudah tiga bulan akan dilakukan penyiponan untuk mengurangi kotoran sisa pakan yang mengendap. Sementara ini, tambak-tambak Pak Tomo mengandalkan bibit dari Lampung, karena bibit dari sana dianggapnya tahan terhadap penyakit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balik ke Mes, Pak Heri sudah beres-beres, kami menuju tambak di lokasi barat Tuban pukul 10.00. tambak pertama yang didatangi milik Mas Erwin, anak muda dan tampak cerdas. Tambak milik Erwin cukup luas dan kami pun disambut oleh anjing yang sementara bergerak kea rah ku, untung segera diamankan oleh Erwin. Rupanya Erwin cakap dalam mengamati perubahan kualitas air dengan parameter dan standar ilmiah, misalnya ia saban tiga hari mengukur kandungan nitrat, amoniaknya, lalu dapat menjelaskan proses penguraian dan pembentukan amoniak itu. Dari penjelasannya, ia cukup puas dengan produk inve, meski ada produk yang belum memperlihatkan hasil. Khusus dalam penurunan amoniak, inve memberi angin segar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tambak Erwin, saya melihat bagaimana rumit dan tekunnya seorang pengusaha tambak harus bekerja. Karena kita berupaya merekayasa alam agar organism budidaya udang yang terkenal rentan terserang virus ini bisa berhasil tumbuh hingga ukuran panen. Mendekati siang, terlihat para pekerja menebar pakan, ada juga pekerja yang berendam untuk membuka lubang kotoran di bagian tengah tambak. Pada bagian tepi tambak, terdapat banyak gelembung-gelembung hijau, itu ternyata adalah phytoplankton yang mati. Sehingga harus segera dibuang untuk mengantisipasi meracuni air tambak. Air pun berwarna kecoklatan, mengindikasikan bahwa telah muncul diatom (skeletonema) menggantikan peranan clorellla yang banyak tumbuh pada bulan-bulan awal penanaman bibit.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Pak Heri berbincang-bincang dengan Mas Erwin, kami berangkat ke tambak milik Pak WId. Di lokasi tambak itu saya hanya melihat-lihat saja. Tampaknya, tidak ada masalah berarti di tambak ini, pak heri mungkin sekadar menjalin silaturahmi dengan teknisi dan pegawai tambak. Di lokasi itu, saya memotret komposisi pakan untuk pertumbuhan udang, udang diberikan pakan sesuai kebutuhan dan bukaan mulut, ada ukuran crablet dan ada yang sudah berbentuk pellet ukuran mata pensil. Beratnya sekitar 10 persen bobot tubuh.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu menuju tambak arah timur, mobil masuk ke dalam jalan-jalan desa pesisir pantai. Sampai-sampai mobil terhalangi oleh perbaikan jalan dan terpaksa mencari jalan memutar. Tambak yang sambangi milik seorang bapak bertopi, memiliki dua petak dimana satu petak sebentar lagi di panen dan petak lainnya mengalami musibah penyakit Mio. Pak heri lantas memberikan arahan-arahan agar kejadian seperti itu tidak terulangi lagi, karena jika terserang, akibatnya bisa sangat fatal, udang bisa mengambang di permukaan, maka duit dan kerja keras pun hangus sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, kami mendatangi tambak di dekat kawasan itu juga, tapi pemiliknya tidak ada di tempat, sehingga kami hanya melihat-lihat sekilas. Saat itu pegawai sementara mengangkat-angkat udang yang mengambang di tepi tambak. Kasian juga melihat udang yang sudah sebesar itu tewas begitu saja.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami terus bergerak ke arah timur, mengunjungi tambak yang terletak di pinggir-pinggir bakau yang lebat di Daerah Lamongan. Kali itu saya baru melihat ada bakau yang tinggi betul rimbun di pinggir tambak. Pak Heri sangat akrab dengan mereka dan bercengkrama di sepanjang pematang. Kami mengamati pompa yang lagi berusaha menyedot air yang tersisa di dasar tanah tambak. Kali itu, saya hanya memandang suasana, dimana terdapat pekerja yang menyusun batu untuk membuat pematang, suasana tambak-tambak kering dan ada yang sebentar lagi panen. Pada saat itu dilakukan perhitungan berat dan size udang yang sudah berumur 100 hari. Sizenya 58, saya baru sedikit tahu dengan size saat itu. Lalu mendengar selentingan-selentingan size, misalnya 73 pada umur 60 hari, 64 pada 85 hari. Size diukur dari jumlah udang perkilogram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendekati magrib, kami bertandang kediaman Pak Yasin di Lamongan. Pak Yasin baru pertama kali mengorder produk inve dan dia mulai yakin setelah melihat tanda-tanda perbaikan tambak. Pak Heri dengan sigap menjawab beberapa pertanyaan Pak Yasin berkaitan dengan teknis pengolahan tambak, seperti pertanyaan kapan bagusnya dimasukkan air, apakah pada malam hari atau siang hari? Ternyata jawabannya tergantung situasi, jika ingin meningkatkan plankton bagusnya siang hari karena plankton akan dengan mudah membelah diri, sementara kalau malam hari plankton akan membengkak tapi tidak membelah diri, malah bisa pecah. Penjelasannya seperti itu, tapi untuk lebih ilmiahnya nanti akan dicarikan jawaban yang lebih tepat. Pak Heri juga menjelaskan tentang kemungkinan menurunnya kandungan oksigen setelah mengetahui kondisi DO pada sore hari dan kelimpahan plankton yang ada. Jika DO tinggi pada sore hari, maka biasanya akan turun pada malam hari dan akan makin menipis hingga subuh, dan itu rawan bagi ketahanan dan udang akan stress akibat fluktuasi oksigen. Tapi, kalau DO standar pada sore hari, biasanya pada malam hari akan tetap standar.      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dari Pak Yasin, kami hendak kembali ke mes inve, tapi singgah dulu ke warung makan Pecel, asyik juga. Di warung ini kami bertemu kembali dengan Pak Marto dan juga seorang bapak pengusaha tambak yang bernama Pak Juharyono. Ketiga orang ini berbincang cukup lama, lalu dilanjutkan di rumah pak Juharyono yang terletak di samping warung. Mereka bertiga telah banyak makan asam garam tambak udang, dua orang pengusaha dan seorang konsultan. Sehingga perbincangan mereka bertiga kedengaran menarik. Perbincangan tiba-tiba hendak dilanjutkan di tambak milik Pak Haryono, dan kami pun bergerak ke lokasi tambak tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badan sudah lelah, tapi saya memaksakan untuk fit dan tidak ngantuk. Meski begitu, ngantuk terus menyerang, sampai-sampai saya beberapa kali tertidur bersandar tapak tangan. Mereka membincangan tentang pakan, penyakit, hingga obat-obat yang bagus digunakan. Mantap kedengarannya, mereka cukup ahli di bidang udang dan betul-betul paham. Sayang waktu itu saya ngantuk berat, sehingga tidak konsentrasi. Saya mulai mengambil pelajaran justru dari Pak Nasir, kepala teknisi tambak asal Surabaya, yang merupakan alumni Univ. Brawijaya Malang. Bapak ini sangat akrab, kami berbincang hingga pukul 02.00 dini hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Pak Nasir, memilih bibit yang berkualitas merupakan sesuatu yang fundamental saat ingin memulai usaha tambak. Udang vannamae pertama kali dibiakkan di Hawai pada tahun 80- 90-an, hingga peneliti di sana menemukan induk dengan pewaris gen terbaik. Induk hasil rekayasa di Hawai itulah yang diangkut ke Indonesia untuk menghasilkan telur dan benur yang tahan penyakit. Namun, seiring dengan perjalanan waktu dan perkembangan budidaya, induk yang menghasilkan benur itu telah mengalami beberapa kali persilangan dan banyak juga hasil benur yang sudah dewasa yang kembali lagi dijadikan induk. Dengan begitu, tidak menutup kemungkinan bibit yang dihasilkan kualitasnya jauh lebih rendah dibandingkan benur yang diperoleh dari induk pertama. Sehingga timbullah beragam masalah karena benur memang telah mewarisi gen yang membawa penyakit, dimana jika kondisi tambak dan pakan kurang optimal, bisa membangkitkan kembali virus tersebut yang berasal dari genetic bawaannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal kedua menurut Pak Nasir adalah bagaimana mempertahankan kualitas air dan kandungan plankton atau nutriennya. Biasanya, pada awal-awal pemeliharaan, plankton yang terbentuk adalah dari jenis chlorella yang berwarna hijau, setelah dua bulan lalu terganti dengan plankton skletonema yang berwarna coklat. Plankton hijau cendrung lama bertahan di air karena memang siklus hidup jenis clorophicea yang memang panjang, sehingga untuk menjaganya, kita harus selalu melakukan pengenceran dengan cara memasukkan air baru dan membuang air yang mengandung lumpur setiap pagi. Dengan pengenceran, plankton yang mati bisa dinetralisir dan tetap mempertahankan plankton baru yang terus melakukan pembelahan diri. Dalam kondisi kepadatan plankton yang normal, fluktuasi oksigen bisa dikendalikan, karena kematian plankton dalam jumlah massal dapat mempengaruhi kandungan oksigen dalam air tambak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Nasir menjelaskan bahwa plankton berwarna coklat lebih mampu meningkatkan nafsu makan udang dan menjaga kondisi tubuhnya dibanding plankton berwarna hijau, ini menurut penelitian seorang kawannya di brawijaya malang. Namun plankton skeletonema siklus hidupnya singkat, sehingga sering muncul busa hasil kematian plankton dan jika dibiarkan lama dalam air dapat mengurangi oksigen dalam air dan mempercepat munculnya bakteri yang mungkin tidak baik bagi udang. Sehingga, solusinya, warna coklat pada air bisa dipertahankan dengan tetap selalu melakukan pengenceran dan juga tetap menghidupkan kincir dalam kondisi prima. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu saya tidur di balai tambak, pagi harinya saya menyaksikan bagaimana pengukuran jumlah pakan dan pemberian vitamin pada pakan. Saat itu juga dilakukan pembungan air yang berasal dari lumpur tengah kolam, untuk tetap mempertahankan kondisi air dan menjaganya dari serangan bakteri dan virus mematikan bagi udang. Pak heri sudah bangun dari tidur lelapnya di malam hari, kami siap-siap kembali ke Pereng, mes inve di Tuban. Dan pagi itu senyum pak Nasir begitu menyentuh, seperti embun pagi itu yang melekat di pori-pori. terimakasih Pak..&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Pereng, Tuban, 4 November 2011&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-8387673389014692633?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/8387673389014692633/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=8387673389014692633' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/8387673389014692633'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/8387673389014692633'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2011/11/belajar-tambak-udang-intensif-di-tuban.html' title='Belajar Tambak Udang Intensif di Tuban dan Lamongan (Hari Kedua)'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-0YBVJavUGJI/TsvXm1j-HvI/AAAAAAAAAZU/yXIlrAYJADU/s72-c/DSC03992.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-9186179041489832261</id><published>2011-11-12T23:39:00.001+08:00</published><updated>2011-11-19T14:35:47.745+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dari Idham Malik'/><title type='text'>Pengalaman Pertama di Inve Jawa Timur</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-6QgCDYhppIM/TsdOMPWvJOI/AAAAAAAAAZI/HJbRQY6tyFs/s1600/DSC03934.JPG" imageanchor="1" style="clear:right; float:right; margin-left:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="240" width="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-6QgCDYhppIM/TsdOMPWvJOI/AAAAAAAAAZI/HJbRQY6tyFs/s320/DSC03934.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Saya agak telat tiba di Surabaya, pesawat delay barang 1 jam lebih, kata petugas-petugas ada latihan penerbangan sukoi, jadi pesawat umum pada ngantri untuk masuk di jalur penerbangan Bandara Hasanuddin Makassar. Sebenarnya, jadwal penerbangan pukul 09.20, tapi molor hingga pukul 12.00 hari Selasa, 1 November, lucunya, kami lama menunggu di dalam pesawat, banyak penumpang terlihat bosan dan tertidur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan cukup singkat, cuma 1,5 jam, tiba di bandara Juanda sudah pukul 12.30 WIb. Pak Heri yang rencananya akan menjemput pun sudah ada juga di bandara, katanya dia juga telat lantaran macet panjang di Sidoarjo. Kami akhirnya bertemu, lalu mencari mobilnya yang ia lupa dimana ia parkir. Putar-putar area parkiran, mobilnya pun terlihat jumawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di perjalanan, kami saling membaca diri, saya menerka-nerka, dia pun begitu. Melewati beberapa pos jalan tol, mobil singgah di kantor Inve di Jalan Indragiri 28 Surabaya. Mulanya, ia mengira saya sudah pernah menjual produk, tapi saya jelaskan bahwa saya baru hari pertama gerak dan belum tahu apa-apa. Makanya, setiap pertanyaan yang ia lontarkan mengenai kondisi pertambakan di Sulsel, saya menjawabnya tidak sfesifik, namun sangat normatif. Memang, saya tidak kuasai betul medan yang saya akan hadapi kelak, tapi saya tetap yakin akan menguasainya dalam tempo singkat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kantor, kami bergerak kea rah barat Surabaya, melewati pantai utara Jawa. Di perjalanan saya mengamati hamparan tambak garam di sepanjang jalan pinggiran Surabaya dan Gresik. Petani masih sibuk menambak garam, padahal musim hujan sebentar lagi memuncak. Sepintas saya melihat gadis-gadis di Gresik banyak yang mengenakan jilbab, begitu juga yang saya temukan nanti di Lamongan. Mungkin ini pengaruh dari sekian banyaknya pesantren yang ada di Jawa Timur, sehingga budaya Islam begitu terlihat. Jam tiga siang, kami singgah di warung makan di pinggiran jalan gresik, kami menyantap sup tulang iga. Saya suka dengan supnya, rasanya agak asam dengan campuran banyak bumbu, pokoknya, sehabis makan rasanya begitu segar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami memasuki wilayah Lamongan, jalanan jalur pantura ini dilewati banyak mobil truk, sehingga Pak Heri beberapa kali menyalib mobil agar dapat jalur kosong dan tidak mengekor sama turk yang lambat. Lamongan juga kota Pantai, beberapa kali kami berhadapan langsung dengan tepi pantai, ada yang dengan perahu-perahu nelayannya. Melewati kota lamongan, pinggir jalan terlihat ramai oleh rumah dan toko-toko klontong. Terdapat juga beberapa pusat perbelanjaan dan hiburan. Di Lamongan dekat perbatasan Tuban, kami mampir di tambak milik Pak Yanto. Kami cukup lama di situ, barang dua jam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Heri ngobrol dengan Pak Yanto tentang perkembangan tambak udang yang sementara ditekuni. Singkat saja perbincangan dibalai-balai itu, lalu Pak Heri menghapus lelahnya dengan tertidur. Saya ditanya beberapa hal tentang mekanisme tambak di Sulsel, tapi saya jawab seadanya saja, justru saya belajar banyak dari diskusi dengan Pak Yanto mengenai penanganan tambak udang yang sementara ia jalani bersama Inve. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tambaknya terdapat tiga petak, satu petak sudah terisi benih selama sebulan, dan dua lainnya masih dalam tahap persiapan. Meski masih persiapan, tambak dua petak itu sudah di aerasi dengan kincir. Katanya akan di isi benur pada hari Kamis, Lusa. Saya focus di tambak yang sudah terisi yang luasnya hampir se hektar itu, airnya diperoleh dari sumur bor yang hanya sekali isi. Tinggi air sekitar satu meter di bagian pinggir, dimana terdapat caren di situ, di bagian tengah tinggi air sekitar 70 centimeter. Bibit udang yang ditebar sejumlah 110 per M2 . “Udang umur sebulan suka pada air yang dangkal, nanti kalo sudah lebih dua bulan airnya sedikit ditinggikan,” kata Pak Yanto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu air Cuma satu, berfungsi untuk pemanenan, tanggul-tanggul pematang dilapisi terpal biru lalu direkat dengan anyamanan bambu, agar tanggul tidak luber. Airnya berwarna coklat dengan dasar tanah agak berbatu, namun itu tidak menjadi kendala karena selama tiga siklus pemanenan, hasilnya selalu baik. Tingkat kematian cukup rendah. “Cuma pada awal memulai udang terserang penyakit, tapi waktu itu semua tambak di area ini pada terkena white spot,” lanjut Yanto. Dalam pemeliharaan sekitar sebulan ini, belum ada tanda-tanda kematian. Udang akan dipanen setelah berumur 120-150 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menerapkan resep tambak udang yang diperolehnya dari Inve melalui Pak Heri. Dengan melakukan penetralisir tanah dan air pada awal memulai serta melanjutkannya dengan pemberian pakan yang ditambahkan multivitamin dan anti pathogen. Pemberian pakan pun dilakukan secara teratur, setiap pagi, siang, sore dan malam hari. Disertai pemberian aerasi secara optimal sepanjang hari agar kandungan oksigen dalam air tidak berkurang. Hasilnya dirasa memuaskan, produk dari inve pun terus digunakan untuk memperbaiki kualitas air dan meningkatkan nutrisi pada tubuh udang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tambak pak Yanto, kami melanjutkan perjalanan menuju tambak lain, saya tak tahu milik siapa. Saya mengamati tambaknya seluas setengah hektar, tanggul dilapisi terpal hitam dan di dalam tambak beberapa kincir dynamo sementara berfungsi. Sebentar saja kami di sana, perjalanan sudah melewati waktu magrib, kami menepi lagi di tambak milik Pak Haji. Saat itu Pak Heri banyak memberikan arahan pada Pak Haji dan pekerjanya, soalnya beberapa udang sudah terdapat mengapung di permukaan. Pak Haji memang baru kali pertama menerapkan produk inve, namun tampaknya beliau masih kurang disiplin. Dalam hal pemberian makan belum teratur, malam hari kadang tidak diberi pakan, padahal aktivitas udang banyak pada malam hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badan mulai lelah, mobil bergerak menuju Tuban. Kota Tuban pada malam hari terlihat ceria juga, mungkin lazimnya sebuah kota Kabupaten, aktivitas kota di malam hari tidak kesepian. Melewati kota, akhirnya kami berhenti di lokasi pertambakan milik Inve Aquaculture, yang merupakan bekas Balai Budidaya Air Payau Tuban. Di sini kami bertemu dengan Pak Basri, yang merupakan teknisi tambak dan hatchery ikan kerapu tikus. Rasa lapar malam hari dituntaskan di sini, memakan sayur dan ikan kembung, amboi nikmatnya. Setelah itu menikmati kopi sambil menonton overa van java. Tingkah Sule, Ajis, Parto malam itu menghapus lelah seharian. Sehari meninggalkan Makassar, menyeberang pulau, melampaui beberapa kabupaten. Inilah mungkin yang disebut kerja..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Rabu, 2 November 2011&lt;br /&gt;Pagi hari di Mess Inve di Tuban &lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-9186179041489832261?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/9186179041489832261/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=9186179041489832261' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/9186179041489832261'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/9186179041489832261'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2011/11/pengalaman-pertama-di-inve-jawa-timur.html' title='Pengalaman Pertama di Inve Jawa Timur'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-6QgCDYhppIM/TsdOMPWvJOI/AAAAAAAAAZI/HJbRQY6tyFs/s72-c/DSC03934.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-5799804723108872028</id><published>2011-10-28T01:56:00.000+08:00</published><updated>2011-10-28T01:58:20.177+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='laboratorium'/><title type='text'>Analisa Sederhana Kandungan Nitrat dan Phosfat pada Air Tambak Glacillaria</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-tIIRE-stmLc/TqmbJWAjT6I/AAAAAAAAAYk/JBnALt3bSs0/s1600/gracillaria.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="139" width="186" src="http://4.bp.blogspot.com/-tIIRE-stmLc/TqmbJWAjT6I/AAAAAAAAAYk/JBnALt3bSs0/s320/gracillaria.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya pertumbuhan rumput laut dipengaruhi oleh toleransi fisiologi biota tersebut terhadap factor lingkungan, seperti substrat (tanah), kualitas air (salinitas, cahaya, suhu, dan kandungan nutrient). Rumput laut mampu menyerap kandungan nutrient berupa nitrat, posfat dan amoniak. Rumput laut juga dapat mengabsorbsi logam berat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Yang dibutuhkan adalah, kandungan bahan organic dalam tendon, sehingga kandungan nutrient dalam tambak budidaya rumput laut tetap tersedia. Sebab, rumput laut dapat terus mengabsorbsi nutrient untuk pertumbuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gracillaria merupakan alga bentik yang melekat pada substrat. Bentuk thallus menyerupai selinder, licin, berwarna kuning hijau, percabangan tidak beraturan, memusat di bagian pangkal, cabang-cabang menyerupai rambut dengan ukuran panjang berkisar 15 – 30 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, agar pertumbuhan optimum, tambak gracillaria pada empat minggu pertama membutuhkan lebih banyak nitrogen untuk pertumbuhan ke atas (memanjang), dengan konsentrasi 10 kg/ha yang ditebar secara bertahap. Dua atau tiga minggu sebelum panen membutuhkan lebih banyak nutrisi phosfat untuk penebalan thallus dengan konsentrasi 5 kg/ha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pemupukan, air tambak tidak diganti selama 6 hari supaya pupuk dapat diserap oleh rumput laut. Tapi, jika konsentrasi nitrat dan phospat terpenuhi di dalam kolam budidaya, langkah pemupukan tak usah dilakukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Data yang diperoleh&lt;br /&gt;Kualitas Air&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No. Kode sampel          Parameter&lt;br /&gt;          Phosphat (PO4) Nitrat (NO¬3)&lt;br /&gt;1. Tambak      0,25           0,28&lt;br /&gt;2. Sungai      0,24           0,21&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nitrat rata-rata: 0,01 – 0,02 mg/l&lt;br /&gt;Phosfat rata-rata : 0,01 mg/l&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Absorbs nitrat, nitrit, ammonium tertinggi terdapat pada biomassa gracillaria 60 gram dan terendah pada tanpa gracillaria. Dengan perbandingan biomassa, 60 gram, 70 gram, 80 gram, 90 gram. Untuk tingkat kelangsungan hidup udang windu, yang tertinggi terdapat pada biomasa Gracilaria verucosa 60 gram yaitu sebesar 74,33% dan terendah terdapat pada perlakuan tanpa Gracilaria verucosa yaitu sebesar 40,33%. (Efektivitas Rumput Laut (Gracilaria verucosa) Dalam Mengabsorpsi Nitrat (NO3) Terhadap Kelangsungan Hidup Udang Windu (Penaeus monodon)/Galuh Anggun Pratiwi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laju pertumbuhan G.verucosa menunjukkan pada salinitas 20 ppt dan 15 ppt memiliki nilai rata-rata tertinggi yaitu 14,03% dan 12,78%. Namun, setelah menganalisis dari seluruh paremeter penelitian, salinitas optimum untuk budidaya udang vannamei secara polikultur dengan G.verucosa adalah pada salinitas 15 ppt. (penelitian: Della Aprillia Prisanti/Fakultas Perikanan dan Kelautan Padjajaran).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil penelitian Balai Riset Budidaya Air Payau Maros, Universitas Hasanuddin, dan Unhalu di Kecamatan Angkona, Kab Luwu Timur menunjukkan bahwa laju pertumbuhan relatif rumput laut di tambak tanah sulfat masam berkisar antara 1,52% dan 3,63%/hari dengan rata-rata 2,88% ± 0,56%/hari. Di antara 9 peubah kualitas air yang diamati ternyata hanya 5 peubah kualitas air yaitu: nitrat, salinitas, amonium, besi, dan fosfat yang mempengaruhi pertumbuhan rumput laut secara nyata. Untuk meningkatkan pertumbuhan rumput laut di tambak tanah sulfat masam Kecamatan Angkona, Kabupaten Luwu Timur dapat dilakukan dengan pemberian pupuk yang mengandung nitrogen untuk meningkatkan kandungan amonium dan nitrat serta pemberian pupuk yang mengandung fosfor untuk meningkatkan kandungan fosfat sampai pada nilai tertentu, melakukan remediasi untuk menurunkan kandungan besi serta memelihara rumput laut pada salinitas air yang lebih tinggi, tetapi tidak melebihi 30 ppt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil penelitian menunjukkan bahwa budidaya polikultur dan monokultur menunjukkan pengaruh yang berbeda terhadap pertumbuhan rumput laut. Dari hasil analisa diketahui bahwa laju pertumbuhan pada budidaya polikultur memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan rumput laut lebih besar dibandingkan dengan budidaya monokultur dimana nilai SGR pada budidaya polikultur mencapai 7.5%, sedangkan pada monokultur SGR mencapai 6,5% pada minggu pertama. Parameter kualitas air selama penelitian yaitu nilai suhu berkisar 29-320C, salinitas antara 27-35 0/00, pH berkisar antara 8 – 9, kecerahan berkisar antara 30-36 cm, DO antara 3.3-7.7, konsentrasi nitrat berkisar antara 0,24 - 0,70 mg/l dan konsentrasi ortofosfat berkisar antara 0,002– 0,39 mg/l. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sistem budidaya polikultur lebih menguntungkan dibandingkan dengan sistem budidaya monokultur. (Novalia Heri/Universitas Brawijaya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian Balai Riset Budidaya Air Payau (Erfan Andi Hendrajat, Brata Panjara, Markus Mangampa) tentang Polikultur Udang Pannamae dan Rumput Laut gracillaria. Perlakuan pertama (A) polikultur 2 ekor/m2 udang pannamae + 2000 kg/ha rumput laut, Perlakuan (B) monokultur 2 ekor/m2 udang, masing-masing dua ulangan.  Sintasan dan produksi udang tertinggi diperoleh oleh perlakuan A, namun berbeda nyata (P&gt;0,05) dengan perlakuan B dengan sintasan masing-masing 54,66 % dan 35,22 % serta produksi masing-masing 108,6 kg/ha dan 72,84 kg/ha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualitas Air budidaya rumput laut tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parameter kualitas air             Perlakuan&lt;br /&gt;                          A       B&lt;br /&gt;NH3 mg/l                 0,6856 – 0,790   0,6783 – 0,8779&lt;br /&gt;NO3- mg/l                1,0464 – 1,4579  0,9890 – 1,3950&lt;br /&gt;PO42- mg/l          0,1794 – 0,1385  0,1662 – 0,167&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nitrat adalah bentuk nitrogen utama bagi pertumbuhan bagi tanaman dan alga. Menurut Azman (2005), bahwa nitrat sebagai factor pembatas jika konsentrasinya &lt;0,1 mg/l dan &gt; 4,5 mg/l. sedangkan untuk konsentrasi phosfat menurut Joshimura 1983 dalam effendi, 2000/, perairan dengan tingkat kesuburan rendah berkisar 0 - 0,02 mg/l, tingkat kesuburan tertinggi berkisar 0,021 – 0,05 mg/l.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hal yang harus diperhatikan juga adalah kelimpahan plankton, yang jika berlebihan akan menyebabkan eutrifikasi yang ujung-ujungnya pencemaran biologi. Kelimpahan plankton yang biasa pada tambak berkisar 80 – 180 mg/l. akan mengalami fluktuasi tergantung pada jumlah organism budidaya pengonsumsi plankton. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kesimpulan&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;- Kandungan phospat dan nitrat di perairan tambak dan sungai calon media budidaya mencukupi keterpenuhan nutrient bagi pertumbuhan optimum gracillaria verocusa, yakni kandungan nitrat berada diantara &lt;0,1 mg/l dan &gt; 4,5 mg/l atau sekitar 0,28 mg/l. sedangkan kandungan phosfat 0,25 mg/l atau melebihi kandungan normal phosfat pada tambak rumput laut yakni berkisar 0,021 – 0,05 mg/l.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- Di atas terdapat beberapa kumpulan hasil kesimpulan penelitian yang dilakukan oleh universitas dan balai budidaya air payau, sehingga membantu menentukan teknik yang tepat untuk mempercepat pertumbuhan rumput laut gracillaria sp.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-5799804723108872028?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/5799804723108872028/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=5799804723108872028' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/5799804723108872028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/5799804723108872028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2011/10/analisa-sederhana-kandungan-nitrat-dan.html' title='Analisa Sederhana Kandungan Nitrat dan Phosfat pada Air Tambak Glacillaria'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-tIIRE-stmLc/TqmbJWAjT6I/AAAAAAAAAYk/JBnALt3bSs0/s72-c/gracillaria.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-2001442796942920763</id><published>2011-10-08T13:20:00.001+08:00</published><updated>2011-10-12T15:20:18.421+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dari Idham Malik'/><title type='text'>Wawancara dengan Pak Rusli, Peneliti Rumput Laut Balai Budidaya Laut (BBL) Ambon</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-xiP7qld5CaU/TpU-kjt3iPI/AAAAAAAAAYM/vUnc1BTeLlU/s1600/DSC03613.JPG" imageanchor="1" style="clear:right; float:right; margin-left:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="240" width="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-xiP7qld5CaU/TpU-kjt3iPI/AAAAAAAAAYM/vUnc1BTeLlU/s320/DSC03613.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Rabu dini hari, 28 September 2011, saya sudah terbangun, tidur lumayan nyenyak. Sehabis shalat subuh, saya berbincang banyak dengan Pak Rusli tentang kondisi rumput laut di Maluku. Saya mengundangnya ke kamar asrama agar dapat berdiskusi secara rileks, Alhamdulillah, pagi itu, beliau memberikan banyak gambaran. Menurutnya, budidaya rumput laut di provinsi Maluku memberikan berkah besar bagi masyarakat daerah pesisir, “pada 2006 lalu, rumah masyarakat masih beratap rumbia, tapi setelah setahun memelihara rl, mereka pada membangun rumah batu. Bahkan ada beberapa orang yang berangkat naik haji dari hasil budidaya rumput laut,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apresiasi pemerintah pun lumayan besar, pada awal 2007 itu telah diadakan survey dan pembentukan kelompok tani awal untuk memulai usaha rl, dimana daerah focus waktu itu terletak di Dusun Wael, Kotania dan Pulau Ozi di Kab. Seram Bagian Barat (SBB), dan di pesisir desa Sathean di Kab. Maluku Tenggara. Karena menampakkan hasil yang cukup lumayan, berbondong-bondonglah warga pesisir untuk melakukan konversi jenis pekerjaan ke pemeliharaan eucheuma cottoni di laut, yang sebelumnya masih menjadi petani kasbi, dan sebagian menjadi nelayan lepas. Sekarang, produksi dan perluasan wilayah sangat cepat, dan untuk daerah Maluku, hampir semua kabupaten menjadikan rumput laut sebagai produk unggulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal-awalnya, harga masih 3.500 rupiah, tapi terus menanjak hingga 18.000 perkilo pada akhir 2007, dan terus mengalami turun naik berkisar harga 7000-10.000, dimana di tiap kabupaten berbeda laju dan besaran pluktuasinya. Untuk daerah SBB lumayan kondusif dan netral, berkisar 10.000 karena rumput laut daerah tersebut diakui berkualitas baik, seperti kandungan karagenannya yang tinggi (70%) dan tingkat kekotorannya yang rendah lantaran dijemur di atas para-para. Selain itu, para pengusaha dari Surabaya dan Makassar sengaja datang langsung membeli rl petani, jadi permasalahan pasar tidak menjadi kendala. Untuk kabupaten lain, harga masih menjadi persoalan, karena sangat bergantung dari perkembangan pasar dan kesepakatan di tingkat pengumpul local. Harga selalu turun menjelang hari-hari besar, seperti idul fitri dan hari natal, karena masyarakat membutuhkan uang untuk belanja hari besar, sehingga banyak nelayan yang terpaksa menjual dengan harga murah, misalnya Rp 7000, harga demikian masih bertahan hingga sebulan setelah lebaran seperti waktu-waktu sekarang ini. Menurut kebanyakan nelayan, akan naik lagi dalam waktu dekat dan akan kembali normal pada kisaran 9000-10000 rupiah. Hal lain yang menentukan perkembangan harga adalah kondisi geografis provinsi Maluku yang berupa pulau-pulau, sehingga akses ke lokasi budidaya mesti menempuh jarak pelayaran dalam tempo lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Rusli, pihak Balai Budidaya Laut Ambon telah melakukan intervensi ke dua dusun SBB pada 2006-2007. Saat itu, BBL menyiapkan 32 unit, dimana setiap unit terdiri atas 10 bentangan RL (1 bentangan 100 meter dengan hasil perunit sekali panen rata-rata 300 kilogram kering). Terbina 11 orang, setiap orang mendapat tiga unit waktu itu. Pada perkembangan awalnya, pengolahan rumput laut yang diterapkan berupa pengepresan, dimana satu karung plastic yang berisi 7-8 kilogram kalau dipress lagi bisa sampai 100 kilogram perplastik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun-tahun awal itu, model usaha yang berkembang masih taraf kecil dengan mencoba mengolah rumput laut menjadi agar-agar, dodol dan sirup. Namun, tingkatnya masih skala uji coba dan temporer, lantaran pemasaran yang sulit, sehingga hanya diproduksi ketika ada even-even pameran saja atau ada pesanan dari luar. Tentang perkembangan produk olahan ini, dibutuhkan intervensi konsep dari atas, untuk mengiringi laju kinerja pemerintah local. Pusat mesti turun tangan untuk mempercepat pelaksanaan program industry pengolahan yang tepat dibangun di provinsi Maluku. Karena, dengan adanya industry, persoalan fluktuasi harga akan dengan sendirinya terselesaikan. Harga dasar bisa ditetapkan, dan tak ada lagi permainan pasar, karena bahan baku akan terserap untuk kebutuhan industri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang pendanaan, telah ada bantuan dana Corelaterali yang dideposit ke bank sebagai jaminan, ini dirintis oleh BBL yang mempertemukan pihak bank, Pemda dan masyarakat. Selain itu, ada juga Program Usaha Mandiri Pedesaan (PUMP), berupa pemberian bantuan bibit dan tali. Menurut Jacob Leunufna, pihak Bank Indonesia (BI), pada tahun 2010 telah ada kesepakatan tentang permodalan dengan Pemda, lewat bantuan modal lewat bank local seperti BRI dan BPD Maluku. Untuk Seram Bagian Barat telah dilibatkan BPD dan BRI, misalnya dusun Wael kordinasi dengan BPD dan BRI unit Piru, serta BRI unit Gemba. Telah ada juga bantuan alat chip, serta intervensi program kemeneg PDT untuk beberapa kelompok tani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, sebagian masyarakat masih kesulitan dalam akses permodalan, pihak bank menurutnya segan memberikan kredit lantaran takut tak ada pengembalian dari masyarakat. Tentang bantuan terhadap kelompok tani sendiri, ada masyarakat yang mengeluh karena bantuan banyak diberikan hanya pada kelompok tani yang dekat atau kerabat pejabat desa setempat saja. Jadi, sekarang ini, masyarakat lebih banyak mandiri, tinggal bagamana pihak pemerintah mengatur regulasinya terkait persoalan harga. Tentang pemberian bantuan itu, kelompok tani mesti diidentifikasi lahan usahanya dan diberikan secara objektif, disini dibutuhkan bantuan dari LSM atau tenaga civil society di daerah setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk produktivitas rumput laut pada lahan satu hektar, bisa didefenisikan seperti ini: perhektar terdiri atas sepuluh unit, yang menghasilkan 2 – 5 ton kering RL. Tapi rata-rata masyarakat mengelola setengah hektar perrumah tangga, dimana 1 unit menghasilkan 600 kilogram rl (hitungan rill), atau sekitar 300 – 400 kilogram per unit, 1 unit terdiri atas sepuluh tali bentangan panjang 100 – 125 meter dengan 220 titik. Jadi untuk satu hektar, bisa menghasilkan 4 ton (400 kilogram x 10 unit).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam menunjukkan pukul 06.00, pagi sudah terlihat terang, pak rusli kembali ke rumahnya yang juga terletak di kompleks BBL, sementara saya siap-siap untuk bergerak lagi di hari kedua, menemui beberapa dinas yang terkait. Awal hari itu pun menjadi awal hari yang menyenangkan..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-2001442796942920763?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/2001442796942920763/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=2001442796942920763' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/2001442796942920763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/2001442796942920763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2011/10/wawancara-dengan-pak-rusli-peneliti.html' title='Wawancara dengan Pak Rusli, Peneliti Rumput Laut Balai Budidaya Laut (BBL) Ambon'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-xiP7qld5CaU/TpU-kjt3iPI/AAAAAAAAAYM/vUnc1BTeLlU/s72-c/DSC03613.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-8482561604492519285</id><published>2011-10-08T11:16:00.001+08:00</published><updated>2011-10-12T15:57:39.838+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dari Idham Malik'/><title type='text'>Catatan Hari Pertama Survei Rumput Laut di Provinsi Maluku</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Wus53UK0G9M/TpVFpXTIaUI/AAAAAAAAAYY/2FNTBYt36Ao/s1600/DSC03642.JPG" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="240" width="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-Wus53UK0G9M/TpVFpXTIaUI/AAAAAAAAAYY/2FNTBYt36Ao/s320/DSC03642.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Saya berangkat dari Makassar menuju Ambon dengan perasaan was-was pada Selasa (27 September 2011), sejam di bandara adalah waktu paling menegangkan, soalnya, surat pengantar untuk survey rumput laut dari pusat belum juga diperoleh. Teman yang antar dari Makassar dan ingin juga survey di Palu datang ke bandara cukup lama, padahal jam keberangkatan saya tinggal setengah jam lagi. Untung ketika saya melihat ia melintas di dalam bandara, perasaan saya tiba-tiba tenang. Surat pengantar sudah di tangan, dan saya dengan sigap berangkat ke ambon. Pesawat take off pukul 13.00 wita, tiba di ambon jam 15.20 menit wit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas pesawat lebih was-was lagi, beberapa kali pesawat bergetar lantaran cuaca di pertengahan perjalanan sedikit buruk. Saya duduk di bagian ekor nomor kursi 33A sehingga dapat melihat sayap pesawat bergetar. Tegang menyambut lagi waktu hendak landing, pesawat melaju cukup rendah di atas permukaan laut, dekat pulau ambon. Saya mengamati landasan, landasan belum terlihat, hingga pesawat melayang cukup rendah dan menemukan landasan.. akhirnya roda pesawat menyentuh aspal.. Alhamdulillah.. perjalanan yang mendebarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba di bandara Pattimura, perasaan melambung. Melihat alam yang begitu permai dari atas pesawat dan menyentuh tanah Ambon untuk pertama kalinya tak kebayang senangnya. Saya keluar bandara dengan enjoi, sempat mau naik ojek ke Waeheru, tapi teman menyarankan naik angkot saja, karena ongkosnya lebih murah. Saya nego ke supir angkot, dia bertahan di harga sepuluh ribu, tapi setelah lama di atas angkot, lebih baik saya turun dan naik angkot yang baru, lalu tidak bilang-bilang mau ke mana, supaya tidak dikata orang baru datang ke ambon. 15 menit kemudian tiba di Balai Budidaya Laut Ambon, dari jalan raya terlihat di kejauhan hamparan teluk dengan dermaga kayu memanjang di ujung sana. Masuk ke gerbang dari arah belakang muncul junior, Imadonna, dia lulusan perikanan Unhas angkatan 2005. Termasuk mahasiswa cerdas waktu itu. Ima menunjukkan kamar mess yang siap saya tempati nginap beberapa malam, harganya lumayan murahlah untuk sebuah perjalanan singkat, limapuluh ribu rupiah semalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu, setelah salat di musallah BBL, kami melihat-lihat aktivitas produksi bbl, diantaranya kolam induk kerapu tikus dan ikan kue, media pembenihan, pemeliharaan beberapa hewan laut berupa penyu, ikan nemo, cardinal,  lobster, bulu babi, ikan hias laut. Perut keroncongan, ternyata saya lupa makan lantaran melihat-lihat ikan itu, untuk menambal rasa lapar, kami menyantap mie telur rebus pada sebuah warung. Rasa lapar pun lenyap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Magribnya, saya mulai melakukan identifikasi awal, dengan melakukan wawancara terhadap Pak Rusli, yang merupakan ahli dan tenaga pendamping dalam pembinaan masyarakat dalam hal budidaya rumput laut. Cukup banyak data yang saya korek dari beliau, seperti lokasi potensi budidaya, perkembangannya dari tahun ke tahun, serta kualitas rumput laut Maluku. Pak Rusli menyajikan bubur kacang hijau, saya tidak menghabiskan, soalnya terlalu banyak, tapi lumayanlah untuk tambah-tambah tenaga.. hehe.. jam delapan, ada telepon dari Ima, ternyata dia menyediakan makan malam dan mendesak untuk makan di kosannya.. oke deh..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehabis makan, kami nongkrong di teras rumah kosannya, membicarakan banyak hal, tentang teman-teman kuliah, dosen-dosen, pengalaman-pengalaman yang terputus oleh waktu. Pukul 21.30 saya balik ke mes untuk istirahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi-pagi benar saya terbangun, melakukan salat subuh dan persiapan perjalanan ke dinas. Jam Sembilan saya berangkat dengan seorang teman baru, namanya Imran, masih kuliah di fakultas teknik mesin Univ. Pattimura angkatan 2006, selama setengah hari itu, dia menemani saya jalan ke dinas-dinas, walau hari itu banyak kendala di tengah jalan. Dia mengendarai motor cukup lihai, kendaraan lain dia selip kiri kanan. Dalam perjalanan itu pula saya melihat alam ambon yang begitu permai, kota setengah melingkari teluk. Sepanjang jalan kita mengamati laut biru, dengan laju perjalanan yang landai. Tampaknya, Imran begitu menikmati mengendarai motornya, sesekali ia melepas kedua tangan lalu dengan bangga merapikan kerah bajunya di atas motor.. waduh, kalau motor tidak seimbang, bisa tamat riwayat, hehe…  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendala pertama ada pada pihak Dinas Perindustrian Provinsi, waktu itu kepala dinas tidak datang ke kantor, saya cuma ketemu dengan sekretaris dinas yang bernama Pak Ongki, dia belum siapkan data hari itu, tapi dia janji akan siapkan besok. Dia beri nomornya untuk dihubungi saja besoknya. Saat bertemu dengan Pak Ongki, dia tidak menyambut baik, dia minta lampiran kuisioner, saya bilang ini survey berdasarkan data-data yang dibutuhkan. Dari pembicaraan dan tatapan matanya, orang ini meremehkan kedatangan saya yang waktu itu membawa surat resmi dari kementerian industry kecil dan menengah, ia menganggap yang datang hanyalah seperti mahasiswa yang ingin melakukan penelitian.. kalau sudah seperti itu, bisa jadi fatal akibatnya, rencana besar berupa pendirian pabrik industry rumput laut bisa tidak terlaksana karena tak adanya penyambutan baik dari dinas setempat. Sementara, kunci sukses sebuah birokrasi dapat ditengok dari metode pelayanannya, jika pelayanan buruk, maka pelaksanaan kegiatan dijamin buruk. Mana ada orang yang mau bantu ataukah investor yang ingin terlibat kalau orang tersebut tidak terbuka, malah bersifat reaktif terhadap tamu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jengkel di Dinas Perindustrian, saya bergerak ke Bank Indonesia untuk menanyakan tentang kredit bantuan modal buat petani rumput laut di Maluku. Setelah registrasi dengan bapak satpam di ruang tunggu, saya akhirnya bertemu dengan Pak Jacob Leunufna, kepala bagian BPH atau Tim Kelompok Pemberdayaan Sektor Rill, Bank Indonesia. bapak ini berbeda dengan Pak Ongki, dia menyambut baik, dia pun menjelaskan panjang lebar tentang keterlibatan bank Indonesia dalam hal memajukan ekonomi masyarakat sector rumput laut. Dari keterangannya, pihak BI sampai saat ini sudah membantu dalam hal kerjasama dengan Pemda untuk membentuk desa binaan di Desa Wael, Kotania di Seram Bagian Barat, dan di Sathean di Maluku Tenggara.. terdapat pula bantuan berupa tali long line, jangkar, pelampung, juga membantu menyediakan sarana kesehatan seperti MCK, sumur bor dan bak penampung. Dari segi non teknis, mereka juga melakukan pembinaan mengenai teknik budidaya rumput laut yang baik.. mendengar penjelasan itu, tiba-tiba muncul keyakinan, bahwa saya tidak boleh menyerah terhadap satu batu masalah, jadi tetap mencari kemungkinan-kemungkinan lain. Pak Jacob janji akan memberikan copy-an hasil riset investasi bidang rumput laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehabis dari BI saya ke Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Maluku, di sana bertemu dengan Ibu Yeni Nani, staff bidan Budidaya, waktu itu kepala dinas dan kepala bidang budidaya lagi tak ada di tempat. Ibu Neni, Alhamdulillah memberikan data yang kami butuhkan. Tapi setelah dicek ulang, data itu kurang lengkap, lantaran data lima tahun ke belakangnya bolong-bolong. Saya mulai khawatir, apakah data itu memang tidak ada atau saya tidak ambil di sana? Tapi, kalau di lihat dari sambutannya, ia terlihat sudah memberikan semua data yang kami perlukan.. jadi, setelah itu kami balik haluan dan bergerak ke Waeheru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan balik, sempat singgah ke DInas tenaga kerja untuk mengetahui tingkat upah minimum di provinsi Maluku, khususnya untuk sector budidaya perikanan.. dari sana berangkat ke Universitas Pattimura untuk mencari keberadaan tenaga ahli mesin dan formulasi di Maluku. Setiba di Kampus, saya mendatangi jurusan Mesin, waktu itu dosen tidak ada di tempat, ruang jurusan lengang. Lalu pindah ke jurusan teknik industry, disana ketemu dengan seorang dosen industry. Dia menjelaskan kalau pihak universitas juga sudah melakukan beberapa kajian tentang industry rumput laut, tapi penjelasannya kurang mendetail, jadi dia sarankan saya menghadap langsung ke Kepala Prodi Industri. Bertemu dengan bapak prodi, seperti berhadapan dengan watak birokrasi. Ia tidak mau memberikan sedikit pun informasi mengenai industry rumput laut di Maluku. Hal itu terjadi setelah ia melihat surat tugas yang saya miliki, katanya, surat tugas itu harus ditujukan juga ke Universitas.. sehingga dengan begitu mereka dapat perintah untuk memberikan informasi. Lagi-lagi kendala administrasi.. hemm..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat jam tangan, waktu menunjukkan jam 2 siang, kalau di Maluku, waktu-waktu seperti ini sangat rawan, karena pegawai kantor sudah pada balik atau sudah ogah-ogahan kerja. Jadi, saya memutuskan untuk kembali ke asrama untuk mempersiapkan perjalanan panjang lagi esok harinya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di asrama saya tidur-tiduran saja, bingung apa yang mau dikerja, bangun sudah sore hari, saya lebih baik jalan-jalan keluar melihat-lihat ikan. Sendiri saja mengamat-amati media budidaya yang ada di lingkungan BBL itu. Kulihat proses pemeliharaannya, memang cukup sederhana, tapi yang utama adalah ketekunan dalam pemeliharaan, karena yang kita hadapi adalah mahluk hidup. Cuma yang rumit adalah mekanisme perpipaannya itu dan mungkin juga tata letak desainnya. Malamnya saya makan malam bersama junior di luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya, malam itu, semua perjuangan siang hari terasa nikmat, dan siap-siap untuk berjuang lagi esok harinya..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-8482561604492519285?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/8482561604492519285/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=8482561604492519285' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/8482561604492519285'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/8482561604492519285'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2011/10/catatan-hari-pertama-survei-rumput-laut.html' title='Catatan Hari Pertama Survei Rumput Laut di Provinsi Maluku'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-Wus53UK0G9M/TpVFpXTIaUI/AAAAAAAAAYY/2FNTBYt36Ao/s72-c/DSC03642.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-1577441270742998974</id><published>2011-09-26T00:55:00.000+08:00</published><updated>2011-09-26T00:55:24.519+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>“Prittt, Parkir Boss”</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/--j7RibXaDug/Tn9c14thkVI/AAAAAAAAAX4/ODdU1WSfnyc/s1600/tukang%2Bparkir.jpg" imageanchor="1" style="clear:right; float:right; margin-left:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="168" width="300" src="http://2.bp.blogspot.com/--j7RibXaDug/Tn9c14thkVI/AAAAAAAAAX4/ODdU1WSfnyc/s320/tukang%2Bparkir.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Hari ini tersimpan sepotong rasa kesal, yang sempat menyumpal di ubun-ubun. Sayangnya bukan terhadap orang-orang besar yang lumrah nyeleneh, tapi terhadap orang-orang kecil yang biasanya selalu kita bela. Tentu paradoks ini membuat saya marah, lantaran tak tahu marah itu mau dilampiaskan pada siapa, apakah dengan terpaksa pada orang-orang kecil itu? Orang-orang yang mental dan karakternya tercemari oleh keresahan menjalani hidup, yang mungkin sudah kehilangan orientasi akan gemilangnya masa depan..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tidak, kantong saya yang memang sudah cekak sejak beberapa hari, dipeloroti lagi oleh pungutan-pungutan tukang parkir. Pagi tadi, saya meminggirkan motor di halaman parkir bantimurung, tiba-tiba seorang pemuda menempelkan stiker kecil bernomor yang ditulisi pakai pulpen, dan menyodorkan potongan kecil papan tripleks bernomor. Lalu, dengan tanpa perasaan meminta duit Rp. 5 ribu rupiah. Saya katakan, “mahal sekali boss,” dia tidak menjawab, tapi saya pun tak ingin melanjutkan ekspresi kejengkelan itu. Saya lihat ke sekeliling, banyak pemuda yang nongkrong di sekitaran motor yang terparkir, pikir-pikir, kalau saya protes, bisa jadi malah jongos dan justru masuk perangkap buaya. Benak mendongkol, “begitu mahalnya harga sebuah rasa aman.., hemm, ditempat-tempat umum lain ongkos parkir hanya seribu, kok di sini 5 ribu,..”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sorenya saya ke Makassar, tetap dengan kantong yang sudah cekak, malam hari lapar mendera dan mencari santapan murah. Saya singgah di warung coto parekatte dekat pompa bensin pintu I Unhas, maklum, harganya cukup miring, cukup 7 ribu rupiah kita sudah merasa puas. Namun, ketika memberi uang, uang lima ratusnya diganti dengan dua buah gula-gula.. hati lagi-lagi mendongkol, uang kok sekarang dalam bentuk gula-gula, dan saya bukan penggemar gula-gula.. hahaha.. keluar dari warung coto, naik ke atas motor langsung dapat sumpritan, eh, dari tukang parkir yang tidak pake baju parkir. Dia berdiri-berdiri di samping motor dengan entengnya, dia tidak tahu kalo bisa jadi uang dalam kantongnya lebih banyak dibanding uang di kantongku. Tapi, apa mau dikata, saya tidak mau juga dengan jujur meminta-minta untuk tidak dipajak lagi.. terpaksa saya beri uang seribu rupiah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak tahu, apakah kejengkelan saya ini berdasar, signifikan dan sesuatu yang penting untuk dipikirkan? Apa gunanya sih memikirkan uang seribu atau dua ribu rupiah, dari pada hati kita mendongkol sedikit-sedikit akibat uang yang sebenarnya sepele itu. Pastinya, kejengkelan itu hadir, mungkin karena hak-hak kita serasa dipotong, termasuk hak terhadap rasa aman itu. Apalagi kalau rasa aman itu sama harganya dengan sebungkus nasi ikan atau seliter bensin.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Beberapa hari lalu, saya singgah pada sebuah travel, teman saya masuk memesan tiket dan saya menunggu di luar di samping motor teman saya itu. Tiga menit kemudian dia keluar, cukup cepat karena dia tak jadi memesan tiket. Tiba-tiba bapak berjaket kuning datang dan dengan wajah tak bersalah meminta ongkos parkir, teman saya yang pengusaha itu dengan entengnya member seribu rupiah. Dalam tiga menit itu, saya pun melihat bapak tukang parkir tak ada di tempat, tapi cukup jauh. Dalam kondisi itu, saya betul-betul tak mengerti,, apakah pungutan itu untuk membayar sebuah rasa aman atau apa? Atau kah sekadar untuk memberi nafkah seorang bapak yang mengerti bahwa dengan bermodal jaket kuning dapat mengisi hidupnya dengan tanpa meneteskan banyak keringat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Piker-pikir, kalau seperti itu, bukan lagi ketakutan terhadap rasa aman, justru kita malah jengkel terhadap orang yang menawarkan rasa aman itu. Karena kalau ditimbang-timbang, tanpa mereka, kita juga tetap merasa aman dan mungkin lebih merasa aman. Mereka seakan-akan menjadi momok, soalnya timbul perasaan telah mengeluarkan uang untuk sesuatu yang tak ada timbal baliknya. Toh, kalau helm kita hilang atau mungkin motor kita, mereka juga tak dapat berbuat apa-apa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya bingung dengan momok sesepele ini, kalau mau dipikir lebih jauh, ini bukan persoalan person, tapi mungkin sudah masuk dalam ranah sistem sosial. Soalnya, di negeri-negeri maju, sangat jarang ditemukan juru parkir yang otodidak maupun yang professional. Orang-orang yang punya kendaraan dengan sendirinya memarkir kendaraan tanpa ada panduan juru parkir, dan mereka bebas menempatkan kendaraannya di ruang publik, tanpa ada tagihan dari para tukang parkir. Mungkin di sana, sudah sulit ditemukan orang yang mau jadi tukang parkir. Sementara di Makassar atau Indonesia ini, sangat banyak orang yang tidak punya pekerjaan melihat halaman sebuah ruang public menjadi lahan untuk mencari uang. Jadi persoalannya terletak pada peluang pekerjaan dan juga mental para pekerja kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini merupakan tulisan refleks, tapi bukan sebuah refleksi seperti yang biasanya. Toh, bagaimana pun kita tak boleh menyumpah-nyumpahi orang-orang kecil, lantaran dengan begitulah mereka memaknai dan berjuang untuk hidup. Mungkin tingkah itu sebagai eksponen dari kebingungannya menemukan bentuk ideal untuk sekadar mengisi perut dan mengepulkan asap rokok.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setidaknya, kita tahu, bahwa munculnya rasa tidak aman terhadap kendaraan telah membuka sebuah lapangan pekerjaan yang cukup mudah bagi sebagian orang di negeri ini. Toh pemerintah dengan legowo memberikan jatah bagi para tukang parkir untuk memajak para pengguna sepetak tanah di halaman ruang public (warung, kantor, bank, atm).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Walau cuma singgah barang dua menit untuk cek uang di atm.. apalagi kalau uang yang kita tunggu-tunggu itu belum muncul di layar ATM, saat keluar menggas motor tiba-tiba ada sumpritan.. pritt pritt.. bagaimanakah perasaan Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Warkop Mammiri, dini hari&lt;br /&gt;26 September 2011&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-1577441270742998974?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/1577441270742998974/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=1577441270742998974' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/1577441270742998974'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/1577441270742998974'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2011/09/prittt-parkir-boss.html' title='“Prittt, Parkir Boss”'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/--j7RibXaDug/Tn9c14thkVI/AAAAAAAAAX4/ODdU1WSfnyc/s72-c/tukang%2Bparkir.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-3646966784470178877</id><published>2011-09-21T12:26:00.000+08:00</published><updated>2011-09-21T12:27:54.567+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='laboratorium'/><title type='text'>Identifikasi Penyakit Pada Ikan</title><content type='html'>Nama penyakit pada ikan sering dihubungkan dengan gejala-gejala klinis, seperti misalnya, penyakit Enteric Red Mouth (ERM), penyakit bercak-bercak putih, dan penyakit bercak-bercak hitam. Tetapi, gejala-gejala tersebut tidak selalu merupakan tanda khusus penyakit tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-uFdNZ5KWDrI/TnlnJ6BR6aI/AAAAAAAAAXw/CMyJbjiN0PM/s1600/penyakit%2Bpada%2Bikan.jpg" imageanchor="1" style="clear:right; float:right; margin-left:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="194" width="259" src="http://4.bp.blogspot.com/-uFdNZ5KWDrI/TnlnJ6BR6aI/AAAAAAAAAXw/CMyJbjiN0PM/s320/penyakit%2Bpada%2Bikan.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa penyakit yang mempunyai gejala yang sama (eksoftalmia, hemoragik, dan perut kembung), sehingga untuk mendapatkan diagnose yang benar perlu dilakukan pengujian lebih luas. Cara lain untuk member nama penyakit adalah menurut agen penyebab infeksi (penyakit Pike Fry Rhabdo Virus, Vibriosis) atau menurut jenis penyakit patologis (penyakit ginjal benjol-benjol karena penambahan jumlah sel). Apabila nama-nama penyakit diberi nama menurut satu perinsip, maka akan lebih mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip-prinsip  Mendiagnosa&lt;br /&gt;Dalam mendiagnosa suatu penyakit, satu-satunya hal yang perlu dilakukan adalah mengenal adanya satu penyakit khusus atau lebih yang berhubungan dengan ketidaknormalan dan mengidentifikasi penyebab-penyebabnya. Untuk mempermudah pekerjaan ini, maka perlu diikuti suatu urutan tindakan. Urutan pertama dimulai dengan wawancara dengan para petani ikan. Pertanyaan yang penting, berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Masalah apa yang ada? (penyakit ikan)&lt;br /&gt;2. Kapan masalah-masalah tersebut mulai?? (berlangsungnya wabah/kematian)&lt;br /&gt;3. Jenis ikan apa saja yang terserang penyakit? (spesies ikan tertentu terdapat penyakit tertentu)&lt;br /&gt;4. Umur berapa ikan-ikan yang terserang? (ikan muda sering lebih muda terserang penyakit daripada ikan lebih tua)&lt;br /&gt;5. Ikan tersebut berasal dari mana? (apakah ada hubungannya dengan wabah yang melanda ikan dari petani-petani lain?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah kedua adalah penentuan kualitas air, karena ada hubungannya dengan berjangkitnya wabah penyakit. Apakah parameter-parameter kualitas air seperti pH, oksigen, ammonia, nitrit, nitrat, kesadahan total, dan kesadahan karbonat masih dalam batas-batas normal? Setelah mengevaluasi kualitas air, maka ikan harus diperiksa di dalam lingkungannya. Tingkah laku dan konsumsi makanannya diperhatikan dan cobalah menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Apakah terjadi tingkah laku tertentu yang mengacu pada penyakit tertentu?&lt;br /&gt;2. Apakah ikan tidak makan karena sakit? Ataukah ikan sakit karena mereka tidak mau makan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu perlu dilakukan pengambilan contoh dari populasi yang ada. Hal-hal berikut ini perlu diperhatikan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Contoh yang diambil harus mewakili populasi yang diamati. Yang diambil adalah ikan-ikan yang mempunyai gejala-gejala khusus penyakit yang dicurigai. Jangan sekali-sekali mengambil ikan yang sudah mati karena organ-organ ikan yang mati sudah mengalami perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ukuran contoh. Pengawasan terhadap populasi ikan bergantung pada: ukuran populasi, berlangsungnya penyakit pada populasi, dan derajat kemungkinan hilangnya penyakit. Pada kasus terjadinya wabah secara mendadak dengan jumlah ikan yang sakit cukup banyak, maka contoh sebanyak 10-15 ekor sudah cukup. Pada pengawasan, sering diperlukan contoh sebanyak 150 ekor. Ikan-ikan ini jangan dibius dulu dengan obat bius, karena bisa menyebabkan rusaknya parasit-parasit yang ada pada kulit dan insang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan selanjutnya adalah pemeriksaan insang ikan yang masih sadar. Setelah itu, ikan dibius dengan cara menyemprotkan larutan fenoksietanol ke dalam insang dan mulut (jangan dengan cara memandikannya, karena parasit-parasit pada kulit akan terpengaruh). Untuk mencapai insang, operculum harus diangkat. Salah satu lembar insang harus diambil dan diletakkan pada gelas objek dan sedikit aquades. Setelah ditutup dengan coverglass, amati di bawah mikroskop dengan pembesaran 10-40 kali. Ektoparasit dan perubahan-perubahan morfologi bisa diamati. Pengamatan akan lebih jelas jika menggunakan lingkaran fase kontras. Setelah itu, ikan perlu diamati di bawah lensa biokuler. Kedua sisi tubuh ikan dan bagian ventral serta dorsal harus diperiksa. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengawasan adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Aspek luar kulit (warna, perubahan warna menjadi pucat, hemoragik (pendarahan di dalam), luka-luka, dan parasit-parasit).&lt;br /&gt;• Sirip dan ekor (perubahan morfologi, hilangnya warna, hemoragik).&lt;br /&gt;• Sungut (patah, rusak, memendek, hemoragik).&lt;br /&gt;• Bentuk (skolasis, kordosis, kifosis).&lt;br /&gt;• Mata (kekeruhan lensa, hemoragik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika memungkinkan, perlu juga dibuat olesan kulit dan insang. Untuk mengamati adanya parasit, gunakan mikroskop dengan lingkaran fase kontras. Biasanya, selalu ada parasit yang ditemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera setelah pengamatan yang pertama selesai, ikan yang masih hidup tetapi dibius ini, perlu diambil darahnya dan diproses untuk menentukan nilai parameter-parameter darahnya (seperti Hb, Hct, total protein plasma, dan antibody).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ikan dimatikan dengan cara memotongnya. Pemotongan dilakukan melalui syaraf punggung (spinal cord) bagian kepala tepat di belakang otak (pemotongan spinal cord tepat di belakang kepala). Setelah itu dilakukan pengamatan organ-organ dalam dengan cara membedah ikan dan memeriksa organ-organ yang masih terletak di dalam tubuh ikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, ikan diletakkan dengan sisi bagian kanan di bawah. Kecuali untuk lele, karena lele harus diletakkan dengan bagian punggungnya terletak di bawah. Rongga tubuh bisa dibuka dengan menggunakan gunting yang tajam dan runcing. Pemotongan dilakukan melalui dinding perut pada garis tengah. Kadang-kadang, setelah pemotongan dilakukan, terdapat cairan yang keluar dari rongga tubuh ini. Perhatikan bau, warna, kejernihan cairan, dan parasit-parasit yang ada. Cairan dibedakan menjadi dua macam, yaitu: transudat dan eksudat. Jenis pertama: jernih, kadang-kadang agak kuning akibat proses noninfeksi. Sedangkan jenis kedua: warnanya gelap, keruh, dan sering berbau akibat proses infeksi, terutama pembengkakan (inflamasi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membuka tubuh ikan, semua organ diperiksa untuk melihat tanda-tanda peradangan (hemorhagik, pembengkakan, pembengkakan pembuluh darah), pertumbuhan jumlah sel yang berlebihan (tumor), degenerasi (intoksikasi, defisiensi) dan pembentukan yang salah (traumata, pembengkakan anomatik). Potongan-potongan organ bisa diawetkan untuk dipakai dalam pengamatan histology. Selain itu, bisa dibuat apusan preparat segar untuk mencari adanya parasit. Di akhir pemeriksaan, dilakukan pemeriksaan pada untuk mencari parasit (karena ikan bisa merupakan inang perantara). Untuk suatu penyakit tertentu, digunakan cara pengamatan tertentu pula; misalnya untuk menentukan spora dari Myxosoma cerebralis pada tulang kepala ikan-ikan trout. Untuk memantapkan diagnose atau untuk membantu diagnose bisa digunakan cara mikrobiologis. Setiap cara mempunyai kebutuhan sampel, cara untuk menyimpan, dan cara pengirimannya ke laboratorium sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Prinsip-Prinsip Budidaya ikan&lt;br /&gt;(N. Zonneveld, E.A. Huisman, J.H Boon)&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-3646966784470178877?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/3646966784470178877/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=3646966784470178877' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/3646966784470178877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/3646966784470178877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2011/09/identifikasi-penyakit-pada-ikan.html' title='Identifikasi Penyakit Pada Ikan'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-uFdNZ5KWDrI/TnlnJ6BR6aI/AAAAAAAAAXw/CMyJbjiN0PM/s72-c/penyakit%2Bpada%2Bikan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-36196711674529392</id><published>2011-09-18T04:15:00.001+08:00</published><updated>2011-09-20T19:30:35.449+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kepiting'/><title type='text'>Sekilas Perawatan Kepiting Bakau Sistem Indoor</title><content type='html'>Pemeliharaan atau pembesaran kepiting bakau yang kita kenal pada umumnya dilaksanakan dalam tambak. Pada arus pasang surut dengan menggunakan kotak kepiting (crab box) untuk kepiting lunak atau sistem penebaran di dasar tambak untuk metode yang lebih sederhana. Tapi bagaimana jadinya dengan pemeliharaan sementara kepiting hidup untuk pengiriman keluar negeri? Merawat kepiting dalam kotak fiber, aerasi khusus, kolam perendaman, dan metode packingnya yang dilaksanakan dalam gudang di pinggir-pinggir kota besar seperti Jakarta ini.?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu bisa dilakukan dengan mengetahui perinsip-perinsip dasar budidaya, karakteristik hewan budidaya, beserta ekologinya. Dimana pun tempatnya, jika kita dapat menyesuaikan dengan kondisi di habitat aslinya, sehingga kepiting merasa betah dan rajin makan dan mengikuti alur waktu, kita pun bisa mengirimnya kapan saja kita mau. Tentu dengan pertimbangan kuat terhadap harga pasar di luar negeri, atau dengan pertimbangan peningkatan bobot tubuh kepiting yang tadinya daging kurang menjadi daging penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip dasar itu seperti kualitas air, tercakup di dalamnya suhu, salinitas, pH, oksigen terlarut, dan amoniak. Prinsip dasar yang berikutnya adalah pola hidup kepiting, seperti kebiasaannya dalam air, metode adaptasi terhadap udara dan air yang baru, sensitifitasnya pada warna dan cahaya, kebiasaannya menyembunyikan diri dan hidup soliter, yang berkaitan dengan kepadatan pada tiap keranjang, box dan fiber, metode ikat yang tepat, pembuatan kotak khusus yang gelap, atau pemberian tirai hitam pada kamar-kamar fiber tersebut. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir tingkat stress kepiting. Jika hal ini sudah terpenuhi, masuk ke tahap berikutnya, yaitu adaptasi terhadap pakan. Sehingga ia dapat bertahan hidup lebih dari seminggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi yang pertama harus dipahami adalah bagaimana tingkat stress kepiting dapat berkurang setelah berada di dalam lokasi perawatan. Kepiting datang dari beragam daerah di Indonesia, dari Tarakan, Pontianak, Batu Licin Banjarmasin, Palangkaraya, Medan, Palembang, hingga Surabaya. Datangnya pun silih berganti, sangat tergantung dengan kondisi musim di lokasi setempat. Kadang melimpah dan kadang kurang stok. Para pengirim senang melakukan kegiatan pengiriman, karena harga kepiting di lingkar Jakarta untuk kepiting eksport cukup tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepiting-kepiting ini memiliki karakteristik, jenis, dan kebiasaan hidup yang berbeda. Begitu pula pola penanganan yang dilakukan oleh para pengumpul di sana, yang belum diketahui seluk beluk kepitingnya, seperti sudah berapa lama ditampung, bagaimana perawatan sementaranya di sana? Kepiting-kepiting ini pun datang ke gudang pusat di Jakarta dengan model packing dan ikatan yang berbeda-beda. Ada yang ikatannya rapi dan hanya mengikat capitnya saja, dan ada yang mengikat kaki-kaki jalannya juga dengan bahan tali rapiah, tali keras, dan ada serbuk pelepah pisang. kepiting yang juga diikat kaki-kaki jalannya ini yang merepotkan, karena harus dibuka lagi dan diikat ulang. Sehingga menambah beban kerja para pekerja dalam gudang. Kalau sudah seperti ini, kepiting diinjak-injak lagi, capitnya pun dapat terluka pada saat pengikatan ulang, sehingga menambah tingkat stress kepiting. Selain itu, jika kepiting terluka, maka dengan cepat keluar cairan pada lukanya itu, sehingga terjadi penurunan bobot tubuh. Jika bobot tubuh (cairan) berkurang 3-4 persen, dapat terjadi kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sortir&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Boks kepiting dari daerah masuk ke dalam gudang, ada yang diikat ulang seperti yang di atas dan ada yang langsung disortir untuk menentukan klasifikasi berdasarkan berat, standar kualitas, seperti daging penuh, capit lengkap, dan segar. Kepiting yang daging kurang atau kosong dipisahkan tersendiri. Sementara kepiting mati tidak masuk hitungan atau menjadi beban pengirim. Berat kepiting dibagi dua, ada yang masuk kategori 20 atau 200 gram ke atas dan ada yang rata-rata 170 gram, dibawah 170 g tidak masuk kategori. Kepiting penuh diseleksi dengan memencet abdomennya menggunakan jempol jari, kalau lembek berarti dagingnya kurang. Saat memencet dilakukan tidak boleh terlalu keras, karena dapat membuat kepiting kesakitan. Sebaiknya memencet pada ujung bawah, bukan tepat ditengah abdomen (perut kepiting).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada gudang ini tidak memperhatikan warna abdomen yang kadang diselimuti warna kemerahan. Standarnya hanya berisi penuh, capit lengkap atau hampir lengkap, dan lincah. Mestinya, kepiting pada saat datang, didiamkan dulu dengan boks terbuka. Agar kepitingnya tenang sebelum pelaksanaan proses sortir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepiting yang sudah dipisahkan ditimbang ulang dalam keranjang, berat optimalnya adalah 5 kg per keranjang. Ini dilakukan untuk mengurangi kepadatan tinggi yang menyebabkan kepiting yang letaknya di tengah kesulitan bernafas. Selain itu, jika kepiting padat, kaki jalan kepiting bisa terjepit-jepit dan pada akhirnya luka. Saya sudah mencobanya sendiri sebanyak tiga kali, dengan perbandingan masing-masing antara 5 kg dua keranjang dan 8 kg satu keranjang. Persentase kematian tertinggi ada pada 8 kg, yakni 20% dalam dua hari penyimpanan dengan pemandian satu kali sehari. Sementara keranjang yang beratnya 4 kg, hanya 5 persen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kolam Aklimatisasi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, kepiting dalam keranjang didiamkan sejenak, barang 30 menit sembari menunggu air dalam kolam perendaman penuh dan kandungan oksigen cukup untuk diaerasi dengan air cipratan-cipratan air dari sumbu-sumbu pipa. Air pun tampak segar sesegar air terjun. Kandungan oksigen melimpah, sekitar 7-8 mg/liter. Kandungan DO sebelumnya hanya 4-5 mg/liter. Parameter yang lainnya diusahakan stabil, untuk salinitas sekitar 17-22 ppt, Jika salinitas dibawah 15 ppt akan menyebabkan kepiting kaget dan mengalami gangguan osmoregulasi. Jika kadar garamnya terlalu rendah dapat membuat kondisi kepiting melemah, warna tubuh pucat dan mudah terserang penyakit. Sementara jika terlalu tinggi, pertumbuhannya akan terhambat, karena kepiting harus berupaya menyeimbangkan antara cairan dalam tubuh dengan cairan di luar tubuhnya, (Amri, 2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suhu kamar dalam air bak perendaman itu sekitar 28-29oC. Ini terbilang normal, karena tidak tinggi dan tidak juga rendah. Jika suhu di bawah 25 0C, daya cerna kepiting terganggu atau menurun intensitasnya. Sebagian energi dalam tubuh digunakan untuk adaptasi perubahan suhu atau untuk memanaskan tubuh. Sementara jika terlalu tinggi, yaitu di atas 30 0C, kepiting akan mengalami stress karena kemampuan untuk menghirup oksigen mengeluarkan energi tinggi. pH pada kolam ini rata-ratanya berkisar pada 8-8,2, cukup basah. Kondisi pH ini masih terbilang normal, karena tidak dibarengi peningkatan suhu di atas 30 0C, jika pH basah dan suhu tinggi, dapat menyegerakan terbentuknya amoniak dalam kolam perendaman, yang walau cukup singkat direndam dapat sebagai sebab awal keracunan kepiting. &lt;br /&gt;Perendaman ini dilakukan paling lambat 30 menit, hingga kepiting-kepiting malang itu puas minum. Setelah itu, ditiriskan sebentar barang 30 menit lalu dimasukkan ke dalam fiber perawatan. Jika terlalu lama dibiarkan diterlantar tanpa ada perawatan khusus, dapat menyebabkan kepiting kembali stress, daya tahan tubuh melemah dan mati lemas. Tapi jika kepiting sangat banyak dan media perawatan sudah penuh terisi, kita bisa meniriskannya saja dalam kondisi gelap dengan kepadatan 4-5 kg/keranjang sebelum dipecking esok harinya.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bak Fiber&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Bak fiber ini berfungsi sebagai media hidup kepiting dari daerah untuk sementara, atau boleh dikata masuk dalam penampungan. Kepiting ditampung, dimasukkan dalam media fiber. Ketinggian air diatur pada penutup pipa yang terletak di pangkal fiber. Sebaiknya air agak tinggi. Jumlah kepiting rata-rata perfiber sekitar 100 ekor. Sementara untuk mengurangi stress, pada sisi-sisi fiber dilapisi kain hitam agar kepiting dapat puas beristirahat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadi perhatian penuh pada media penampungan ini adalah kualitas airnya. Air ini pun diputar dengan sistem tertutup melalui bak tandon (penampungan air), masuk ke pipa fiber, dari fiber-fiber ini air di saring ke bak filter yang berlapis-lapis. Mulai dari lapisan pertama berupa kain kain keset berlapis-lapis, lapisan kedua terdapat karang dan bola penangkap bakteri, lalu dikirim lagi ke kolam untuk mengeluarkan amoniak menggunakan scimmer. Semakin banyak batu karang di tandon akan semakin bagus, karena karang akan menetralisir kandungan-kandungan beracun pada air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal penting lain yang harus diperhatikan dalam perawatan kepiting adalah pakannya. Untuk sementara pakan yang digunakan adalah ikan rucah segar yang harga pasarnya terjangkau. Kepiting dapat hidup tanpa pemberian pakan berkisar 6-7 hari saja, setelah itu kepiting akan mati lemas. Dengan begitu, setelah sehari pemeliharaan, kepiting mesti mendapat asupan pakan agar kondisi tubuhnya kembali stabil. Ikatan kepiting pun tidak perlu dilepas, karena kepiting mampu memasukkan pakan ke dalam mulut menggunakan kaki-kaki jalannya. Untuk menghemat pakan, pemberian pakan dapat dilakukan sebanyak satu kali dalam dua hari.. pakan pagi hari yang tidak termakan hingga sore hari, dibiarkan saja hingga pagi hari berikutnya, karena biasanya kepiting yang tidak mau makan pada siang harinya akan makan walau sedikit pada malam harinya. Sisa pakan pada pagi hari harus dibuang..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memperbaiki suhu kepiting dalam fiber, dapat dilakukan dengan menutup akrilik dengan karung goni agar suhu air tidak terlalu panas..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Packing&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kepiting dari bak pentirisan di rendam kembali barang 30 menit lalu ditiriskan di ruang tempat packing. Sementara kepiting dalam fiber dikeluarkan ke ruang itu juga. Kepiting ditiriskan hingga sudah tak terlihat basah lagi, biasanya sekitar 1.5 jam. Pada saat menunggu itu telah dipersiapkan boks stryofoamnya, yang telah dilubang-lubangi sisi-sisinya dengan besi panas. Lalu ditaburi kopi dan pemberian alas berupa koran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepiting dimasukkan satu persatu dalam styrofoam dengan posisi kepala menghadap ke atas, disusun berderet tanpa menyisakan ruang kosong hingga ke penuh. Tapi tetap terdapat aliran udara pada pertemuan antar kepiting pada bagian samping. Kepiting pun dirapatkan dengan penutup lalu dilapbam hingga erat. Setelah itu, kepiting siap diantar ke bandara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;/b&gt; Untuk memperbaiki kualitas perawatan kepiting tak lain sangat bergantung pada kualitas sumberdaya manusianya.. terimakasih..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idham Malik&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-36196711674529392?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/36196711674529392/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=36196711674529392' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/36196711674529392'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/36196711674529392'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2011/09/sekilas-perawatan-kepiting-bakau-sistem.html' title='Sekilas Perawatan Kepiting Bakau Sistem Indoor'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-6142995538932390105</id><published>2011-09-17T03:35:00.000+08:00</published><updated>2011-09-17T03:35:43.805+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dari Idham Malik'/><title type='text'>Gerak Cinta Gunawan, Dari ‘Manu-manu’ hingga Mappetuada’</title><content type='html'>Terik siang itu menemani langkahku menuju Duren Tiga, halte pemberhentian menuju Kosan Mr Gunawan M, Saudara Tua seperguruan di identitas Unhas. Pada Sabtu 2 April itu, adalah hari terakhir buat persiapan menjelang acara lamaran atau Mappetuada ke Cempaka Putih, kediaman Aci, calon mempelai perempuan yang selama ini menjadi kekasih setia Bang Gun. Kekasih yang menemaninya sejak 2008 silam, dengan segala lembah gunung perjalanan cinta hingga tiba di gerbang perkawinan yang waktunya tak lama lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Siang itu, Kak Gun sudah bersama dua saudaranya yang sengaja dikirim langsung dari Makassar untuk diperkenalkan pada acara lamaran itu. Namanya Eni yang perempuan dan Emi (laki-laki) yang paling bungsu. Di kamar 22 itu kami berkelabat kata tentang apa saja, baik itu tentang lagu, lirik, hingga karya sastra. Perbincangan yang tak asing bergaung di kamar lantai dua ini. Dalam kemeriahan yang diselingi ketawa-ketiwi itu, sesekali kak Gun tampak gelisah. Gelisah terhadap kelangsungan nasibnya pernikahannya yang tinggal menghitung hari.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pernikahan Bugis mesti dilaluinya untuk mempererat tali persaudaraan antar keluarga kedua mempelai. Tradisi pernikahan dengan melibatkan rentetan tradisi dan interaksi antar anggota keluarga besar masih dianggap sakral dan tentu mengandung nilai dan pengetahuan. Nilai inilah yang hendak dipertahankan, ditengah kecamuk modernitas yang tak jelas arahnya. Setidaknya, dari ritual-ritual ribet ini dapat menjadi ajang silaturahmi antar keluarga, sehingga dapat saling memahami satu sama lainnya. Dengan begitu, tak ada lagi prasangka setelahnya, tak ada lagi tipu muslihat, karena dalam rangkaian ritual itu semua sudah diperlihatkan, sejak dari bibitnya, bobotnya dan bebetnya.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dengan segala ketenangannya itu kak Gun menjalani fase kehidupan ini, dengan mengorbankan sesuatu yang lebih bersifat material, tenaga, pikiran, dan juga melibatkan sekian banyak kenalan. Tapi cinta pada materi itu terkalahkan terhadap cinta pada yang berdegup, pada yang tersenyum dan menyenangkan hati. Jadi, cinta mengalahkan cinta, cinta ini lah mungkin kelak akan melahirkan pundi-pundi baru yang tak bernyawa itu. Di sini, saya tidak memandang duit digunakan untuk membeli gadis dari orang tuanya, tapi kebalikannya, duit telah kalah terhadap energi kebersamaan dan kenangan itu.. kenangan selalu menjadi tema perbincangan besar saya dengan kak Gun, bahwa yang menjadi basis kehidupan kita adalah kenangan.. apaguna hidup tanpa kenangan... Dan kenangan akan berbunga indah jika bersama kekasih kita tentunya.. hehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pada Sabtu malam itu, saya dan Kak Gun bergerak ke rumah Najwah Abdullah, adik Husein Abdullah untuk bertemu dengan Prof Faisal Abdullah, staff ahli kementrian olahraga yang menjadi wali utama Kak Gun untuk berhadapan dengan orang tua dan keluarga besar Aci. Sebentar saja kami di rumah yang mewah itu, untuk segera bertandang ke Cempaka Putih, kediaman Aci, untuk melanjutkan ritual ‘Manu-manu’. Ritual ini merupakan rangkaian persiapan lamaran atau mappetuada, dimana pelamar dan walinya mendiskusikan dengan alot tentang proses lamaran nanti, serta tetak bengek perlakuannya. Pada sesi ini pun akan terlihat kekuatan keluarga pelamar untuk mempengaruhi keputusan keluarga yang ingin dilamar. Intinya, manu-manu ini untuk lebih meyakinkan keluarga besar mempelai masing-masing, bahwa mereka tidak salah pilih menantu, bahwa menantunya ini juga setara atau melebihi kadar nilai keluarganya. Begitulah tafsiran sederhana saya, yang juga orang bugis namun tak terlalu mengerti bugis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kami menyusuri lorong-lorong sempit nan ramai, kendaraan berkumpul dan macet. Dalam keriuhan itu, Prof Faisal mengangguk-angguk tenang, “besok kita undang Andi Puang Baukuneng, anak dari A. Bau Massepe’ pahlawan bugis asal Sidrap. Orang tua ini pernah menjadi penasehat spiritual Presiden Habibie dan Wakil Presiden Jusuf Kalla dulu..,” ungkapnya. Saya duduk di belakang dan menjadi pendengar saja, tapi saya yakin akan banyak hal menghebohkan akan terjadi besok.. hehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Keluar dari gang-gang itu, mobil langsung memutar masuk ke jalan cempaka putih tengah. Akhirnya tiba di depan rumah Aci yang sudah tampak ramai oleh kedatangan keluarganya dari Sidrap, Sulawesi Selatan. Kursi-kursi plastik telah berjejer rapi di halaman rumah, bapak-bapak dan pemuda-pemuda tampak duduk santai, merokok dan menikmati hidangan kue di atas meja plastik. Di depan saya terlihat juga anak-anak kecil keluar masuk rumah main kejar-kejaran. Orang-orang ini adalah sepupu-sepupu dan paman Aci. Saya pikir, tradisi ini juga menjadi momentum penting untuk merekatkan tali persaudaraan dalam keluarga besar itu. Kalau tak salah, sekitar 30 keluarganya datang, mulai dari nenek, paman, tante, sepupu, dan mungkin keponakan-keponakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya duduk di ujung kursi, sembari menunggu kunjungan manu-manu itu usai. Prof Paisal dan Kak Gun sudah duduk beralas karpet di ruang tamu, menghadapi orang tua Aci beserta paman-pamannya. Mereka lagi membincangkan konsep acara besok. Saya melihat raut wajah paman-paman itu, datang satu persatu masuk dalam ruang tamu. Terlihat begitu tegang, leher meninggi, dan mata tajam. Seorang paman terlihat menerawang ke pepohonan sebelum masuk ke ruang itu. Tampaknya, perbincangan malam ini akan menjadi keputusan final terhadap belitan konsep acara lamaran dan perkawinannya kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Beruntung, Kak Gun mendapatkan wali yang tepat, yakni Prof Faisal, dosen hukum ini cukup lihai dalam memainkan situasi dan perdebatan. Kondisi psikologis keluarga calon kak gun dengan mudah ia kuasai. Maklum, beliau adalah guru besar bidang hukum yang memang keahliannya dalam bidang debat kata-kata. Orang bugis itu harus dibesarkan dengan kemegahan, serta deretan orang-orang berpengaruh, karena disitulah letak harga dirinya. Apalagi keluarga Aci ini merupakan keluarga besar di Sidrap, saudara-saudara bapak dan ibunya banyak menjadi pejabat pemerintahan di daerah itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Sehingga, waktu dalam negosiasi malam itu, langsung saja ia mengatakan bahwa pihak GM ingin mendatangkan A. Baukuneng. Ayah Aci senang mendengar nama besar itu, wajahnya sontak cerah lantaran rumahnya akan kedatangan guru orang Bugis tersebut. Bagaimana tidak, Habibie dan Pak JK saja cium tangan sama sosok ini. Masih dalam kondisi terkesima, beliau kembali menceritakan kepada saudara-saudaranya tentang sosok A. Baukuneng ini. Setelah penyebutan nama itu, suasana pun menjadi cair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pagi hari, suasana di kamar 22 boleh dibilang santai. Kami masih berleha-leha hingga pukul 10.00, dimana semua anggota sudah bersih-bersih tubuh. Saya pun memanggil taksi untuk berangkat ke rumah Prof Paisal yang terletak di Kompleks Bendungan Hilir (Benhil). kami berpenampilan rapi, Kak Gun menggunakan kemeja lengan pendek berwarna putih dan dibalut jas hitam, Eni mengenakan kebaya kuning dengan riasan wajah yang mentereng, sementara Emi berbusana batik cokelat, dan saya sendiri menggunakan kemeja lengan panjang hitam bergaris-garis putih. Kami pun melaju ke Benhil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pukul 12.30, kami tiba di Benhil dan disambut hangat oleh Prof Faisal dan istri dan anaknya. Kami menunggu hingga pukul 15.00, dimana semua undangan mulai datang dan berkumpul di halaman. Pada waktu itu, beragam elemen turut mendukung kak Gun, mulai dari keluarga besar Prof Paisal, adiknya Najwah Abdullah dan suaminya, Najwah dikenal sebagai mantan juara III putri Indonesia yang saat itu juara I-nya direbut oleh Aliah Rohali, dan tante-tantenya. Bu Najwah waktu itu terlihat sangat anggun, mengenakan busana serba merah. Prof Paisal juga mengajak kolega-koleganya yang ada di Jakarta seperti seorang anggota DPR, dan beberapa tokoh penting yang tidak saya ketahui jabatannya. Diundang pula seorang habib dengan busana kebesarannya, beliau pun membawa rombongan penabuh rebana yang siap menghibur tuan rumah dengan lagu-lagu islami. Di samping itu, tidak ketinggalan teman-teman Kak Gun sendiri, yang terdiri dari para wartawan detik dan teman-teman angkatan di kampus Unhas dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Menjelang pemberangkatan, suasana riuh oleh bunyi gendang melagukan lirik salawat nabi. Para tamu sudah siap-siap berangkat, mobil yang disediakan sebanyak tujuh buah, dan semuanya terisi penuh.. saat itu saya menggandeng paket buah-buahan, dan naik di mobil milik Menpora bersama santri rebana sarungan itu. Mobil yang saya tumpangi berada pada urutan paling belakang, mobil-mobil ini melaju beriringan dengan kecepatan 80 km/jam. Kendaraan-kendaraan ini bebas melaju kencang lantaran di depannya sudah dikawal dua anggota Polisi lalu lintas mengenakan motor, yang memandu jalan kami agar tidak terkena macet. Pokoknya mirip dengan iringan kendaraan pejabat negara saat kunjungan dinas, padahal ini adalah rombongan para pengantar lamaran, belum pi pernikahannya. Sampai-sampai pak Polisi itu menghadang jalan Sudirman untuk membiarkan rombongan mobil kami melintasi jalan. Ini merupakan peristiwa luar biasa, karena sangat jarang pak Polisi menghadang jalur Sudirman, karena Jalur ini bukan untuk di tahan-tahan. Untung saat itu tak ada pengemudi yang protes.. hehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tiba di Cempaka Putih, pasukan Rebana siap di sisi pagar masuk dengan menggemuruh gendang dan menyanyikan lagu.. suasana pun menjadi riuh, senyum-senyum tampak berkembang.. debar tegang terbang hinggap di awan-awan. Yah.. suasana menjadi cair.. kami masuk satu persatu, buah-buahan itu saya letakkan ditengah hidangan kue-kue bugis. Saya pun menyingkir hingga ke sudut, duduk di dekat penabuh rebana. Di dalam rumah, saat semua tamu sudah duduk, rebana kembali ditabuh.. rumah pun terasa bergetar, gendang memaksa orang terdiam dari kesibukan pikirannya. Setelah itu, acara pun dimulai dengan pembukaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Perwakilan dari pihak keluarga Aci berdiri dan membuka acara, bersopan-santun terhadap para tamu, memperkenalkan pihak keluarga perempuan mulai dari ayah, ibu dan paman-pamannya. Paman-paman Aci pun berdiri satu persatu, dengan senyum yang masih tampak tertahan. Dan tibalah giliran pihak Kak Gun menunjuk perwakilannya. Yang dipanggil adalah Puang Baukuneng. Tapi yang sigap berdiri adalah Prof Paisal, sontak mengambil mikeropon, “Puang Baukuneng lagi serak, jadi saya ditugaskan untuk mewakili beliau. Keluarga Gunawan Mashar sangat senang dengan acara ini, namun orangtua beliau tidak sempat hadir, karena alasan kesehatan. Saya merasa ingin menangis melihat acara yang sukses ini. Gunawan mengajak dua adiknya ke sini, yaitu Muhaimin, yang karena tergesa-gesa belum sempat ke salon (rambut Emi berdiri dan keriting/hadirin sontak tertawa), dan seorang lagi bernama Eni. Kami-kami ini mewakili keluarga utama Gunawan karena hubungan kami yang sudah sangat dekat,” ucap Prof Paisal. Iya pun menunjuk anggota rombongan yang hadir, seperti anggota DPR, dan pejabat-pejabat penting lainnya. Setelah itu, kedua belah pihak merundingkan kesepakatan akhir dan menandatanginya bersama. Akhirnya keputusan final telah ditentukan, tinggal menunggu waktu untuk agenda berikutnya, yaitu akad nikah beserta pestanya yang akan diselenggarakan di Makassar, 2 -3 Juli nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa ini seperti direstui oleh Tuhan. Rombongan yang diajak Prof Paisal kebanyakan adalah keluarganya yang berketurunan arab-Pare-Pare. Pada deretan ibu-ibu itu, nampak sekali wajah-wajah arab mereka, sementara keluarga Besar Aci juga mempunyai keturunan Arab, lihat saja wajah kekasih Gunawan ini yang terlihat betul hidung arabnya. Sehingga, keluarga sementara ini seperti saling nyambung dan sengaja dicocok-cocokkan. Hadir pula Eni/adik Gunawan yang duduk dekat dengan Puang Baukuneng, dari jauh, ia tampak seperti gadis arab juga.. jadi, secara psikologis, ini barangkali juga menimbulkan kebanggaan di pihak tuan rumah. Entahlah.. saya kan cuma tebak-tebak saja.. hehe&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt; Acara bergeser ke santap penganan, saya mencicipi dua buah barongko, senang dapat menikmati kue ini di kota Jakarta.. dan senang melihat segala kekhawatiran akan pernikahan bugis akhirnya usai diujung lidah yang berasa manis barongko ini. Satu tahapan telah kak Gun lewati dengan legowo, jika tak demikian, jangan salah kalau nanti ia masuk rumahsakit lantaran stress memikirkan semua ini. Lantas, sudah jalannya seperti ini, maka jalani sajalah. Masalah itu harus dirambah dan dituntaskan, biarlah yang sudah-sudah berakhir dengan manis, seperti rasa barongko ini.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;   Walaupun keluarga Kak Gun tak besar, tapi ia mempunyai jaringan terhadap orang-orang besar, yang serta merta rela hadir untuk menyemangatinya. Jadi, tak rugi kalau kita punya banyak teman. Teman adalah harta yang tak ternilai.. begitulah kesimpulan saya.. tapi, hati-hati juga kalau berteman, karena banyak teman makan teman.. hehehe.. bravo kak Gun..!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idham Malik, PK. identitas Biro Jakarta&lt;br /&gt;Kapuk, 6 April 2011, setelah diedit&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-6142995538932390105?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/6142995538932390105/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=6142995538932390105' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/6142995538932390105'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/6142995538932390105'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2011/09/gerak-cinta-gunawan-dari-manu-manu.html' title='Gerak Cinta Gunawan, Dari ‘Manu-manu’ hingga Mappetuada’'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-2528804574941601679</id><published>2011-09-13T21:39:00.001+08:00</published><updated>2011-09-15T23:08:39.647+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kepiting'/><title type='text'>9/11 di Perairan Pulau Sanrobengi</title><content type='html'>Ahad pagi, ada agenda penting yang tak boleh saya lewatkan waktu itu, agenda yang dapat membantu saya memahami problem kepiting dan permasalahan di tingkat awalnya, yaitu tentang upaya regenerasi kepiting dengan bantuan teknologi buatan manusia. Persoalan ini tentu sudah menjadi agenda pikiran saya sejak awal mengenal dunia perkepitingan, tentang bagaimana membenihkan kepiting secara mandiri dengan teknik yang sederhana, sehingga kita atau petani tidak lagi terlalu bergantung pada bibit dari alam untuk membesarkan kepiting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, pukul 7 pagi saya memaksakan diri berangkat menuju balai kartini, rumah dinas rector unhas untuk sama-sama menuju lokasi backyard di Desa Aeng Batu-Batu, Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar. Sesampai di backyard, atau lokasi pembenihan kepiting rajungan yang merupakan bekas backyard udang, mata terkesiap oleh situasi perikanan yang begitu saya rindukan, ketemu dosen-dosen, dan junior-junior perikanan, serta peralatan dan perlengkapan teknis pembenihan rajungan. Saya betul-betul tak menyangka bahwa untuk bisa membenihkan rajungan ternyata tidak susah-susah amat, yang kita butuhkan adalah ketekunan untuk mengamati fase pertumbuhan rajungan beserta kondisi yang mendukung fase tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di backyard itu, telah hadir rector Unhas, Prof Idrus Paturusi beserta jajarannya di Unhas, seperti PR I, dekan FIKP, dosen-dosen jurusan perikanan, utusan Oxfam, Aciar, mahasiswa jepang, jajaran dinas perikanan, camat galesong dan bupati takalar.. prof idrus cukup antusias melihat perkembangan teknologi dibidang pembenihan kepiting ini, mungkin ia melihat prospek dan jangka panjang peranan universitas untuk pelestarian sumberdaya hayati kepiting bisa berkelanjutan. Tentu, sebagai alumni kepiting dibawah bimbingan Prof Yushinta FUjaya, saya turut bangga, karena dosen saya ini bisa menemukan banyak hal-hal penting di dunia perkepitingan, seperti teknologi kepiting lunak, dan sekarang berupa teknologi pembenihan kepiting rajungan dengan fasilitas backyard sederhana..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah puas berdialog di backyard, rombongan bergerak ke dermaga baddia untuk menyeberang ke perairan sekitar pulau Sanrobenge.. rombongan yang berjumlah sekitar 50 orang itu menumpangi beberapa perahu, dimana rector menaiki perahu yang porsinya penumpangnya lebih sedikit, atau biasa disebut jolloro bercadik. Setiba di perairan dekat pulau Sanrobenge, rector mulai melakukan operasi penebaran benih rajungan yang saat itu disiapkan berjumlah sekitar 100 ribu ekor.. benih rajungan itu sudah berumur 36 hari dan berukuran crab, atau bayi rajungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, tiba-tiba perahu yang ditumpangi rector oleng dan akhirnya terbalik. Rector bersama lima orang yang ada di atas perahu pun basah kuyup, yaitu Prof Yushinta, Prof Niartiningsih, Dr Dody, nakhoda dan seorang wartawan Celebes. Dalam insiden itu, hp mereka pun jadi korban nonaktif, dan yang paling sayang ketika melihat kamera wartawan tersebut terendam air. Setelah insiden itu, rombongan dari unhas akhirnya bubar dan kembali ke Makassar, sehingga tidak sempat mengikuti acara berikutnya yaitu silaturahmi dengan petani kepiting, masyarakat pesisir, pengusaha backyard dan para peneliti dari Unhas. Meski begitu, acara silaturahmi dan penyuluhan pembenihan rajungan di media backyard tetap berlangsung lancar, dan saya sebagai peserta yang juga mengalami kerusakan hp terendam di air laut sempat makan kepiting lunak lagi.. ma’yuss..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-2528804574941601679?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/2528804574941601679/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=2528804574941601679' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/2528804574941601679'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/2528804574941601679'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2011/09/911-di-perairan-pulau-sanrobengi.html' title='9/11 di Perairan Pulau Sanrobengi'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-6593604986181344939</id><published>2011-09-08T23:51:00.000+08:00</published><updated>2011-09-09T00:46:48.438+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pribadi'/><title type='text'>Professor Tua</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-IdOXNy58ulA/TmjkWqnb46I/AAAAAAAAAXg/eEdbtMK19FY/s1600/profesor.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="228" width="221" src="http://4.bp.blogspot.com/-IdOXNy58ulA/TmjkWqnb46I/AAAAAAAAAXg/eEdbtMK19FY/s320/profesor.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Malam itu ia belum juga tidur. Hamid yang biasa disapa Prof Hamid masih saja duduk di bangku kerjanya, melihat-lihat informasi terbaru tentang jaringan darah ikan, bosan dengan itu ia melanjutkan membaca koran pagi. Sebentar-sebentar ia membuka catatan presentasi kuliahnya untuk besok. Pikirannya sibuk, padahal tubuhnya sudah lemas, pangkal kakinya kedinginan, ia menyelimutinya dengan kaos kaki berbahan woll. Matanya lelah, ia berdiri membungkuk pelan hingga tegak lalu menuju jendela. Dilihatnya bulan yang indah, awan kelabu bersayap di sisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Insomnia sudah hampir setahun menggerogoti malam-malamnya. Ia membuka jendela, menyalakan cerutu. Angin dingin masuk dari cela daun jendela, ia membiarkan. ”Saya sudah tua dan harus lekas mati”. Berhadapan dengan bulan, ia meringis, ”ouuhhh... ”, lututnya ngilu, syaraf-syaraf kaki kiri beraksi. Rematik juga setia menemani hari tuanya. Umur hamid sudah 70 tahun, dan masih aktif mengajar di Fakultas Hewan Laut Universitas Kota Matahari. Ia memimpin sebuah laboratorium bergengsi dan disegani, yaitu Lab. Fisiologi Hewan Laut. Dua bulan lalu, ia dinobatkan oleh pimpinan kampus sebagai Profesor emeritus, gelar kehormatan tertinggi di dunia akademik. Bukan sekadar profesor, tapi profesornya profesor. Sehingga, hamid-lah satu-satunya raja akademik di kampus itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Namun, tubuhnya sudah ringkih, sejarah juga hadir tiap detik, dan dunia berubah. Banyak hal yang tidak diinginkan oleh Hamid terjadi di fakultasnya. Mahasiswanya makin lama makin dongkol,  diantara sekian banyak mahasiswa, cuma seberapa yang berminat terhadap bidang kajian analitik (tema kesukaan Hamid), padahal menurutnya, kajian ini adalah core, yang menjadi basis terdepan terhadap perkembangan teknologi atau pun pengetahuan terhadap biologi hewan laut. Hal yang paling dirisaukan Hamid yaitu kurangnya penelitian bermutu yang dihasilkan mahasiswa. Dosen pun begitu, mereka lebih sibuk berebut proyek pemerintah sampai-sampai berselisih dan saling benci satu sama lain.  Membayangkan hal itu membuatnya marah, dan mendengus-dengus.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Anak muda sekarang tidak disiplin!!” pikirnya. Begitu jarang diantara mereka yang menonjol, kebanyakan hanya turut nimbrung meramaikan aktivitas akademik saja, belajar sana-sini, menghapal dan merapal kian kemari namun tak menghasilkan apa-apa. Otak mereka hanya sebagai spon penyerap informasi, namun tidak tahu mau dibuat apa informasi itu.. barangkali untuk lulus ujian saja, setelah itu mendaftar sana sini, menyogok sana sini, lalu berleyeh-leyeh lagi. Tak ada perbincangan menarik, tak ada rangsangan, tak cantik, tak ada perkembangan ilmu pengetahuan, yang ada adalah pengulangan, kebosanan.. Hamid bosan dengan ini semua..&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setiap ia melihat anak muda yang berleha-leha di pelataran, bercengkrama entah apa (kemungkinan besar bukan tentang ilmu hewan laut) tanpa satu pun diantara mereka yang memegang buku, ada perasaan sedih di hatinya.  Ingin rasanya ia menegur, mendengarkan apa yang dibicarakan lalu membongkar cara berfikir mereka yang pendek, tapi.. ia sudah terlalu tua. Dan mungkin menjadi bahan tertawaan anak-anak muda itu. Hamid pun membiarkan saja.. hemm.. kini ia ingat bahwa matanya sudah perih dan berat, dan rematiknya yang kian menjadi-jadi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Profesor itu melangkah-langkah pelan di atas lantai papan, tangannya melipat di dada, bolak-balik tanpa juntrungan. Ia memikirkan banyak hal. Insomnia telah memaksanya selalu berpikir, namun, kali ini yang dipikirkannya bukan tentang ilmu, sebagaimana biasanya. Tapi ia memikirkan anaknya, Layla, semata wayang. Anaknya jauh di pulau seberang, dua tahun lalu merantau ke Jawa untuk bersekolah musik klasik. Hamid baru sadar bahwa Layla sudah menghabiskan banyak uang, tiap bulan ia minta dikirimkan uang sekian juta tanpa jelas apa manfaatnya. Dan tadi ia minta uang lagi, katanya untuk beli biola baru. Padahal, uangnya tidak sebanyak dulu lagi, sekarang ia hanya mengandalkan gaji dan tunjangan. Tambahan-tambahan proyek sudah tidak ada, semua sudah dibabat habis oleh profesor dan dosen di bawahnya. Lagian Hamid sudah sakit-sakitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hamid pun sadar, bahwa Lyla sudah besar, namun belum mengerti begitu sulitnya cari uang. Anaknya yang manja itu cuma tahunya minta dan minta. Dan sialnya, otak encernya tidak terwariskan ke anak satu-satunya itu, justru yang turun adalah sikap manja dan royal istrinya, beserta senyum misterius yang dapat menggoda setiap laki-laki yang memandangnya. Hamid pun mengenang cara menatap anaknya itu. tatapan yang sering membuatnya celingukan, gemetar. Lyla yang cantik, secantik ibunya waktu muda, mungkin telah menyihir pemuda-pemuda di sana. Pikiran itu membuat hamid tambah gelisah, “Mungkinkah anaknya bermain-main dengan pemuda?”, “Ah.. tidak mungkin., saya sudah mengajarkan.. jangan bergaul sembarangan.. harus fokus pada kuliah..”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Hamid kelelahan berfikir dan duduk bertelekan di kasurnya, tiba-tiba suara mesjid hadir, dan itu betul-betul menyiksanya. Hari sudah subuh, tapi ia belum juga tidur, ini merupakan siksaan terberat. Dengan rasa sedih itu, matanya pun mulai kantuk. Ia pun terlelap kelelahan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;**&lt;br /&gt; Sinar matahari menyelinap lewat jendela kamarnya yang terbuka. Kamar pun menghangat dan itu membuat Prof Hamid terbangun. Rambutnya teracak, matanya merah, dan ia masih merasa lelah. Hendak tidur lagi, namun tak bisa karena ada jadwal mengajar di kampus pagi ini. Dengan bosan ia menurunkan kaki ke lantai dan langsung minum air putih yang gelasnya cukup besar. Hamid minum sangat banyak, hanya itulah yang dapat dilakukannya untuk kembali menyegarkan otaknya. Istrinya sudah ada di dekatnya, mengenakan daster corak harimau, Hamid kaget minta ampun. Istrinya yang sudah mulai bongsor itu, yang alisnya sudah ia kikis itu dengan wajah datar menyuguhkan kopi. Sama dengan hari-hari sebelumnya, ada yang hilang dari Rina istrinya, ia tidak lagi senyum menggairahkan yang selalu mengecup mesra pundaknya saban pagi. Kini, istrinya yang wajahnya pucat dengan kerutan yang sudah ditambal-tambal itu malah dengan sikap merendahkan diri memanggilnya Prof. Mungkinkah dengan memanggilnya Prof telah membuatnya bangga? Ataukah ia pun merasa hebat sebagai istri profesor emeritus dan kemudian menjadi barang dagangan berharga untuk bergaul dengan ibu-ibu tetangga? Entah sejak kapan, Hamid merasa kalau Rina ini sudah menjadi orang lain. Rina lebih banyak berdandan, memamerkan baju-baju bagus tiap hari.. sering keluar rumah, jadwal pengajian dan arisannya pun tambah padat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ayo mandi Bapak Professor.. lalu makan, sarapan sudah tersedia”..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sudah sekian hari ia tidak tidur sama istrinya. Ia tahu bahwa ia sedang sakit, dan belum ada obat yang menyembuhkan insomnianya. Istrinya pun tak ingin turut campur, ia memilih tidur di kamar anaknya yang sedang merantau.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Pukul 9 Hamid sudah di kampus. Ia mendapat banyak sambutan di pagi itu. Dan ia hanya mengangguk. Masuk dalam ruang lab.nya, ia melihat sosok yang tak asing. Di bangku tamunya telah duduk dosen lulusan Universitas Paris yang baru pulang dari studi doktoralnya di Prancis itu. Namanya DR. Lukman, seorang ahli karang. Mereka berpelukan, sebelum ke Prancis, Hamid-lah yang membantu dosen muda itu memperoleh beasiswa luar negeri. Dan sekembali dari Prancis, Lukman ingin berbakti menjadi asisten professor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Lukman berpostur kecil, tapi tubuhnya kekar, lengan-lengannya lebar. Yang paling mengesankan Hamid adalah analisa Lukman yang tajam terhadap persoalan ilmu biota laut, setajam matanya. Hamid senang mendengarnya menjelaskan, tentang perbedaan antara lumut di dinding eropa dengan lumut di got-got Indonesia, tentang teknik rancangan percobaan terbaru terhadap penentuan spesies karang kipas, atau tentang perbedaan antara orang prancis dan Jerman dalam hal bercinta dan bermain sepak bola.. Lukman, seorang fanatik terhadap ilmu pengetahuan, metodologi, dan tentu pada pandangan agama atau aliran tertentu. Siapa saja diajaknya berdebat, hingga lawan-lawannya lumpuh, atau malu.. tapi, ada arogansi juga dari sikapnya itu, sehingga ia tidak disenangi oleh dosen-dosen lain. Tentu, orang yang ia segani hanya Prof Hamid, tak ada lain, karena cuma ia yang mengerti dan mampu mengimbangi pertanyaan-pertanyaan gelisahnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Prof tampak tak sehat, semalam istirahatnya enak Prof?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kurang enak badan Man, sudah beberapa hari ini saya menderita insomnia”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya turut prihatin Prof.. apakah Prof tahu kalau dalam jaringan karang lunak itu terdapat cairan yang berfungsi mengurangi stress dan juga penyakit insomnia?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah, saya tahu bahwa cairan itu bisa mengobati stress berkepanjangan, semacam obat penenang, tapi kalau insomnia saya belum tahu..  oh ya, anak muda, ayo temani saya mengisi kuliah di auditorium sekarang..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mereka melangkah bersama, turun tangga dan menyapa mahasiswa-mahasiswa yang duduk-duduk di tepi-tepi koridor. Dalam auditorium sudah duduk 200 mahasiswa baru yang ingin mendengarkan kuliah Profesor nomor satu di kampusnya itu. 20 menit pertama ia berhasil menarik perhatian, suaranya masih nyaring, pikirannya masih terang, dan jemari tangannya juga masih lincah mencoret-coret papan tulis, tapi.. pada menit ke 30, pikirannya sudah gelap. Insomnianya kambuh.. Hamid mengantuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ia membuat relaksasi dan duduk sebentar di kursi, lalu menjelaskan lagi. Kali ini cairan sudah mulai keluar sedikit-sedikit di hidungnya, ia pun terbatuk-batuk. Dan pada menit ke 40 ia menghentikan kuliah. Ia keluar sendiri dengan perasaan bersalah. Bahwa ia tidak setangguh dulu lagi, ia bukan Hamid yang lincah, yang gesit, yang berpengaruh, yang membanggakan itu. Hamid yang sekarang adalah Hamid yang sakit, lemah. Di telinganya, ia masih terusik oleh bisik-bisik dan ketawa kecil para mahasiswa dalam ruangan tadi. Tapi ia menahan diri. Kini, ia duduk termenung di kursi koridor, di sampingnya ada seorang mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sebenarnya, Hamid tak mengidamkan gelar profesor atau emeritus itu. Yang ia inginkan adalah kondisi lincah mengajar. Buat apa gelar setinggi langit, tapi dalam ruang kuliah cuma menjadi bahan tertawaan? Kemudian, Ia melihat mahasiswa di sampingnya itu serius membaca buku. Tampaknya ia mahasiswa baru karena tidak mengenal sosoknya, dan mungkin hanya mengira kalau yang duduk di sampingnya, pada bangku yang kakinya sudah doyong itu seorang bapak tua pegawai perpustakaan atau kantor akademik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hamid dengan suaranya yang gemetar membuka percakapan: “Apa yang kamu baca anak muda?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“biasa pak, sebuah teori usang tentang kemunculan kehidupan di muka bumi”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“boleh dijelaskan anak muda?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemunculan kehidupan itu berasal dari proses swaorganisasi bahan-bahan material dalam sistem yang kompleks, di dalamnya terbentuk struktur-struktur baru seiring perubahan zaman, dimana terjadi pertukaran energi terus-menerus. Struktur organisasi dalam tubuh organisme awal bersifat tertutup dan di bagian luar tempat menyerap energi dan informasi itu bersifat terbuka.. maaf pak, bahasanya sedikit sulit dipahami, tapi begitulah statment ilmu pengetahuan pak. Kita kadang kesulitan menyederhanakan..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamid termangu mendengarnya, ia tak menyangka anak semester satu ini sudah mengetahui teori yang dalam itu, teori yang mengguncang ilmu dan pondasi agama itu.. ia pun kembali bertanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“bukankah dengan begitu kamu menyimpulkan bahwa kehidupan itu berasal dari proses kebetulan.. ? kalau demikian, berarti perkembangan selanjutnya juga proses kebetulan.. apakah itu tidak meruntuhkan kepercayaanmu terhadap misteri “penciptaan” anak muda?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“saya lebih percaya pada logika Bapak.. kehidupan muncul dari sesuatu yang tak ada kemudian ada, lewat jalur-jalur bangun struktural kompleks, chaotik, nonlinear dan tidak setimbang ini sampai sekarang masuk dalam logika saya Bapak.. kalau dihubungkan dengan agama, mungkin saja tuhan menciptakan kehidupan dengan cara seperti itu.. dan saya pikir, begitulah cara tuhan mencipta, tidak serta merta hadir tanpa ada prosedur yang masuk akal..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“yah-yah.. saya berpikir begitu juga anak muda.. salam kenal, saya Hamid.. kamu siapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya Anwar Bapak..”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Mereka pun berpisah setelah diskusi panjang dan rumit. Besoknya, mereka bertemu lagi di kursi yang doyong itu. Mereka diskusi panjang lagi, kali itu tentang kemunculan bahasa yang rumit, dan bagaimana perkembangan otak manusia dan juga bahasa itu sendiri.. besoknya lagi, mereka diskusi tentang seks, lalu agama, lalu budaya, lalu apa saja..  Prof hamid setiap pulang ke rumahnya masih terheran-heran, ternyata ada orang yang lebih cerdas darinya dengan usia muda seperti itu.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt; Esoknya, Prof Hamid akan mencari anak muda itu, dan ia melupakan segalanya. Kali ini pakaian bukan batik lagi, tapi berupa kaos oblong, jelananya jeans, dan memakai sandal. Ada yang aneh dalam dirinya, perubahan yang besar, namun ia tidak menyadari. Yang ia tahu, bahwa ia ingin berpenampilan sederhana, mirip anak muda itu. Sesampai di kampus, ia disapa oleh Lukman, asistennya:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Professor berubah hari ini? tambak lebih muda Prof.. apakah Prof mau mengisi kuliah pagi ini? sudah seminggu Professor tidak mengisi kuliah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah.. iya, maaf Lukman saya terpesona dengan seorang mahasiswa kita, tapi, kuliah itu kamu yang isi kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya Prof, saya berinisiatif menggantikan isi kuliah, saya melihat professor kurang sehat..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“iya, terimakasih Man.. apakah kamu melihat mahasiswa yang sering nongkrong memegang buku di bangku doyong itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“saya tidak memperhatikan Prof.. tapi beberapa kali saya melihat prof istirahat di situ seorang diri..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh begitu.. oke, saya ke tempat anak muda itu dulu yah”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hamid keranjingan, jiwa mudanya bangkit oleh diskusi-diskusi menyenangkan setiap hari. Ia melupakan orang-orang di sekitarnya, melupakan kawan-kawan dosennya, dalam kepalanya, dosen-dosen yang lebih muda darinya itu tidak merangsang, kurang cemerlang, ucapan-ucapan mereka lebih banyak basa-basi.. mereka cuma kumpulan penghapal teori, dan parahnya, mereka itu telah membangun dinasti sendiri, yang begitu kuat, sehingga kebenaran hanya milik mereka, tidak bisa digugat.. ilmu pengetahuan menurut mereka, yah seperti itu.. sementara anak muda ini lain, ia membongkar, dekonstruksi, dan dengan diskusi-diskusi itu ia membangunnya lagi, menghasilkan hipotesis baru, lalu dikoreksi lagi, dengan meneliti kesalahan-kesalahan, metode yang digunakan adalah fallibilitas, dimana teori dianggap benar, kalau tak ada lagi noda di dalamnya.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ketika menuju pelataran, dengan wajah cerah ia menyapa semua orang. Mahasiswa-mahasiswa yang disapanya terlihat ketakutan. Tapi dia membiarkan.. toh itu tidak penting. Setibanya di pelataran, ia begitu gembira melihat pemuda itu lagi, yang dengan serius membaca buku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anwar, senang bertemu kamu lagi pagi ini”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”selamat pagi Pak” sapa Anwar dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bapak, apakah bapak sadar kalau kita selalu diamati oleh orang-orang yang lewat di koridor ini? Tampaknya mereka selalu menertawai kita Bapak”..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”biarlah mereka tertawa anak muda, mereka tidak tahu betapa dahsyatnya diskusi kita setiap hari, mereka tidak merasakan nikmatnya berbagi pengetahuan itu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”okelah Pak.. begini Pak........ ”&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Lukman mulai heran dengan tingkah laku Professor kebanggannya itu, setiap hari ia berbicara sendiri di bangku, dengan penuh semangat dan tanpa bosan. Ia lalu mendiskusikan hal itu dengan dosen-dosen lain, mereka berkesimpulan bahwa Prof Hamid menderita sakit jiwa, Tepatnya skizoprenik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Besoknya, ia menemani Professor duduk di bangku, dan melihat tingkahnya yang aneh itu. Namun ia tenang-tenang saja. Sebab, Professor sudah tak ada lagi, professor sudah mati sejak sehabis kuliah terakhirnya itu. Kini, ialah yang berkuasa terhadap mata kuliah, terhadap lab fisiologi biota laut, dan juga tentu dengan anggaran penelitian dalam bidang fisiologi hewan air.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hamid semakin berbahagia hari itu. Tentu, hari-hari tuanya kini terasa berwarna, pertanyaan-pertanyaan yang dulu mengendap di kepalanya kini terlontar semua.. ”hari-hari terakhir ini adalah jalan bahagia menuju ajal.. ” Pada malam harinya ia sudah bisa tertidur nyenyak. Insomnianya tiba-tiba lenyap. Dan esoknya, ia tidak bangun-bangun lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dalam tidurnya itu, Hamid bermimpi : ia dibawa oleh anak muda itu (tak lain adalah dirinya sendiri waktu muda) kembali ke masa lalu. Mereka tiba di perpustakaan, milik ayah Hamid, dengan gembira mereka mengutak-atik perpustakaan itu.. dan memang, masa muda Hamid, banyak habis di perpustakaan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Anwar adalah nama kecil Hamid, yang berarti api, cahaya, ilmu pengetahuan..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-6593604986181344939?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/6593604986181344939/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=6593604986181344939' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/6593604986181344939'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/6593604986181344939'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2011/09/professor-tua.html' title='Professor Tua'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-IdOXNy58ulA/TmjkWqnb46I/AAAAAAAAAXg/eEdbtMK19FY/s72-c/profesor.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-1584879750695102875</id><published>2011-09-08T15:35:00.000+08:00</published><updated>2011-09-08T16:42:02.691+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pribadi'/><title type='text'>Usaha</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-pyTVV_f1eN8/TmhwS_6dBSI/AAAAAAAAAXY/tbyK7Pmg8YE/s1600/usaha.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="225" width="225" src="http://3.bp.blogspot.com/-pyTVV_f1eN8/TmhwS_6dBSI/AAAAAAAAAXY/tbyK7Pmg8YE/s320/usaha.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt; Menjadi manusia bisa dengan banyak cara, salah satunya dengan usaha. Dalam dunia yang disebut usaha itu, kita dikuatkan lewat peroses untung rugi, kemampuan dalam memanfaatkan peluang, ketekunan memupuk modal, serta tahan dalam setiap badai krisis. Dalam penempuhan itu, kita melihat diri kita sendiri sebagai seorang pejalan dan pencari, dimana akal kita dituntut untuk terus siaga terhadap segala macam ancaman, tipu daya, atau pun kemalasan-kemalasan sepele akibat rasa gembira atau sedih kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Masuk dalam dunia itu, kita bersiap-siap untuk melihat gunung menjulang, laut luas, gua yang begitu gelap, ataukah suatu kumpulan kupu-kupu.. semuanya serba menakjubkan.. hal-hal itu akan terlalui bersama kesabaran kita melewati segala perencanaan yang kita buat sendiri, apa pun hasilnya.. untung dan rugi pun hanyalah sebuah pertaruhan terhadap nasib yang kita prediksi sendiri. Yang menjadi nyata akibat kekuatan keputusan yang kita ambil, apakah adekuat, biasa saja ataukah lemah.. adekuatnya sebuah hipotesis diperoleh dari pengalaman-pengalaman kita akan sebuah persoalan, disertai kemampuan kita menguasai informasi yang terus berkembang. Kegagalan pun bukanlah sebuah nasib menyedihkan, tapi semacam batu loncatan agar kita tidak lagi ceroboh memutuskan sebuah perkara.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Kini sebagai insan pencari, saya ingin mencoba memasuki arena itu, untuk menguji ketahanan dan sebuah nasib dalam pertarungan yang nyata, bukan lagi sekadar eksperimen sederhana di organisasi kampus, ataukah semacam mencipta intrik cerita dalam sebuah cerpen. Apakah kita betul-betul betah terhadap terpaan berbagai kemungkinan-kemungkinan yang boleh dibilang nyeleneh, terhadap segala macam persahabatan berlatarbelakang kepentingan, hingga mengendalikan hasrat manusiawi yang justru menunggalkan ego kita. Dunia itu, membuat kita kuat, dan betul-betul merasa hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sebelumnya, kita banyak berkecimpung dalam dunia yang serba pasti, dalam dunia akademik ataupun penelitian yang sudah ada teks proseduralnya. Walau juga terdapat rasa penasaran dalam sebuah pencarian akan jawaban segala pertanyaan-pertanyaan teknis filosofis kehidupan. Dunia usaha itu lebih bersifat unpredictable, unlinear, dimana kita berhadapan dengan banyak responden, dengan wataknya masing-masing. Watak dan isi pikiran mereka tak dapat ditentukan arahnya, sehingga lebih banyak menghasilkan titik balik, penyimpangan-penyimpangan. Kita bisa memperoleh untung setelah mengamati pola-pola yang terbentuk, dan mencari cela pada pola-pola retorika dan responnya. Itu pun harus didukung dengan analisa informasi, melirik sejarah informasi serta memetakan kekuatan-kekuatan para pemain di usaha itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Berkecimpung di dunia itu, butuh keseriusan, butuh ketetapan hati, serta komitmen.. itulah yang sulit.. dimana kita selalu tergelincir setiap melihat problem, setiap terjegat oleh penghianatan, setiap kita merasa bahwa ada yang salah dari hubungan baik kita.. hidup kita pun seakan dipaksa untuk mencerca, untuk memaki, setiap ketidakadilan yang datang, yang tidak kita duga-duga, bahwa hidup ini penuh dengan permainan.. dengan begitu, kita pun belajar bahwa untuk bisa tumbuh harus pintar-pintar juga bermain..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “hidup adalah perjuangan, kita tak mungkin menang jika tidak dipertaruhkan..” Sutan Sahrir.. kalimat terakhir untuk sebuah pertarungan yang baru akan dimulai..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;8 September 2011&lt;br /&gt;Tamalanrea &lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-1584879750695102875?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/1584879750695102875/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=1584879750695102875' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/1584879750695102875'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/1584879750695102875'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2011/09/usaha.html' title='Usaha'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-pyTVV_f1eN8/TmhwS_6dBSI/AAAAAAAAAXY/tbyK7Pmg8YE/s72-c/usaha.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-7680887659740795529</id><published>2011-08-28T19:56:00.000+08:00</published><updated>2011-08-28T19:58:45.928+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pribadi'/><title type='text'>Mak Ijah dan Kesunyiannya</title><content type='html'>	&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-OnncpHjUkTk/Tlos4bCEC3I/AAAAAAAAAXQ/oprDc78hVLo/s1600/nenek.jpg" imageanchor="1" style="clear:right; float:right; margin-left:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="171" width="228" src="http://2.bp.blogspot.com/-OnncpHjUkTk/Tlos4bCEC3I/AAAAAAAAAXQ/oprDc78hVLo/s320/nenek.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Mak Ijah duduk manis di beranda, pada sebuah kursi rotan. Matanya menerawang satu-satu setiap orang yang lewat pada gang di depan rumahnya. Orang-orang itu sebagian besar sudah ia kenali, lantaran sudah terlalu sering dilihatnya saban pagi. Sesekali ia melirik kucing yang keluar masuk rumah, tikus got yang sibuk mencari roti basi di bak sampah, lalu kumbang yang berputar-putar di antara bunga-bunga asoka. Bosan dengan itu, ia memindahkan pandangannya pada burung-burung yang bertengger di kabel listrik. Ia gembira mendengar suara burung-burung itu, yang mencericit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulutnya diam, sudah lama Mak Ijah tak banyak omong. Kalau berucap sekenanya saja. Itu pun kalau ia ingin meminta bantuan, misalnya memindahkan kursi atau mengangkat barang-barang. Menurutnya, mengeluarkan kata sudah tidak ada gunanya lagi. Kata-kata adalah racun bagi dirinya dan juga bagi anak-anaknya. Umurnya juga sudah terlampau tua, 75 tahun, dan berbicara dengan anak-anak jaman sekarang, sama halnya membuang-buang energi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mak Ijah duduk diam hingga tengah hari, jemarinya bergerak-gerak pada sandaran kursi, mungkin nenek yang tiap hari mengenakan daster itu berusaha menghayalkan lagu era 70-an, dengan Ebiet G Ade sebagai penyanyinya. Mengenang era itu berarti mengenang masa kejayaannya. Ia menggiringi bisnis suaminya dalam pengiriman ekspor kepiting ke negari Cina dan Jepang. Setiap hari ia membereskan data keuangan yang deras keluar masuk. Memang, di situlah keahliannya sebagai alumni studi akuntansi pada masa belajarnya dulu. Sementara suaminya sibuk bergerak ke sana kemari, membangun jaringan dengan para pemasok kepiting dari daerah, para pengusaha lain dan juga pada pasar, para pelanggan. Hingga mendekati satu dekade, perusahaannya itu sudah menempati posisi tertinggi dalam bidang ekspor kepiting. Dan di situlah mulai timbul petaka..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mak Ijah menutup mata, lama duduk membuatnya mengantuk. Tengah hari itu, cucunya yang paling kecil bernama Susi membawakannya teh hangat. Dengan cucu, tentu nenek akan buka suara, siapakah nenek yang tega membisu terhadap cucu? “Nek, minum teh nek.. ini buatan Susi, gulanya sudah saya kurangi.. coba ya nek”..  “Aduh.. cucuku sayang,, terimakasih ya.. senang nenek dibuatkan teh sama kamu”.. tiba-tiba ibu sang anak datang, “Susi.. jangan ganggu nenek, liat dia mau istirahat.. ayo masuk belajar..” Susi tak langsung masuk ke rumah, ia mengecup punggung tangan Mak Ijah.. “Minum tehnya Nek”.. Mak Ijah memandang cucunya dengan haru, namun tiba-tiba saja di dalam hatinya yang muncul pelan-pelan gemuruh, gelombang amarah. Perasaan ini ingin ia tampik, tapi tak bisa. Perasaan yang sudah tertanam demikian lama, sejak suaminya tiada dan semuanya menjadi seperti barang pecah belah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua puluh lima tahun lalu, suaminya yang lagi naik daun itu, tiba-tiba kecelakaan. Semua anggota keluarga dan karyawan perusahaan tersentak. Sehari setelah kecelakaan, suami tercinta pun wafat, namun tanpa meninggalkan wasiat. Mak Ijah betul-betul terpukul, lelaki yang ia sayangi, yang ia banggakan sudah tak ada lagi. Sepekan berlalu, perasaan sedih itu masih penuh mengisi jiwanya. Perusahaan untuk sementara dalam keadaan lesu. Semua ikut berkabung. Rekanan di luar negeri pun turut berbelasungkawa atas perginya Bapak Kamal (almarhum/50), mereka mengerti keadaan sehingga dengan Mak Ijah mereka berkomitmen akan tetap menjalin kerjasama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tenggelam dalam kesedihan, Mak Ijah tak tahu kalau di belakangnya terjadi pertengkaran dingin, oleh anak-anaknya sendiri. Mardi (29) adalah anak pertama, sebelum ayahnya meninggal, sering menemani beliau berkunjung ke tempat pelanggan, pemasok, dan rajin melakukan survei untuk peningkatan mutu produk perusahaan. Sebagai anak tertua, ia mewarisi karakter kepemimpinan ayahnya. Sardi (27) adalah anak kedua, ia baru pulang dari perantauan, Sardi adalah seorang seniman yang tak banyak cincong. Sebagaimana musikus, ia hidup apa adanya, ia pun menjelajah sendiri dan cuma sekali-kali minta bantuan keuangan dari ayahnya. Ia pulang dengan hati yang begitu berat. Ia lah yang sering menemani Mak Ijah, menghibur laranya. Sardi mewarisi sifat bebas dan kreatif mak ijah. Sarah (25) adalah anak ketiga, waktu itu Sarah masih berjiwa muda, ia bisa dengan semena-mena keluyuran kemana saja, mengikuti hasrat dan gelora hatinya. Dengan perusahaan, Sarah belum memiliki keterikatan dan tanggung jawab. Dan yang terakhir adalah Hedi (19), masih berkuliah, dengan kehidupan yang agak mewah dibanding teman kuliahnya.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Mak Ijah terbangun dari kursi rotannya, ia ingin berjalan-jalan di gang itu. Langkahnya tertatih-tatih, rambutnya yang putih terurai ke punggung, tampak kemilau ditempa cahaya matahari. Dari raut wajah Mak Ijah, masih tersisa pesona, yang mungkin dulunya begitu memikat. Ia memandangi matahari yang sudah cukup tinggi, namun matanya tak sanggup, hingga mata yang perih itu, ia kedip-kedipkan. Tapi, ada sesuatu pada mata itu.. pada mata yang indah itu, terpantul kenangan, mungkin kesedihan.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesunyian itu, rasa cemas selalu muncul, setiap ia memandang ke dalam dirinya, bahwa ia sudah tak tahu lagi apa yang ia inginkan dalam hidup yang sebentar ini. “Untuk apa saya bertahan diusia renta?” Kalau toh hidup hanya berarti mengatur nafas, membiarkan jantung dan organ pencernaan bekerja, sementara jiwa hanya menjadi keranjang kenangan. Kenangan seperti belati yang siap menusuk-nusuk hati setiap ia mengingat priode peristiwa itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gairah hidup sudah seret. Ia tak tahu kenapa ia masih bertahan hidup, kenapa ia mau tinggal di rumah anaknya yang seperti anjing itu. hingga kini, ia tak habis pikir kenapa harta yang  menggunung itu bisa merusak segalanya? Dan ia betul-betul tak mengira, bahwa anaknya bisa seperti itu, semunafik itu. Mungkinkah ini akibat keteledorannya sendiri? bahwa sejak awal ia tak betul-betul tahu karakter dan kehendak hati masing-masing? Ia berpikir bahwa hanya dengan memberi mereka kecukupan berarti telah membuat anak-anaknya menjadi manusia seutuhnya. Padahal, ia tak tahu apa yang ada di balik pikiran masing-masing. Mak Ijah tak tahu kalau dunia ini dirubungi purbasangka..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bergerak ke arah tempat penampungan sampah.. di tempat itu ia mengingat suaminya, Kamal yang rajin membakar sampah. Mak ijah mengumpul-ngumpul sampah plastik dan dedaunan kering menggunakan sepotong bambu di tangannya. Begitu terkumpul, ia menyalakan korek api dan membakar tumpukan sampah itu. Api kemudian menggeliat, melahap dengan rakus sampah-sampah, asap membumbung, bergerak-gerak terhempas angin. Mak ijah mengerti, ada rasa damai dengan hadirnya api dan musnahnya sampah. “Api ini adalah emosi yang mendapatkan hadiahnya dengan memusnahkan yang lain.., api ini adalah gairah untuk melahap, menghabiskan..”.. mungkin, begitulah hidup, kita seperti tumpukan sampah yang siap dilahap oleh api. Tapi, kita pun bingung, kenapa kita bisa serta merta menjadi sampah? Dan kenapa ada orang yang betul-betul tega menjadi api, yang menggebu-gebu selalu ingin membakar dan membakar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hari ke hari, inilah yang dilakukan Mak Ijah, bosan nongkrong di kursi rotan. Ia melangkah ke tempat sampah, ingin membakar.. mungkin dalam dirinya ada sesuatu yang ia ingin musnahkan, entah apa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mak Ijah melangkah ke dalam rumah, jam makan siang masuk. Kini ia berkumpul lagi dengan keluarga anaknya yang bernama Sarah. Ia duduk di meja makan bersebelahan dengan Susi, di depannya adalah Sarah bersama suaminya, Ivan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu ke tempat sampah lagi? Bu, kami sayang ibu.. tolong kenangan ibu itu lupakan saja.. ibu sudah tua.. dan biarlah semuanya berlalu..” kata Sarah. Mak Ijah tidak menanggapinya, dengan cemberut dia mengambil sedikit nasi, sayur bayam dan sepotong ikan Tuna kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenangan di benak Mak Ijah makin menjadi-jadi. Ia ingat, bahwa Sarah-lah yang meminta terlalu banyak terhadap kakak-kakaknya. Sarahlah pemicunya, yang semakin gila setelah menikah dengan Ivan yang rakus itu. Mardi, yang begitu sayang dengan Sarah, rela membagi kekuasaan perusahaan. Sementara Sardi, dengan cueknya berkelana dari kota ke kota, mengikuti gelora hatinya. Dan Hedi, masih tak tahu apa-apa, dia masih sibuk dengan kuliah tekniknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kekuasaan itu dibagi dua, iklim perusahaan menjadi tak sejuk. Bagian yang dipimpin sarah, tepatnya bersama Ivan suaminya, dialektika perusahaan lebih deras dan menghanyutkan, memang perusahaan melonjak lantaran agresifitas mereka, tapi itu tak lebih karena langkah-langkah curang dan hipokrit. Dengan cepat mereka merubah kebijakan terhadap pemasok, memotong gaji karyawan, dan melakukan tindak sogok menyogok terhadap pihak-pihak yang berwenang. Lama kelamaan, mulai timbul gerutu, celetuk-celetuk dari bawah, dari pemasok kepiting di daerah, juga dari pelanggan eksport. Barangkali, karena terlalu ingin mendapatkan banyak, sehingga nilai-nilai keadilan dalam berdagang tertutupi. Yang ada dalam kamus Sarah cs adalah mengeruk laba sebesar-besarnya, bagaimanapun caranya. Tentu, Ini menggelisahkan Mardi, sebagai kakak dan juga pemilik sah perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mardi hendak memperbaiki citra perusahaan. Pelan-pelan ia menegur Sarah dan suaminya. Tapi, ia kalah oleh kekuatan yang belum ia tahu asalnya dari mana. Pada suatu malam, Mardi tiba-tiba di rampok di pinggir jalan, dan seperti nasib ayahnya, ia mati menggenaskan digorok perampok. Keluarga pun berkabung lagi, bersedih lagi. Kini Sarahlah yang memimpin perusahaan sepenuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hedi yang saat itu berumur 27 tahun tak sanggup berhadapan dengan situasi menegangkan ini, si bungsu tak kuat menahan rasa kecewa terhadap Sarah, kakaknya itu telah sewenang-wenang pada siapa saja, termasuk pada ibu dan kakak-kakaknya yang lain. Mak Ijah pun tak dapat berbuat banyak, ia mengatasi sedihnya dengan menangis sendiri di kamarnya yang temaram. Hedi pun menyingkir, ia mengikuti tradisi Sardi untuk berpetualang, tapi kelananya dalam hal pencarian ilmu, sebagaimana sardi mengelana untuk mengenali musik. Ia pun menjadi peneliti sebuah perusahaan konstruksi, dan sejak itu, ia tak pernah menengok-nengok keluarga, jugaa terhadap ibunya. Inilah yang membuat Mak Ijah terpukul, dan memilih bungkam.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Mak Ijah memilih bungkam, karena dengan diam sebenarnya ia ingin berteriak. Ia ingin mengadu pada alam, pada tuhan. Baginya, anak-anak adalah harta yang tak ternilai, dan kini anak-anaknya sudah menjadi barang rongsokan. Tapi, sebagai seorang ibu, ia rela, ia sudi menampung semuanya, ia seperti samudera yang menerima kotoran dari beragam sungai, beragam hulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petang hari, sehabis tidur siang, Mak Ijah duduk di kursi rotan dan memandangi gurat senja yang membayang merah. Kali ini ia tak mengingat-ingat sesuatu, dan memang tak ingin mengingat. Pikirannya sudah sumpek dengan ingatan yang berat tindih menindih. Ia membebaskannya untuk menyerap cahaya senja, pergantian warna di langit yang indah itu. Matanya menerawang, dan tanpa sengaja tertutup. Dalam keheningan itu, ia melihat kedatangan anak-anaknya, yang juga membawa menantu dan cucu-cucunya. Sardi terlihat lebih bongsor, dan Hedi lebih tampan, setampan ayahnya sewaktu muda. Keduanya mencium tangan Mak Ijah dan memperkenalkan cucu-cucunya satu persatu. Cucunya itu terlihat lucu, pipinya tembem dan tampak rewel. Dan ia betul-betul senang dipanggil “nenek”..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika ia bangun, hayalan itu betul-betul terjadi. Tuhan mengabulkan, dan mungkin firasat ibu selalu tepat. Sardi dan Hedi sudah ada di hadapannya, bersama istri-istri mereka yang cantik dan cucu-cucu yang meggemeskan. Mak Ijah tak tahu apa yang mendorong mereka kemari, ia masih termangu-mangu heran. Entah karena senang atau tak percaya akan kejadian menakjubkan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bu, hari ini adalah hari kelahiran ayah.. apakah ibu lupa ?” kata Hedi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mak Ijah terkesiap, ia melihat raut wajah suaminya dalam wajah Hedi. Ia ingin mendekapnya, mencium kening anak bungsunya itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Senang kalau kalian masih mengingatnya.. begitu berdosanya ibumu ini yang tidak mengingat hari besar itu..” bulir-bulir air matanya menggenang, lalu menetes sekenanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lama ia menahan tangisnya, dan petang itu betul-betul tumpah. Sebenarnya, setiap hari ia mengenang suaminya, ia sudah tak memerlukan hari-hari besar, karena baginya, setiap hari adalah kenangan.. tiap hari, suaminya hidup dalam kenangannya.. kenangan lah yang membuatnya bertahan.. kenangan lah yang membuatnya hidup.!! Ia baru sadar akan hal itu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam gemuruh rasa itu, Sarah tiba-tiba bersandar di pinggir pintu. Kali ini ia tak banyak cincong, melihat adik-adiknya ia menjadi beku. Ia tak siap menghadapi gelombang cinta seperti ini. ia tidak terbiasa, dan kali ini benteng angkuhnya sedikit rusak. Ia ingin memeluk adik-adiknya, gemericik rasa hadir dan ingin mengalir. Tapi.. suaminya datang dan menepuk, Sarah menepis perasaan itu dan.. kembali menjadi batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sardi, Hedi... kalian betul-betul anak durhaka, baru ingat ibu kalian sekarang..!” bentak Sarah.&lt;br /&gt;“Kakak Sarah.. kakak betul-betul tak berubah.. harta telah membutakan mata kakak.. asal kakak tahu saja, kami pergi karena tak mau bersaing dengan kakak, apa kakak tidak ingat dengan Mardi yang kakak sudah singkirkan itu..” kata Sardi kasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarah tak tahan, ia menutup wajah, menyeka air matanya yang jatuh. Ia tidak siap menerima hinaan adiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hedi, jangan kasar sama kakakmu.. bagaimana pun ia kakakmu.. kalian masuklah dulu di rumah kami ini dan kita bicarakan baik-baik di dalam..” ucap Ivan, suami Sarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, kami tak ingin menyentuh harta kakak, kami hanya ingin melihat ibu, menyapa ibu..!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mak Ijah hanya termangu, membisu.. terasing di tengah hardikan anak-anaknya. Ia memandang wajah cucu-cucunya.. wajah yang tak mengerti.. yang tak tahu apa-apa itu.. anak kecil itu sama terasing dengan dirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun berbisik, bukan pada Sardi, Hedi atau pun Sarah, tapi pada Tuhan.. “ya tuhan,, saya ingin mati, tolong cabut nyawa saya sekarang tuhan..” lirih.. begitu lirih.. namun, lagi-lagi ia tak yakin kalau tuhan apakah mau mengijinkan.. ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Cengkareng Timur, Jakarta&lt;br /&gt;24 Mei 2011 &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-7680887659740795529?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/7680887659740795529/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=7680887659740795529' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/7680887659740795529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/7680887659740795529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2011/08/mak-ijah-dan-kesunyiannya.html' title='Mak Ijah dan Kesunyiannya'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-OnncpHjUkTk/Tlos4bCEC3I/AAAAAAAAAXQ/oprDc78hVLo/s72-c/nenek.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-3808283604988882159</id><published>2011-08-24T15:39:00.000+08:00</published><updated>2011-08-24T15:39:36.711+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pribadi'/><title type='text'>Tembok Berlin</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-abMOl8YaeI4/TlSqgy_aanI/AAAAAAAAAXI/fk7ZfK_vXkg/s1600/boneka.jpg" imageanchor="1" style="clear:right; float:right; margin-left:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="193" width="256" src="http://4.bp.blogspot.com/-abMOl8YaeI4/TlSqgy_aanI/AAAAAAAAAXI/fk7ZfK_vXkg/s320/boneka.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Mata Zainal tiba-tiba memicing, di kejauhan ia melihat gerombolan jubah putih bergerak menyusuri pematang sawah, menuju ke arahnya, wilayah pekuburan desa Bonto Jolong. Penjaga kuburan itu menyingkir mencari pohon lebar, agar ia tak terlihat oleh pembawa mayat yang berasal dari dusun sebelah itu. di sampingnya terbaring Agus, yang sementara asyik menikmati hembusan angin sepoi-sepoi.. Zainal mengajaknya bicara:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gus, warga Dusun putih datang, mau bantu tidak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah... bodoh amat, suruh saja mereka gali kubur sendiri..!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ia Gus, kita jangan bantu mereka lagi, mereka tahunya mengaji saja, kalau warganya mati, warga dusun kita yang disuruh gali kubur.. ah, bodoh amat.. yuk ke alun-alun kumpulkan warga..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Mereka berdua mengendap meninggalkan kuburan, berangkat mencari warga lain untuk menghadapi gerombolan pembawa mayat itu. hari-hari sebelumnya, Zainal dan Agus selalu menggalikan kuburan buat warga Putih, namun siang itu mereka ogah. Tampaknya, garis pembatas antara dua dusun itu kembali tegak.. dan akan memanas pada siang itu, di tepi pekuburan Desa Bonto Jolong.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Tak lama kemudian, warga dusun Merah sudah berkumpul di pematang sawah di bawah deretan pohon kelapa. Diantara mereka ada tukang kebun, penjual sayur, penyabung ayam, penjual tuak, dan beberapa pemuda penjaga poskamling. Mereka-mereka ini adalah orang-orang yang menikmati hari-harinya dengan bekerja, meskipun beberapa diantara mereka bekerja dengan bau jorok di pasar-pasar ataupun pelelangan, tapi, mereka tak memilih-milih seperti warga dusun putih itu, yang maunya hanya mengajar ngaji, jadi penceramah, atau tukang-tukang doa.. apa yang terjadi? Pasar di dusun mereka selalu ramai, orang-orang terlihat ceria menonton sabun ayam, bermain gaple sembari meneguk tuak, walau masjid selalu sepi menonton.. inilah yang selalu dibenci oleh Dusun Putih.. Dusun Putih dan Dusun Merah adalah tetangga dekat, mereka berada di bawah naungan Desa Bonto Jolong.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka duduk-duduk merokok sambil menunggu warga dusun putih tiba. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Pengantar mayat pun muncul dengan iring-iringan pemuda berbusanah putih. Doa-doa dilantunkan dengan nyaring.. Maklum, dusun ini dikenal taat agama, di perkampungannya banyak berdiri pemondokan-pemondokan santri, hampir semua warga tamat mengaji, dan mesjid-mesjid diwaktu magrib selalu penuh. Mungkin, karena menganggap bahwa dunia sudah tidak penting, pemuda-pemuda daerah itu hanya fokus mengejar akhirat, dengan belajar ngaji serta menjalankan sunnah-sunnah. Apa yang terjadi, sawah-sawah banyak terlantar, pasar-pasar selalu sepi, dan mulai timbul kejahatan, ternak-ternak tuan-tuan tanah tiba-tiba menghilang satu-satu, tanpa diketahui siapa pencurinya. Penjaga keamanan sulit untuk melacak pencuri, karena, hampir semua pemuda dusun adalah orang yang taat ibadah.. siapa yang pantas dituduh?&lt;br /&gt;“Tetanggaku warga Dusun Merah, sudilah kiranya kalian menggalikan kubur buat warga kami, kami akan mendoakan dusun kalian akan selalu makmur dan subur.. percayalah doa kami pasti mujarab,” bujuk Haji Rusli, si guru ngaji..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“hehehe...” warga dusun Merah tertawa serentak.. lalu mereka kembali membisu.. dibiarkanlah angin-angin menyapa kulit dan debu-debu menempel di baju mereka yang lusuh.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kalian tidak percaya sama doa kami? Atau kah kalian tidak percaya sama tuhan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hemm.. Kami percaya pada tuhan, kalau tak ada tuhan tak adalah dunia ini.. tapi, tuhan kami menyuruh kami untuk ceria, untuk bekerja memperbaiki nasib.. tuhan kami bukan tuhan yang manja dan pencemburu, yang sebentar-sebentar minta dipuji, sebentar-sebentar minta disebut, sampai lupa sawah dan ladang..” jawab, pemuka adat Dusun Merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“hehe.. disinilah letak kekeliruan kalian, yang selalu merendahkan Tuhan. Apakah kalian lupa bahwa tuhan kita adalah sang Maha, yang memang pantas untuk dipuji.. kita ini adalah si lemah yang harus tunduk dan menyerahkan diri sepenuhnya.. bukan dengan menunjukkan diri dan ego kita, itulah yang tidak disuka oleh tuhan, yaitu menyombongkan diri.. ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” kami sadar Pak Haji bahwa manusia itu adalah mahluk yang lemah dan selalu lupa.. justru begitulah disebut manusia, yang tak pernah jadi, tak sempurna.. kalau kita ini tak pernah salah, kita ini apa? Malaikat, nabi, atau tuhan? Karena kekurangan kami itulah kami isi dengan bekerja keras, agar kami dapat menghargai potensi yang telah diberikan oleh tuhan, seperti otot dan otak untuk berpikir.. bukan kah itu juga sebagai bentuk dari rasa syukur? Mungkin, syukur kita berbeda pak Haji, kami bersyukur dengan bekerja, kalau dusun bapak bersyukur dengan berdoa.. dan tuhanlah yang maha tahu yang mana yang akan diterimanya di sana..”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“wah,, sudah pintar kalian berunjuk pendapat. Walau di tengah-tengah pandangan kalian tercium aroma maksiat. Tuhan tak sudi bertandang di desa kalian yang berbau alkohol dan meja judi.. mungkin, ternak di dusun kami menjadi korban judi pula.. hehee... !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak Haji, tak pantas pak haji menuduh tanpa menunjukkan bukti,” ucap Zainal berang..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah Pak Haji, bukan begitu maksud Pak Haji.. kami ke sini untuk menguburkan sanak kami.. bukan untuk berdebat sedemikian rupa.. tolonglah, warga kami tak biasa menggali kubur.. jadi maafkanlah kata-kata pak haji tadi, kita datang bermaksud baik-baik..” kata Sabir, keluarga almarhum..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana hening, kedua belah pihak berbisik-bisik, sepertinya mencoba mencari jalan keluar, apakah tetap bertahan pada posisi semula ataukah akan berbaur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Okelah, kami sepakat untuk membantu menggali kubur, tapi dengan syarat: pertama, pak haji harus ikut menggali juga, kedua, warga kami boleh berjualan dengan bebas di dusun kalian, ketiga; kami berhak untuk mengusut pencurian ternak di dusun kalian, disamping kami juga mengusutnya di dusun kami..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Wajah Pak Haji terlihat kecut dan merah, ia betul-betul marah dan tidak menerima. Ia adalah seorang guru dan tak pantas bergumul dengan bau tanah.. &lt;br /&gt;“bolehkah saya digantikan oleh murid-murid saya,” dengan suara terbata-bata.. &lt;br /&gt;“kami tak sudi menggali kubur kalau pak haji tidak ikut, dan biarlah murid-murid Pak haji yang menonton”..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wibawa Pak Haji dimata para santri jatuh tergelonjor, santri-santri itu pun tak ada satu pun yang menyahut ingin membantu. Mereka beramai-ramai ingin menghakimi kecongkakan gurunya itu. Tapi, kalau ia tidak memenuhi permintaan, warga dusun merah tidak akan membantu menggali kubur lagi nanti, dan mungkin warga desanya akan ikut arus oleh pengaruh setan dusun merah. Ia ragu, lama ia tercenung khawatir..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	  Sebenarnya, ini adalah persoalan sepele, hanya tentang siapa yang mau menggali kubur. Penduduk dusun putih juga kuat-kuat dan mampu menggali, tapi karena terbiasa hidup dalam padepokan sederhana dan mengandalkan hidup dari ceramah yang posisinya dianggap cukup tinggi, walau juga tetap hidup miskin, mereka terlihat enggan. Apalagi, pemuka agama mereka telah ngotot untuk membiarkan warga dusun sebelah saja yang menggali, maka terjadilah peristiwa memalukan ini..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Hari sudah sore, kedua kubu masih berhadap-hadapan, beberapa diantaranya duduk di dinding kuburan, ada yang merokok, dan bahkan ada yang membagi-bagi air minum. Lantaran terlalu lama menunggu keputusan pak Haji, mereka saling bercengkrama mengatasi kebosanan, bahkan sebagian melintas batas, pemuda warga dusun merah bercanda dengan warga dusun putih. Melihat itu, pemuka membiarkan. Mereka pun kelelahan, beberapa terlihat mengantuk dan ada yang berbaring di tepi kuburan. Sementara keranda mayat tetap menjadi pembatas antar dua kubu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Pak Haji akhirnya kalah, dan ia rela. Tapi, ia juga kelaparan dan tenaganya sudah tak ada lagi. “Anak muda, ada baiknya kita gali bersama-sama, santri-santriku, ayo kita gali, mari kawan-kawan dusun merah, maafkan keangkuhan saya.. kasihan melihat mayat ini terlalu lama terbengkalai.. saya sangat takut kalau besok-besok desa kita dikutuk tuhan..”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Maka beramai-ramailah mereka menggali kubur, di antara gurat senja.. diantara bunyi jengkrik dan angin laut.. kesedihan yang semestinya hadir, tiba-tiba menghilang di acara pemakaman itu. yang muncul adalah keramaian, seperti pasar di pekuburan.. sang Mayat menjadi saksi runtuhnya tembok berlin, pemisah dua golongan itu, antara golongan putih yang taat ibadah nan pemalas dan si merah yang pekerja keras namun lupa tuhan..&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;16 Juni 2011&lt;br /&gt;Idham Malik&lt;br /&gt;Kayu Besar, Cengkareng Timur&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-3808283604988882159?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/3808283604988882159/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=3808283604988882159' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/3808283604988882159'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/3808283604988882159'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2011/08/tembok-berlin.html' title='Tembok Berlin'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-abMOl8YaeI4/TlSqgy_aanI/AAAAAAAAAXI/fk7ZfK_vXkg/s72-c/boneka.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-7880956636730670243</id><published>2011-07-20T22:34:00.001+08:00</published><updated>2011-07-20T22:38:38.774+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Privat'/><title type='text'>Pertemuan</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-HtbWANTOWrw/TiboafJUHJI/AAAAAAAAAXA/3xIyW0vHbSs/s1600/pertemuan.jpeg" imageanchor="1" style="clear:right; float:right; margin-left:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="234" width="215" src="http://2.bp.blogspot.com/-HtbWANTOWrw/TiboafJUHJI/AAAAAAAAAXA/3xIyW0vHbSs/s320/pertemuan.jpeg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Siapakah yang tidak rindu terhadap pertemuan? Berjumpa dengan kenangan sekaligus harapan. Bersapa dengan senyum dan gelak haru, lalu berbincang kesana-kemari, terhadap keseharian, masa lalu dan mimpi-mimpi.. barangkali, ketika saat-saat bertemu itu, kita diangkat kembali ke sesuatu yang lebih hidup, keluar dari kemelut, ataukah menghindarkan kita pada penyakit parah yang disebut kebosanan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, kita tak pernah menyangka akan bertemu lagi dalam rentang waktu yang begitu cepat, walau sebenarnya sudah cukup lama.. beginilah waktu mempermainkan kita, kita tak pernah tahu kapan kita merasakan penantian panjang dan menyesakkan, dan kapan waktu itu menggebrak pintu kesadaran kita, bahwa esok kita sudah bertemu lagi.. ah, kalau seperti itu, hidup itu akan terasa sangat singkat.! Dan kita pun akan terhenyak kalau-kalau nanti kita begitu cepat bertemu dengan Yang Maha Tahu.. Allahumma salli ala Muhammad wa Ali Muhammad..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu bahagianya kita kalau yang kita rindukan itu juga merindukan kita.. rasa-rasanya, seperti air sungai yang bertemu dengan air laut, kemudian melahirkan tipe ekosistem baru yang lebih kaya yang disapa Estuari/payau. Pada titik pertemuan ini, muncul organisme-organisme potensial yang memakmurkan manusia, seperti udang dan kepiting. Ataukah seperti pertemuan arus perairan panas dan dingin, yang diketahui sebagai tempat ikan-ikan ruah melimpah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, bagaimanakah nasib kita jika pertemuan itu tak dikehendaki, oleh dua pihak ataupun satu pihak? Mungkin yang terjadi adalah basa-basi, pura-pura. Lebih parahnya lagi kalau orang yang kita merasa kenal itu tak menghiraukan kita, dengan cukup berkata, “kenal dimana ya?”.. maka runtuhlah bangunan harga diri kita. Kita merasakan sakit, seperti duri dalam daging, menyisakan rasa pahit. Disitulah kembali kita diuji, apakah kita bisa bertahan dikondisi sulit, walau pernah juga kita mencapai masa-masa gemilang. Kata orang,, untuk mencapai makna sesuatu,, kita mesti bergumul dulu dengan batu ujian.. seperti penyepelean, penghianatan, hingga diinjak-injak.. tapi, saat diinjak itu, tak pantaslah kalau kita tak melawan, minimal kita harus berteriak.!! Anjing saja akan menggonggong kalau diusik..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan adalah puncak, dan saya meyakini bahwa menuju puncak juga berarti kehidupan. Betapa tidak enaknya kalau kita sudah meraih finish hanya dengan langkah pertama dan tanpa ada lawan main. Betapa tidak serunya kehidupan tanpa ada goncangan dan petualangan.. saat-saat mencari dan berjalan itu kita menemukan banyak hal, baik dan buruk, yang mewarnai hidup dan akan menentukan langkah ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang perjalanan menemukan makna ini, kita tidak pernah selesai, karena kita memang selalu merasa setengah jadi.. hanya saja, ketika hendak menikmati yang besar, maka rajin-rajinlah merawat yang kecil-kecil, dari yang sedikit kita akan belajar untuk memperoleh banyak. Sementara ketika yang banyak datang tanpa proses yang sedikit, justru yang muncul bisa jadi adalah perasaan tamak, dan mungkin kalap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, mungkin, yang tertera di atas hanyalah sebaris-sebaris kata-kata sepele. Itu pun terbuka pilihan, dimana apakah kita ingin menerima ataukah menolak.. seperti kata pepatah,, “Kita tak dapat merubah seseorang atau kaum, mereka sendirilah yang dapat merubah kehidupannya.. tapi kita punya kesempatan untuk mempengaruhinya.. “..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi,, kenapa kita bisa bertemu dengan ini dan itu, lalu bukan ini dan itu.. adakah sesuatu yang diluar kehendak kita? Yang mengatur segala pertemuan-pertemuan ini..? tentang ini,, saya betul-betul tak tahu.. mungkin inilah yang disebut “takdir”..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cengkareng Timur, 20 Juli 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-7880956636730670243?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/7880956636730670243/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=7880956636730670243' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/7880956636730670243'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/7880956636730670243'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2011/07/pertemuan.html' title='Pertemuan'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-HtbWANTOWrw/TiboafJUHJI/AAAAAAAAAXA/3xIyW0vHbSs/s72-c/pertemuan.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-248534989019953957</id><published>2011-07-13T23:08:00.000+08:00</published><updated>2011-07-13T23:09:24.974+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dari Idham Malik'/><title type='text'>Nonton Gembala Kumbang, Liat Konser Bill Project</title><content type='html'>Sabtu di awal Juli barangkali adalah sebuah eksperiment, ketika semua ditampik walau juga ingin direngkuh. Pada sore tanggal 2 Juli itu, saya tak bersama siapa-siapa, bergerak ke arus keinginan, yaitu hendak sendiri. Tak ada ajak mengajak. Saya melenggang saja ke Ciputra, Grogol, mencari sesuatu yang baru dan mengasyikkan. Namun, sulit juga menemukan. Buku-buku di Gramedia pun sudah terasa boyak, ilustrasi-ilustrasi novel seakan menjadi makanan hambar. Saya tak tahu ada apa? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Keluar dari Gramedia saya mengunjungi studio 21, saya melihat-lihat film baru, ada satu yang menarik hati, yaitu ‘Gembala Kumbang’. Film yang disutradarai oleh Arie Silahale ini tampaknya menggambarkan fenomena sistem pendidikan kita yang carut marut. Berlatar pedesaan sederhana di Sumbawa, NTB, arie membawa kita ke sebuah suasana yang betul-betul ‘Indonesia’. Dengan rumah-rumah kayu yang di dalamnya terasa kehangatan keluarga, dengan hubungan antar tetangga yang begitu harmonis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia hadir dalam sekolah di pedesaan itu, dimana ada senyum ibu guru yang manis, mengajar dengan tulus pada anak-anak desa yang punya berjuta mimpi, mimpi yang mereka gantungkan di ranting-ranting pohon di padang tinggi. Ada juga guru yang selalu galak pada anak yang tidak disiplin, menampakkan otoritas semu walau sebenarnya justru menimbulkan kesedihan. Anak-anak yang terlambat, dipaksanya berlari-lari hingga berkeringat masuk kelas. Tentu, mereka sudah kecapaian dan kesulitan belajar, yang parah lagi kalau semangat hidupnya pupus di bangku sekolah, lantaran merasa kreativitas dan talentanya ditekan oleh aturan. Semua orang tahu, bahwa kreativitas hanya bisa lahir dari kebebasan, kebebasan berfikir. Apalagi yang diharap dari aturan model seperti ini? Gurulah yang berkuasa, murid seperti tentara yang jika telat semenit bisa merugikan negara. Kita pun tahu, bagaimana otak tentara itu disulap, untuk taat pada doktrin dan otoritas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ada yang sedih pada akhir cerita, semua siswa SMP di desa itu tak ada yang lulus ujian Nasional. Seorang anak yang bernama Minun lantaran patah semangat, bergerak memanjat pohon harapannya, lalu terjatuh dan mati.. negara telah membunuh anak berpotensi itu, yang selalu menyabet juara-juara tingkat kabupaten, dengan piala kebanggan berderet di ruang tamu rumahnya. Negara tak melihat prestasi itu, negara hanya melihat hasil nilai Ujian yang serentak sama dari ujung ke ujung. Negara, dalam hal ini melihat anak-anak itu seperti angka dalam hitungan statistik. Tak peduli apa cita-cita mereka, bagaimana kondisi sekolah dan masyarakat mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Rabu, 6 Juli, saya meninggalkan kapuk menuju istora senayan, ingin melihat pameren buku, Jakarta Book Fair. Buku bertebaran sangat banyak, mungkin semua penerbit yang ada di Jakarta turut berkecimpung dalam acara itu, bagaimana tidak, istora senayan padat akan stan-stan buku, dengan orang yang lalu lalang mencari dan melihat-lihat buku. Hari pertama itu, saya hanya membeli sebuah buku obral tentang “perempuan-perempuan Cina” dan sebuah novel cantik karya V.S Naiful, peraih Nobel Sastra 2001. Pada sore itu, dengan kebetulan saya bertemu kak Supa, seorang dosen asal Unhas. Kami berbincang sebentar tentang masa kerja dan rencana-rencana selanjutnya. Kak supa ke Jakarta mengurus visa untuk ke Iran mulai Kamis selama 2 pekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah itu saya ke Manggarai, bertemu kakak yang ingin balik ke Makassar sebentar subuh. Pagi harinya motornya saya pakai menuju Kapuk, dengan cukup deg-degan mengemudi motor pada jalan-jalan Jakarta yang rawan kecelakaan, macet dan juga cegatan polisi. Apalagi motor yang gunakan motor Jetmetic, yang pernah sekali saya pakai dengan jarak tempuh yang pendek. Tapi, setelah menggunakannya, ternyata asyik juga, kaki kita tak perlu repot-repot menggencet gigi personelan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kamis sore kemarin, 7 Juli, saya ke Istora lagi, perjalanan ke sana memakan waktu hampir 2 jam. Bagaimana tidak, antri busway-nya saja, antar cengkareng Harmoni sampai setengah jam. Hemm... di istora saya membeli lima buah buku murah.. hanya setengah jam di sana.. saya kemudian naik ojek menuju Bentara Budaya Jakarta (BBJ), Kompas, untuk menyaksikan penampilan terbaru Bill Project. Bill project adalah klub gabungan suami keluarga Haq, yakni Ikang Fauzi/vokalis (Marrissa Haq), Gilang Ramadhan/drumer (Shanaz Haq), dan Ikky Soekarno/gitar (Soraya Haq).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala itu, Bill Project menawarkan warna music baru diblantika music Indonesia. Mereka menamainya dengan Musik Sawah.. dimotori oleh GIlang Ramadhan, yang mengkompilasi beragam warna music daerah Indonesia, mulai dari Bali, Jawa, SUnda, Papua, Aceh, Ambon, dalam struktur instrumental drumnya.. Gilang memainkannya begitu memukau, ada rasa Indonesia yang dia anggap berasa “sawah”, bercampur dengan teknik drum dari barat..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bill Project, tidak hanya berdendang dengan nada Rock Sawahnya, tapi juga ingin berbagi kekhawatiran tentang lingkungan kita yang sudah demikian buruk. Dalam laga-nya malam itu, mereka mengkampanyekan sikap bersih lingkungan, mereka menyebutnya Go Clean.. jadi, mereka nantinya akan konser di berbagai daerah dan mengkampanyekan sikap peduli lingkungan itu.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar itu,, bravo aja Bung Ikang, GIlang dan IKki.. &lt;br /&gt;Penampilan mereka tentu sangat menghibur..!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-6T8cTZda0Bk/Th206Z3eM0I/AAAAAAAAAW4/n65f7dfc2G4/s1600/ikangfawzi.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="288" width="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-6T8cTZda0Bk/Th206Z3eM0I/AAAAAAAAAW4/n65f7dfc2G4/s320/ikangfawzi.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jumat, 8 Juli 2011 &lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-248534989019953957?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/248534989019953957/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=248534989019953957' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/248534989019953957'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/248534989019953957'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2011/07/nonton-gembala-kumbang-liat-konser-bill.html' title='Nonton Gembala Kumbang, Liat Konser Bill Project'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-6T8cTZda0Bk/Th206Z3eM0I/AAAAAAAAAW4/n65f7dfc2G4/s72-c/ikangfawzi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-454054022916810137</id><published>2011-07-05T22:35:00.000+08:00</published><updated>2011-07-05T22:35:55.979+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Privat'/><title type='text'>Tempat</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-xBxNLalnwz8/ThMhM6q4FsI/AAAAAAAAAWw/eJ9ndrm5pAk/s1600/semangat.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="208" width="243" src="http://1.bp.blogspot.com/-xBxNLalnwz8/ThMhM6q4FsI/AAAAAAAAAWw/eJ9ndrm5pAk/s320/semangat.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sepekan ini tak ada kejadian menarik, kebanyakan tenggelam dalam rutinitas absurb dan mungkin polos. Saya tak tahu, apakah ini yang disebut aktivitas, dimana waktu mengalir begitu saja, dan terasa lamban. Namun, kadang saya menikmatinya juga, sembari berleyeh-leyeh di kontrakan bertelekan buku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali, ada yang lenyap, tapi saya tak begitu tahu pasti, apa gerangan, mungkinkah tujuan, garis batas, atau kah passion? sepertinya gairah itu sebentar-sebentar datang, sebentar-sebentar pergi, ia seperti musafir yang selalu bergeliat dan tak puas di suatu tempat. Atau ia selaksa mendung yang muncul tiba-tiba dan membuat udara mendingin dan rasa malas mendera..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah.. hidup itu adakalanya seperti petir yang terang dan menakutkan, adakalanya seperti padang gersang dimana yang ada hanya debu, pasir, dan hembusan angin. Dan, sebagai manusia, kita tak layak putus asa, medan harus disusuri, hingga bertemu dengan garis batas lagi, bertemu dengan keasingan baru lagi. Alam tak pernah bosan menyapa kita, kitalah yang mungkin bosan, dan merasa boyak..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hidup, sikap itulah yang kita lawan, tentu dengan sikap yang lebih garang dengan tak jemu-jemu mencari titik persoalan. Titik-titik masalah ini, yang hendak kita pecahkan, kita pelajari dan kuasai, disitulah mungkin nikmatnya hidup, ketika kita menemukan sesuatu yang baru, yang aneh, dan mungkin sangat berguna bagi alam dan kebanyakan orang. Dimana saat mencari itu, saat penelusuran itu kita menemukan beragam dinding, tebing, yang menjelma menjadi wujud-wujud tak asing, yang mungkin berupa kawan-kawan kita, kondisi lingkungan, dan tentu diri sendiri.. yang terakhir inilah yang penghambat utama, dimana kita selalu “merasa” kurang, dan parahnya kalau merasa lebih.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah hidup kita telah menunjukkan, bahwa banyak tipikal dinding yang sejenis, yang kadar mengancamnya tak beda jauh, dan mungkin jauh di bawah standar yang dulu pernah kita tetapkan. Sehingga telah membentuk kita menjadi lebih kuat, lebih tahan terhadap keadaan. Tapi, ketika kita dilemparkan pada sebuah situasi baru, yang lama itu seakan-akan terhapus, dan kita lupa bahwa sebenarnya kita ini “kuat”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya tak begitu yakin dengan gembar-gembor itu, dan saya menelusuri intuisi baru, apakah waktu menunjukkan perubahan sikap? Apakah momentum dan gerak perubahan seakan membuat kita menjadi manusia baru, yang melupakan sejarah gemilang kita..  yang mungkin membuat kita tak berdaya di negeri asing, di tempat yang tak nyaman..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berpikir, bahwa kadang kita selalu ditempatkan pada kondisi-kondisi transisi, yang ujub-ujubnya membuat kita linglung. Padahal, pada posisi itu, sebenarnya akan muncul titik balik (turning point), dimana kita akan memperoleh khasanah baru, kedalaman intuisi yang tak tercerna tanpa proses itu. Menurut teori, untuk menghasilkan keteraturan baru yang luxerious, kita harus masuk dalam kondisi instabilitas, acak, penuh probabilitas, atau titik kritis dan mungkin kegamangan.. mengenai kondisi krisis ini, tergantung dalam penafsiran Anda masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita hidup sekarang dan di tempat ini, dan kita tak layak berharap lari.. karena,,, “tempat terbaik itu adalah tempat kita berada sekarang ini..”!! Di tempat ini, saya yakin, akan muncul kondisi baru itu,, kestabilan baru yang sesuai dengan pola kognitif yang kita inginkan.. amin..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa, 5 Juli 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-454054022916810137?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/454054022916810137/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=454054022916810137' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/454054022916810137'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/454054022916810137'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2011/07/tempat.html' title='Tempat'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-xBxNLalnwz8/ThMhM6q4FsI/AAAAAAAAAWw/eJ9ndrm5pAk/s72-c/semangat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-4488306984280317469</id><published>2011-06-30T22:05:00.000+08:00</published><updated>2011-06-30T22:06:53.689+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kepiting'/><title type='text'>Kepiting dan Kerabatnya</title><content type='html'>Kepiting dan rajungan tergolong dalam satu suku (familia) yakni Portunidae dan seksi Brachyura. Cukup banyak jenis yang termasuk dalam suku ini. Dr Kasim Moosa yang banyak menggeluti taksonomi kelompok ini mengemukakan bahwa di Indo-Pasifik Barat saja diperkirakan ada 234 jenis, dan di Indonesia ada 124 jenis. Di Teluk Jakarta dan Pulau-pulau Seribu diperkirakan ada 46 jenis. Tetapi dari sekian jenis ini, hanya beberapa saja yang banyak dikenal orang karena biasa dimakan, dan tentu saja berukuran agak besar. Jenis yang tubuhnya berukuran kurang dari 6 cm tidak lazim dimakan karena terlalu kecil dan hampir tidak mempunyai daging yang berarti. Beberapa jenis yang dapat dimakan ternyata menimbulkan keracunan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Jenis yang paling populer sebagai bahan makanan dan mempunyai harga cukup mahal adalah Scylla serrata, kadang-kadang dikenal dengan nama kepiting, kepiting hijau atau kepiting Cina. Ukurannya bisa mencapai 20 cm. Capit pada jantan dewasa lebih panjang daripada capit betina. Kepiting yang bisa berenang ini terdapat hampir di seluruh perairan pantai Indonesia, terutama di daerah mangrove, juga di daerah tambak air payau atau muara sungai, jarang ditemukan di pulau-pulau karang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Jenis lain yang juga banyak dijumpai dijual di pasar adalah Portunus pelagicus, lazim dikenal dengan nama rajungan. Hewan ini bisa mencapai ukuran 18 cm, capitnya memanjang, kokoh dan berduri. Pada hewan ini terlihat adanya perbedaan yang menyolok antara jantan dan betina. Rajungan jantan mempunyai ukuran tubuh lebih besar, sapitnya pun lebih lebih panjang daripada yang betina. Warna dasar pada yang jantan adalah kebiru-biruan dengan bercak-bercak keputih-putihan agak suram. Perbedaan warna ini jelas pada individu yang agak besar, walaupun belum dewasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Rajungan Portunus ini hidup pada habitat yang beranekaragam: pantai dengan dasar pasir, pasir lumpur, dan juga laut terbuka. Dalam keadaan biasa, ia diam di dasar laut sampai kedalaman lebih 65 m, tetapi sekali-kali ia dapat terlihat berenang dekat ke permukaan laut. Untuk keperluan renangnya, pasangan kakinya yang paling belakang berbentuk dayung. Capitnya digunakan untuk memasukkan makanan ke mulutnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dalam pertumbuhannya, rajungan (dan semua anggota Portunidae) sering berganti kulit. Kulit kerangka tubuhnya terbuat dari bahan berkapur dan karenanya terus tumbuh. Jika ia akan tumbuh lebih besar maka kulitnya akan retak pecah dan dari situ akan keluar individu yang lebih besar dengan kulit yang masih lunak. Rajungan yang baru berganti kulit, tubuhnya masih sangat lunak, diperlukan beberapa waktu untuk dapat membentuk lagi kulit pelindung yang keras. Masa selama bertubuh lunak ini merupakan masa paling rawan dalam kehidupan kepiting, karena pertahannya pun sangat lemah. Tidak jarang ia disergap, dirobek-robek dan dimakan oleh sesama jenisnya. Kanibalisme di kalangan rajungan tampaknya memang merupakan hal yang sering terjadi terutama dalam ruang terbatas, baik pada yang dewasa maupun yang masih larva. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-2Y5H3CDnIwI/TgyCnYxwtiI/AAAAAAAAAWo/PC5Alfq6Iu0/s1600/kepiting%2B2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="177" width="284" src="http://4.bp.blogspot.com/-2Y5H3CDnIwI/TgyCnYxwtiI/AAAAAAAAAWo/PC5Alfq6Iu0/s320/kepiting%2B2.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Seekor rajungan dapat menetaskan telurnya menjadi larva sampai lebih sejuta ekor. Larva yang baru menetas ini bentuknya sangat berlainan dari bentuk dewasa. Larva ini mengalami beberapa kali perubahan bentuk sampai mendapatkan bentuk seperti yang dewasa. Larva yang baru ditetaskan (tahap zoea) bentuknya lebih mirip udang daripada rajungan. Di kepalanya terdapat semacam tanduk memanjang, matanya besar dan di ujung kakinya terdapat rambut-rambut. Tahap zoea ini sendiri lagi dari 4 tingkat untuk kemudian berubah ke tahap megalopa dengan bentuk yang lain lagi. Berbeda dengan yang dewasa yang hidup di dasar, larva rajungan berenang-renang, terbawa arus, dan hidup sebagai plankton. Pada tahap megalopa, bentuknya sudah mulai mirip rajungan, tubuhnya makin melebar, kaki dan capitnya sudah jelas wujudnya, matanya sangat besar (bahkan bisa lebih besar dari mata yang dewasa). Barulah pada perkembangan tahap berikutnya terbentuk juvenil yang sudah merupakan rajungan muda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ada beberapa jenis rajungan lainnya yang juga bisa dimakan. Di Jakarta misalnya sekali-kali dapat ditemukan rajungan bintang (Portunus sanguinolentus) yang mudah dikenal dengan adanya bintik berwarna merah coklat di punggungnya. Rajungan ini ukurannya lebih kecil dari Portunus pelagicus, dan hidup di laut terbuka mulai dari tepi pantai sampai kedalaman lebih dari 30 m.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Acapkali dapat pula ditemukan rajungan karang (Charybdis feriatus) yang mempunyai warna yang khas, coklat kemerah-merahan, dan di punggungnya terdapat gambaran pucat menyerupai salib.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Rajungan lain yang bisa berenang dan dengan ukuran yang lebih kecil adalah rajungan angin (Podophthalmus vigil), yang umumnya hidup di laut terbuka sampai kedalaman 70 m. Cirinya yang sangat menonjol adalah matanya yang mempunyai tangkai yang amat panjang dan bisa direbahkan. Jenis ini seringkali tertarik oleh sinar lampu dan karenanya bisa tertangkap juga dengan bagan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Selain kepiting atau rajungan, masih banyak jenis lainnya dari seksi Brachyura yang mempunyai ciri-ciri dan bentuk, sifat-sifat hidup  dan lingkungan yang berbeda-beda. Di daerah pasang surut dengan hamparan pasir yang luas di daerah-daerah tertentu dapat ditemukan kepiting Myctyris, nama Inggrisnya adalah “soldier crab”, sedangkan di sini diberi julukan “tentara Jepang”. Di pantai dekat Merauke, jika air sedang pasang surut, mereka bisa terlihat bergerak kian kemari di atas pasir, serentak dalam gerombolan besar yang terdiri dari ratusan atau ribuan individu dengan penuh kewaspadaan. Dengan sedikit gangguan saja, misalnya dengan langkah seorang yang mendekat, maka tiba-tiba saja mereka akan lenyap seketika secara serempak, memasuki lubang perlindungan. Baru setelah situasi dianggap aman, mereka akan keluar lagi beramai-ramai hilir mudik di atas pasir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Lebih dekat ke daratan akan dijumpai kepiting atau ketam yang makin dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang lebih kering. Di lumpur-lumpur lunak di dasar hutan-hutan mangrove yang tidak terlalu rimbun sering ditemukan ketam binatu dari marga Uca. Umumnya berukuran kecil, tetapi biasanya sangat menyolok karena warnanya yang “menyala”, merah, hijau atau biru metalik, sangat jelas lebih-lebih dengan latar belakang lumpur bakau yang berwarna hitam. Ciri yang sangat menonjol, ialah pada yang jantan salah satu capitnya berukuran sangat besar, sama sekali tak seimbang dengan ukuran capit yang satunya lagi yang kecil sekali. Capit besar ini sering terlihat menggapai-gapai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di pantai yang berbatu-batu, kemungkinan akan menjumpai kepiting berwarna hijau menarik, Grapsus. Kakinya panjang-panjang, sangat cekatan bergerak di batu-batu yang terhempas ombak. Capitnya kecil saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Lebih ke darat, di atas daerah pasang surut, bisa ditemukan gelenteng (Ocypode marcrophtalmus) yang sudah lebih menyesuaikan diri dengan kehidupan darat (terrestrial). Hewan ini yang tubuhnya bisa berukuran sekitar 6 cm membuat lubang-lubang yang dalam di pasir (sampai 1 m) di sekitar batas atas garis pasang. Kakinya lancip dan panjang hingga dapat bergerak dengan cepat, matanya mempunyai tangkai yang panjang. Ia dilengkapi dengan capit yang kuat. Malam hari baru ia keluar dari lubangnya untuk mencari makanan berupa hewan-hewan mati, atau juga hewan hidup. Dalam bahasa Inggris, hewan ini diberi nama yang seram, “ghost crab” (kepiting hantu). Di kalimantan dilaporkan adanya gelenteng yang buas, dapat menyergap tukik (anak penyu yang baru ditetaskan) yang sedang menuju ke laut. Kemudian diseret ke lubangnya dan dicabik-cabik untuk dimakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Penyesuaian untuk hidup di darat, dimungkinkan karena kepiting ini mempunyai kantong insang yang berisi air yang dibawanya kemana-mana. Sekali-sekali jika air dalam kantong itu telah jenuh maka harus diganti lagi dengan air yang baru. Di pulau Kerakatau terdapat kibau (Gecarcoidea lalandei). Jenis kepiting ini juga sudah menyesuaikan diri hidup di darat, bahkan terdapat sampai ke puncak Krakatau. Tetapi ikatannya dengan laut belum terputus sama sekali. Telurnya ditetaskan di laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tidak semua kepiting dari seksi Brachyura ini hidup bebas dalam air, banyak jenis diantaranya mempunyai persekutuan hidup yang sudah begitu akrab dengan hewan lainnya. Bagi orang yang gemar makan kerang darah (Anadara) misalnya mungkin pernah sesekali waktu menjumpai ada kepiting kecil, sekitar 5 mm, hidup di dalam ruangan cangkang kerang tersebut. Kepiting kecil ini (Pinnotheres palaensis) tubuhnya agak bulat, mempunyai mata kecil, kaki yang ramping, dan menumpang cari makan (kommensal) sambil berlindung pada si kerang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula kepiting Pinnotheres semperi yang hidup di dalam tubuh teripang Holothuria scabra yakni di saluran kloakanya. Kadang-kadang sepasang jantan dan betina berada bersama-sama daam satu individu teripang. Sebagian lagi, misalnya marga Xaiva dan Caphyra hidup bersama-sama dengan hewan lunak (Oktocoralia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepiting dari suku Dromiidae mempunyai kebiasaan yang aneh pula. Untuk penyamaran tubuhnya (camouflage), ia biasanya “menggendong” spons (sponge) yang hidup, yang diletakkan di punggungnya dan dibawanya kemana-mana. Ini dimungkinkan karena pasangan kaki ke-4 dan ke-5 nya menghadap ke atas dan mempunyai sapit kecil untuk memegang gendongannya. Gambar 140 menunjukkan bagaimana seekor kepiting Dromia menaikkan gendongannya ke atas punggung, dengan cara menggulingkan diri terlebih dahulu. Jika perlu spons itu dipotong-potong dan dibentuk dulu agar sesuai untuk punggungnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Laut Nusantara&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-4488306984280317469?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/4488306984280317469/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=4488306984280317469' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/4488306984280317469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/4488306984280317469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2011/06/kepiting-dan-kerabatnya.html' title='Kepiting dan Kerabatnya'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-2Y5H3CDnIwI/TgyCnYxwtiI/AAAAAAAAAWo/PC5Alfq6Iu0/s72-c/kepiting%2B2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-2883812012556626897</id><published>2011-06-30T21:52:00.000+08:00</published><updated>2011-06-30T21:52:11.652+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kepiting'/><title type='text'>Kepiting dalam buku Biologi Laut</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-WutjfH-VaXg/Tgx_PJJ-Y_I/AAAAAAAAAWg/4Ot46javDrU/s1600/kepiting.jpg" imageanchor="1" style="clear:right; float:right; margin-left:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="120" width="160" src="http://1.bp.blogspot.com/-WutjfH-VaXg/Tgx_PJJ-Y_I/AAAAAAAAAWg/4Ot46javDrU/s320/kepiting.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kepiting masuk dalam kelompok Brachyura ordo Decapoda (hewan berkaki sepuluh), kelas Crustacea atau arthopoda yang sebagian besar hidup di laut dan bernafas lewat insang. Kelompok hewan laut ini dapat dikenal dari bentuknya yang melebar melintang. Pada dasarnya kelompok kepiting ini, mempunyai bagian-bagian yang tidak berbeda dengan udang. Bagian abdomennya tidak terlihat karena melipat ke dadanya. Kaki renangnya sudah tidak berfungsi sebagai alat renang lagi. Telson dan Uropod tidak ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jantan dapat dibedakan dari betina dengan hanya melihat bentuk abdomennya. Kalau jantan pada umumnya sempit dan meruncing ke depan sedangkan bentuk abdomen betina melebar dan setengah lonjong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian-bagian penting dalam pengenalan jenis-jenis dari suku Portunidae (rajungan) adalah: karapas, beserta bagian-bagiannya; jumlah bentuk dan sifat duri atau gigi dari rostrum; jumlah, bentuk dan sifat duri atau gigi dari tepi antero-lateral; bentuk sudut postero-lateral; ruas-ruas kaki-jalan terutama dari pasangan kaki pertama yang berbentuk capit dan dari pasangan kaki terakhir (kelima) yang berbentuk dayung; bentuk abdomen jantan dan bentuk pleopod pertama (alat kelamin jantan); bentuk alat-alat mulut, terutama maksiliped III; dan bentuk ruas dasar antena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Decapoda mempunyai sepasang embelan pada setiap ruas kecuali pada ruas pertama, yaitu dengan perkecualian pada antena pertama, semua embelan mempunyai morfologi yang sama, yang merupakan asal-usul dari bentuk dasar embelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernafasan – ruang-ruang brankial atau ruang-ruang pernafasan terletak di bawah brankiostegit atau atap insang. Masing-masing ruang dilindungi oleh selaput kutikular yang memisahkannya dari hepatopankreas di sebelah anterior dan dari bagian dalam karapas di sebelah posterior. Bagian ventral dibatasi oleh brankiostegit di sebelah luar dan oleh dinding tubuh di sebelah dalam. Ujung depan masing-masing ruang insang menyempit dan di belakangnya terletak suatu ruang pompa kecil melindungi skapognatit. Atap ruang pompa terbentuk dari selapis kutikular yang diperkuat oleh kerangka; bagian posterior didasari oleh perluasan pangkal epipod dari maksiliped I dan di sebelah anterior oleh eksopod dari maksiliped I dan III.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insang-insang dihubungkan dengan pangkal embelan-embelan di dada. Ada tiga macam kedudukan bermula munculnya insang sehingga insang-insang tersebut mempunyai nama-nama yang berbeda, sebagai berikut;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- podobrankial muncul dari epipod;&lt;br /&gt;- artrobrankial dari hubungan embelan tubuh dan tubuh; &lt;br /&gt;- pleurobrankial dari dinding tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rajungan pada umumnya mempunyai sembilan insang pada masing-masing ruang brankial, yaitu:&lt;br /&gt;1. maksiliped II masing-masing terdapat satu podobrankial dan satu artrobrankial;&lt;br /&gt;2. maksiliped III mempunyai satu podobrankial yang tumpul dan dua artrobrankial;&lt;br /&gt;3. capit mempunyai artrobrankial;&lt;br /&gt;4. kaki jalan I dan II masing-masing mempunyai pleurobrankial tunggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam ruang brankial juga terdapat maksiliped-maksiliped dan epipod-epipod, maksiliped II dan III membersihkan permukaan ventral insang-insang. Sedangkan epipod maksiliped I yang panjang menyapu permukaan dorsal insang-insang. Arus pernafasan masuk ke ruang brankial melalui celah-celah yang berambut antara kaki-jalan dan ujung bawah dari brankiostegit. Lubang atau pintu terbesar Milne-Edwards openings terletak di atas basis capit. Setelah air melalui insang lalu menuju ke ruang hipobrankial di bawah insang. Masing-masing insang dibentuk oleh satu seri lempeng atau lamela yang diatur di kedua sisi aksis pusat yang pipih dan arus pernafasan mengalir ke atas melalui lamela-lamela ke ruang epibrankal di bawah insang. Pertukaran gas terjadi pada saat arus melewati antara lamela-lamela. Hal ini dilakukan oleh sistem arus yang teratur. Dengan sistem ini darah mengalir di dalam lamela-lamela dari arah yang berlawanan dengan aliran air di antara lamela.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dalam masing-masing ruang epibrankial, arus air keluar mengalir ke depan, ke dalam ruang pompa. Dari ruangan skapognatit, air dikeluarkan melalui lubang pengeluaran. Masing-masing skapognatit merupakan pergerakan naik turun yang diatur oleh sistem operasi otot yang berlawanan pada irisan-irisan kutikel. Ada dua gelombang per detik bergerak dari posterior ke anterior sepanjang skapognatit yang mendorong air menuju ruang pompa. Lubang pengeluaran terletak di kedua sisi epistoma tepat di bawah mulut dan arus yang keluar dari sistem tersebut dapat sangat kuat dan membantu menyemprotkan air sampai kosong. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sirkulasi darah – sistem sirkulasi darah pada rajungan disebut sistem sirkulasi darah hemosoelik (haemocoelic) atau terbuka, yaitu terjadi kontak langsung antara darah dan jaringan. Sistem ini sangat berbeda dengan sistem sirkulasi darah pada Vertebrata yang mempunyai sistem sirkulasi melalui pembuluh darah tertutup. Sistem sirkulasi darah terbuka pada crustacea menyebabkan hilangnya rongga tubuh, karena sinus-sinus darah memenuhi celah antara jaringan dan organ-organ tubuh, membentuk rongga tubuh yang dipenuhi darah, yaitu hemosoel. Rongga tubuh sendiri terbatas pada rongga-rongga eksresi dan organ-organ perkembangbiakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tetapi meskipun banyak volume darah memenuhi ruang hemosoel, ada tambahan sistem pembuluh darah yang sangat nyata, terutama pada sisi arterial, yakni melalui pembuluh arteri darah yang dipompa dari jantung sehingga suatu jaringan sirkulasi darah dapat dikelola. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kelompok Branchyura mempunyai jenis-jenis yang dapat dimakan, terbanyak di antara crustacea lainnya. Kepiting ada yang dapat berenang, yakni yang dapat ditandai dari ujung pasangan kaki terakhir yang pipih berbentuk dayung, sedangkan jenis-jenis lainnya hanya dapat merayap, yakni jenis-jenis yang pasangan kaki terakhirnya tidak berbentuk dayung, tetapi meruncing ujungnya seperti pasangan-pasangan kaki yang lain. Kepiting yang dapat berenang sebagian besar terdiri dari jenis-jenis rajungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Disalin kembali &lt;br /&gt;Dari Buku Biologi Laut&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-2883812012556626897?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/2883812012556626897/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=2883812012556626897' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/2883812012556626897'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/2883812012556626897'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2011/06/kepiting-dalam-buku-biologi-laut.html' title='Kepiting dalam buku Biologi Laut'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-WutjfH-VaXg/Tgx_PJJ-Y_I/AAAAAAAAAWg/4Ot46javDrU/s72-c/kepiting.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-7307206667064016124</id><published>2011-06-30T21:38:00.000+08:00</published><updated>2011-06-30T21:39:04.366+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Privat'/><title type='text'>Kemarin</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-KZvaKa711SE/Tgx8YksTA-I/AAAAAAAAAWY/O2HzgO8IqCw/s1600/kemarin.jpg" imageanchor="1" style="clear:right; float:right; margin-left:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="160" width="162" src="http://4.bp.blogspot.com/-KZvaKa711SE/Tgx8YksTA-I/AAAAAAAAAWY/O2HzgO8IqCw/s320/kemarin.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin saya masih di sana, di seberang laut itu.. tenggelam dalam riuh rendah kehidupan mahasiswa, masa yang begitu asyik.. ketika itu, hidup didedikasikan untuk belajar, bermain, dan berbagi.. hidup yang demikian lah yang akan selalu ku kenang, dan tak akan tergantikan.. setamat kuliah, ada yang hilang, tapi tak mengerti apa.. mungkin suatu nuansa, pesona, dan getar...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Keluar dari kampus, kita seperti pindah dunia, lepas dari surga ilmu dan persahabatan.. di luar ini, mungkin kebanyakan dari kita sudah berorientasi perut dan kenyamanan.. rasa terhadap sesama melempem, dan barangkali telah memegang prinsip, “kita harus menyelamatkan diri kita, setelah itu baru orang lain”.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tapi, saya, apakah dengan serta merta bergabung dengan kelompok mereka?.. kelompok yang pernah juga menamakan diri sebagai aktivis, pembela, atau penggerak.. semoga tidak, saya selalu berdoa untuk itu. Memang, saya orangnya agak sulit berbaur, apalagi dengan golongan orang-orang bodoh atau kah orang ‘sok’, tapi, ada getaran kuat yang muncul untuk tidak melupakan yang lain, tidak menjadi anonim diantara yang lemah. Padahal, secara materi,, saya juga lemah, saya juga sulit..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Entahlah, saat-saat ini, saya sekadar bertahan hidup saja, dengan terus belajar memaknai hidup lewat bekerja dan membaca.. sembari menikmati pengalaman-pengalaman baru selama hidup di jakarta.. kota ini, telah memberi begitu banyak kesan.. yang begitu saya impikan sebelumnya.. namun, dengan berpindah ke kota ini, banyak juga yang tertinggal, berupa kehangatan teman-teman, keasyikan ngobrol tentang apa saja, bersama sahabat-sahabat, adik dan kakak-kakak senior.. kehangatan merekalah yang tak saya peroleh di kota ini, entah kapan lagi dapat merasakan kehangatan seperti kemarin..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya tak tahu, kapan mestinya saya berpikir realistis, seperti mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, mencari pekerjaan yang lebih menjanjikan, ataukah menikah dan membangun rumah tangga.. saya tak tahu.. sepertinya, hal-hal itu belum mendesakku, walau ruwet juga memikirkannya.. apakah nanti saya menjadi penganggur yang banyak celoteh? Ataukah seorang skeptik terhadap kehidupan.. apakah nanti, saya dapat keliling dunia? Saya tak tahu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sekarang, saya menikmati kehidupan bebas, bebas dalam artian tidak terikat pikiran akan masa depan.. waktu, adalah sekarang, dimana waktu itu saya habiskan untuk menikmati hidup, lewat bacaan, lewat tulisan, dan lewat jalan-jalan.. juga dengan menonton film, tarian dan pagelaran musik jazz.. dan mungkin, dengan begini, saya masih bisa memelihara sikap ku, yang condong kepada kebenaran, kejujuran, dan progress.. mengatakan sesuatu dengan plong, tidak berbuat nyeleneh.. itu saja yang saya ingin pertahankan sekarang..  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kamis, 30 Juni 2011 &lt;br /&gt;Gudang Kepiting&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-7307206667064016124?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/7307206667064016124/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=7307206667064016124' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/7307206667064016124'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/7307206667064016124'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2011/06/kemarin.html' title='Kemarin'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-KZvaKa711SE/Tgx8YksTA-I/AAAAAAAAAWY/O2HzgO8IqCw/s72-c/kemarin.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-1820038769655005155</id><published>2011-06-29T21:57:00.001+08:00</published><updated>2011-06-29T21:59:55.318+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Privat'/><title type='text'>Hendak Melawan Siapa?</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-tf6SmUr_4SE/Tgsv0ugkR0I/AAAAAAAAAWI/FmUruev5bkQ/s1600/bharatayudha-war1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="195" width="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-tf6SmUr_4SE/Tgsv0ugkR0I/AAAAAAAAAWI/FmUruev5bkQ/s320/bharatayudha-war1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kita hidup untuk melawan siapa? Sudah begitu banyak pertempuran, sadar atau tidak sadar, yang hadir dalam perjalanan hidup kita. Saya yakin, sebetulnya kita selalu berhadapan dengannya setiap hari.. saat kita bergumul dengan kebosanan, dengan rutinitas, dan tentu dengan orang-orang yang tak asyik.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita berkelahi dalam dimensi ruang dan waktu, bergulat dengan pikiran-pikiran ketus, dengan sikap apatis, dan pastinya rasa malas.. kadang kalau lagi connect, kita bertemu dengan keseriusan, dengan sesuatu yang bergelora, dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat cemas dan menuntut jawab. Ketika kutub itu hadir, kita seperti dikejar sesuatu, yang mungkin dari harapan-harapan akan masa depan yang muskil, dan juga penderitaan-penderitaan yang lalu-lalu.. dan tampaknya, kita merasa tak pernah selesai, selalu ada yang ingin ditambah, dirubah, atau pun dikurangi.. hidup ini selalu mengejar rasa puas yang tak kunjung tiba..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin berkelahi, tapi.. apakah dengan orang-orang bodoh ini? Dengan orang-orang yang sok ini? Bukan... saya hanya ingin berkelahi dengan takdir, dengan situasi.. keadaan yang sebenarnya juga saya rindukan, untuk diterima dan dijalani.. toh kita tak bisa meminta jalan lain, ketika perang sudah memancing di depan. Ketika harga diri ditantang, saat ego dipicu untuk bergerak menyelesaikan, menuntaskan.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, kebanyakan dari kita adalah pemain bertahan. Yang pandai menghalau gerak lawan, mematahkan serangan, atau memutar balik keadaan. Namun, ketika berada di ujung gawang, kita selalu ragu untuk menerkam, takut jika harapan itu melambung ke mistar nasib, dan.. kemenangan kita selalu bersembunyi dalam kegairahan kawan, yang berhasil mencetak gol. Kita selalu bisa bertahan dari keadaan, dimana para musuh selalu memojokkan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita hadir untuk melawan siapa? Mungkin bukan untuk melawan siapa-siapa, tapi hanya melawan diri sendiri, agar tidak musnah dari jagad diri.. harga diri inilah yang harus dijaga, yang hanya dapat muncul dengan sokongan ide, dialektika, materi dan juga persahabatan.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;harga diri yang seketika runtuh hanya dengan menerima suap, mengambil uang rakyat, menipu teman, dan juga.. “bersikap bodoh terhadap keadaan”.. yang terakhir inilah yang merisaukan.. dan sekarang, sikap itu hadir dimana saja, mungkin dalam diri saya dan kawan-kawan.. entahlah..  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabu, 29 Juni 2011&lt;br /&gt;Di Gudang Kepiting&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-1820038769655005155?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/1820038769655005155/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=1820038769655005155' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/1820038769655005155'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/1820038769655005155'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2011/06/hendak-melawan-siapa.html' title='Hendak Melawan Siapa?'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-tf6SmUr_4SE/Tgsv0ugkR0I/AAAAAAAAAWI/FmUruev5bkQ/s72-c/bharatayudha-war1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-5759723489640063486</id><published>2011-06-27T22:20:00.001+08:00</published><updated>2011-06-27T22:22:46.628+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dari Idham Malik'/><title type='text'>Berkenalan dengan Jazz</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-lL3Cb_b5Zlc/TgiR1m5_UBI/AAAAAAAAAVw/HRmXhwRrsFo/s1600/jazz.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="98" width="130" src="http://4.bp.blogspot.com/-lL3Cb_b5Zlc/TgiR1m5_UBI/AAAAAAAAAVw/HRmXhwRrsFo/s400/jazz.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Bulan Mei-Juni ini, ada sesuatu yang baru di kehidupanku, sesuatu yang merangsang telinga, merembes ke relung hati. Musik lah mahluk yang memesona itu, yang sebelumnya sekadar mengisi hari-hari saat berinteraksi dengan laptop, yang hanya menjadi warna di pagi hari saat mandi atau mencuci baju, kini menjadi semacam gairah, interessant, passion. Musik sudah menjadi makanan, yang menyatu dengan diri, walau mungkin saya cuma menikmati, belum sampai pada tahap memainkan.. dan kian bertumbuh saat berkenalan dengan Jazz, pertengahan Mei lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali menonton konser jazz pada pertengahan Mei itu, saya kebetulan membeli koran kompas edisi kamis, dan sekenanya saja membaca rubrik pendidikan dan kebudayaan pada kolom langkan. Di kolom kecil itu, termuat informasi konser musik jazz “gratis” yang diselenggarakan oleh Bentara Budaya Jakarta/BBJ (Kompas Gramedia), di Palmerah Selatan. Tentu ada perasaan senang, karena bisa menonton gratis, maka sore harinya saya pun bersiap-siap meninggalkan Kapuk, menumpang angkot dan berganti-ganti busway hingga naik ojek ke Palmerah Selatan. Saya datang sedikit lebih cepat, jadi harus menunggu. Orang yang hadir bisa dihitung jari, kami duduk pada kursi panjang dari kayu di halaman BBJ, berhadapan dengan panggung yang sederhana, tapi cukup indah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah jam berselang, orang-orang mulai berdatangan, sepertinya dominan adalah orang kantoran yang pakaiannya rapi dan necis, kalau perempuan tampak begitu anggun. Tampaknya, Cuma saya yang mengenakan kaos oblong pada malam gelap itu.. hehe.. terdapat pula orang-orang tua, ramput putih, yang datang seorang diri dan duduk paling depan.. ada juga yang datang sekeluarga, membawa dua orang anaknya yang masih kecil-kecil. Saya duduk santai saja, bertiga dalam satu kursi panjang bersama sepasang pemuda yang berbagi kasih.. Dan pemain pun bersiap-siap, mereka bertiga, dan menamakan diri sebagai ”Trio, Rio Moreno”..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketuanya bernama Rio Moreno, yang saat itu memainkan organ, yang lainnya adalah dua pemuda yang tak saya ingat namanya, satu bermain drum, satunya lagi bermain bass.. aliran musik mereka adalah Jazz latin, memainkan beberapa karya pemain jazz terkenal, dan sebagian lagi adalah karya aransement Rio Moreno.. saya tak kenal dengan pencipta musik-musik jazz, judul musik, dan aliran-alirannya, dan memang tak berusaha untuk mengingat. Saya datang ke sana untuk menikmati.. dan betul-betul menikmati.. dalam remang-remang itu, saya menggerakkan badan sekenanya, tenggelam dalam lautan nada yang begitu indah, semuanya lupa, semuanya hilang, yang muncul adalah rasa.. yang tak terbahasakan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pulang ke kontrakan mendekati tengah malam, untuk masih ada mobil yang mau mengantar. Tiba dikontrakan dengan kelelahan dan tidur pulas hingga pagi hari. Pagi harinya, saya berniat mengagendakan waktu untuk mencari konser-konser jazz gratis. Maka setelah bertemu dengan bapak penjual koran keliling, saya minta untuk langganan kompas untuk hari Kamis, Sabtu Minggu saja. Saya pilih hari kamis karena pada hari itu kemungkinan ada informasi agenda-agenda kegiatan BBJ yang menarik. Sabtu karena beritanya yang padat, dan minggu karena kajian budaya dan sastranya yang memukau.. hampir sebulan saya menelurusi langkan, tak ada konser yang diselenggarakan, yang ada hanya pameran patung, dan lukisan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertigaan juni kemarin, seorang teman datang dari Makassar, bernama Icha Dian, junior identitas yang baru saja ujian meja. Dia ke jakarta dalam rangka pelatihan sebagai ahli gizi perusahaan makanan ternama, Danone. Saya menjemputnya di Bandara Soekarno-Hatta, lalu mengantarnya ke Hotel Hariss, Tebet, tempatnya menginap selama seminggu. Malamnya, kami sempat nonton film horor, Scream 4 di Bioskop Setia Budi. Lusa, ia bersama seorang junior yang lain, bernama Asri yang juga mencari hidup di Jakarta sejak Januari 2011 lalu tiba-tiba ingin berkunjung ke kontrakan, maka datanglah mereka ke kontrakan di cengkareng timur pada magrib. Kami ngobrol hingga pukul 11.00 malam. Dan mereka pulang ke Tebet dengan ongkos mahal, maklum, mereka pake taksi.. mana ada patas atau busway yang beroperasi malam hari di pinggiran jakarta ini... hehehe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari perbincangan malam itu, untuk mengisi hari-hari tamu kami, Icha dari makassar, maka besoknya kami rencana kumpul lagi, di Gothe Haus, Jaln Samratulangi, Menteng, Jakpus. Menariknya, karena agendanya adalah nonton konser Jazz “gratis” atau “GB”/Gak Bayar.. hehe.. Gothe Haus adalah institut pusat kebudayaan Jerman, yang tiap minggu menyelenggarakan agenda kebudayaan, seperti konser musik, pemutaran film, atau mungkin dancer. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, saya kembali menikmati lagi, yang tampil adalah kelompok Sandy Quartet, personel empat orang, yang dipimpin oleh Sandy yang memainkan Drum. Permainannya memukau, membuat jiwa saya mengalir, dan memantulkan warna-warna.. saya begitu mengagumi cara mereka memetik gitar, bermain bass, caranya menyentak drum. Sehingga melahirkan lantunan musik yang berbicara.. dengan bahasa nada.. bahasanya sangat panjang, kita tidak bisa mengartikan apa yang diungkapkannya. bahasa itu tidak dicerna oleh akal, tapi langsung menerobos jiwa, yang menafsirkan adalah jiwa.. yang turut bergerak sesuai dengan lantunan harmonisasi musik itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok kedua lebih memukau lagi, dimotori oleh Benny Lakumahuwa, seorang perintis Jazz awal di Indonesia ini. umurnya sudah 50 tahun ke atas, tapi dia masih kuat meniup saksofon, bermain flute.. kelompok itu terdiri dari lima orang, yaitu Benny Lakumahuwa, Barry Lakumahuwa (anak Benny) yang bermain bass gentong, dimas yang bermain bass, lelaki tambun bermain alat tiup, dan satunya lagi memainkan piano. Mereka bermain begitu ekspresif dan bergairah.. khususnya Barry Lakumahuwa, umurnya mungkin di bawah 20, tapi permainannya!!.. bushet.. satu sesi, dia bermain berdua saja dengan bapaknya (Benny), dia memegang gitar bass, dan bapak memainkan flute (alat tiup).. mereka saling berbicara, berkejaran, dan saling balas bahasa.. komunikasi bapak anak ini begitu aneh, lantaran menggunakan musik. Kita tak tahu apa yang muncul saat berkomunikasi, mungkin begitu juga dengan mereka, mereka berbicara lewat alat musik sekenanya.. dan hasilnya,, luar biasa..!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besoknya, saya mengunjungi Gothe Haus lagi, tapi kali ini hanya sendiri.. itu pun saya datang terlambat dan tidak kebagian kursi. Saat itu kondisinya tidak memungkinkan untuk dapat saya nikmati sepenuhnya, karena sebentar-sebentar sms, sebentar-sebentar menelpon, jadi sering keluar masuk ruang.. pemainnya berasal dari Jerman, yakni.. trio Begnini..  Permainannya asyik, tampaknya, saya belum bisa membeda-bedakan, mana yang lebih bagus diantara yang saat itu dan yang kemarinnya.. saya hanya bisa menikmati, dan belum bisa menilai.. mungkin karena sama-sama bagus kali yah.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konser Jazz yang saya ikuti lagi adalah konser Minggu (19/06) di @america, lantai 3 Fasific Place, Hotel Ritz Calton, Jln Jendral Sudirman. Masuk ke Fasific palace harus mengikuti prosedur keamanan berganda, masuk ke @america apalagi. Pertama, tas kita dulu di sensor.. kemudian tubuh mesin, lalu petugas akan menggunakan alat pelacak untuk menyentuhkan ke kantong dan bagian tubuh kita. tampaknya, pusat kebudayaan amerika menerapkan prosedur keamanan yang begitu ketat. Wajarlah, amerika kan polisi dunia, dan yang namanya polisi, selalu punya musuh dan banyak yang benci. Hee..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;@america di desain modern, kita seperti masuk ke zona ruang angkasa yang remang-remang bercahaya temaram.. ruangan didominasi fasilitas teknologi informasi, seperti jaring-jaring informasi di layar-layar di dinding yang dilontarkan oleh proyektor, yang berulang-ulang menampilkan tokoh-tokoh peraih nobel asal amerika, beserta saintis terkenal asal negeri paman Sam itu. layar yang lain berisi tokoh astronomi (pilot) pesawat luarangkasa america. Dan memang, impian negeri ini, setelah menguasai dunia adalah menguasai bulan atau benda-benda angkasa lainnya. Terdapat pula peta elektronik dalam monitor sebesar 3  x 2,5 meter. Saat itu, pengunjung mengutak-atik peta  jakarta pada layar, kita bisa mencari posisi kontrakan kita lewat layar itu, fungsinya mirip google map..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;@america menawarkan konsep Youth Jazz, yang diselenggarakan sebulan sekali. Kala itu yang bermain adalah kelompok jazz asal SMAN 2 Bandung, yang kelompoknya bernama “Mahesa”. Kelima Remaja yang tampil saat itu merupakan generasi ke 12 tim Musik Mahesa. Lumayan, mereka membawakan lagu sendiri yang memiliki ciri khas ‘muda’, dimana hentakan-hentakan musiknya mengandung nuansa rock, mereka memilih aliran Jazz rock untuk sementara. Kelompok kedua adalah anak band asal Jakarta, menamakan dirinya dengan Hemiola Quartet, berjumlah empat orang, yaitu gitar, bass, piano, dan drum. Musik yang dibawakan adalah ciptaan sendiri, ada yang diciptakan oleh ketua grup, dan ada yang diciptakan oleh pianis yang bernama Gabriella. Saya sangat menikmati permainan mereka, lompatan-lompatan nadanya, harmonisasinya, dan tentu improvisasinya.. mereka adalah anak muda-anak muda berbakat..&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-DGxFA05zbi0/TgiQb4wSFAI/AAAAAAAAAVg/i9Uz3bi8K2s/s1600/DSC03096.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="240" width="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-DGxFA05zbi0/TgiQb4wSFAI/AAAAAAAAAVg/i9Uz3bi8K2s/s320/DSC03096.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan musik terakhir yang tanpa sengaja saya ikuti, juga di Pacific Palace, @america, ahad kemarin (26/6). Saat itu saya menemani adik teman yang berasal dari Pangkep Sulsel yang hendak mengikuti diskusi Computer Festival (Confest) yang diadakan oleh Jurusan Komputer Universitas Indonesia (UI). ia merupakan finalis lomba membuat program komputer se Indonesia tingkat SMU. Saat itu merupakan ajang pengumuman pemenang yang diikutinya Sabtu kemarin. Keder juga rasanya, berada diantara mahasiswa UI, dan saya memilih menjadi anonim dan sekadar menjadi peserta seminar saja. Sehabis seminar, ternyata ada acara penutupan, dan salah satu hiburannya adalah penampilan grup Oktober Jam, group Jazz yang berhasil menjadi runner up Java Jazz 2011. Mereka membawakan empat lagu, yang sangat indah.. dan.. aliran darah saya kembali bergejolak menikmati lantunan musik jazz mereka..      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekan lalu, Rabu, 23 Juni 2011, saya mendapat kabar tentang diskusi Jazz di Freedom Institute, Menteng, Proklamasi No. 41. Telat datang dan melewatkan nonton bareng film Jazz. Tapi saya tidak kecewa, karena untuk pertama kalinya mendengar materi serius tentang musik. Saat itu, materi dibawakan oleh Beben Supendi Maulana, pendiri komunitas Jazz Pancoran, dan tentu pemain musik Jazz. Ia memaparkan sejarah Jazz yang berliku, yang ternyata hasil pergulatan sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jazz tidak lahir atau diciptakan begitu saja oleh seorang musikus ternama, tapi lahir tanpa sengaja oleh anak kandung perbudakan di Amerika. Tangga nada, harmonisasi, atau pun yang disebut sincopasi itu ternyata diadopsi dari cara dan warna bertutur gaya orang hitam di Amerika. Mereka menjadikan musik sebagai hiburan dan juga sebagai bagian percakapan saat bekerja di perkebunan para penjelajah asal Inggris. Yang kemudian sedikit-sedikit mempelajari gaya permainan musik orang eropa. Maka jadilah penggabungan antara musik eropa dengan cara bertutur orang Afrika, yang lebih hip hop, dan menyentak-nyentak lembut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reformasi musik pun berlangsung, dengan merubah notasi nada Eropa, yang teratur, seperti Do remipasolasido.. notasinya berkurang atau melompat, sehingga menciptakan nada-nada bergaya jazz, yang saat itu direformasi menjadi blues.. kemudian direformasi lagi menjadi swing dan big band.. dan terus mengalami evolusi di amerika, sesuai dengan perkembangan peradaban, ataupun teknologi, serta ditemukannya alat-alat musik baru.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Beben, ada empat hal yang menjadi ciri khas musik jazz. Yakni adalah swing feel, blues note, improvisasi dan sincopation.. sincopation adalah hitungan nada yang tidak jatuh pada hitungan pertama..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;imporvisasi dan kreativitas merupakan penanda utamanya.. masing-masing individu bebas mengekspresikan dirinya dengan melakukan improvisasi terhadap musik jazz sebelumnya. Dimana jazz terus berubah dan tidak pernah tetap. Ada kebebasan dalam musik, dan orang tidak diharuskan menghafal nada-nada dari penciptanya, malah mereka bebas mengeksplorasi, mengutak-atik sesuai dengan seleranya masing-masing. Jadi, jika ada seorang pemain musik jazz yang selalu membawakan musik yang sama pada setiap penampilannya, dan tidak ada kreasi.. dia sebenarnya tidak bermain jazz.. atau sekadar mencontek saja.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Jazz ada kemerdekaan, dan tentu ada warna yang diberikan oleh masing-masing individu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Senin, 27 Juni 2011&lt;br /&gt;Kondisi tidak bersemangat menulis, dan Laptop rusak&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-5759723489640063486?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/5759723489640063486/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=5759723489640063486' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/5759723489640063486'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/5759723489640063486'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2011/06/berkenalan-dengan-jazz.html' title='Berkenalan dengan Jazz'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-lL3Cb_b5Zlc/TgiR1m5_UBI/AAAAAAAAAVw/HRmXhwRrsFo/s72-c/jazz.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-7318341302120073695</id><published>2011-06-14T14:42:00.001+08:00</published><updated>2011-06-27T23:02:03.366+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Mau dibawa Kemana?</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-sC0nSQve5cE/Tgialphqt6I/AAAAAAAAAV4/sBwklKJHcpo/s1600/DSC03076.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="240" width="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-sC0nSQve5cE/Tgialphqt6I/AAAAAAAAAV4/sBwklKJHcpo/s320/DSC03076.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Adakalanya kita mesti menengok ke belakang, ketika kondisi masih begitu genting, ketika kaki masih belum tegak berdiri di tanah sendiri. Saat itu, perang begitu merongrong, memaksa para pendahulu menumpahkan darah tanpa ada tendensi material, membuat para pemimpin hidup dengan urat syaraf kencang setiap hari, dengan makan yang tak enak dan tidur tak nyenyak. Hingga tiba pada detik-detik menggembirakan, serentak bangsa kita merayakan sebuah bentuk fisik dari kata abstrak nan menggugah, yang disebut “kemerdekaan”. Istilah inilah yang kita pertahankan, dengan melewati masa-masa sulit seperti agresi militer, pembrontakan-pembrontakan, gonta-ganti parlemen, hingga pengalihan kekuasaan yang boleh dikata sangat “kasar”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sebuah moment, para perumus berkumpul untuk merembukkan dasar negara, yang kini masih dikenal dengan sebutan Pancasila. Bung Karno, tokoh eksentrik nan jenius itu dengan suara lantang menderet dasar negara, yang berangkat dari persatuan, kemanusiaan universal, demokrasi, keadilan sosial, dan ditutup dengan ketuhanan. Tapi, Kenapa Bung Karno memulainya dari Persatuan? Yang kemudian beralih menjadi ketuhanan. Kita kemudian tahu apa yang ada di benak Sukarno, bahwa Indonesia adalah negara bangsa, bukan negara tuhan. Indonesia tersusun dari ribuan pulau, ratusan suku dan bahasa. begitulah jiwa Bapak asal Blitar itu, yang selalu mengedepankan nasionalisme, bahwa untuk memulai sesuatu kita harus bersatu dulu, bermusyawarah dulu. Dengan bersatu, kita dengan mudah mengusir penjajah, lalu menegakkan ekonomi. “Amerika kita setrika, Inggris kita linggis” gertaknya.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toh, tak lama setelah itu, Soekarno legowo dengan perubahan fundamental menjadi “KETUHANAN YANG MAHA ESA” itu, ia tidak ngotot, walau tetap bergelora. Ia mengerti bahwa Islam juga turut berperan besar mengusir penjajah, Ia paham bahwa Islam sudah jati diri Indonesia, antara Indonesia dan Islam sudah melebur, sulit dikategorikan lagi. Begitulah cara pemimpin-pemimpin kita bertarung dalam meja perumusan. Selalu mencari yang terbaik, menemukan titik tengah yang mengarah pada persatuan, bersama-sama, gotong royong. Walau perkembangan berikutnya, retak-retak juga, dimana perang dingin berlangsung antara kaum kiri dan kanan, antara pemuda dan orang-orang tua, antara hijau loreng dan merah menyala. Perjalanan sebuah bangsa bukanlah seperti isian Teka teki silang yang jawabannya selalu muncul pada edisi pekan depan!!      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini kita sadar, bahwa Indonesia dibangun dari keluwesan berpikir para pemimpin, saling menghargai pendapat masing-masing hingga betul-betul menemukan benang merah yang tepat, bukan dari gontok-gontokan, debat kusir, lempar kursi, dengan wajah muram bernama demokrasi yang kita kenal sekarang. Demokrasi kita kini mungkin sekadar menjadi sapi perah, tunggangan untuk merebut posisi, melakukan manuver politik, seraya berkacak pinggang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demokrasi yang muncul semakin tidak bertujuan, tak ada tahapan, tak punya indikator. Kita sulit melacak gerak perubahan yang telah dihasilkan. Sepertinya, selalu kembali pada titik Nol. Kita selalu mendapat angka merah setiap raport dibagikan. Demokrasi tak beda jauh dengan kondisi ekonomi kita, yang tidak jelas mau kemana. Mungkin, Soekarno dulu sudah merumuskan dengan blue print yang jelas, bahwa ekonomi berdasar pada kerakyatan, yang berangkat dari persatuan, nasionalisme, keadilan social, walau pada awalnya terseok-seok digempur neoliberalisme. Namun, rezim berganti, fundamental ekonomi pun bergeser 180 derajat sejak saman Soeharto, menuju ekonomi pasar. Zaman Reformasi lebih dahsyat lagi, dengan pelaku ekonomi yang dengan bebas mengobrak abrik pasar, kebutuhan domestic kian dikuasai oleh barang-barang impor, pun dengan para birokrat yang tidak malu-malu melakukan korupsi. Harga sembako turut meningkat, inflasi terus-terusan terjadi.. rakyat kecil kian tercekik.. tak ada penyelesaian..  kata orang, mending kembali ke zaman Soeharto, dimana ekonomi lebih stabil.. Apa yang harus dilakukan..?   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang hadir adalah sebuah pentas, dimana para aktor dengan ciamiknya memainkan perannya masing-masing, ada yang menjadi pahlawan, penjahat dan ada sebagai korban. Sementara rakyat dengan asyiknya menggeleng-geleng kepala menyaksikan tontonan itu, yang sebentar-sebentar berganti episode, yang tampaknya tidak selesai-selesai. Setiap cerita bergulir, seringkali ditutup dengan penyelesaian hipokrit, melambung begitu saja. Dimana sang pahlawan tidak pernah betul-betul menjerumuskan si penjahat. Toh, para penonton terlihat santai saja, tak ada riak, mungkin cuma mendengus, “Ah, gini lagi-gini lagi.. kok koruptor itu tidak di bunuh saja, payah !!”.. sembari tertawa nyengir. Episode berganti, ingatan pun turut berganti. Kita tiba-tiba lupa peristiwa besar sebelumnya.. Gayus menghilang, dan dengan cepat digantikan perannya oleh Nasaruddin !! hehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah yang ingin dicapai negeri ini? sulit menemukan jawabannya, dan terus terang saya tak tahu. Mungkin jawabannya ada pada dasar negara yang gemilang itu, lalu dijabarkan lewat undang-undang. tapi, adakah para wakil kita mengerti hal itu? dimana kita sering dikagetkan oleh keinginan mereka, yang sebentar-sebentar minta gedung, sebentar-sebentar minta jalan-jalan ke luar negeri. Kita pun tak mengerti kenapa negara begitu sulit memanggil si Nunun yang amnesia itu, si Nasaruddin yang tiba-tiba melancong itu.. negara ini seperti disetir oleh supir taksi yang culas, kita tak langsung diantar ke tujuan, tapi diajak berkeliling-keliling dulu untuk meningkatkan angka argo.. namun, parahnya, kita tak pernah betul-betul sampai ke tujuan.. malah kita pun tak tahu, negara ini mau dibawa kemana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pemimpin kita dulu sudah sepakat bahwa sila pertama dasar negara kita adalah Ketuhanan.. tapi mungkinkah tuhan akan memberi jawab? Adakah tuhan berkenan turut campur dalam persoalan pelik ini ??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Selasa, 14 Juni 2011&lt;br /&gt;Cengkareng Timur&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-7318341302120073695?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/7318341302120073695/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=7318341302120073695' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/7318341302120073695'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/7318341302120073695'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2011/06/mau-dibawa-kemana.html' title='Mau dibawa Kemana?'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-sC0nSQve5cE/Tgialphqt6I/AAAAAAAAAV4/sBwklKJHcpo/s72-c/DSC03076.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-7366221726309432489</id><published>2011-06-07T17:31:00.000+08:00</published><updated>2011-06-07T17:32:08.195+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kepiting'/><title type='text'>Seputar Pertumbuhan Kepiting Bakau</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-IAR--j7M5yM/Te3wAxTetOI/AAAAAAAAAVY/VVPuEF0AYdk/s1600/kepiting.png" imageanchor="1" style="clear:right; float:right; margin-left:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="235" width="370" src="http://1.bp.blogspot.com/-IAR--j7M5yM/Te3wAxTetOI/AAAAAAAAAVY/VVPuEF0AYdk/s400/kepiting.png" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kepiting bakau adalah mahluk hidup dengan kebiasaan makan jenis omnivora, artinya tipikal pemakan segala. Di samping mengonsumsi daging hewan laut, kepiting juga dapat memakan tetumbuhan, seperti ubi, jagung, dan tepung (bisa juga diformulasi dalam bentuk pakan). Dalam kehidupan liarnya, kepiting lebih sering menangkap ikan, artinya cendrung ke arah carnifor. Ikan-ikan itu ditangkapnya menggunakan capit, kemudian dengan pelan dimasukkan ke dalam mulutnya yang luas.  Kepiting menyukai pula bangkai segar yang berbau amis. Perkembangan berikutnya, telah ada inisiatif untuk membuat formula pakan. Pakan kepiting ini telah diawali oleh Sheen dan Wo pada 1999, Millima dan Quinito pada 2000, tapi masih dalam tahap penelitian. pada 2008, 2009 dan 2010, penelitian pakan juga dikembangkan oleh para peneliti dari Jurusan Perikanan Universitas Hasanuddin, yang dipelopori oleh Prof Yushinta Fujaya, Dr. Siti Aslamyah, dan dengan anggota-anggota, antara lain, Nur alam, Akbar Marzuki, Nur Insana, Heri susanti, Sri Wahyuningsi, Damayanti, Yasir, Lisa, dan saya sendiri (Idham Malik).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Namun, kendala yang sering dialami oleh para pembudidaya kepiting adalah mengenai selera makan kepiting yang menurun, sehingga menyebabkan pertumbuhan lambat. Dan jika kepiting tidak makan dalam beberapa hari, dapat menyebabkan kematian. Kepiting dapat tumbuh dengan baik jika lingkungan fisik dan gizi terjamin. Kemampuan makan dan penyerapan gizi oleh tubuh pun sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti suhu, salinitas, pH, kandungan oksigen. Tapi, sebelum kita membahas tentang pengaruh eksternal, kita terlebih dahulu masuk ke gizi atau pakan itu sendiri, apakah sudah tepat takarannya, dan sesuai dengan kebutuhan kepiting bakau itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal yang tak boleh terluputkan dalam pemilihan pakan, antara lain, kuantitas, kualitas, bentuk dan ukuran, daya tarik, ketahanan dalam air. Tentang kuantitas, kepiting membutuhkan pakan sesuai dengan kemampuan penampungan dan daya cerna alat pencernaan kepiting. Dari hasil penelitian, didapatkan bobot  pakan perhari sebesar 5 % dari bobot tubuh, dimana laju pengosongan lambung selama 12 jam. Sehingga prekuensi pemberian pakan sebanyak dua kali sehari. Dapat diberi pada pagi dan sore hari. Pemberian dua kali pakan sehari sesuai kebutuhan tubuh kepiting, berguna dalam budidaya penggemukan, pembesaran atau budidaya kepiting moulting. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua adalah kualitas pakan. Pakan yang baik adalah pakan yang mengandung beberapa kandungan penting, seperti protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral. Kandungan protein dalam tubuh kepiting sekitar 30-40 persen, sehingga membutuhkan pakan yang mengandung protein tinggi, baik dari hewani maupun dari nabati. Kalau menggunakan pakan buatan setidaknya mengandung protein sekitar 50 persen. Diketahui bahwa pencampuran antara protein hewani dan nabati berpengaruh baik terhadap pertumbuhan kepiting bakau. Protein adalah kandungan gizi utama, jika kebutuhan protein tidak tercukupi, kepiting akan mengalami kehilangan bobot tubuh karena kepiting akan menarik kembali protein dari beberapa jaringan untuk mempertahankan fungsi jaringan yang lebih penting.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, tambahan karbohidrat atau jenis pakan yang mengandung karbohidrat, sangat bermanfaat buat kepiting. Karbohidrat sebagai sumber energi yang digunakan untuk aktifitas gerak dan metabolisme tubuh kepiting. Energi dalam karbohidrat ini bersifat nonprotein, sehingga dapat menghemat penggunaan protein dari katabolisme untuk penyediaan energi, sehingga protein murni digunakan untuk proses pertumbuhan saja. Proses ini disebut Protein Sparing Effect. Selain itu, Karbohidrat ini juga sebagai bahan pembentukan chitin, yang sangat berguna saat pembentukan cangkang baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara kandungan gizi lain yang juga penting adalah lemak, membantu pemeliharaan struktur dan integritas membran sel dalam bentuk fosfolipid dan sebagai sumber energi. Vitamin berperan memperkuat daya tahan tubuh, dan mineral dalam hal pembentukan eksoskleton, mempertahankan tingkat koloidal cairan tubuh, mengatur viskositas, difusi, tekanan osmosis, skturtur jaringan, pengiriman inpuls syaraf, kontraksi otot, mengatur keseimbangan asam basa dan sebagai komponen atau aktivator enzim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, bentuk dan ukuran pakan. Bentuk pakan sebaiknya adalah bulat lonjong, dengan diameter seukuran jari kelingking manusia normal. Panjang 2 – 3 centimeter. Hal ini sesuai dengan bukaan mulut kepiting bakau, juga sesuai dengan cengkeraman capit kepiting. Untuk ikan rucah, sebaiknya dipotong-potong sesuai ukuran bukaan mulut tersebut. Sebenarnya, untuk budidaya jenis tertentu, seperti budidaya sistem indoor, yang melakukan penampungan hanya dalam beberapa hari, tidak mesti dilakukan pelepasan ikatan capit, karena kepiting dengan instingnya sendiri dapat mengambil pakan yang diberikan menggunakan kaki-kaki jalannya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat daya tarik, semacam aroma pada pakan tersebut. Kepiting sangat menyukai aroma tertentu, yang mungkin semacam bau kepiting juga. Telah diketahui bahwa kepiting merupakan hewan kannibal, hewan ini sering menyerang dan memakan temannya sendiri yang dalam kondisi moulting atau ganti kulit. Bau amis yang berasal dari ikan segar yang belum lama mati juga disukai oleh kepiting. Untuk mengetahui daya tarik ini dapat dilakukan dengan mengamati respon kepiting saat diberi pakan, apakah ia langsung menyabet ataukah tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, daya tahan dalam air. pakan sebaiknya adalah pakan yang tenggelam, sehingga dapat memudahkan kepiting dalam mencapit ataukah memasukkan ke dalam bukaan mulutnya. Kita pun harus memperhitungkan daya tahan pakan dalam air, misalnya apakah tahan dalam berapa jam. Sebaiknya, pakan yang baik dapat tahan selama 12 jam, sehingga dalam rentang waktu itu dapat dimanfaatkan oleh kepiting untuk menghabiskan pakan hingga tidak tersisa. Ketahanan ini tergantung dari daya rekat atau bahan yang digunakan sebagai perekat partikel-partikel pakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima faktor itu berkontribusi dalam meningkatkan pertumbuhan kepiting. Dimana 60 persen energi pakan yang dikonsumsi digunakan untuk kontraksi, berupa gerak dan aktivitas metabolisme tubuh, selebihnya digunakan untuk pertumbuhan. Hasil penelitian Catacutan (2002), memperlihatkan pertumbuhan yang baik dihasilkan pada kepiting yang diberi pakan dengan kandungan energi 14,7 – 5,7 mg/kg.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor Eksternal yang mempengaruhi Pertumbuhan Kepiting Bakau&lt;br /&gt;Salinitas&lt;br /&gt;Salinitas, kadar garam ini terkait dengan mekanisme osmosis kepiting bakau, yang merupakan hewan estuaria, yang hidup dengan kadar garam yang sering berubah-ubah. Kepiting merupakan hewan osmoregulator, yaitu hewan yang mempunyai mekanisme faali untuk menjaga kestrabilan lingkungan internalnya, dengan cara mengatur osmoralitas (kandungan garam dalam air) pada cairan internalnya.  Dalam osmoregulasi ini, kepiting memerlukan transportasi aktif, terutama pompa Na – K – ATPase, untuk mempertahankan gradien osmotik dalam tubuh bergerak normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, tekanan osmotik dalam sel akan mempengaruhi komposisi protein pada kondisi stress osmotik, juga terhadap penggunaan energi akibat aktivitas transportasi aktif, sehingga terjadi gradasi bahan-bahan yang kaya energi seperti lemak, dan karbohidrat. Protein juga akan mengalami gradasi, karena turut berperan dalam sistem pompa ion pada membran sel (protein membran sel/carrier) dan biokatalisator (enzim Na – K ATP ase). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika salinitas terlalu tinggi, kepiting mengalami kondisi hipoosmotik, air dari dalam tubuh cendrung bergerak keluar secara osmosis. Sehingga, kepiting akan berusaha mempertahankan keseimbangan cairan tubuh dengan mencegah agar cairan urin tidak lebih pekat dari hemolimfenya. Dengan begitu, kepiting harus mengekstrak H2O dengan cara minum air serta memasukkan air lewat insang dan kulit (saat moulting). Tentu, aktivitas ini mengeluarkan energi yang cukup besar.!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi salinitas rendah, kepiting mengalami kondisi hiperosmotik. Air dalam media cendrung menembus masuk ke dalam tubuh, lewat lapisan kulit tipis kepiting. Kepiting mengantisipasinya dengan mengeluarkan air lewat kelenjar eksresi (kelenjar antena), juga memompa keluar air melalui urin. Pembelanjaan energi pun dibutuhkan untuk pengambilan ion-ion pada salinitas air rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, kepiting yang merupakan organisme laut tipe osmoregulator-eurihaline ini memiliki pengaruh langsung terhadap salinitas media, tepatnya pada kemampuan pencernaan serta absorbsi sari pakan. Pengaruh salinitas yang tidak kalah penting yaitu dapat meningkatkan laju konsumsi oksigen, serta perubahan pola respirasi. Sehingga, pertumbuhan akan efektif bila kepiting hidup pada media yang tidak jauh dari titik isoosmotik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suhu&lt;br /&gt; Pengaruh utama suhu adalah meningkatkan laju pergesekan intermolekul dan laju reaksi-reaksi kimia (Reiber dan Birchad, 1993). Secara umum, suhu berpengaruh terhadap aktivitas gerak, pembelanjaan energi lantaran konsumsi oksigen yang meningkat, laju metabolisme, serta molting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pada suhu tinggi, biasanya kandungan oksigen rendah, sehingga dilakukan pemompaan air lebih besar melalui pergerakan overculum yang meningkat frekuensinya. Kandungan oksigen yang minim, kurang dari 3 ppm akan menyebabkan nafsu makan organisme menurun. Bila kandungan tetap sedikit dalam jangka waktu lama, dapat menyebabkan kematian pada kepiting, karena kepiting mengalami kekurangan energi untuk beraktivitas dan melakukan metabolisme basal. Oksigen yang rendah juga membuat kepiting stress, lemas, dan pada akhirnya daya tahan tubuh menurun, dan gampang terserang penyakit.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pH&lt;br /&gt; Kadar keasaman dapat mempengaruhi proses dan kecepatan reaksi kimia di dalam air serta reaksi biokimia di dalam tubuh kepiting bakau. Jika kandungan pH dalam kondisi tinggi atau lebih rendah dpat mempengaruhi penggunaan dan produksi energi, serta penekanan metabolisme energi aerobik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Jika pH rendah, mukus pada permukaan insang meningkat, sehingga akan mengganggu pertukaran gas pada saat respirasi dan pertukaran ion yang melalui insang. Dengan begitu akan mempengaruhi keseimbangan asam basa darah dan menurunkan konsentrasi NaCl dalam darah yang pada akhirnya akan mengacaukan metabolisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kelanjutan dari kondisi pH rendah, adalah kerusakan insang yang menurunkan kinerja respirasi. Lalu  mempengaruhi potensi toksin seperti logam-logam berat (Wang, et al, 2002). Buntutnya, organisme akan mengalami kelambatan pertumbuhan. Sementara jika pH tinggi, akan berpengaruh pada meningkatnya daya racun amoniak. Sebaiknya pH yang optimal sekitar 7,5 sampai 8,5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Diolah dari beragam sumber&lt;br /&gt;Sebagian dari Tinjauan Pustaka Milik Institut Pertanian Bogor (IPB)&lt;br /&gt;Selasa, 7 Juni 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-7366221726309432489?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/7366221726309432489/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=7366221726309432489' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/7366221726309432489'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/7366221726309432489'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2011/06/seputar-pertumbuhan-kepiting-bakau.html' title='Seputar Pertumbuhan Kepiting Bakau'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-IAR--j7M5yM/Te3wAxTetOI/AAAAAAAAAVY/VVPuEF0AYdk/s72-c/kepiting.png' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-6665631205061783313</id><published>2011-05-31T22:37:00.000+08:00</published><updated>2011-05-31T22:37:43.972+08:00</updated><title type='text'>Einstein bermain gitarI</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-a-NmUihXuVI/TeT9G-H6XzI/AAAAAAAAAVM/rKUGEM9Kkoc/s1600/einstein%2B3.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="224" width="225" src="http://4.bp.blogspot.com/-a-NmUihXuVI/TeT9G-H6XzI/AAAAAAAAAVM/rKUGEM9Kkoc/s400/einstein%2B3.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ni Einstein bermain gitar.. Ilmuan juga harus cinta seni.. hehe/semangat!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-6665631205061783313?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/6665631205061783313/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=6665631205061783313' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/6665631205061783313'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/6665631205061783313'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2011/05/einstein-bermain-gitari.html' title='Einstein bermain gitarI'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-a-NmUihXuVI/TeT9G-H6XzI/AAAAAAAAAVM/rKUGEM9Kkoc/s72-c/einstein%2B3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-7083364703435083434</id><published>2011-05-31T22:23:00.000+08:00</published><updated>2011-05-31T22:31:22.733+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Perbedaan</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-hoZ03mGtP4E/TeT5ybpOpZI/AAAAAAAAAVE/fuPCqyxup-c/s1600/kekerasan%2Bagama.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="203" width="248" src="http://2.bp.blogspot.com/-hoZ03mGtP4E/TeT5ybpOpZI/AAAAAAAAAVE/fuPCqyxup-c/s320/kekerasan%2Bagama.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Siapakah yang dapat menebak kemunculan perbedaan? Ketika yang berbeda sudah dianggap jijik, ketika yang ‘lain’ dicap sebagai nila yang merusak susu sebelanga, ataukah sebagai racun ular berbisa. Soal ini tampak begitu ruwet dan meluber ke rongga hati, menyesakkan. Nafas seakan berhenti ketika menyaksikan ada orang yang menghakimi tanpa dasar hukum negara, sementara yang di hakimi tak tahu kenapa mesti diburu.. akhir cerita, mereka mengalah, rela dan menyingkir, karena sudah tak yakin, apakah negara akan memberi perlindungan? Apakah orang-orang yang bermuka seram ini akan mengerti perbedaan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mungkin, perbedaan yang tipis itulah yang mengancam, yang menusuk-nusuk seperti belati ke ulu hati persatuan. Lantaran begitu tipis, sesuatu yang terang bisa menjadi kabur, lalu berakhir gelap (kafir). Namun, Itu satu persepsi, dimana terdapat persepsi lain dan mungkin melintas batas kekuasaan, semacam kenapa hal itu tidak dijadikan bahan untuk saling tukar perasaan, sembari mencari kebijaksanaan dari tiap-tiap perbedaan, bukan menjadi sebuah momok yang menakutkan dan menebar teror!! Namun sayang, anggapan ideal ini menjadi lengkingan sumbang di antara gertakan mayoritas. Sekadar terselip dalam kolom media, dalam suara-suara pemuka, atau dalam celetukan-celetukan mahasiswa..  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa perbedaan berakibat teror? Apakah yang berbeda itu yang meneror ataukah yang merasa tersakiti oleh yang beda itulah yang menerror? Kita tak tahu betul.. peneror dan yang diterror sudah tak jelas lagi. Yang kelihatan benar adalah ada teror besar dan ada teror kecil. Mungkin, si pelaku beda itulah yang melakukan teror besar, yakni “teror pemikiran”, “teror Keyakinan”. Sedangkan, lempar batu, bakar rumah yang merupakan perwakilan mayoritas hanyalah teror kecil. Memang, dalam dunia yang bising ini, sesuatu yang besar kadang dianggap kecil, dan yang kecil dianggap besar. orang pada semau-mau ‘gue’, melontarkan pemikiran, melakukan pemojokkan. Sementara yang lain sudah bosan dengan pekik, jenuh dengan getar, mending mengurusi arus masuk barang, urus istri simpanan, urus anak-anak yang besok minta jalan-jalan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tak mengerti betul kenapa bisa muncul gerakan pengusiran, yang terjadi tiba-tiba, Menggebrak seperti angin puting beliung. Mungkin dulunya tak terjadi apa-apa, bahkan masyarakat setempat sangat rukun antar tetangga. Namun, siapa yang menyangka bahwa di suatu tempat telah berkumpul lelaki bersongkok, memakai selempang, dengan semangat menyeru-nyeru nama tuhan, lalu tiba dengan wajah garang, sontak mengajak berkelahi, kalau bukan dibilang mengeroyok.. lucunya, manusia-manusia ini tak jelas dipungut dari mana, dari pesantren mana, dari kolong jalan layang mana? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun, kita tak tahu apakah mereka mengerti betul tentang seruannya, tentang niatnya, tentang lontarannya? Yang kita mengerti bahwa di sana terdapat nasi kotak, air aqua yang dengan cepat dibagikan, dan mungkin juga uang bensin untuk beberapa hari. Hilang sudah hilang, ikatan, nilai lenyap sudah. Antara keyakinan dan kebutuhan menjadi absurb, ‘ya’ dan ‘tidak’ menyatu, dan saya tak tahu kenapa. Kenapa orang dengan gampang dihasut? kenapa orang dengan mudah berwajah garang? Toh itu bukan kepentingannya, yang dibelanya pun tak betul-betul ia pahami..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya, sekarang, Kata bang Iwan Fals “sudah tak perlu ada rasa sedih, tak perlu ada rasa gelisah.. toh kehidupan begitulah adanya, Hadapi saja”, “Relakan yang terjadi, tak akan kembali”.. dunia ini bukan milik kita.. Lantas, adakah kata menyerah, adakah kata pasrah..  teruntuk pada mereka yang teraniaya, yang rumahnya di bakar itu, yang anaknya sudah ketakutan itu..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mereka ingin melawan, protes akan kesewenang-wenangan, tapi, di negeri yang mendewakan mayoritas ini, negeri yang dasar hukumnya jelas namun tak pasti ini, apakah itu mungkin??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Cengkareng Timur,&lt;br /&gt;31 Mei 2011/Hari anti tembakau Dunia&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-7083364703435083434?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/7083364703435083434/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=7083364703435083434' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/7083364703435083434'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/7083364703435083434'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2011/05/perbedaan.html' title='Perbedaan'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-hoZ03mGtP4E/TeT5ybpOpZI/AAAAAAAAAVE/fuPCqyxup-c/s72-c/kekerasan%2Bagama.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-322877109850892466</id><published>2011-05-24T22:42:00.000+08:00</published><updated>2011-05-24T22:42:23.541+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pribadi'/><title type='text'>Gadis Gila</title><content type='html'>Subuh hari, Mardi membuka pintu kontrakannya, debu-debu melekat di beranda lantai keramik, udara sejuk berhamburan masuk ke dalam kamar, sementara uap panas berputar keluar. Betapa kagetnya ia saat melihat ada orang yang menempel di ujung terasnya, berselimutkan kain sarung. Mardi mendekatinya, dan mengintip, kepala orang asing itu gundul, keningnya kotor, sepotong wajahnya tertutup sarung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ia masuk lagi ke kamar dan berleyeh-leyeh, menyalakan radio, memanaskan air dalam galon, dan bersiap pergi kerja. Setelah mandi dan berpakaian rapi, dari luar kamar ia mendengar percakapan. Beberapa ibu-ibu terlihat iba terhadap orang asing itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“belum bangun orang gila ini, kasihan.. semalam ia mutar-mutar berteriak, mencari aa’-nya, Bu”, ujar ibu yang menggendong bayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  “Ia Bu, mungkin dia kelelahan berteriak. Dia gila barangkali gara-gara ditinggal pacarnya, kasihan.. umurnya masih muda, tapi dia sudah bertingkah seperti ini.. hemm... nasib-nasib,” kata ibu yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Anak-anak pun turut memantau, ada yang menggunakan sepeda roda dua, ada juga sepeda roda tiga yang tentu anak balita. Mereka bolak-balik, mutar-mutar gang dan ketika melewati tempat orang gila itu tidur, mereka mengintip.. sembari berteriak-teriak riang.. “Duh aduh, Aa’”, mengolok-ngolok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mardi keluar kamar dan ia harus bergegas, tak ada waktu untuk menengok orang aneh itu. Yang ia tahu, bahwa orang itu adalah orang gila, dan mungkin sebentar sore sudah hilang. Dalam langkah cepatnya itu, ia justru terbayang kekasihnya di kampung, yang sudah lama tidak dikabarinya. Ia takut dan betul-betul takut, karena di kota yang ganas ini ia tak menjadi apa-apa. ia Hanya menjadi tunggangan perusahaan, menjadi mesin untuk menggerakkan mesin yang hampir otomatis. Penghasilannya pun hanya untuk makan, transportasi, sekali-kali hiburan keliling kota. Tak ada sisa untuk tabungan. Di kota ini, Mardi merasa bahwa hidup itu hanya untuk mengisi perut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar-sebentar imajinasinya berbiak lagi. Bukankah dulu ia sudah berjanji untuk pulang jika sudah setahun? Pulang dengan membawa uang banyak untuk meminang kekasihnya. “Tapi, sanggupkah Asih menunggu?” tanyanya sendiri. Sekarang sudah lebih dua tahun, tapi uang tidak cukup-cukup. Tenaganya tak cukup mampu mengimbangi arus deras perputaran uang di kota ini. Gajinya di bawah Upah minimum, harga kontrakannya sudah sepertiga gajinya. Makanan, lebih dahsyat lagi. Ia tak bisa sering-sering makan asal-asalan di warung-warung pinggir jalan. Penyakit maagnya sering kambuh, belum lagi penyakit diare. Sehingga ia harus makan di warung yang agak bersih, dan biasanya harganya lebih mahal. Boleh dikata manja, tapi tidak juga. Kesehatan adalah segalanya. Kalau badannya sakit, tentu uang tidak akan mengalir lagi kan?   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pabrik tempat kerjanya sudah dekat, Mardi mempercepat langkahnya. Dalam pabrik, ia bekerja seperti biasa, menggerak-gerakkan mesin pemanas untuk mencetak plastik. Ia istirahat setiap satu jam, untuk minum kopi atau merokok. Setelah itu melanjutkan lagi pekerjaan yang melelahkan tangan itu. Tangannya bergerak lincah, otot-otot yang sebelumnya datang ke kota ini berguna untuk mencangkul berganti fungsi untuk memutar mesin. Namun, hari ini Mardi terlihat murung dan pendiam. Teman di sebelahnya lalu menegur:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lagi kurang sehat yah Mas..? istirahat saja dulu, nanti saya ngomong sama mandor..!” tegurnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sehat bang, cuman lagi pusing saja, pikiranku lagi dikocok-kocok oleh kenangan di kampung..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“hehehehe... lagi pikirkan anak gadis orang ya Mas?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“hehe.. abang tahu aja.. sekarang saya berpikir, apa jadinya kalau saya tidak memutuskan ke kota ini dua tahun lalu. mungkin, kehidupan saya akan lain. Saya akan meminangnya Bang.! Saya akan mengolah sawah bapak mertuaku yang mungkin cukup untuk kami berdua.. tapi, tapi sudahlah.. saya tak bisa melawan takdir.. dan saya sudah malu pulang dengan kondisi seperti ini,” ucap Mardi resah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Yo wess.. semoga tuhan mendengar keluhanmu anak muda. Memang, aneh juga kalau memikirkan semua ini. Apakah kita ini sudah betul-betul gila? Kemerdekaan kita di kampung dulu, yang damai itu, kita jual hanya untuk menyegarkan mata kita dengan pesona gedung-gedung tinggi. Beginilah nasib kita yang tidak berpendidikan, pilihan kita terbatas di kota ini. Justru, bagi kita, yang ada hanya kesempatan untuk menjadi buruh.. dan bagi sebagian orang, itu sudah mewah bung..” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Iya bang.. sepertinya hidup saya akan habis di rutinitas pabrik seperti ini. hemm.. apakah ini yang disebut hidup? Mungkin.., inilah hidup, saya tak dapat mengelak”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Menurutku, itu kuncinya Mas, hidup ini harus disyukuri. Kita masih beruntung. Masih terhormat karena memiliki kerja. Banyak di bawah kita yang terlunta-lunta mengemis, mengais-ngais sampah. Kehidupan mereka lebih jorok Mas”..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mardi mengangguk melanjutkan kerja. Iya menghias harinya dengan membayangkan wajah Asih, yang sering dilumuri senyum. Iya, tak ingin waktu dan kelelahan ini menghapus kenangannya itu. Begitu kejam dunia ini jika kenangan pun hendak ia lenyapkan. Dari pagi hingga sore hari, dalam kesibukan tangannya yang sudah seperti mesin itu, pikirannya justru semakin sibuk untuk mengingat, dari episode ke episode. Juga impian-impiannya yang sudah terkubur, tentang keinginannya untuk pulang segera dan membawa uang. Pikirannya yang sibuk itulah mungkin yang membuatnya tegar, untuk terus bertahan memutar-mutar mesin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mardi menyelesaikan tugasnya seperti biasa, ia pun berpamitan dan keluar pulang bersama ratusan buruh pabrik lain. Hari sudah magrib. Kendaraan tersendat oleh buruh-buruh yang menyeberang jalan. Ia melangkah gontai, menyapa kawan-kawannya yang bergerak berlawan arah. Mardi singgah di pinggir jalan, membeli sebungkus rokok, memesan nasi ayam dua bungkus. Mardi berpikir, siapa tahu orang gila itu masih di terasnya. Dan mungkin belum makan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Oh Asih.. apakah kamu masih mengingatku... mengingat akangmu yang hampir gila memikirkanmu ini..” Mardi menumpahkan lagi rindunya dengan kenangan senyum di pematang sawah itu. Batu-batu kecil ia hempaskan ke parit sembari tertawa-tawa kecil, membayangkan wajah lucu Asih..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tiba di teras kontrakan, ia melihat gadis gila itu bersandar menyamping di dinding kamarnya. Ia iba dan ingin berbagi rasa kenyang. Mardi mendekatinya dari samping, lalu menyapanya: “sudah makan belom... nih nasi ayam”.. gadis itu berbalik, mukanya yang penuh debu itu berubah merah.. bola matanya berkilau.. iya menghempaskan nasi bungkus itu, memegang tangan Mardi erat. Iya tertawa senang, entah apa.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Melihat senyum bercampur tawa dengan gigi yang sudah menguning itu.. Mardi kaget, terkejut. Iya menyentak tangan gadis gila itu lalu terbata-bata menghindar.. mukanya pucat. Ia berlari dan berlari jauh..  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Orang gila ini juga berlari mengejar namun tersendak-sendak, ia berteriak memanggil, suaranya keras mengalahkan bising-bising kendaraan.. “duh aduh aa’... .duh aduh aa !’..” ia pun menangis histeris. ”Akangg.. saya tidak gila, saya mencarimu akang.. lama ku menunggumu akangg.. kamu lama tidak pulang akang.. saya mencintaimu akang.. saya tidak gila.. orang-orang di kota inilah yang gila akangg.... saya gila hanya untuk numpang makan.. untuk mencarimu akang..” iya terus berteriak.. “duh aduh aa...’’..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dengan kebingungan, Mardi terus menjauh, bajunya basah oleh keringat. Dalam desahannya ia terus mengumpat, “aneh.. gila! Asih gila.. oh.. gusti.. ternyata penantian bisa lebih menyedihkan..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu, 14 Mei 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-322877109850892466?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/322877109850892466/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=322877109850892466' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/322877109850892466'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/322877109850892466'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2011/05/gadis-gila.html' title='Gadis Gila'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-3019277665256052696</id><published>2011-05-16T12:21:00.003+08:00</published><updated>2011-05-24T22:44:05.497+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pribadi'/><title type='text'>Percakapan</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-GF7xxspusqA/TdvELT2KUAI/AAAAAAAAAU8/QFupguDPMyg/s1600/akwt.jpg" imageanchor="1" style="clear:right; float:right; margin-left:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="212" width="160" src="http://1.bp.blogspot.com/-GF7xxspusqA/TdvELT2KUAI/AAAAAAAAAU8/QFupguDPMyg/s320/akwt.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sebuah cerpen:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sudut pelataran itu, terlihat mahasiswa muslimah berjubah hitam legam sedang berduaan dengan lelaki, yang mungkin kekasihnya. Tak lazim, karena perempuan ini muslimat. tapi, begitulah. Begitu banyak hal yang tidak kita ketahui di alam nyata ini.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka duduk di bangku cokelat yang kakinya sudah doyong. Mulanya hening, udara terdengar bergesekan, langkah-langkah kaki menderap pelan. Keramaian itu mengusik telinga mereka berdua. Tiba-tiba, lelaki yang bernama Adit itu membuka percakapan: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menurutmu, apakah jodoh itu sudah takdir? Apakah setiap gerak kecil itu sudah ketentuan yang di atas?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“iya kak, sepengetahuanku, dalam kehidupan manusia terdapat empat takdir, yaitu rezeki, jodoh, kematian, dan ..... terakhir, saya lupa kak”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ hemm... barangkali begitu, tapi saya kadang cemas. Mungkinkah ini sekadar permainan yang Maha Kuasa saja dek? Bukankah misteri yang paling menakutkan itu adalah masa depan dan juga jodoh itu.. saya betul-betul bingung dan tak tahu..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“kakak, jangan terlalu memusingkan itu, biarlah mengalir seperti air telaga. Toh, kita ini sudah di atur dan harus ikut aturan.. ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”aturan dalam Islam betul sudah jelas adinda, namun sejarah islam ini adalah seperti sebuah perkamen yang tulisan-tulisannya sudah kabur, sementara yang menandai atau memperjelasnya adalah generasi-generasi para ‘arkelog’ belakangan. Yang cuma membaca baris-baris katanya, namun tidak mengetahui dengan pasti sebab akbiatnya. Kalau seperti itu, mungkin akan lebih memperturutkan hawa nafsu…”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Benar kak, tapi, kita sebagai manusia biasa, juga tak tahu yang mana yang paling benar. Toh, yang paling meyakinkan itulah yang harus kita ikuti. Yang jelas-jelas menjaga syariat dan ahlak islaminya. Selain itu, semua sudah tercampur dengan pikiran-pikiran asing dari Barat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“yah.. islam sudah tercampur.. dan itulah keniscayaan sejarah.. tak ada yang betul-betul murni.. saya belum tahu dek, adakah yang dikatakan murni itu..” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adit mendengus, ia ingin melanjutkan perbincangan, tapi takut kalau gara-gara diskusi ini akan membuat Ina tersinggung dan menjauh darinya. Tapi, iya pun kebingungan, bukankah cinta tak mengenal adat, tradisi, ataupun agama. Cinta itu murni ikatan hati dua manusia, yang saling suka saling berbagi.. cinta itu seperti islam.. beragam penafsiran, sesuai dengan sejarah dan budaya yang membentuknya.. juga kekuasaan yang mungkin telah banyak ikut campur.. tapi, entahlah, siapakah yang dapat membuat prediksi dengan begitu jitu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ina heran, kenapa lelaki yang dikaguminya ini tiba-tiba ragu, mungkinkah pikirannya sudah teracuni oleh buku-buku liberal itu? Saya harus kuat, harus kuat!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dek, ayo kita jalan ke Perpustakaan Pusat, saya dengar di sana ada pameran buku,” ajak Adit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“oke kak...” dengan senyum merah, semerah apel..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dek, kenapa kamu sering memakai pakaian yang serba hitam? Apakah itu punya maksud tertentu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hitam adalah lambang kehormatan kak.. di negara-negara arab, orang yang maqamnya sudah begitu tinggi, memakai sorban hitam di kepalanya. Dan kalau di Iran itu, tradisi sorban hitam digunakan oleh ulama yang keturunan Nabi Muhammad, Allahumma Salli ala Muhammad wa ali Muhammad..Hitam juga capaian kesempurnaan.. begitu kak.. atau, mungkin kakak punya interpretasi lain?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hitam mungkin, lambang kekosongan, kehilangan identitas. Lenyap dari kerumunan. Hehe..” adit ingin menambahkan lagi, dalam pikirannya ia berkata bahwa hitam adalah tipikal orang yang ingin lenyap, tapi juga ingin tampak. Ingin menonjolkan diri bahwa ada keistimewaan, ada perbedaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba punggung tangan mereka bersentuhan kulit. Ada getar... tapi tak lama kemudian, mereka menampik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dek, kamu betah dengan aliran itu? Jangan tersinggung yah, saya betul menghormati pilihanmu itu, bahkan saya minta didoakan agar juga berubah, dan tidak liar lagi seperti saat ini.. hehe”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“hemm... iya kak,, saya doakan.. moga diberi petunjuk di jalan yang lurus. Supaya kita nanti bisa melewati jembatan yang tipis dan lurus itu, hingga tiba di surga-Nya. Yah.. aliran yang saya ikuti itu memberikan penyadaran kak, bahwa sebelumnya saya masih dalam jahiliyah. Dan dengan aliran itu saya mulai belajar islam, pelan-pelan, dari menerapkan syariat dengan ketat, dan menjaga jarak dari dosa. Aliran itu memberi kekuatan padaku untuk tegak membela agama tuhan..” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“yah.. islam kedengarannya memang butuh dibela.. tapi, Tuhan kan sudah Maha Kuasa dek, sudah Maha Pintar, Maha Lucu.. apakah Ia masih butuh dibela?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“iya kak, harus dibela. Di dunia sekarang ini, begitu banyak maksiat, begitu banyak keanehan. Islam sudah lenyap, dan diabaikan lagi. Orang-orang barat sudah lama menghina dan menghancurkan kita. Israel dan Amerika telah menggerus sesama ummat kita di palestina dan kaum minoritas di Amerika dan Eropa sana. Kenapa ummat kita terpuruk miskin dan tak terhormat? karena ia jauh dari Islam..!” muka Ina memerah karena kesulitan menjelaskan. Logikanya mulai diusik dengan pertanyaan aneh ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“saya bangga bisa berdiskusi denganmu.. semoga tuhan yang ingin dibela itu merahmati kita.. saya tidak hanya ingin bersamamu di dunia ini dek, tapi ingin juga memboyongmu kelak di surga nanti.. aminn..”.. Adit berseloroh,, ia pada dasarnya belum mengerti apa itu surga. Bagaimana itu surga ? apakah betul ada sungai susu ? ada bidadari ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Debu-debu berterbangan.. mereka tiba di pameran buku. Dan mereka tiba-tiba terpencar. Adit menemui temannya yang sementara jaga buku, dan Ina melihat-lihat toko buku Islam. Ina membeli sebuah, “Ahlak Istri-Istri Nabi”..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rona senja menggurat. Langit mulai berbayang merah. Mereka bertemu lagi di jalan keluar. Adit tiba-tiba memberinya buku, ”Perjuangan Islam di Timur Tengah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ia mendekatkan wajahnya, hendak membisiki sesuatu.. “sampai jumpa di surga besok..”, lalu mengecup pipi Ina. Lalu berlari meninggalkannya sembari tersenyum dari jauh... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pipi itu memerah, semerah apel. Ina hendak marah. Ia ingin menampik. Tapi ia juga bergetar, terkejut, akalnya lumpuh. Dengan resah kebingungan itu ia berbalik arah, wajahnya merah, tumbuh bunga, di hatinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat, 13 Maret 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-3019277665256052696?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/3019277665256052696/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=3019277665256052696' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/3019277665256052696'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/3019277665256052696'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2011/05/percakapan.html' title='Percakapan'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-GF7xxspusqA/TdvELT2KUAI/AAAAAAAAAU8/QFupguDPMyg/s72-c/akwt.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-3822680185929255834</id><published>2011-05-16T11:53:00.002+08:00</published><updated>2011-05-16T11:54:03.156+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dari Idham Malik'/><title type='text'>Teman Sekitar Kontrakan</title><content type='html'>Kontrakanku tidak bagus dan juga tidak jelek. Temboknya putih pucat, membujur segipanjang. Anehnya, walau sudah kutinggali selama 4 bulan, aromanya tetap berbau cat, dan lembab. Bersandar di dinding seperti menyentuh air telaga. Di lantai terbaring kasur, karpet, dan tegak lemari plastik. Di antara benda-benda mati itu, terdapat kesegaran, yaitu air yang tergenang di dalam galon, yang bersebelahan dengan tas penampung pakaian kotor. Kadang, kalau lagi suntuk dan tidak ingin beres-beres, buku-buku yang bersusun itu, tergeletak berjauhan. Uang-uang recehan berhamburan di sudut kamar, gitar pun duduk manis di atas karpet, dan laptop bernyanyi begitu saja. Menemani laju pikiranku yang lambat. Lantaran ingin mencapai kosong, hampa, titik sempurna. Namun, tampaknya belum sanggup, karena hati masih dekil, banyak kotoran yang melekat di permukaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Itulah istanaku yang sederhana, tempat aku membaca segala macam pikiran, beragam fakta dan masa lalu. Tempat aku berleyeh-leyeh, sembari menyeruput teh susu. Dari kesederhanaan ini muncul ide-ide dan terbukanya wawasan, juga tempat terpantulnya keluh kesah, kalau saja dinding-dinding itu berbicara. Keluar pintu akan berhadapan dengan dinding gedung yang seperti kertas buram, corat-coret di sana-sini, tertoreh nama persatuan kelompok, nama gang, dan hinaan-hinaan spontan. Mungkin, jika sedikit berimajinasi, akan tiba pada seni lukisan gaya kubis, Pablo Picasso. Dimana setiap orang yang mengaku-ngaku seniman, boleh dengan bebas menginterpretasi maknanya. Sesekali coretan itu tertutupi oleh jemuran pakaianku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Antara dinding dan pintu itu terdapat jalan yang menghubungkan antara lorong pemukiman dengan lorong ke luar jalan raya. Jadi, setiap sepuluh menit atau lima menit, terdengar suara motor, terdengar tapak-tapak, kadang suara-suara penjual yang menjajakan air, jamu, es tontong, pengamen, ataukah penjual madu. Beginilah tinggal di himpitan pemukiman, harus bisa terbiasa dengan kegaduhan. Kalau malam hari, sehabis jajan malam dengan nasi goreng, mie rebus, ataukah nasi ayam, saya nongkrong di emperan klontong, yang sudah ditinggali pemiliknya. Klontong yang letaknya di pinggir kuburan keluarga. Kuburan yang getar mistisnya sudah susut. Lantaran keramaian dan kesibukan orang berlalu lalang di pinggir-pinggir kuburan. Di situ, saya berbincang dengan sahabat-sahabat yang sudah berumur, bapak sugeng, Warsito, dan Jasman. Sugeng (40) seorang guru SMK, Warsito penjual bakmie, dan Jasman si tukang pijit. Jika kami berkumpul, beragam tema terhampar untuk ditegur, dirasa. Saya biasanya Cuma menimpali, kadang menambahkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Sugeng lah yang menjadi pencerita ulung, dengan beranekamacam gelagak dan ekspresinya. Sangat ekspresif, sehingga dengan gampang saya terbawa situasi persoalan. Iya bercerita tentang ekonomi fundamental indonesia (ia alumnus sarjana ekonomi), tentang jaring-jaring konspirasi di negeri ini, dan banyak tentang pengalaman kerjanya yang sudah hampir 20 tahun. Asyik mendengarnya, karena kepalanya padat informasi dan analisis, sementara saya selalu bisa mengikuti perbincangannya dan mungkin meluruskan dengan sopan. Yah, mungkin kami ada kesamaan kegelisahan, ada kemiripan reaksi kiamiawi.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pak Jasman adalah orang yang bersahabat, pertamakali kami bersapa sesaat saya memeriksa kepiting penelitian. iya bertanya begitu banyak, sehingga saya pun kewalahan menjawab. Iya seorang ahli pijit, titik-titik syaraf dengan mudah ia tekan dan deteksi. Sehingga, dengan sentuhan tangannya di titik-titik tubuh dan tulang, badan pun segera lempang. Aliran darah terasa mengalir normal dan membawa kesegeran. Saya pernah di pijit sekali, lebih karena penasaran tentang metodenya yang menggabungkan antara teknik pijit, urut, dan totok. Tiga ranah yang sebenarnya berada dalam satu sistem, yaitu sistem transportasi darah. Lalu, selalu pada sore hari di bulan maret itu, sebelum ia balik ke kampung hampir sebulan lebih, kami sering ngobrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ia punya impian untuk menguasai metode pengobatan dengan bahan herbal, yang mampu mengatasi berbagai penyakit kelas atas, seperti jantung, kolesterol, asam urat, dan juga penyakit maag. Pengetahuan tentang bidang itu sudah ada, dan mungkin sudah dipraktekkan berkali-kali. Namun, karena kurangnya metode untuk mencari ilmu pengetahuan, sehingga perkembangannya lambat. Saya pun membantu mencarikan informasi tentang khasiat temu lawak, daun sirih, dan jahe di internet. Mengumpulkan lalu mencetaknya dalam bentuk hard copy. Tema perbincangan banyak tentang hal itu, sayang, pengetahuan ku tentang obat-obatan sangat kurang, sehingga saya lebih banyak mendengar. Tapi, sesekali saya menjelaskan tentang fisiologi organ tubuh. Mungkin bermanfaat baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sekarang, iya membaca dengan tekun hasil print itu, sebagai persiapan jika kelak nanti ia akan membuat semacam produksi obat herbal tradisional. Sekarang, ia ingin mengumpulkan dulu artikel yang berhubungan dengan obat herbal, dari segala macam tanaman yang sudah dikenal berkhasiat, seperti jahe, daun isrih, temulawak, sambiloto itu. Bahkan, ia minta dibuatkan semacam brosur dan dimasukkan diinternet tentang keahliannya.. okelah pak. Saya pikir-pikir, pantaslah bapak ini dibantu, ia punya keahlian, namun kegunaan tangannya itu hanya berputar di kelurahan Cengkareng Timur saja. Jika bisa masuk ke Internet, bisa saja iya dipanggil memijit orang sakit di kelurahan lain atau bahkan di kabupaten lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Warsito adalah teman sekamar Jasman, kamar sempit, dinding berwarna kelabu, harga perbulannya lumayan mahal, 250 ribu. Maret lalu, saya sekadar bertukar sapa dengannya, saat itu, saya sering pulang sekitar jam empat subuh dari gudang ataukah dari rumah seorang teman yang lain. Saban subuh itu, lampu kamarnya sudah menyala, ia sudah meracik dan menumbuk-numbuk, mungkin semacam bumbu untuk mie pangsit. Jadi, pagi hari ia sudah mendorong gerobak dan mangkal di depan pabrik pembuatan plastik, lion star. Warsito baru balik dengan wajah berseri bercampur kelelahan menjelang sore hari. Dan biasanya langsung berbaring dan terlelap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya mulai akrab dengannya, saat kepiting penelitian awalku banyak yang mati. Jadi, setiap kepiting yang mati ini saya oper ke tetangga, dan sasaran utamanya adalah si penjual bakmie ini. Bersama pak Jasman ia begitu senang dapat memakan kepiting. Apalagi saat menyantap kepiting lunak, wah.. ma’nyus. Beberapa kali saya oper kepiting ke kamarnya, dan pada akhirnya jadi akrab. Jika matahari sudah meredup, saya bertandang ke kontrakannya. Duduk ngobrol, dan mendengarkannya bermain gitar. Permainannya lumayan, iya dapat menyanyikan beberapa lagu populer, meski dengan suara yang agak standar. “Maklum, lama baru menyentuh gitar lagi,” katanya. Tiba-tiba suatu hari, saya mengamatinya terus, dan timbullah keinginan untuk belajar memainkan gitar. Ia pun meminjamkannya, beserta selembar kumpulan cord gitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hingga suatu malam, Pak Sugeng kebetulan nongkrong di depan warung, bersama Pak Warsito. Saya membawa gitar ke tempat itu. Dan meminta Warsito memainkannya. Dan.. tibalah giliran pak Sugeng memegang gitar, lalu memainkan sebuah melodi. Petikannya aneh, tangannya lincah, dan melodi yang dihasilkan menjadi hidup, getar senar itu terlihat begitu cantik. Bermacam-macam lagu ia bisa mainkan, sekaligus ia nyanyikan dengan suara yang merdu, dan panjang. Musik Crisye ia babat, Ebiet Gad ia hafal di luar kepala, Dewa, Faris FM, padi, Clapton, bahkan hingga ST 12 dan Afgan. Umurnya sudah 40 tahun, tapi ia dengan merdu melantunkan lagu Afgan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah melihatnya bermain, saya makin bersemangat untuk belajar bermain gitar. saya pun belajar memetik dan memijit senar, sampai keluar nada yang jernih. Jadi, setiap malam, kami pun mendiskusikan musik, teknik bermain gitar, filosofinya, hingga menjalar ke tema-tema yang lain, seperti universalisme, kebebasan berfikir, pendidikan, negeri-negeri besar, persoalan-persoalan bangsa, hingga mendiskusikan masa depan kepiting. Bahkan, pada suatu malam, berakhir hingga pukul 3.30 subuh, saya sudah menguap-nguap menahan kantuk, tapi obrolan masih tetap asyik. Ada nada resah, ada cahaya harapan dari setiap percikan pikiran ini. Bahwa segalanya bisa dikuasai, bisa dilakukan, kalau kita betul-betul butuh, dan tenaga kita tidak putus-putus untuk mengejar harapan itu, termasuk dalam hal pandai memainkan gitar. juga tentang kepiting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya tak dapat membayangkan gimana jadinya kalau jemari saya juga sudah selincah jemari Pak Sugeng. Mungkin ada kepuasan yang tak terhitung, kesenangan akan kenikmatan lantun musik. Kita ujungnya dapat mencipta, dapat mengkalaborasi, bukan sekadar menikmati. Pun ini akan bertaut dengan kemampuan yang lainnya, misalnya kecintaan akan ilmu, sastra dan essai, mungkin, akan menumbuhkan rasa dan semangat untuk selalu berkreasi lebih baik lagi, lebih liar lagi.&lt;br /&gt; Jadi, langkah awal yang harus saya lakukan adalah membeli sebuah gitar klasik, karena karakterku menurut Pak Sugeng adalah memainkan gitar klasik, lantaran saya begitu sulit untuk bernyanyi.. hehe.. jadi, tak usah menyanyi, biarlah gitar itu yang menyanyi sendiri. Kemudian, setelah dua tiga bulan belajar, barulah saya boleh masuk ke kursus musik. Di sana saya akan belajar membaca not balok, tangga nada. Hingga bisa memainkan karya komposer besar, seperti Bethoven atau kah Mozart. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga saja impian ini bukan sekadar panas-panas tahi ayam. Dan tentu, saya harus berkorban, karena sepotong gaji saya akan terserap ke hobi itu. TAK APALAH... &lt;br /&gt;  Jumat, 13 Mei 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-3822680185929255834?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/3822680185929255834/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=3822680185929255834' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/3822680185929255834'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/3822680185929255834'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2011/05/teman-sekitar-kontrakan.html' title='Teman Sekitar Kontrakan'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-7148863859561504912</id><published>2011-05-11T15:22:00.000+08:00</published><updated>2011-05-11T15:23:11.071+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Pinggiran Kota</title><content type='html'>Mungkin ada kemiripan pada setiap kota besar, bahwa ia juga punya cacat, bahkan sangat banyak. Terasa sejak keluar jalan di pagi hari, menghirup asap kendaraan, lalu peluh kebosanan di kendaraan yang bergerak lambat. Waktu produktif terbuang percuma di dalam kendaraan. Penderitaan itu rutin, polanya sama dari hari ke hari, meski begitu, hanyalah potongan kecil dari kue simalakama yang lebih besar. Tentang kesenjangan yang begitu jauh, tentang beragamnya nasib, tentang penerimaan terhadap keadaan yang menjemukan. Beruntunglah kalau kebetulan terlahir dari keluarga ‘berada’, atau mereka yang cukup punya bakat dan bisa dijual di kota ini, hingga  bisa menikmati berbagai privelese ibu kota, bermain di Ancol, nonton teater di Taman Mini, menoleh-noleh gerai toko di Mall Grand Indonesia. Amboii nikmatnya..  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, masyarakat tidaklah absolut, ia terpecah, mendiasporakan nasib, di tepi-tepi kota, mungkin lebih banyak warga yang berdesak-desakan, memperebutkan beberapa meter tanah untuk didiami dengan harga yang juga ‘wah’-kontrakan.. dan barangkali, “inilah the real Jakarta”. Dimana mobil harus bertengkar klakson untuk melangkah, orang-orang bercengkrama lepas di pinggir jalan, merokok sambil menenteng-nenteng kaki, lagu-lagu campursari diperdengarkan di kios penjual dvd music, jajanan kue di tawarkan di tengah kepungan asap dan debu, dan pada cuaca yang terik itu terdapat warga yang berteduh di bawah tenda biru, sembari menyantap mie pangsit. Toko-toko klontong berebut margin yang sepele. Begitu hebatnya, karena mereka masih tertawa, dan bisa melanjutkan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimanakah negara di jalan-jalan sempit itu? Negara mungkin ada di atasnya, ia mengatur, mengurus neraca, atau pertumbuhan ekonomi. yang barangkali akan meneteskan keberuntungan, meningkatkan daya beli masyarakat. itulah sebabnya warga harus patuh, manut, dan tak boleh ada bisik-bisik ”revolusi”. Tapi, adakah perbincangan serius tentang itu ? di tengah himpitan orang-orang yang berburu margin, yang tiap subuh harus mempersiapkan diri merapikan tumpukan sayur, mengangkut ikan-ikan dari pelelangan, menumbuk racikan bakso, ataukah berjalan dan berjalan menjajakan jamu dan madu buatan sendiri. Mereka ini hanya tahu bahwa hari ini bisa makan, dan besok belum tentu.. mereka pun sangat pandai mengumpul, menabung receh untuk pendidikan anak-anaknya. Sehingga, doku dihemat, ikat pinggang dikencangkan (itupun kalau pakai ikat pinggang).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara punya kuasa, yang meluber ke pelosok-pelosok, yang mengantarkan para wakil rakyat ke negeri asing untuk studi banding, alasannya luar biasa arif, karena untuk memberantas kemisikinan. Hasil kunjungan yang bertabur foto-foto kenangan di depan parlemen asing itu, rancangan kemudian dibuat dan dirombak, dipamerkan dan disidangkan, lalu digelontorkan. Namun, kita tak tahu apakah rakyat yang bergerombol itu mendapatkan perbaikan nasib. Selalu saja tak tahu, karena dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun, penjual sayur tetap sebagai penjual sayur, yang pendapatannya mungkin naik lima ribu atau sepuluh ribu rupiah dalam jangka tahunan, tukang bakso tetap tukang bakso, yang kewalahan karena harga daging yang meningkat, serta klontong tetap klontong. Penjual tenaga tetap penjual tenaga. Meski ada juga kelontong yang menambah klontongnya. Dan ada tukang pijit, yang sebelumnya cuma memijit, sekarang sudah bertambah sekaligus menjual jamu. Yah, ada peningkatan, namun pelan-pelan. Tapi, di baliknya terdapat juga penambahan orang yang bergumul, orang yang kebingungan, entah dari desa mana ia berasal, dari pengangguran mana.. Masyarakat pun akhirnya begitu-begitu saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara kadang muncul dalam perbincangan sesaat di kedai kopi. Saat supir-supir angkot istirahat, saat pedagang-pedagang mencari teman ngopi di malam hari. ”Percuma dengan negara, pejabat pada korup”..selorohnya. Masyarakat sepertinya sudah maklum, bahwa para pemimpin kita, begitulah adanya. Sembari menyeruput kopi, pejabat pun jadi lelucon, jadi korban wacana. Ada nada sinis, jengkel, yang terlontar bersama gelak tawa. Dan pada akhirnya tak terjadi apa-apa, besok mereka menyetir lagi, besok mereka berdagang keliling lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau begitu, harapan tetap jadi harapan, negara pun menjadi gantungan yang rapuh. Lantaran masyarakat bergerak sendiri, berjuang sendiri. Dan mungkin, beginilah nasib, dalam berkehidupan kadang meminta korban, walau jumlahnya sangat banyak. Apalagi dalam masyarakat fundamental ekonomi liberal, yang digunakan sebagai basis dinamika negeri ini, bahwa tak dapat dipungkiri akan terdapat jurang. Terdapat orang yang sepenuhnya dapat menikmati pertumbuhan ekonomi, dan ada yang tidak. Ada orang yang bisa memajukan kesenian dan kebudayaan, ada gerak peradaban dari orang-orang yang berpunya ini, dari kalangan borjuis, yang bisa menyemarakkan demokrasi, dan bisa pula melecehkannya. Tapi, menjadi kaya bukanlah sebuah aib, bagaimanakah jadinya kalau orang pada takut menjadi kaya? Maka rubuhlah peradaban. Dalam gerak sejarah, selalu orang-orang kelas menengah inilah yang menggugat, meminta keluasan, kebebasan, hingga membentuk parlemen, mengontrol tingkat pajak kerajaan. Dan sebaliknya, kalangan ini juga pernah menjadi objek cemooh, menjadi monster yang menghisap, borjouis pun menjadi konotasi dilidah Marx. Hingga, harus diusir, kekayaannya harus dibagi, sama rata, sama rasa. Entahlah....   &lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;Ada cerita menarik tentang negara ini, tentang sepasang saudara, kakak beradik. Suatu ketika, mereka tinggal di rumah, orang tuanya lagi bepergian. Sang kakak lalu berceloteh kepada adiknya, bahwa di rumah akan berlaku sistem ‘negara demokrasi’. “Jangan takut, kita mempunyai hak yang sama,” kata si kakak. Adik lalu meminta contoh, “begini,” sahut kakak, yang kemudian manjat pohon dan di bawah adiknya menunggu. Tiba-tiba sang kakak meludahi kepala adik. “Itu hakku sebagai pemimpin,” kata si kakak. “Sekarang, gunakan hakmu sebagai yang dipimpin: balas, ludahi aku!” pun.. kita kemudian tahu, begitulah yang sulit dilakukan orang yang di bawah terhadap yang di atas.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di manakah negara di kerumunan rakyat kecil itu? Negara ada dalam cetakan koran kemarin sore yang sudah menjadi pembungkus ikan kering, barangkali.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabu Pagi, 11 Mei 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-7148863859561504912?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/7148863859561504912/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=7148863859561504912' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/7148863859561504912'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/7148863859561504912'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2011/05/pinggiran-kota.html' title='Pinggiran Kota'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-5515690040857848253</id><published>2011-05-01T11:06:00.002+08:00</published><updated>2011-05-01T11:08:45.012+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Homo Jakartanensis</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-OTr1t3u6ro4/TbzORXzhnuI/AAAAAAAAAU0/hLEIW6783U8/s1600/manusia%2Bjakarta.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="194" src="http://1.bp.blogspot.com/-OTr1t3u6ro4/TbzORXzhnuI/AAAAAAAAAU0/hLEIW6783U8/s320/manusia%2Bjakarta.jpg" width="259" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pada mulanya adalah teks, kemudian konteks. Begitu juga dengan Jakarta, yang bisa dikategorikan sebagai teks, yang dapat dibaca, diartikan, atau didefenisikan. Namun, siapakah yang dapat dengan tepat mendefenisikan Jakarta itu? Barangkali yang muncul adalah asumsi-asumsi umum, yang sudah jadi kesepakatan bersama, seperti jakarta adalah ibukota Indonesia, jakarta adalah metropolitan, megapolitan. Memang, kalau kita melewati jalan Jenderal Sudirman kita bisa berkesimpulan bahwa Jakarta kota megapolitan, karena kita mafhum dengan jejeran gedung-gedung menjulang. Tapi, coba kita cermati keadaan yang melingkupinya, seperti got-got berbau dan jorok, sampah yang berseliweran di tepi trotoar, pengemis yang setiap hari nongkrong di jembatan penyeberangan sembari menggendong bayi, hingga pengamen dekil di bis-bis kota, tentu, asumsi megapolitan pun menjadi kabur.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantaran begitu, Jakarta bukan sembarang teks, karena teks sendiri dapat dikaitkan dengan teks lainnya atau metateks, dan tentu dengan konteks (ruang dan waktu) yang terbatas. Sehingga, di sini kita tak dapat menarik ketegasan, karena yang lahir adalah multi kebenaran. Kebenaran tidak satu, tergantung siapa yang melihat, cara melihat dan apa yang dilihat. Tak ada yang betul-betul pasti, yang ada mungkin hanya dominasi, itu pun tepat untuk kelas sosialnya sendiri. Persinggungan-persinggungan ini juga disemarakkan oleh media, yang melakukan penandaan-penandaan, menyodorkan makna tertentu yang tak lain juga berselubung ‘kepentingan’. Defenisi-defenisi ini pun bertarung dalam koridor wacana, karena tak ada teks diluar wacana. Kita tinggal memilih simbol mana yang hendak kita negosiasi dan terima, setelah itu kita pertaruhkan di diskursus wacana. Jadi, jakarta pun adalah wadah pertarungan politik identitas kita. Mungkin, wacana yang naik ke permukaan adalah wacana yang telah dimenangkan, untuk sementara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, bagaimanakah Homo Jakartanensis (manusia Jakarta) melakukan negosiasi terhadap konteks Jakarta yang menawarkan pola hidup baru itu? Sementara ini saya menyebutnya kompromi keadaan, terlibat langsung dalam medan kompetisi untuk mengumpulkan uang, dimana besar bertarung dengan besar, besar menindas yang kecil, diantara yang kecil pun tindih menindih. Karena jakarta memang pasar uang, uang menjadi motivasi terbesar homo jakartanensis bergelut. Walau tak dipungkiri,  banyak juga yang sudah berpuluh-puluh tahun bertarung di Jakarta namun tak juga maju-maju, tak juga naik pangkat, motornya tetap butut, belum juga bisa beli mobil, dan belum juga bisa nikah lagi.. hehe.. kalau seperti itu, umurnya pun habis hanya untuk cari uang yang justru tak cukup-cukup, lalu bingung kemudian, ”saya sudah tua ya,”  lalu apa yang saya kenang selama tinggal di jakarta ini. Betapa sialnya, kalau ternyata yang dikenang hanya waktu kecapaian berdiri dalam busway, ngantuk saat macet, atau dimarahi boss. Hufff.../ngeri.. tapi jangan salah, banyak juga yang berhasil, karena jakarta tetaplah kota impian, tempat semangat digenjot, ambisi di asah. Tak ada salahnya kalau kita punya ambisi besar di kota besar ini kan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak dapat dipungkiri juga, lantaran dimotori oleh semangat mengejar doku tadi, sehingga relasi yang muncul pun terkesan semu, absurb. Padahal, mungkin saja konsep kekayaan dalam benak orang-orang itu hanya sebuah ilusi, ilusi kekayaan. Orang pun akrab dengan seseorang lebih karena ada sesuatu pada orang itu, mungkin karena orang yang berkenalan itu punya apartemen sendiri, pengusaha sukses, ataukah orang itu ilmuan di bidang tertentu yang ada kaitannya dengan kemajuan bisnis, atau karena pakaiannya bermerek, potongannya rapi, sepatunya kinclong. Ujung-ujungnya, bermuara pada ”kerjasama”, proyek, kerjaan, bantuan, atau kasarnya “minta uang”. Sehingga, interaksi menjadi serba basa-basi, lebih mirip strategi kehumasan saja, sekadar sopan santun. Kehangatannya adalah kehangatan sementara, tampak dibuat-buat/klise. Pun jika keinginan sudah terpenuhi, temannya yang tampak bego itu akan di depak, dicuekin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya punya secuil pengalaman tentang ini, sebelum ke Jakarta saya kenalan dengan seorang mahasiswa domisili Jakarta lewat Fb, sangat akrab, kami akhirnya janjian ketemu setelah hampir sebulan saya di sini. Tiba-tiba, setelah ketemuan, dia mohon pinjam duit, kontrakannya belum dibayar katanya. Untuk menjalin persahabatan, saya pinjamkan lah barang 100 ribu (maklum, duit masih sedikit, jadi minjaminnya juga sedikit, hehe), eh.. setelah itu, saya hubungi berkali-kali, hingga sekarang, tapi tidak pernah di balas, telpon tak diangkat.. padahal, pernah saya menghubunginya lantaran saya sudah di gramedia, dekat kosannya untuk sekadar ketemuan dan ngobrol-ngobrol. Bukan untuk menagih..  waduh.. mampus tuh duit. Hehe.. Dalam hal ini, teringat lagu di warung tempat supir-supir Batak nongkrong tadi malam,, ”siapa suruh datang ke Jakarta!”.. hahaha..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehangatan yang berarti rasa kemanusiaan, saling asah, asih dan asuh itu mungkin hanya berada dalam rumah. Ketika bapak pulang kerja, lalu bersungut-sungut kesal, tiba-tiba dibuatkan teh oleh istri dengan senyuman manisnya.. amboy.. keselnya pun melempem deh.. tapi tunggu dulu, bisa jadi, di rumah juga kehangatan itu entah pergi kemana, karena suami dan istri itu sama-sama sibuk, dan sama-sama biasa pulang pagi. Kalau seperti itu, kata orang betawi, “pada mampus lu pade”.. hehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana pula dengan sang anak, apakah ia memperoleh kehangatan di rumah dan di sekolahnya? Belum tentu. Begitu banyak anak muda, seumuran SMP dan SMP, yang kerjanya tiap malam nongkrong di lorong-lorong gang, ngobrol ngaco tentang teman cewe’nya, sembari bermain gitar sepuasnya. Kalau hanya malam minggu sih wajar, tapi kalau setiap malam? Kapan belajarnya? Huuhh..  Kehangatan mereka peroleh lewat pertemanan, lewat malam-malam yang dilalui bersama. Tentang masa depan, nantilah.. bisa kan jadi pengamen, jadi tukang, satpam jadi pekerja pabrik, kalau beruntung jadi pegusaha sukses, tapi parah kalau jadi jongos atau malah ketika hanya jadi pemungut-mungut uang di gang-gang sempit..     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang kehangatan ini, ada juga orang menemukannya pada komunitas-komunitas tertentu. Misalnya komunitas pecinta Bunga anturium, komunitas pecinta ikan louhan, komunitas pecinta pesawat modeling, komunitas pembaca sastra, komunitas teater, atau komuntas pengajian-pengajian. Di sana, Informasilah yang mengeratkan hubungan mereka, perbincangan sepenuhnya tentang tema hoby mereka sehingga terjadi proses saling tukar informasi. Namun, persoalannya jika pertemuan komunitas itu berlangsung di lobi hotel ataukah di di restoran Cina yang bergengsi. Sehingga yang hadir pun ketahuan status sosialnya. Dari pakaiannya, cara makannya, yang mungkin harus lincah memakai sumpit. So, yang tak sanggup mengikuti gaya mereka-mereka pade, jadi minder deh.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula yang mencari kehangatan lewat ikatan etnoscafe, kesukuan. Jadi bukan hanya finanscafe yang menghubungkan orang per orang. Di tempat yang jauh di dari kampung, kemudian kita menemukan seseorang yang berasal dari kampung yang sama, bisa dibayangkan betapa senangnya kita. kita seperti pulang kampung lagi, dan mendapatkan sepercik suasana kampung, misalnya dengan logatnya, bahasanya, dan tingkahnya, pola pikirnya yang mungkin dipengaruhi oleh latar belakang geografis yang sama. Sehingga, berkumpul bersama teman yang sesama etnis begitu mengakrabkan, kita bisa saling berbagi cerita dan pengalaman selama tinggal di kota metropolitan ini. Tapi, lagi-lagi, kehangatan ini sementara, karena kita pun dibatasi jarak dan waktu, teman yang sekampung ini juga punya kesibukan, sehingga tak mungkinlah keseringan berjumpa.. hehe.. pada akhirnya kembali lagi dalam kurungan kehidupan basa-basi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, uniknya, lantaran keterasingan yang menderu ini, banyak diantara warga Jakarta yang mencari kehangatan lewat media lain, bukan dengan perantara manusia. Antara lain; lewat acara pavorit di televisi, lewat rubrik-rubrik kesenangan di majalah atau koran, lewat siaran musik radio di tape mobil bersama suara penyiar yang selalu ber “hyguyss”, atau musik di handphone yang setia menemani saat bergelantungan di angkutan transjakarta, ada juga lewat media internet misalnya, melalui Facebook,  atau pun twitter. Beragam cara homo jakartanensis ini memperoleh kehangatan, dalam artian semacam teman berbagi rasa sepi itu. Namun sayang, kebahagiaan lewat media ini sekadar selingan saja, untuk menghapus kebosanan atau pun ketegangan saat kerja semata. Dimana kehangatan yang paling utama itu adalah jalinan persahabatan antar sesama manusia, tanpa ada pretensi ekonomi, artinya manusia dipandang sebagai manusia, bukan karena embel-embel yang melekat pada dirinya. Pun kehangatan utama ini kadang begitu sulit diraih.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehangatan ilusi ini pun selalu menjadi nyata, ilusi di atas ilusi, citra ekslusif kemudian dilekatkan diproduk-produk fashion. Dimana, mode tertentu akan memberi kesan khusus pada penggunanya, dianggap lebih percaya diri deh. Mungkin agar dengan mudah diterima oleh kelas tertentu dalam masyarakat sosial ini. Cara pandang yang bersifat hirarkis sosial itu membuat saya mengingat suatu kejadian. Suatu ketika, saya jalan-jalan ke mall, bersama seorang senior bernama Gunawan Mashar. Saat itu, saya hanya mengenakan baju kaos, jelana kain, tas punggung yang lusuh, dan sendal. Ditambah dengan postur badan saya yang kurus dan tentu kurang meyakinkan bahwa pemuda ini berduit. Sementara senior itu menggunakan baju kaos ngjreng, celana jeans, sendal bermerek, badan berisi, dan tas kecil yang disalempangkan menyamping. Setiap kami berpapasan dengan gadis-gadis yang membagikan brosur iklan itu, saya tidak memperoleh selembar pun brosur, sementara seniorku yang tampak berada itu selalu saja menerima brosur. Kata seniorku itu, “di Jakarta ini, orang melihat orang lain itu berdasarkan simbol yang tampak dari pakaiannya Dam”. Jadi kesimpulannya, kita akan dipandang sebagai manusia kalau penampilan kita necis.. wadeuh..  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga, apa yang terjadi. Masyarakat kelas menengah ke bawah pun termakan wacana, dan akhinya menjadi budak fashion. Banyak diantaranya yang dengan sadar atau tidak sadar turut meramaikan trend dan gaya pakaian terkini. Kita dapat menyaksikan mode-mode ini bukan hanya di gedung-gedung atau pusat perbelanjaan ternama, tapi juga di atas metromini atau pun di busway. Tampaklah gadis-gadis berpakaian ketat, yang kadang udel-udel terlihat dan membuat mata lelaki jelalatan. Ataukah perempuan mengenakan rok mini sembari duduk manis di bangku transjakarta. Saya tak tahu pekerjaan sebagai apa, mungkin saja sekretaris, atau bisa juga sebagai pelayan toko roti disebuah supermarket. Lucunya, gadis-gadis berbaju ketat itu kadang menarik-narik ujung bajunya agar udel-udelnya nggak terlihat.. kalau mau dipertontonkan, sekalian dong.. hahaha...   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang fenomena ini, teringat kata-kata Roland Barthes, ”dunia fashion, dunia penciptaan mitos”, sehingga, yang penting adalah mitosnya, bukan fungsi. Pakaian tidak lagi dilihat sebagai pelindung tubuh dari debu. Tapi dilihat dari makna yang muncul dari mitos yang terwacanakan di media, sebagai identifikasi praktek pembedaan. Atau mungkin sebagai kategori pakaian untuk orang Cantik.. ceilee... Jadi, orang yang mengenakan mode itu merasa lebih berbeda dari orang lain. Sistem tanda yang membedakanlah yang menjadi inti, bukan isinya. Karena, Ia merasa memperoleh eksistensi dirinya lewat pertarungan simbol-simbol fasion itu. Boleh dibilang, bahwa ia memakai fashion ini itu, lebih karena makna yang diperoleh darinya. Sesuatu yang sebenarnya tidak ada, kemudian dimunculkan dan dinaikkan ke permukaan, menjadi sesuatu yang bermakna/entahlah, bagi saya mungkin juga absurb. Sehingga, kita akan mengerti jika memperlihatkan fashion itu sebagai suatu sistem, dimana mekanisme tiada habisnya untuk memberlangsungkan elaborasi makna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wadeuh, ruwet jadinya. Entahlah, mungkin kita menganggap mereka yang termakan iklan fashion itu sebagai budak modernitas, atau apalah. Tapi tunggu dulu, kita tidak boleh menjust begitu saja, bisa jadi kita beranggapan seperti itu lantaran kita juga sudah terlanjur menganut paham kritis misalnya, ataukah sudah menganggap itu sebagai bagian permainan/bo’ong-bo’ongan pemilik modal atau apalah. Tapi, kita harus melihat itu juga dari sudut pandang maknanya. Boleh kan kita memakai ini itu, karena barang itu memiliki makna tertentu bagi kita.. dan bisa jadi membuat kita lebih hidup dan lebih hidup (seperti iklan rokok itu). Hehe..  Yang lebih ruwet saya kira kalau kita sekadar mencontek saja, hendak mau dibilang gaul, namun sayang, tidak tahu makna apa yang terkandung dalam busana yang dipakainya.. kalau ini saya anggap sudah betul-betul budak... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan premis kita sebelumnya, bahwa jakarta adalah teks, sekaligus konteks. Terakhir, jakarta sebagai salah satu bentuk kebudayaan, tidak serta merta dilihat dari kacamata standardisasi peradaban, yang membedakan warganya antara warga kelas tinggi dan warga kelas rendah hanya berdasar pada pilihan gaya hidup yang ia gunakan. Identifikasi ini pun sudah mengabur, karena gaya hidup di jakarta tergantung pemaknaannya, dan bagaimana ia merasa memiliki suatu makna itu. Boleh jadi orang-orang kecil yang tampak udik lebih asyik bermain gitar di pinggir jalan, dan merasakan kesenangan luar biasa, dibanding seorang perlente yang setiap minggu mengunjungi pementasan teater, namun kunjungan itu sebagai rutinitas semata, menjadi mahaselingan, dan tidak melakukan pemaknaan mendalam tentang pentas teater itu. Jadi, kebenaran itu banyak, kita tinggal bertarung di dalamnya, mengidentifikasi diri, masuk di golongan mana. Semuanya terserah kita.. relatif bung.. intinya kan kebahagiaan, tapi, kita  bahagia atau tidak bahagia.. siapa yang tahu... hehe..     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sabtu, 30 April 2011&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-5515690040857848253?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/5515690040857848253/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=5515690040857848253' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/5515690040857848253'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/5515690040857848253'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2011/05/homo-jakartanensis.html' title='Homo Jakartanensis'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-OTr1t3u6ro4/TbzORXzhnuI/AAAAAAAAAU0/hLEIW6783U8/s72-c/manusia%2Bjakarta.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-7584083444545205849</id><published>2011-04-27T20:55:00.001+08:00</published><updated>2011-04-27T21:15:16.087+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Rasa Teh Susu, Jiwa, dan Teori Struktur Dissipatif</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-s-Rhb5tiuNU/TbgWu7lmtzI/AAAAAAAAAUk/McS1s5K8dgg/s1600/arus%2Bair.jpg" imageanchor="1" style="clear:right; float:right; margin-left:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="172" width="293" src="http://4.bp.blogspot.com/-s-Rhb5tiuNU/TbgWu7lmtzI/AAAAAAAAAUk/McS1s5K8dgg/s320/arus%2Bair.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Suhu tubuh tiba-tiba meningkat, setelah kuteguk susu hangat yang telah dicelupkan teh sariwangi itu. Setiap kuteguk, hangat dan rasanya menggelikan lidah, menimbulkan suatu yang tidak terbahasakan.. mungkin, generalisasinya bernama kenikmatan. Masuk ke tenggorokan, menimbulkan pun rasa puas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, saya mulai bertanya-tanya lagi.. dimanakah letak objektivitas itu ? tentang kenikmatan akan rasa teh susu itu. Pun adakah yang disebut generalisasi itu? Yang diperoleh dari percobaan bagian-bagian. Lidah mendeteksi larutan putih, yang rasa-rasanya benar-benar khas untuk keseluruhan lidah.. sementara yang saya dapatkan dari guru biologiku dulu, bahwa rasa itu ada tempatnya masing-masing. Misalnya, manis terletak di ujung lidah, pahit di pangkalnya, dan asam-asin di samping lidah. Tapi, setelah kuulang-ulangi teguk susu yang tak tahu masuk kategori manis, asam, atau pahit ini. Ujung lidahku tak begitu reaksi, begitu juga samping dan pangkalnya. Justru saya merasa keseluruhan bagianlah yang berjuang dengan kesenangannya sendiri. Merespon materi yang bernama susu itu. Sehingga, timbullah rasa susu yang (bukan manis, asam, asin atau pahit). Kalau begitu, yang manakah yang benar, eksperimenku sendiri atau hasil riset peneliti-peneliti asing itu? yang rasa pun mereka kotak-kotakkan..    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hemm.. persoalan benar salah kadang membuat kita menjadi asing dengan diri kita sendiri. Karena benar dan salah sudah ditentukan oleh yang punya otoritas kebenaran. Oleh mereka yang telah dapat HaKI, hadiah Nobel ilmiah, atau risetnya tergeneralisasi dan ‘belum’ runtuh secara metodologis. Sehingga, kita pun terlihat bodoh, dianggap tak tahu terhadap kejadian-kejadian di lingkungan kita. pun sejak kecil kita sudah sering dicekoki dengan kebenaran-kebenaran, lewat hafalan-hafalan di sekolah, tanpa tahu bahwa bagaimana teori itu terjadi, bagaimana sang penemu menyusun teorinya itu. Buntutnya, kita pun menjadi rendah diri, minder, terhadap mereka-mereka yang punya titel, yang bergelar profesor, yang sekolahan tinggi, atau mereka yang memiliki otoritas pengetahuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, jika kita terangsang untuk belajar sendiri terhadap fenomena-fenomena ini, kita pun akan paham dan menemukan kebenaran dengan sendirinya. Meskipun kebenarannya itu masih merupakan lapisan terendah, setidaknya, kita telah berusaha untuk mengoptimalkan potensi akal kita, potensi gerak kita. jika tak begitu, kita akan selalu dikuasai oleh mereka-mereka yang sudah mendapat “cap” akademis/surat legitimasi itu. Walau belum tentu mereka paham seluk beluk sebenarnya. Kita pun mesti mempertanyakan asumsi-asumsi epistemologinya, paradigma yang membangun teorinya, dan efek aksiologisnya. Karena tak dapat dipungkiri bahwa zaman ini adalah zaman dekonstruksi, bahwa semua kadang bisa runtuh begitu saja, lantaran pondasi dasar epistemologinya ataupun ontologisnya retak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, fenomena efek placebo dalam keilmuan psikologi, tentang kejiwaan, tentang manusia multi kepribadian, tentang mimpi, tentang kesadaran. Dapatkah paradigma positivis menjawab hal itu? Dimana mereka selalu meletakkan paradigmanya dari batu alas materi, dengan sudut pandang objektivitas, serta bersifat bebas nilai. Untuk sementara, pendekatan-pendekatan kaum positivis yang dikenal dengan kaum empiris berbasis data yang tampak lewat indra ini tak dapat memberikan jawaban memuaskan. Beberapa ahli telah mempertanyakan dan mendebatkan hal ini, tentang kesadaran diungkap oleh Barbara Brown, fisiolog yang bertahun-tahun mempelajari otak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;penelitian tentang jiwa dan kesadaran merupakan pemberontakan terhadap opini otoritatif dalam sains. Beberapa ilmuan yang mengkaji keberadaan jiwa atau inner mind ini  adalah mereka yang berada di barisan paling depan dalam mempelajari otak : Sir Jhon Eceles, Roger Sperry, Wilder Penfield, Hans Selye, Kari Pribram (Brown, 1980). Paradigma yang melihat ke batin ini pun telah diberi nama: Post Positivisme, monisme transendental, naturalistik, metafisik M-3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih konkritnya, penemuan kajian yang bersifat ke dalam (inner mind) itu telah sangat jelas terlihat dalam pengalaman keberagamaan ummat manusia. Pengalaman ini membentuk dua bentuk, yakni eksoteris, lebih pada bentuk-bentuk peribadatan, arsitektur, kitab sucinya. Dan esoteris yang merupakan tradisi spritual yang diketahui hanya oleh sekelompok kecil dan biasanya mereka yang menuntut disiplin meditatif. Keberadaan jiwa ini terungkap bukan hanya pada jiwa itu sendiri, tapi juga melalui refleksinya terhadap prilaku eksternal pada jiwa orang lain. Pengungkapan jiwa pun tidak serta merta hadir dalam kondisi normal, tapi akan muncul pada kondisi tertentu, jika kita mematuhi aturan-aturan tertentu yang secara empiris terbukti valid dalam pengalaman (Herman, 1990).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan batin atau jiwa ini bukanlah pengetahuan yang terkotak-kotak seperti yang ditempuh oleh kaum postivis yang bersifat reduksionis mekanistik, tapi muncul secara holistik, melingkupi keseluruhan sistem. Jiwa itu adalah kehadiran mutlak, yang tidak terbelah-belah. Sama halnya dengan kenikmatan rasa susu tadi. Fenomena-fenomena ini merupakan peristiwa emergence yang bersifat menyeluruh, integrasi antar struktur-struktur yang terhubung oleh pola-pola tertentu, bukan lantaran fungsi bagian-bagiannya tertentu saja. Karena dalam keseluruhan terdapat pola baru, makna baru yang tak ada dalam bagian. Selain itu terjadi prosesnya penyerapan energi dalam sistem yang terbuka dan jauh dari kesetimbangan (teratur, jauh dari chaos). Pemahaman ini pertamakali disistematiskan oleh Ilya Prigogine yang dari penemuannya tentang struktur dissipatif, dan memperoleh ganjaran hadiah nobel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prigogine membuktikan bahwa keteraturan itu dapat lahir dari ketidakteraturan, atau kehidupan itu lahir dari entropi. Hal ini menjawab kegelisahan zaman 60-70-an itu tentang hukum termodinamika 2 tentang alam semesta yang katanya mengalami keruntuhan pelan-pelan seiring perjalanan masa. Kontradiksi pun terjadi, pengalaman kehidupan justru membuktikan sebaliknya, bahwa kehidupan ini justru berkembang dari sesuatu yang sederhana menuju hal yang lebih kompleks, atau yang tidak teratur ke yang teratur atau lebih kompleks. Tentang hal ini, prigogine menjelaskan bahwa kehidupan berada dalam lingkup sistem terbuka, sedangkan alam yang dimaksud termodinamika 2 adalah sistem tertutup yang diandaikan seperti mesin/mekanistik. Sistem terbuka berkembang lantaran melakukan pertukaran energi dengan lingkungannya. Sementara sistem tertutup tidak melakukan hal itu. Manusia, hewan, tumbuhan bukanlah mesin, mahluk-mahluk ini menyerap energi dari lingkungan, lalu mengirimkannya kembali dalam bentuk karbondioksida, sampah, panas, dan buangan lainnya. Manusia adalah sistem terbuka yang jauh dari kesetimbangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengamatannya terhadap reaksi Belousov Zhabotinsky yang terjadi ketika empat  macam bahan kimia dicampurkan pada piring percobaan dalam temperatur tertentu, dengan sangat cepat campuran itu menata diri  menjadi struktur gelombang yang konsentrik dan spiral, menyebar dan berputar dengan keteraturan mirip jam dan perubahan warna dengan interval yang tepat. Dari penelitian tersebut, ia mengendapkannya menjadi teori dissipative structure- struktur yang muncul dari situasi yang jauh dari setimbang. Struktur yang menata diri sendiri dengan membuang entropi ke lingkungan. Penataan diri seperti sel yang mengganti organ-organnya yang rusak (autopoesis) serta membentuk struktur-struktur baru lagi hingga tiba pada  pembelahan diri (mencapai titik bifurifikasi) atau pembentukan sel baru (duplikasi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur dissipatif pun berkembang dengan kondisi lingkungan yang jauh dari setimbang, tidak stabil, atau mudah berubah, terbuka pada arus pertukaran materi dan energi dari lingkungan dimana lingkungan itu sendiri tidak stabil dan cepat berubah. Lantaran penyerapan dan pembuangan energi, sistem pun berguncang, taraf tertentu masih dapat mempertahankan struktur (organisasi internal), tapi pada tingkatan lebih lanjut terjadi fluktuasi lebih besar sehingga energi tak dapat diserap lagi karena sistem sudah semakin stabil. Pun pada akhirnya, goncangan kecil saja mendorongnya ke tepi jurang kehancuran, kadang bisa berantakan ataukah berhasil bertahan dengan hasil mengalami perpecahan/pembelahan dengan pola-pola baru yang lebih kompleks. Karena itulah sistem ini dapat menyelamatkan diri ke tatanan yang lebih tinggi, keluar dari ketidakteraturan (chaos).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur dissipatif ini membuktikan bahwa sesuatu itu dapat berubah ke pola yang lebih kompleks dengan melalui proses ketidakteraturan, non stabilitas, dan penyerapan energi terus menerus. Kalau dibawah ke alam kesadaran dan kecerdasan. Sebenarnya peradaban atau tingkat pemahaman seseorang dapat mengalami peningkatan setelah melalui goncangan-goncangan, seperti keraguan, tantangan, dan kesulitan-kesulitan.. pemahaman teori ini pun tidak bisa diambil dari sebagian-sebagian menuju keseluruhan. Karena keseluruhan itu bukan hasil tambah bagian-bagian. Dalam keseluruhan, terdapat esensi baru, yang tidak terdapat dari partikular-partikular. Ini disebut teori sistem/integaral.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya, tulisan ini sudah terlalu panjang dan menjemukan pikiran. Intinya, bahwa paradigma pengetahuan sudah mengalami penggeseran, dari induksi ke deduksi, reduksionis ke holistik, dari objektivitas ke subjektivitas, dari bebas nilai ke tidak bebas nilai.. dari mekanistik ke pola hubungan jaringan-jaringan (informasi). Membahas ini sebenarnya butuh pendekatan sistematis, penjelasan satu persatu apa itu positivisme, reduksionisme, mekanistik, objektivitas, ataupun subyektivitas, holistik, sistemik, integral, dan adanya partisipasi subyek/peneliti terhadap obyek penelitian. namun, mungkin untuk hal itu butuh waktu lebih banyak lagi, dan butuh konsentrasi tinggi. Hehe.. minimal, pemahaman tentang dissipatif teori telah kita kuliti sepintas, semoga menjadi landasan baru untuk berpikir ulang tentang paradigma pengetahuan yang kita pakai selama ini. Bahwa kebenaran itu masih belum tersentuh betul, masih sekadar dipermukaan-permukaannya, pun pada akhirnya kebenaran sains yang diperoleh saat ini mengalami kesalahan-kesalahan. Karena obyek yang diteliti ternyata berubah-ubah. Sementara metode yang kita gunakan sengaja memaksakan obyek itu sesuai dengan kemauan kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah.. mungkin saya juga punya banyak kekeliruan.. semoga ditemukan jalan ke kebenaran yang sebenarnya itu. Sekali lagi, mengutip Turgenev (penulis rusia),, “kebenaran itu seperti Cicak, kadang kita hanya menangkap ekornya yang bergerak-gerak seperti hidup, lalu mengatakan bahwa itulah kebenaran..” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabu, 27 April 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-7584083444545205849?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/7584083444545205849/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=7584083444545205849' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/7584083444545205849'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/7584083444545205849'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2011/04/rasa-teh-susu-jiwa-dan-teori-struktur.html' title='Rasa Teh Susu, Jiwa, dan Teori Struktur Dissipatif'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-s-Rhb5tiuNU/TbgWu7lmtzI/AAAAAAAAAUk/McS1s5K8dgg/s72-c/arus%2Bair.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-8697793260661738690</id><published>2011-04-26T22:54:00.001+08:00</published><updated>2011-04-26T23:31:37.511+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Tengah Jalanan</title><content type='html'>Pada siang terik itu, darah segar mengucur di tengah jalan. Seorang bapak telah terlentang di sana, seorang diri, pada aspal yang panas itu. Kepalanya pecah, sebelah tangannya bergerak-gerak, dan mulutnya berpekik ngigau, hendak mengatakan sesuatu. Namun, entah karena dosa apa yang telah diperbuat sang bapak, seperti tak ada yang mendengar pekik halus itu.. seakan melempem di hempas kebisingan. Tak ada kerumunan seperti biasanya.. Orang-orang yang lewat hanya melirik sepintas, sembari memelankan kendaraan. lalu berdecak pelan ‘kasihaan’.. gas pun kembali ditancap. ada rasa getir di sini bercampur rasa cemas, mungkin takut pada suatu keadaan yang kita sudah maklumi bersama, yaitu ‘macet’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang penumpang bertanya pada supir angkot yang saya tumpangi saat itu. “Pak Singgah pak, kasihan itu orang, tak ada yang menolong!” supir memelankan kendaraan, lalu bersungut-sungut, “sudah smaput Bu, lihat tuh tangannya udah gerak-gerak,” jawab si Supir. Maksudnya, abang supir hendak bilang, ‘percuma, sudah sekarat, mending saya bergegas cari uang’. Ada rasa pahit tertelan ditenggorokan. Tak tahu apa itu. Sepertinya rasa kemanusiaan telah kalah oleh tugas untuk mengejar setoran, untuk berebut penumpang di pinggir-pinggir jalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah yang ganjil dari peristiwa ini? Ketika orang-orang seakan tak peduli lagi dengan orang yang sudah mendekati ajal, yang sementara berjuang melewati waktu. Tentu, kita sama-sama tahu bahwa itu sebuah kejahatan. Namun, mungkin kita juga tahu, keadaan kadang memupus rasa itu. Membiarkannya terendap dalam hati saja. Situasi jalanan yang padat, kendaraan tersendat-sendat di jalan sempit, dan siang yang terik itu. Orang pada bergegas ke tujuan, supir-supir angkot gelisah lantaran kurang setoran. Jika saja sebuah kendaraan berhenti di jalan sempit itu, macet akan mengular, waktu akan terkuras, dan besok dapur belum tentu mengepul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah.. beginilah sepotong gambaran situasi yang sakit, yang kemudian menjalar ke rusuh hati. Jalanan sudah menjadi penyakit sejak kota metropolitan ini berkembang dan mengundang berjuta-juta imigran dari plosok-plosok. Namun, keramaian kota yang terus bertambah itu tak berjalan lurus dengan pembenahan petak-petak jalur kendaraan, pembatasan kendaran, atau penambahan fasilitas transportasi umum. Sehingga, setiap pergerakan umur kota, keadaan bertambah parah, jalanan sempit namun kendaraan yang melintas bertubi-tubi mendesak, sembari menekan-nekan klakson. Dan tentu, di jalan yang sempit dan penuh kendaraan ini, kendaraan-kendaraan berebutan tempat, gontok-gontokan. Hingga, jika lengah sedikit, akan terjatuh dan tertabrak. Itulah yang dialami Bapak tua pengendara motor itu. Yang mungkin sengaja menyelip di tengah jalanan tanpa tahu ada mobil atau raksasa bergerak cepat di depannya.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang melihat peristiwa itu barangkali hendak menolong. Tapi apa daya, mereka juga orang-orang kecil yang tiap hari didera macet dan kebisingan. Yang membuatnya frustasi dan kelelahan menjalani hidup. Tampaknya, sebagai orang kecil yang hidup dalam keganasan kota, mereka lebih mementingkan diri sendiri. Apalagi diperhadapkan pada kondisi ramai di ruang publik. Tak ada tanggung jawab di ruang seperti itu. Dan, sebagaimana orang-orang kecil dari udik, tak ada yang betul-betul memerhatikan nasib mereka, kecuali mereka sendiri. Pun akhirnya merelakan seonggok tubuh itu menjadi tumbal kegetiran kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teringat lagi pada wajah orang tua itu, yang setengah sadar itu. Bapak itu merasakan sakit yang tak tahu sakitnya seperti apa. Tapi, melihat keadaan orang lain yang tak peduli itu, yang cuma dapat geleng-geleng kepala itu. Tentu, dalam kondisi ini, masyarakatlah yang lebih sakit. Pembenahannya bukan lagi dengan praktek perbaikan moralitas pribadi, tapi sudah menyangkut pembenahan sosial. Dan ini membutuhkan tangan-tangan Tuhan, lantaran tangan-tangan wakil rakyat tak lagi melirik persoalan-persoalan ‘kecil’ ini. Rakyat sudah lama dibiarkan sendiri, terdapat nada optimisme dari mulut penguasa bahwa masyarakat dapat mengatur dirinya sendiri. Sesulit apapun keadaan itu. Sehingga, jarak pun kian lebar, antara yang dimanjakan dengan previlese dan yang dibiarkan tenggelam dalam rimba ketidakpastian. Lantaran jarak yang lebar itu, mereka pun dengan gampang dikuasai, dan akhirnya diantara mereka saja saling berebut rezeki, orang kecil melawan orang kecil. Seperti supir-supir yang bertarung di jalanan itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah.. memang ada rasa bersalah tertinggal, tapi, siapakah yang dapat dipersalahkan dari keadaan ini? Saya tak tahu..!    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Selasa, 26 April 2011&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-8697793260661738690?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/8697793260661738690/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=8697793260661738690' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/8697793260661738690'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/8697793260661738690'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2011/04/tengah-jalanan.html' title='Tengah Jalanan'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-5610707114556499504</id><published>2011-04-23T18:22:00.000+08:00</published><updated>2011-04-23T18:22:23.180+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Privat'/><title type='text'>Berbagi Cerita tentang Teater Ali Topan</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-He9Qj5G9hrk/TbKoSioLsNI/AAAAAAAAAUc/-X4vgagyk9A/s1600/ali%2Btopan.jpg" imageanchor="1" style="clear:right; float:right; margin-left:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="208" width="242" src="http://2.bp.blogspot.com/-He9Qj5G9hrk/TbKoSioLsNI/AAAAAAAAAUc/-X4vgagyk9A/s320/ali%2Btopan.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt; Adakah cahaya berasal dari kekuasaan? Tepatnya kekuasaan yang berangkat dari kelebihan materi, dimana segala-galanya sudah mudah di beli dan dijajaki. Dalam kategori kekuasaan ini, kita tidak berbicara ranah pemerintahan, negara atau dinasti-dinasti, tapi kekuasaan di dalam rumah, dalam sebuah keluarga. Yah.. setidaknya cahaya itu bernama Ali Topan, tokoh imajinatif Teguh Esha, pengarang novel legendaris “Ali Topan Anak Jalanan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Novel yang ngetop dan telah difilmkan pada pertengahan tahun 80-an ini berkisah tentang pemberontakan seorang pemuda bernama Ali Topan, terhadap penindasan moral yang dilakukan oleh orang tuanya, guru di sekolahnya, dan juga para orang-orang dewasa yang ‘sok’ berkuasa. Ali Topan anak orang kaya, cerdas, menyukai musik (Beatles, Bob Dylan, Koes Bersaudara, hingga sajak-sajak Rendra), namun kehidupannya lebih banyak habis di jalanan. Bersama ketiga sobat karibnya, ia nongkrong di jalan-jalan Jakarta, mengisi waktu bersama orang-orang kecil (pengamen, pengemis, pedagang asongan, hingga pelacur), iseng mengganggu orang berpacaran di taman lawang, babak belur ketika berkelahi dengan seorang perampok di sebuah terminal. Ia, berprilaku Hippyes, hidup di jalanan adalah kebebasan, kedamaian, sesuai dengan tipikal pemuda tahun 60-an yang sudah benci perang, amuk terhadap gaya romantik dan klise, dan memilih luntang lantang menikmati lagu Bob Dylan sembari menghisap candu.. Ohh.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dan, pada Sabtu malam itu, 16 April kemarin, Ali Topan tampil lagi di Gedung Graha Bakti Budaya/Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan wajah dan konsep berbeda. Kini ia berwajah teater musical, dimana para aktor aktrisnya berdialog dengan melantunkan syair, suasana diterangi permainan cahaya dan grafis, pentas digerakkan dengan perubahan-perubahan setting seketika. Dan tentu, musik setia menemani, lirih dan gemuruh, sesuai suasana hati cerita yang dipertunjukkan. Penonton pun duduk rapi di balkon dan ruang utama. Tak berbicara, mungkin berbicara dengan dirinya sendiri. Tak ada riak, semua mata tertuju pada lampu sorot, semua telinga dengan cermat menikmati dialog merdu para pemain, yang lebih bernada lirih, dan barangkali tragik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Syahdan, dalam cerita versi teater ini, Ali Topan yang diperankan Dendy Mulya Pasha Hamid (mantan vokalis Kunci) lebih masuk ke ranah konflik, suasana selalu tegang. Cukup berbeda dengan versi film 80-an-nya yang terkesan kocak dan komikal. Malam itu, sehabis para pemain bernyanyi dan menari bersama di sebuah panggung berlatar pinggir jalanan, dengan gaya tari yang dipoles kontemporer, adegan dimulai dalam sebuah rumah mewah, perabot, sofa mahal dan sebuah pojok kamar yang dindingnya bertuliskan “This is a House, not Home”, itulah kamar Ali Topan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam adegan itu, Mbok Iyem dan Ujang si pembantu rumah kebingungan menghadapi pertengkaran Ayah dan Ibu Amir (orang tua Ali Topan), rumah pun digambarkan ingin rubuh dengan teriakan dan makian dua orang dewasa itu. Tiba-tiba Ali Topan datang, menghardik mereka berdua. Tingkah anak muda itu sontak dicap kurang ajar, lantas dirubungi dengan ceramah kasar kedua orang tuanya. “Monyet,” kata sang ayah.. Dan.. Ali Topan cuma berkata, “kalianlah yang mengajarkan tindak kurang ajar ini”.. Topan merasa kesal dengan ayahnya yang cuma mementingkan bisnis kotornya serta selalu pergi pagi dan pulang pagi lagi, lebih memilih bersama gadis-gadis muda yang selalu ia cabuli di banding berbagi kasih dirumah mewahnya. Di lain pihak, ibunya lebih mementingkan kelompok arisannya, yang berisi tante-tante girang, yang selalu memesan “gula-gula”/gigolo untuk dinikmati sebagai hadiah arisan. Dalam potongan adegan ini, sutradara menggambarkan keluarga kaya namun tak bahagia, kasih melempem, membuat Ali Topan merana sendiri, kehilangan cinta kedua orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kemudian, di Jalanan itu ia mendapatkan cinta yang lain, dari seorang perempuan kaya bernama Anna Karenina/diperankan oleh Kikan Namara (mantan Vokalis Cokelat). Namun, Anna anak seorang bangsawan yang kaya dan angkuh, ia pun tak bebas keluar rumah sekadar untuk menemui sang pujaan hati, Ali Topan. Hingga tiba pada sebuah pesta ulang tahunnya, yang sebenarnya tak disenangi Anna lantaran terlalu megah dan hanya diperuntukkan untuk kawan sejawat orang tuanya saja. Pesta itu pun dirancang oleh Boy, lelaki yang dengan ketat menjaga Anna, Boy berlagak ingin melindungi Ana dari anak-anak yang dianggap tidak beres itu, padahal dia sebenarnya menginginkan Anna lantaran kecantikan dan warisan kekayaannya kelak. Lelaki picik.! Pada pesta itu, Anna sedikit bersemangat, karena ia mendengar kabar kalau Ali Topan akan datang. Namun sayang, Ali yang tiba dengan suara motor yang meraung-raung itu dengan kasar diusir oleh orang tua Anna. Dan.. konflik pun kian menanjak..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Cerita berikutnya, Anna lari dari rumah dan menemui Topan di jalanan. Mereka berdua pun sepakat pergi menjauh dari kekuasaan para orang tua. Ali Topan berkata, ”cinta pun ingin mereka kuasai, ingin mereka urus-urusi”, dimanakah letak kebebasan itu ? kemerdekaan itu ? apakah hati juga harus tergadai oleh aturan-aturan, tradisi, atau pun keinginan orang tua ? polemik dalam diri hadir menggejolak dan ternyata ia menangkan sendiri. Mereka menuju pantai, dan berkasih-kasihan di sana, kebebasan hadir, rasa aman dan damai ada pada diri masing-masing. ”Saya merasa aman di dekatmu Ali Topan”,,, percikan ungkapan cinta dua orang yang sudah terbiasa hidup dalam kungkungan keluarga. Musik mengiringi gejolak hati, nada-nada syahdu gemuruh cinta. Yang terlepas, seperti garuda yang terbang bebas, atau seperti lumba-lumba yang berenang lincah nan anggun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Dan., kisah ditutup dengan adegan tragik, Ali Topan di tahan polisi karena dituduh telah melarikan Anna dan dianggap menyembunyikan narkoba. Sementara Anna Karenina, sepi sendiri dalam penjara kamarnya. Hidup mewah namun serasa seperti boneka, tak ada kehendak, tak ada kebebasan, segalanya sudah diatur oleh orang tua, mulai dari sekolah, teman pergaulan hingga.. cinta.! Dan, ia pun memilih mati.. itulah mungkin satu-satunya jalan menuju kebebasan.!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Rasa sedih bergumul, dan pentas selesai. Aritulang sang sutradara memberi hormat. Sepertinya, saya tak ingin beranjak, rasa seperti masih tertinggal di panggung itu. Kepuasan memuncak, diri dikembalikan lagi ke yang hidup. Mungkin, teater ini tidak membuat kita semakin cerdas atau semakin berani, tapi setidaknya dapat memberi kita ‘rasa’.  Yang barangkali sudah tergerus oleh kebiasaan-kebisaan keseharian. Rutinitas sehari-hari yang membuat kita jadi beku, tak peduli terhadap kasih dan sayang. Bahwa ternyata dalam diri kita terdapat samudera yang tak bertepi, cinta yang melampaui tubuh. Bahkan merelakan tubuh. Cinta pun bebas dan tak kalah. Kerena cinta tak pernah kalah, mungkin hanya pura-pura kalah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu Pagi, 23 April 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-5610707114556499504?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/5610707114556499504/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=5610707114556499504' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/5610707114556499504'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/5610707114556499504'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2011/04/berbagi-cerita-tentang-teater-ali-topan.html' title='Berbagi Cerita tentang Teater Ali Topan'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-He9Qj5G9hrk/TbKoSioLsNI/AAAAAAAAAUc/-X4vgagyk9A/s72-c/ali%2Btopan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-7626587505088715104</id><published>2011-04-23T17:55:00.003+08:00</published><updated>2011-04-23T18:02:13.865+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pribadi'/><title type='text'>Kesenangan itu bernama Berbagi Cerita</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-GXX9FMowzt8/TbKjoEnKYOI/AAAAAAAAAT8/-0_98WyVF-4/s1600/cerita.jpg" imageanchor="1" style="clear:right; float:right; margin-left:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="188" width="268" src="http://3.bp.blogspot.com/-GXX9FMowzt8/TbKjoEnKYOI/AAAAAAAAAT8/-0_98WyVF-4/s320/cerita.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sekadar info bahwa tulisan kali ini adalah bagian awal dari proyek latihan menulis saya, yang saya anggap sudah mulai tumpul lantaran terkalahkan oleh waktu dan perhatian-perhatian lainnya. Rencananya, proses kreatif untuk menumpahkan pengetahuan atau berbagi kisah dan pengalaman ini akan berlangsung setiap hari, dengan membincangkan apa saja, mulai dari fenomena-fenomena kecil, menengah atau masuk ke tingkat berat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hal yang bisa ditorehkan, seperti pendapat mengenai kejadian atau peristiwa yang baru saja berlangsung di sekitar kita, seperti kejadian tawuran, anarkisme mahasiswa, kajian-kajian tertentu tentang agama ataupun sosial, dan juga persoalan kecil yang menimpa kita sendiri, seperti jalan-jalan ke makam ulama, ke tempat wisata, atau semacam kegelisahan hati melihat kecanggalan realitas yang terjadi di hadapan mata. Ya, dengan begitu, kita sebagai pelaku ataupun pengamat dapat menjadi lebih aktif berperan serta dalam membantu membangun diri dan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum bercerita, saya harus menegaskan terlebih dahulu pemahaman saya terhadap cerita itu sendiri. Bercerita yang jika dipikir sekilas akan bermakna penggambaran realitas dalam bentuk tulisan atau tutur kata mengenai pengalaman pribadi yang kemudian diinternalisasi, sehingga membekas dalam alur-alur berpikir kita tentang penentuan baik buruknya sesuatu. Cerita dapat pula berupa kesan terhadap teks yang begitu mendalam sehingga memotivasi kita untuk berbagi cerita dengan yang lainnya. Ya, cerita dapat dimaknai berbeda, tergantung dari tingkat kemauan dan kemampuan kita mengaitkan segala pencerapan yang telah kita peroleh melalui pengalaman atau berasal dari olah pikiran kita yang berangkat dari aksioma-aksioma sederhana, yang lebih berkaitan dengan hal-hal abstrak dan nonindrawi. Cerita bisa juga berarti semacam teknik untuk menyampaikan pesan-pesan moral yang secara integral terkandung dalam cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hidup saya, cerita tak begitu berarti. Meski saya akui tangkapan batin terhadap nilai-nilai moral dan spiritual dapat dengan mudah dicerna dengan medium cerita. Sejak kecil pun bangunan pikiran saya sedikit terbangun oleh cerita, yang dalam hal ini dongeng-dongeng klasik. Nalar kita seperti dibolak-balik oleh kandungan cerita itu, seperti bagaimana bisa seorang gadis salju terbangun dari tidur panjangnya hanya dengan mendapat kecupan dari pangeran tampan? Bagaimana bisa seorang pangeran tampan dapat berubah menjadi sosok yang buruk rupa? Adakah permadani terbang itu? Bagaimana bisa si kancil punya akal cerdik untuk mengelabui buaya? Atau cerita terbentuknya gunung tangkuban perahu, akibat luapan asamara Sangkuriang terhadap Dayang Sumbi perempuan jelita yang ternyata ibunya sendiri. Dan tentunya begitu banyak jenis dan pola cerita yang tiba-tiba saja bersiliweran di benak ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa saya mengatakan bahwa cerita menjadi tidak begitu berarti? Ini butuh telaah analisa psikologi tertentu. Mungkin waktu kecil dulu, saya lebih memilih untuk menghasilkan cerita sendiri, entah dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah diungkapkan, kekaguman terhadap sesuatu atau malah ketakutan menghadapi realitas. Sehingga, asupan informasi berupa cerita hanya menjadi alat untuk menghibur diri saja, atau malah untuk mengisi kekosongan aktivitas, motivasi untuk baca pun sangat tergantung dari ketersediaan buku bacaan yang tentunya masih sangat kurang untuk mungkin lebih meningkatkan ketertarikan saya pada dunia imajinasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa kecil saya, yakni sejak bisa mengamati lingkungan hingga berumur empat tahun, diselimuti renungan diri dalam ruang kekosongan. Saya tampak begitu pasif, tak ada energi untuk mengganggu alam, atau bergerak mengobati kegelisahan pertanyaan. Saya hanya tergeletak di bangku, di atas meja, tiduran di lantai atau lebih parahnya lagi di bawah kolong meja. Saya mendapatkan kenikmatan tersendiri saat baring di atas lantai yang dingin, tubuh saya merasakan kenikmatan ketika bersentuhan dengan dinginnya lantai. Boleh dibilang waktu saya itu lebih banyak untuk bersantai (tiduran) dibanding pontang panting mengutak atik apa saja dengan landasan rasa ingin tahu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, rasa ingin tahu saya justru bukan dengan utak-atik, tapi dengan mengamati dari jauh. Saya mengamati aktivitas anak-anak Sekolah Dasar belajar di ruang kelas, saat itu saya sering diajak oleh ibu saya yang berprofesi sebagai guru SD. Saya dapat menangkap pesan dari mimik mereka, suara mereka aku rekam, dan merasakan kehangatan mereka saat menimang atau menggendong ku kesana kemari. Saya pun menangkap pesona alam, merasakan terpaan matahari pagi, memandangi dengan takjub rimbun hijau pegunungan. Ya,, mungkin saat itu, untuk hal-hal yang berkaitan dengan perasaan, saya menjadi begitu peka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kendalanya terletak pada daya untuk mencari tahu yang boleh dikata sedikit kurang dibanding anak-anak lainnya. Pertanyaan-pertanyaan itu menumpuk saja di kepala, tak ada upaya untuk mencari jawaban, dengan terlibat aktif. Saya menjadi bayi yang tenang, cuek, no ekspresi, sopan, tak ada agresifitas. Entah apa yang menjadi alasan kenapa saya bisa mengambil tindakan seperti itu? Mungkinkah karena otak saya yang lemah? Ataukah saya dalam kondisi tertekan? Atau bagaimana? Jujur, saya belum mendapatkan jawabannya hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu, ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan psikologis saya berikutnya. Di Taman Kanak-Kanak, sifat fasif saya makin menjadi-jadi, mulanya saya kesulitan berinteraksi dengan teman-teman yang lain. Butuh waktu lama untuk bisa duduk dengan nyaman di bangku, untung saja pelajaran yang diberikan cukup mengasyikkan, seperti menyusun balok, membuat robot dari kertas, serta pelajaran tambahan lainnya, seperti mengenal hewan dan buah-buahan. Tapi, kesan yang saya peroleh dari teman dan guru pun begitu minim. Saya seperti tak merasakan apa-apa, kesan iu berlalu begitu saja. Pengetahuan baru saya dapatkan setelah saya melakukan internalisasi kembali.. Mungkinkah gejala psikologi yang sedikit mirip autis ini mempengaruhi daya tangkapku? Atau aku memang sengaja untuk tak memperhatikan tingkah guru dan lebih sibuk dengan diriku sendiri? Entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan bertambahnya waktu, masuklah saya ke dunia pendidikan, yang berawal dari kelas Nol atau Taman Kanak-kanak. Seingatku, saya tidak terlalu bahagia di sekolah, pelajaran bersiliweran begitu saja, dan saya pun tak meningkat, tampak begitu-begitu saja. Memang, di TK kami belajar tentang binatang, tumbuhan, atau belajar mengutak-atik mainan-mainan. Tapi, diri ku bicara bahwa ini biasa-biasa saja. Atau kata lain Datar.. atau kemungkinan besar saya lah yang belum mampu menyerap pelajaran di TK itu. Tampaknya, saya lebih suka bermain di sekitar rumah di banding di sekolah, mengolah tanah liat menjadi bola, bermain pasir dan membuat gundukan-gundukan atau belajar naik sepeda beroda dua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, sejak di TK inilah pertama kali saya bersentuhan dengan buku/cerita bergambar. Cerita bergambar itu membawaku ke dunia lain, dunia dalam cerita. Saat itu saya berlangganan Majalah Bobo. Bobo pun membawaku istana negeri dongeng, serta cerita dalam negeri tentang kisah-kisah lampau pembentukan gunung, danau, atau tentang terbaliknya sebuah perahu. Saya betul-betul menikmatinya.             &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat dulu, waktu saya masih di kelas empat sekolah dasar. Saat itu, kemampuan membaca saya sudah sedikit mumpuni. Kali itu tetangga saya lagi beres-beres rumah, mereka pun membuang barang-barang yang dianggap tak ada gunanya lagi. Mungkin karena masih kanak-kanak dan belum punya rasa malu untuk mengorek-ngorek dos yang telah tergeletak di tong sampah itu, saya menemukan belasan buku dongeng yang belum rusak parah. Sontak saja buku-buku itu saya angkut ke rumah saya dan melahapnya satu persatu. Mungkin karena naluri saja, sehingga saya menghabiskan banyak waktu untuk mengamati gambar dan teks buku itu, dibanding pergi melalangbuana keliling kompleks atau sekitaran rumah mencari aktivitas permainan yang lainnya. Buku-buku itu saya bersihkan satu satu dari lumpur-lumpur yang melekat, lalu dengan senang hati membacanya perlahan. Ingatan ku mengarah pada buku cerita silat. Tokoh dengan seribu jurus, yang mampu melayang di udara, berjalan di atas air, serta dapat memainkan pedang dengan begitu indah. Namun sayang, saya lupa pengarangnya. Memang saat itu saya tak pernah melihat siapa yang nulis dan kenapa ia menulis begitu. Saya langsung terjun saja ke dalam cerita, tenggelam di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tidak salah pada kelas 5-6 itu, di rumah langganan koran fajar. Bapak sering membacanya saban pagi. Dan saya membacanya pun saat sore hari, ketika pulang sekolah atau sebelum pergi bermain sore. saya tak pernah baca halaman utama, tapi langsung ke halaman berita luar negeri. Saat itu, ketertarikan ku terhadap berita-berita luar negeri cukup tinggi, seperti berita tentang perang Irak, gejolak di Iran dan negeri-negeri jauh. Selain itu, saya senang berita yang berbau kriminal. Mungkin karena terdapat sedikit rasa takut dalam diriku, sehingga membuat penasaran untuk mengetahui kenapa orang ini dengan begitu keji menenggalamkan pacarnya di dalam sumur, atau mengubur korbannya hingga yang tampak cuma kepalanya saja. Seram.!! Yah.. mungkin saja imajinasi terbentuk dari beragam berita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu-waktu itu pula, Ibu berlangganan majalah perempuan, yang kalau tak salah bernama Kartini atau apalah..... saya sudah lupa. Pada lembar-lembar halaman itu, saya menyenangi kisah-kisah keluarga, dan berita-berita seputar artis. Dan lebih seru dan menarik adalah berita yang anyir bau kriminalnya. Kebanyakan tentang pelecehan seksual atau pembunahan seorang gadis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persentuhan dengan cerita berlangsung lagi di bangku SMP, saya sangat menikmati belajar ilmu-ilmu alam, biologi adalah kesenangan saya waktu itu. Bersama dengan ilmu sejarah. Dua ilmu itu mengangkat derajatku. Ilmu-ilmu lain masih sebagai beban. Dan, yang membuatku bertahan di sekolah sebenarnya bukan karena guru dan ajarannya, tapi lebih karena teman-teman. Di sekolah ada suasana menegangkan di dalam kelas, dan ada suasana ceria di luar kelas.. suasana di luar kelas inilah yang membuatku betah. Dimana saban keluar main saya asyik masyuk ikut bermain bola di lapangan lebar, dengan berkiprah sebagai penjaga gawang. Pada moment-moment itu pula saya mendengar cerita-cerita dari kawan-kawan SMP, yang nasibnya jauh di bawah kehidupanku. Nasib orang-orang pinggiran, anak-anak petani, pedagang kaki lima. Rumah-rumah mereka pun terletak di pinggir petak sawah yang rindang, dengan jalanan menuju ke sana masih bolong-bolong, masih tergenang air jikalau hujan. Tentang teman-temanku ini, saya sudah tak banyak tahu lagi kabar mereka. Dengar-dengar ada yang sudah jadi polisi, jadi penjual pakaian di pasar tradisional ada yang pernah saya ketemui jadi Satpam di sebuah Mall di Makassar, ada juga yang baru bertemu di facebook dan sudah jadi pengusaha minyak di Papua. Maklum, keberagaman nasib kami ini lebih karena faktor eksternal. Alumni SMP yang melanjutkan ke perguruan tinggi tak banyak, dan kebanyakan dari mereka langsung kerja saat tamat SMA. Dalam fase ini, terdapat dua kategori tentang sekolah yang saling bertabrakan, pertama: sekolah adalah penjara yang menakutkan, dan, kedua: sekolah adalah surga tempat bermain... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi di masa SMP inilah saya menemukan keasyikan dengan dunia ilmu pengetahuan. Dan mulai menyimak bacaan-bacaan yang berat. Bukan di ruang kelas, tapi di perpustakaan. Rasa-rasanya, seperti ada kebencian dengan ruang kelas itu, yang terkadang membuatku terkesiap kaku. Terpaku. Pada masa-masa di perpustakaan itu, saya mulai menikmati majalah Horison, majalah sastra. Menghayati kandungan cerpen-cerpen di dalamnya. Meski sangat menikmati bacaan sastra lewat majalah-majalah itu, Saat itu, tak ada niat sedikit pun untuk membuat cerpen. Hehe.. di samping majalah sastra, saya juga menyenangi buku bergambar, tentang khasanah ilmu pengetahuan, terkhusus tentang ilmu alam, tentang dunia binatang, tentang organ-organ tubuh, dunia tumbuhan, ruang angkasa, dan pertembangan teknologi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hemm... masa kecil yang sudah terlupa, sebagian saja yang melekat di memori. Mungkinkah ini karena kesibukan keseharian, yang menggerus kenangan-kenangan. Atau mungkin karena diri lebih memproyeksikan hari depan, dan bertahan di masa sekarang. Refeleksi masa lalu akhirnya menjadi urusan kesekian. Padahal masa lalu adalah harta karun yang tak ternilai. Bukankah pengalaman adalah pengetahuan yang berharga? Bukankah perjalanan diri adalah pelajaran yang tak tertandingi? Yah.. berkenaan dengan itu, tulisan ini sebenarnya adalah keinginan untuk merefleksi sebagian kecil perjalanan hidup yang mengantarkanku hingga ke detik ini, saat menulis cerita ini. Dengan berangkat pada pertanyaan dasar, kenapa saya mencintai cerita? Dan kenapa saya selalu ingin berbagi cerita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah.. semua itu ada jalannya masing-masing, dan sepertinya sedari kecil saya menempuh koridor ini. Kemampuan menulis yang tidak seberapa ini tak lain adalah buah dari proses panjang yang sebagian telah saya bagi di atas. Bahwa kemampuan itu bukan sekadar bakat, tapi juga keinginan, konsentrasi, ulangan, dan juga berjiwa besar. kita kadang lupa, bahwa orang itu tak ujub-ujub jadi besar, semua membutuhkan latihan. Dan barangkali latihannya itu sungguh berat dan meletihkan. Dan kita tidak tahu bahwa itu dilalui dengan berpuluh-puluh kali kegagalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga, tak ada yang aneh dalam dunia ini, semua sudah punya rumus. Tinggal kita saja yang melakoni apakah hendak turun dan menyelaminya. Ataukah kita ogah dan tetap berpangku tangan. Kemudian ikhlas menjadi penonton di hari depan.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekadar sharing.. ambil yang baik-baik, buang keburukannya... terimakasih..    &lt;br /&gt;Siang hari, 23 April 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-7626587505088715104?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/7626587505088715104/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=7626587505088715104' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/7626587505088715104'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/7626587505088715104'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2011/04/kesenangan-itu-bernama-berbagi-cerita.html' title='Kesenangan itu bernama Berbagi Cerita'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-GXX9FMowzt8/TbKjoEnKYOI/AAAAAAAAAT8/-0_98WyVF-4/s72-c/cerita.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-7205265938990658933</id><published>2011-04-18T14:36:00.001+08:00</published><updated>2011-04-23T17:59:45.351+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Privat'/><title type='text'>Mencoba untuk Berdialog Lagi</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-mx2HkYNqLd0/TbKjCzo3-wI/AAAAAAAAAT0/_OdMu-TUsuk/s1600/dialog.jpg" imageanchor="1" style="clear:right; float:right; margin-left:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="212" width="216" src="http://3.bp.blogspot.com/-mx2HkYNqLd0/TbKjCzo3-wI/AAAAAAAAAT0/_OdMu-TUsuk/s320/dialog.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pagi bergerak, dinamika kosmik menuju sesuatu yang rutin, siklus alam yang membuat mahluk tampak selalu hidup dan punya gairah. Sesuatu yang berubah membuat ‘kita’ merasakan sesuatu yang lain, yang baru, yang bergelora.. Pada pagi yang bergerak itu terdapat fakta yang membuyarkan makna, lalu tertangkap dalam pengalaman, kesan. Hingga pengalaman ini diendapkan dalam konstatasi puisi, pada orasi, pada narasi lalu tiba pada gerbang ide dan gagasan. Dimana ide, gagasan, narasi dan puisi ini hadir hanya pada jiwa-jiwa yang punya hasrat.. kata Hegel, ”tak ada yang besar lahir di dunia ini tanpa hasrat besar”..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah,, hasrat.. keinginan pada sesuatu yang membuat mahluk berjalan, bahkan berlari. Hasrat pada penemuan membuat sepotong informasi menjadi penting, membuat gerak menjadi berguna. Dalam dinamika ini menuntut keterbukaan sistem yang berarti kesiapan untuk dikritik dan dikoreksi ulang. Yang nantinya menancapkan pondasi-pondasi baru yang lebih arsitektural. Berdasarkan kerangka-kerangka teori, aksioma-aksioma matematis, dan hukum gaya. Namun, ini tak memungkiri pula suatu keruntuhan, dimana keretakan informasi menyebabkan fakta, informasi ataupun teori mengalami transformasi, entah menjadi lebih subtil ataukah justru semakin absurb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, yang bagaimanakah pondasi arsitektural itu, yang dikenal dengan kerangka epistemologik? Dimana setiap orang lahir dengan kondisi alam dan budaya yang berbeda-beda. Mungkinkah sesuatu yang universal itu berlaku dalam kurungan lokalitas? Pun jika terjadi perdebatan antara sistem-sistem pengetahuan itu, bisakah termaklumi garis tegas letak perbedaan dan kesamaan? atau malah kian mengasah rasa curiga, bahwa yang menjadi pondasi dasar tindakan adalah kepentingan. Tapi, penjelasan bahwa kepentingan sebagai pondasi pun sudah menjadi klaim otoritas episteme tertentu.. yang dikenal dengan dalam hukum ekonomi liberal.. dimana menurut Max Weber telah dibangun dalam “rasionalitas yang bertujuan”. Bahwa segala sesuatu itu berangkat dari hasrat untuk pemenuhan kebutuhan diri dan pemuasan hasrat itu sendiri. Yang kita pahami bahwa keinginan itu tak berbatas, selalu menuntut untuk ditambah. Yang kemudian melahirkan suatu ketamakan lantaran tak terdapat rasa puas di dalamnya. Tak ada titik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada keadaan ini manusia tampak menjadi mahluk yang lemah. Hasrat menjadi raja, yang harus diladeni, digenjot dengan cara apa saja. Agar kehidupan itu menjadi lebih santai, lebih glamour, dan menimbulkan efek kuasa. Dimana dengan ‘modal’ yang melimpah itu kita dapat melakukan apa saja, dapat mengunjungi sudut dunia mana saja dan tentu dapat memiliki apa saja. Dan membicarakan ini kita harus kembali ke metode lagi. Dan sepertinya kesesuaian metode menjadi klaim untuk menentukan apakah ini ‘benar atau buruk’. Sebagai manusia yang terbatas saya dengan terpaksa tunduk pada hukum moralitas agama dan budaya lagi. Dimana hukum-hukum ini telah terendap dalam alur-alur logika dan mungkin sudah terendap dalam aliran darah dan menjadi daging. Ada juga pemahaman bahwa moralitas bersifat universal karena kita punya ikatan hati yang sama, meski dengan beragam diferensiasi sikap. Tak lain saya hanya ingin menyinggung bahwa hasrat memiliki ini tidak diikuti semangat berbagi. Kita seakan-akan menjadi tunggal dan tidak jamak. Dimana yang lain lepas begitu saja dan bukan sebagai alter ego, kita selalu berhadapan dengan yang lain, bukan hidup diantara yang lain. Yang bukan dalam kita pun pada akhirnya menjadi ancaman, sekaligus menjadi objek yang harus dibuat derita. Dengan cara-cara rasional namun tidak beretika. Yang beretika pun namun pada akhirnya justru merugikan. Karena motifnya sudah bertujuan untuk menegakkan yang tunggal dan menenggelamkan yang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, dimanakah relevansinya dengan kata Hegel pada awal tulisan ini, bahwa hasratlah yang membangun dunia? Betul bahwa semangat mengejar kepentingan itu telah melahirkan kreativitas, pertentangan-pertentangan personal dalam menanggapi persoalan pasar telah memicu inovasi. Dan hasrat ini telah mengalaborasi berjuta-juta manusia dengan kemampuan yang berbeda-beda, namun saling mengisi. Meski, dalam interaksi ini ada yang di atas dan ada yang di bawah, di atas langit pun masih ada langit. Pada tepi lain, ada anggapan bahwa ini sebagai sesuatu yang telah ditetapkan, dalam kehidupan sudah ada jatahnya masing-masing. Kita boleh bersungut-sungut resah, tapi mampukah kita menyalahi takdir? Bahwa kita ternyata sudah dipilih untuk menjadi orang susah, ataukah orang kaya, tapi, apakah keadaan ini membuat kita kalap dan tak bahagia? Dan bolehkah saya mempertanyakan kembali, apakah kebahagiaan itu hanya berasal dari kecukupan meteri?? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sudah begini, dengan terpaksa saya mengembalikan lagi pada konteks syukur. Karena dengan berpengertian seperti ini kita bisa bebas dari kepedihan. Kalau menurut Budha, jika kita mampu melepaskan diri dari kepemilikan, kita akan memperoleh kebahagiaan itu. Tapi, mampukah kita kesana? Nitszche berkata, “manusia itu mahluk yang tidak selesai..” lantaran selalu kalah oleh pesona nafsunya sendiri. Dapatkah kita mengakui hal ini? Bahwa kita selalu saja tergoda untuk memuaskan nafsu seketika. Tergoda untuk melecehkan keadaan untuk memperoleh kekuasaan, tergoda untuk menodai kesucian, dan.. tergoda untuk menjatuhkan yang lain.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya, tak ada yang lebih tepat lagi untuk kita bahasakan selain bahasa pengakuan itu. Entah sekadar mengakui atau akan melampaui pengakuan. Bahwa kita ini lemah, kita ini bejat, atau kita ini munafik, bersamaan dengan itu mungkin akan hadir energi lain, bahwa kita juga dapat berbuat lebih baik.. kita dapat berbagi, dan kita bisa bergerak, “kita bisa berubah”... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimanakah letak kita berpijak untuk berdiri tegak menuntun perubahan itu? Tentang hal ini, saya tak bermuluk-muluk, Saya berpatok pada ungkapan Cyntia Ozick (Sastrawan Amerika), “Kalau Anda ingin menghayati kehidupan yang menyebabkan Anda merasa menjadi orang beradap, Anda harus merebutnya melalui budaya Anda sendiri..” kalau demikian, sebagai orang Bugis-Makassar, saya harus menemukan diri sebagai ‘manusia’ dalam budaya Bugis-Makassar itu sendiri.. begitu pula Anda yang orang Sunda, Jawa, Batak, Ambon, ataupun Cina, Jepang, Arab, dan Eropa. Temukanlah dirimu dalam budaya Anda.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tentang kebenaran itu sendiri.. saya teringat kata-kata Turgenev (penulis Rusia), “Kebenaran itu ibarat cicak, yang kita tangkap selalu Cuma ekornya.. ekor yang seperti hidup, sementara cicak itu sendiri lepas entah kemana”...     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Pagi Hari, Senin 18 April 2011&lt;br /&gt;Kapuk, Jakarta Barat&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-7205265938990658933?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/7205265938990658933/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=7205265938990658933' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/7205265938990658933'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/7205265938990658933'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2011/04/mencoba-untuk-berdialog-lagi.html' title='Mencoba untuk Berdialog Lagi'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-mx2HkYNqLd0/TbKjCzo3-wI/AAAAAAAAAT0/_OdMu-TUsuk/s72-c/dialog.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-3067411549883641480</id><published>2011-04-10T20:53:00.000+08:00</published><updated>2011-04-10T21:15:50.419+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Privat'/><title type='text'>Hakikat itu..</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dalam keadaan, apakah hakikat itu?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dalam masalah, adakah hakikat itu?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dalam keadaan bercampur masalah, hadirkah hakikat sesuatu?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;apa pun itu..&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Yang ada hanya kehampaan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Seperti kecambah yang berarti ketiadaan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Karena mengada sebagai ketiadaan dari hakikat sesuatu..&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Cengkareng Timur, Ahad, 10 April 2011&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-3067411549883641480?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/3067411549883641480/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=3067411549883641480' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/3067411549883641480'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/3067411549883641480'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2011/04/hakikat-itu.html' title='Hakikat itu..'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-691595956580161531</id><published>2011-04-10T20:47:00.000+08:00</published><updated>2011-04-10T21:15:40.717+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ilmiah'/><title type='text'>Pemandu di Dunia Sastra, Karya Dick Hartoko dan B. Rahmanto (N)</title><content type='html'>&lt;b&gt;Naratologi&lt;/b&gt;: Teori mengenai teks-teks cerita (narratio), khususnya mengenai ciri-cirinya, deskripsi mengenai sistem narasi serta kemungkinan-kemungkinan mengadakan variasi bila sistem tersebut dikonkretkan. Membahas alur, penokohan, aspek ruang dan waktu (manipulasi dengan waktu), fokalisasi dan sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Naturalisme: &lt;/b&gt;dari kata “nature” yang berarti alam, kodrat, tabiat. Aliran literer, khususnya di Prancis, antara tahun 1870 – 1880, kelanjutan dari realisme, tetapi kini berdasarkan suatu doktrin yang berpretensi ilmiah. Tiga faham mewarnai lanjutan realisme itu, yakni scientisme (hanya sains dapat menghasilkan pengetahuan yang benar), positivisme (menolak metafisika, hanya lewat pancaindera kita berpijak pada kenyataan) dan determinisme (segala sesuatu sudah ditentukan oleh sebab musabab tertentu, tak ada kemauan bebas). Manusia di pandang sebagai produk yang tak berdaya, diwujudkan oleh pembawaan, sifat-sifat yang diwarisi ; oleh lingkungan tempat ia menjadi dewasa (milieu) serta oleh keadaan konkret pada suatu saat tertentu (moment). Dengan berpegang pada tiga prinsip ini manusia seolah-olah dapat diteliti secara ”ilmiah”. Menurut Emile Zola, eksponen utama naturalisme, maka karya seni naturalistik merupakan sebuah eksperimen ilmiah (”roman eksperimental”). Pengarang menyediakan moment, milieu dan pembawaan, lalu secara deterministis alur berkembang menuju selesaian. Zola sendiri sebetulnya berwatak romantis, sehingga dalam karyanya kita dapat membedakan ”naturalisme doktrinal” dan ”naturalisme kreatif”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis sastra yang paling sering digarap oleh para naturalis ialah roman, karena menyediakan cukup peluang bagi pengamatan kritis dan analitis terhadap para tokoh dan lingkungan mereka. Pengarang ingin menampilkan segala sesuatu secara objektif. Juru cerita penuh wibawa dari zaman realisme lenyap. Peristiwa-peristiwa susul menyusul secara linear-kronologis dan secara kasual. Dialog-dialog mendekati percakapan sehari-hari. Tokoh utama sering labil wataknya, teramat peka atau menderita kelainan jiwa, sering akibat faktor warisan. Pertimbangan ini mendorong sementara pengarang untuk menulis roman dalam bentuk siklus, mengikuti hal ikhwal suatu keluarga selama tiga angkatan. Perhatian diarahkan kepada nafsu-nafsu (khusus seksual) yang mendorong para tokoh yang sering berasal dari kalangan masyarakat rendah dan papa. Lingkungan dilukiskan secara teliti, karena lingkungan turut menentukan kelakuan para pelaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intrik atau plot berlangsung menurut prinsip kausalitas. Menurut Zola, struktur sebuah roman merupakan suatu proses deduktif. Bab yang satu secara niscaya ditentukan oleh bab sebelumnya. Karena prinsip deterministis ini banyak roman naturalistis bernafaskan suatu pesimisme. Ada sementara pengarang naturalisme yang berharap agar lewat roman eksperimental itu dapat ditemukan hukum-hukum sosial, sehingga manusia dapat diangkat dari cengkeraman faktor-faktor itu. Makin pengarang menyelami lapisan-lapisan bawah dalam hidup pribadi seseorang dan masyarakat, makin terasa juga getaran hati pengarang yang turut terlibat. Di bidang lirik naturalisme tak ada pengaruhnya, tetapi dalam bidang drama pengaruhnya sangat terasa (Ibsen, Strindberg dan Tolstoi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah awal abad ini naturalisme kehilangan sifatnya yang doktriner dan terlebur dalam suatu realisme yang mengutamakan faktor-faktor psiko-analitis (Freud). Pandangan deterministis dan pesimistis berkaitan dengan keterlibatan sosial.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum kualifikasi ”naturalistis” diterapkan pada karya-karya yang menampilkan kenyataan yang suram dan terus terang, tanpa menutupi sesuatu dengan menekankan faktor ”takdir” secara horisontal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Neoromantik &lt;/b&gt;: suatu aliran di Jerman dan Negeri Belanda antara tahun 1890 – 1920, reaksi terhadap naturalisme dan impresionisme. Perhatian untuk yang ajaib, bukan sehari-hari, untuk saga, mitos, mistik dan exotisme. Kerinduan untuk berkelana, jauh dari kehidupan borjuis, mencari tujuan hidup yang sejati, kadang-kadang juga kembali ke masa mudanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;New Criticism &lt;/b&gt;: Aliran kritik sastra di Amerika Serikat antara tahun 1920-1960, mengarahkan perhatian kepada karya sastra sendiri (ergosentris), lepas dari pengaruh pengarangnya (intentional fallacy), riwayat terjadinya serta dari pendapat pembaca (affective fallacy) dan kaum kritisi (heresy of paraphrase). Bagi kaum New Criticism karya sastra merupakan sebuah monumen atau candi yang keindahannya selalu dapat dirasakan oleh pembaca yang sedikit terlatih. Dengan membaca dan membaca kembali dari dalam (close reading) New Criticism ingin menampilkan hakikat teks itu. Perhatian terutama diarahkan kepada penggunaan tata bahasa yang khas, seperti misalnya ironi dan paradoks serta ambiguitas. Terutama puisi yang liris dan sukar menarik perhatian mereka. Tokoh-tokohnya antara lain T.S Eliot dan Cl. Brooks. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;No&lt;/b&gt; : bentuk teater yang paling tua di Jepang, berasal dari abad ke-14 (Seami Motokiyo, 1363-1443). Dipentaskan di suatu sudut gedung teater, di atas panggung kecil, persegi. Panggung tersebut dihubungkan dengan kamar rias lewat sebuah jembatan, selebar gedung pertunjukan. Di bagian belakang panggung duduklah orkes, di sebelah kanan sebuah koor (yang fungsinya dapat disamakan dengan koor dalam tragedi Yunani). Para aktor terdiri atas kaum pria yang wajahnya tertutup dengan topeng. Bahasanya sarat puisi dan emosi. Aksi lahir hanya sedikit dan lamban, perhatian diarahkan kepada proses jiwa. Semenjak awal abad ke-20 teater No juga menarik perhatian dari sejumlah pengarang di Barat; Pound, Yeats, Eliot dan Claudel terpengaruh. Satu teks pentas pernah disadur oleh B. Britten, “Curlew River”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Nauvelle Critique&lt;/b&gt;: istilah yang diperuntukkan bagi sejumlah kritisi sastra di Prancis tahun 60-an yang heterogen. Unsur yang mempersatukan mereka ialah penolakan terhadap pengajaran sastra dan kritik sastra di kalangan universitas serta perhatian untuk struktur-struktur sebuah karya sastra. Mereka tidak yakin bahwa sebuah karya sastra dapat ditafsirkan secara tuntas dan bahwa arti yang sesungguhnya dapat diungkapkan. Di dalam batas modul analisis yang dipilihnya sendiri seorang kritikus hanya dapat memberikan suatu makna yang berlaku, yang sah (un sens valable). Kritikus merupakan subjek yang menambah nilai-nilainya sendiri sambil membaca sebuah karya sastra. Sebuah karya sastra bersifat ambigu, terbuka bagi berbagai penafsiran. Mereka juga meneliti proses kreatif serta menganalisis tema-tema yang terulang dalam karya seorang pengarang. Tokoh-tokoh utama ialah Barthes dan Genette.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-691595956580161531?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/691595956580161531/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=691595956580161531' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/691595956580161531'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/691595956580161531'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2011/04/pemandu-di-dunia-sastra-karya-dick.html' title='Pemandu di Dunia Sastra, Karya Dick Hartoko dan B. Rahmanto (N)'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-3717229991533616913</id><published>2011-04-10T20:39:00.002+08:00</published><updated>2011-04-10T21:15:32.844+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='laboratorium'/><title type='text'>Bioenergetika pada Ikan</title><content type='html'>Malam Jumat, teringat lagi pelajaran fisiologi yang lama membeku dalam alam tak sadar. Fisiologi berkaitan dengan gerak fungsi organ tubuh untuk mempertahankan nyawa dan meningkatkan pertumbuhan. Dalam kait-mengait itu, mengalir energi yang bersumber dari bahan makanan, yang kemudian diolah menjadi bahan pertumbuhan. Tapi dari proses olahan itu, sebagian energi keluar menuju feses, sebagian lagi terbuang lewat eksresi nitrogen, energi berikutnya digunakan untuk metabolisme dan energi yang tersisalah yang terpakai untuk pertumbuhan. Terdapatnya fluktuasi dalam ketersediaan makanan, kondisi fisiologis tubuh dalam mengahadapi keadaan perairan seperti suhu dan salinitas yang kontan berubah sangat berpengaruh terhadap besarnya energi yang akan dikonsumsi oleh ikan. Berikut, kita akan membahas tema bionergetika ini, dengan berpatokan penuh pada buku Fisiologi Hewan Air, Karya Dr. Ir. Ridwan Affandi dan Dr. Ir. Usman Muhammad Tang, MS. Buku ini dicetak oleh Unri Press tahun 2002.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelaahan khusus terhadap pasok dan penggunaan energi ini terkaji dalam studi keseimbangan energi yang disebut Bionergetika. Jadi, bionergetika mengkaji keseimbangan antara pasokan energi dan pembelanjaannya dalam melakukan proses fisiologis dalam mentransformasikan energi yang berlangsung di dalam tubuh organisme. Lavoiser (1783) dalam Cho et al., (1982) menyimpulkan bahwa hidup adalah proses pembakaran, sementara menurut Brody (1945) dalam Cho et al., (1982) berkata bahwa keseimbangan energi mengikuti hukum termodinamika, hal ini didasarkan atas kenyataan bahwa proses keseimbangan energi tersebut merupakan proses fisika. Tentu, pemahaman tentang bioenergetika ini sangat penting dalam penyusunan ransum harian yang cukup pada lingkungan fisik yang dialami organisme budidaya. Sehingga, keberhasilan proyek budidaya sangat bergantung pada pemahaman pada penyediaan makanan yang nutriennya seimbang serta energi yang cukup untuk melangsungkan pertumbuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bagian Bioenergetika&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Setiap makanan yang masuk dalam tubuh ikan akan menempuh proses pencernaan, lalu diserap oleh usus, serta pengangkutan oleh darah, lalu metabolisme dalam sel. Lantaran kompleksnya zat makanan itu ditambah keterbatasan kemampuan alat pencernaan, sehingga tidak semua makanan dapat terserap oleh tubuh ikan. Bagian yang tidak terserap ini akan dibuang lewat anus sebagai feses (energi feses), zat makanan yang terserap setelah diangkut menuju organ target sebagian akan mengalami proses katabolisme sehingga dapat dihasilkan energi bebas dan sebagian lagi akan dijadikan bahan untuk menyusun sel-sel baru. Energi bebas ini yang dihasilkan dari proses katabolisme selanjutnya dapat digunakan untuk proses penyusunan jaringan baru (pertumbuhan) dan proses lainnya dalam rangka menunjang kelangsungan hidup. Proses penguraian (katabolisme) zat makanan khususnya protein akan menghasilkan bahan sisa yang harus diekskresikan dan bahan ini masih mengandung energi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ec = Ef + Eu + Em + Eg ,, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ec = energi yang dikonsumsi,,, Ef = energi yang terbuang lewat feses,, Eu = Energi yang terbuang lewat ekskresi nitrogen,, Em = energi yang digunakan untuk metabolisme,, Eg = Energi yang digunakan untuk pertumbuhan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Energi yang dikonsumsi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pada keadaan cukup makanan, ikan akan mengkonsumsi makanan hingga memenuhi kebutuhan energinya. Kebutuhan akan energi ini dipengaruhi oleh stadia dalam siklus hidupnya, musim dan faktor lingkungan (Cho et al., 1982). Ikan muda yang sedang tumbuh membutuhkan energi persatuan berat badannya lebih banyak dibanding ikan dewasa, walaupun untuk pematangan gonad terjadi peningkatan kebutuhan energi. Menjelang musim dingin, ikan akan meningkatkan konsumsi makanan dan menyimpan energi sebagai cadangan, sebagai respon menghadapi penurunan suhu pada musim dingin. Karena ikan adalah hewan poikiloterm, maka laju metabolismenya akan berubah mengikuti perubahan suhu air, dan oleh karenanya kebutuhan energi akan meningkat dengan meningkatnya suhu air (sampai batas tertentu). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komponen makanan yang kontribusinya nyata terhadap pasokan energi adalah protein, lemak dan karbohidrat. Oksidasi ketiga komponen tersebut akan menghasilkan energi. Perlu dicatat bahwa jumlah energi yang dikonsumsi oleh seekor ikan merupakan hasil perkalian antara jumlah total makanan yang dikonsumsi dengan kandungan energi permiligram/gram makanannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengukuran ini dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung menggunakan bom kalorimeter. Secara tidak langsung, makanan terlebih dahulu ditentukan  kadar nutriennya, kadar protein, lemak dan karbohidrat, lalu dikonversi ke dalam satuan energi. Dasar perhitungan untuk ketiganya secara berurutan, yaitu karbohidrat 4,10 kkal; protein 5,65 kkal ; lemak 9,65 kkal. Dengan menjumlahkan nilai hasil konversi kandungan protein, lemak dan karbohidrat dengan ekivalen energinya, maka kandungan energi pergram makanan dapat diketahui. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Energi yang Terbuang Lewat Feses (Ef)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Jumlah feses yang dikeluarkan oleh seekor ikan yang telah mengkomsumsi sejumlah makanan dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor yang berhubungan dengan ikan itu sendiri maupun faktor luar (lingkungan dan pakan). Seperti halnya pada penentuan kandungan energi dalam makanan, penentuan energi yang terkandung daam satu miligram feses dapat ditentukan baik secara langsung (bom kalorimeter) atau tidak langsung melalui pengukuran kandungan protein, lemak dan karbohidratnya kemudian dikonversikan ke dalam ekuivalen energinya. Jumlah total feses yang dikeluarkan ikan yang telah mengkonsumsi sejumlah makanan dikalikan dengan kandungan energi per gram fesesnya. Jika kecernaan energi dan nutrien pada ikan diketahui (hasil pengukuran kecernaan) maka total energi yang terbuang lewat feses dapat dihitung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Energi yang dapat dicerna adalah energi yang dikonsumsi dikurangi oleh yang terbuang lewat feses. Makanan komersial yang umum digunakan dalam budidaya ikan menghasilkan feses (terbuang) sebesar 10 – 40 % dari energi kotor (energi yang dikonsumsi). Kadang-kadang ditemukan beberapa bahan makanan yang 60 – 80% dari kandungan energinya terbuang lewat feses. Energi yang dapat dicerna dari suatu bahan makanan berhubungan erat dengan nilai kecernaan bahan keringnya. Semakin rendah kecernaan bahan keringnya, umumnya kecernaan energinya menurun. Hal yang dapat menurunkan kecernaan bahan kering adalah kandungan mineral dalam bahan makanan dan sebagaimana diketahui bahwa mineral dalam pakan tidak memberikan pasokan energi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Energi Terbuang lewat Ekskresi Nitrogen&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Zat makanan yang telah dicerna dalam saluran pencernaan selanjutnya akan diserap oleh dinding usus. Zat makanan yang terserap terutama zat yang secara potensial mengandung energi seperti asam amino, asam lemak, dan gula sederhana akan dimetabolisasi. Katabolisme lemak dan karbohidrat terjadi secara sempurna, sisa pembakarannya berupa air dan karbon dioksida (tak berenergi). Katabolisme protein (asam amino) pada ikan terjadi secara tidak sempurna dan sisa pembakarannya berupa amonia (&gt;85%) dan urea (&lt;15 %), disamping berupa air dan karbondioksida. Amoniak dan urea tersebut masih mengandung energi dengan nilai ekuivalen energinya masing-masing 221 dan 23 kj/gN. Jumlah energi yang terbuang lewat ekskresi ini berhubungan erat dengan nilai biologis total protein dalam makanan, dan juga dipengaruhi oleh proporsi bahan makanan lain, terutama kadar dan jenis lemak yang terkandung dalam makanan. Sebagai konsekuensinya, nilai energi yang dapat dimetabolisme dari suatu makanan tidak terlepas dari komposisi makanan itu sendiri. Adanya keseimbangan antara asam amino dan energi dalam makanan berpengaruh terhadap terbuangnya produk sisa nitrogen melalui insang dan ginjal. Energi yang terbuang lewat ekskresi nitrogen ini cukup tinggi, berkisar antara 7 – 28 % dari energi yang dapat dicerna (smith et al, 1980). Demikianlah secuil uraian tentang bioenergetika ikan ini, untuk melengkapinya dapat membaca buku Fisiologi Hewan Air karya Dr. Ir. Ridwan Effendi dan Dr. Ir. Usman Muhammad Tang, MS. Terimakasih..&lt;b&gt;Cengkareng Timur, 7 April 2011&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-3717229991533616913?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/3717229991533616913/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=3717229991533616913' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/3717229991533616913'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/3717229991533616913'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2011/04/bioenergetika-pada-ikan.html' title='Bioenergetika pada Ikan'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-6830648543524496229</id><published>2011-04-02T12:00:00.001+08:00</published><updated>2011-04-23T18:06:37.139+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sipil'/><title type='text'>Hati-Hati dengan Jakarta!!</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-zwE7BtISHe4/TbKkp1w1YfI/AAAAAAAAAUE/sOcbsR1TVMA/s1600/penipu.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="200" width="196" src="http://1.bp.blogspot.com/-zwE7BtISHe4/TbKkp1w1YfI/AAAAAAAAAUE/sOcbsR1TVMA/s200/penipu.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Khususnya bagi mereka yang berasal dari daerah-daerah, yang dengan centang perenang terkesima dengan kemegahan, spektakuler, dan sesuatu yang baru. Karena di balik yang tampak baik-baik itu, selalu saja tersembunyi rahasia, yang jika dibuka ujung-ujungnya duit juga. Duit dan duit, mahluk aneh yang mungkin seperti dajjal yang telah lama turun ke bumi ini. Duit ini membuat orang dengan segala macam cara mendesain diri dan keahlian untuk memancing orang lain mengeluarkan duitnya, sadar atau pun tanpa sadar.! Dan Ingat!! Apa pun bisa dijual di sini, bukan saja tenaga, keahlian profesional, atau gelar-gelaran di kampus, tapi juga yang sebenarnya tidak cocok dikomersilkan, seperti aqidah dan agama..!! yang terakhir inilah yang parah. Kebenaran yang diperjualbelikan!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati-hati dengan kata-kata manis, ungkapan-ungkapan kebenaran yang mungkin keluar bak intan dari mulut manusia berwatak anjing..!! kata-katanya memang sangat perlu disimak, lantaran mengandung mutiara-mutiara kehidupan, untuk mengarungi keganasan kota yang sebenarnya sengaja atau tanpa sengaja juga ditebarkan oleh mereka. Sihir kebutuhan hidup, keinginan untuk memperoleh kenikmatan duniawi selayaknya orang-orang berada membuat para penjual aqidah ini dengan pelan-pelan merasuk, menyelusup masuk ke memori orang-orang yang kelihatan ikhlas mengejar ilmu, pepatah-pepatah kuno, atau sejarah-sejarah silam yang tidak terdapat di kampungnya. Layaknya orang yang baru masuk hutan dan membutuhkan kompas, setelah mendapat orang tua yang tampak punya wibawa, kecerdasan, dan prilaku yang baik. Iya pun menyerahkan dirinya sepenuhnya untuk dibimbing memasuki dunia tanpa arah di kota metropolitan (hutan) ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, lagi-lagi sayang, UUD (ujung-ujungnya duit) kembali berlaku, setelah sekian kali berkunjung untuk meminta petuah, wejangan hangat, dan metode untuk bertahan di jakarta, perangkap pun dipasang dengan memancing-mancing di tengah kegamangan kehidupan batin kita. Mulanya dengan meminta barang sedikit untuk membuka pintu rezeki, sekadar untuk ongkos makan dan rokok, sekaligus untuk mengetes mental agar tidak mencintai duit. Pancingan pertama ini masih tampak wajar, karena sekalian berbagi rezeki yang dari Yang Maha Kuasa. Juga lebih karena penghargaan, lantaran beliau telah rela meluangkan malam-malamnya untuk memberi masukan-masukan “berharga”. Mau dibilang berharga boleh dan tidak berharga juga boleh, karena kita juga pendapat sendiri-sendiri dan selalu bertentangan. Pendapat tentang metode dalam menjalankan hidup, penerimaan terhadap yang lain, sikap kritis terhadap penindasan, kritis terhadap mereka yang menghina dan merebut hak kita. Pendapat kita pun seringkali dibungkam dengan cap angkuh, pamer kepintaran (metode yang cukup tepat sasaran), sehingga terpaksa hanya menjadi pendengar yang sebenarnya dalam benak sengkarut marut pikiran yang bertolak belakang. Memang sikap rela juga perlu, untuk menjaga stabilisasi sistem, tapi kalau kita terus-terusan rela, dimana wibawa kita, dimanakah otakmu yang bercokol di belakang matamu itu !! Jati diri harus dipegang kuat-kuat, jangan ikut arus terhadap lingkungan yang picik ini. Lingkungan yang legowo terhadap ketidakadilan, terhadap pensayatan diri mereka sendiri, lantas meremehkan yang lain, yang baru dan menganggapnya kosong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, masih sedikit bisa ikhlas walau yang memberi juga masih membutuhkan duit. Yah.. sedikit masuk akal, karena semakin sering menebar rezki itu pada dasarnya sama dengan menanam modal, dimana tuhan akan menumbuhkan buahnya dan kelak kita tinggal memetiknya. “Tuhan pun menjadi modal..” Jakarta memang tak memandang status, guru atau orang yang dituakan itu pun terkena sihir ‘duit’, dimana-mana harus mengeluarkan ‘duit’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, masuk ke prangkap kedua, yakni dengan iming-iming pembersihan hati, kotoran harus dikeluarkan agar puasa yang dijalankan dapat betul-betul mendatangkan berkah. Menjalankan puasanya sangat berkhasiat, pertama kita dilatih untuk tetap bertahan kerja walau dalam kondisi perut kosong, dua kita diajar untuk bersabar menghadapi waktu, lebih bisa menjernihkan pikiran untuk menuntaskan permasalahan-permasalahan kerja. Yah.. dengan berpuasa kita dapat belajar menjadi orang bijak!! Apalagi jika hari-hari berpuasa itu disertai zikir-zikir utama, seperti ungkapan syukur, pengakuan akan kekuasaan Yang Maha Tahu. Tambah klop deh..  batin kita betul-betul hidup, detik-detik jantung kita selalu berdialog dengan asma Tuhan.. !! tapi, lagi-lagi sing hati-hati.. sehabis berpuasa ternyata ada ongkos ungkapan rasa syukur.. dimana kita mesti mengeluarkan kotoran dalam tubuh yang sebelumnya menghambat tabir hati kita. Betul juga jika pelepasan pendapatan itu jatuh pada orang yang tepat, seperti pengemis atau memang orang yang betul-betul membutuhkan.. tapi, bagaimana kalau jatuh pada orang yang salah..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberuntungan pemberi petuah itu lantaran beliau memiliki kecerdasan dalam melihat solusi dari setiap permasalahan seseorang. Kemampuan itu ia peroleh sehabis zikir dalam kamarnya, setelah balik, ia pun mengeluarkan beberapa kata kunci untuk dijalankan, lalu dengan serta merta akan terkuak jawabannya. Orang yang tadinya susah akan tidak susah lagi, orang yang tadinya suka memukul istri akhirnya bertaubat, orang yang hendak bercerai akhirnya rukun lagi, orang yang lagi bertikai di tempat kerja akhirnya damai kembali. Betul-betul mujarab..!! itulah yang mempesona, sesuatu yang tak lazim, tidak umum. Namun juga menyimpan rasa was-was dan curiga. Kata orang, itu bisa diperoleh jika telah melalui proses penjernihan hati sekian lama. Hati yang seluas samudera, seperti mata air gunung Galunggung yang tak habis-habis. Hati ini jika dikelola dan dilepas tabir-tabirnya akan memandu diri memahami yang tak terpahami, mengetahui sesuatu yang ruwet, dan memecahkan problem yang rumit.. karena hati yang bersih akan selalu bersentuhan dengan cahaya Tuhan dan cahaya Muhammad. Sehingga ilmunya bersifat langsung, Laduni, alam khabir yang menyisip ke alam shagir (tubuh).. tentang hal ini, betul juga..! tapi, bagaimana kiranya kalau manajemen hati ini dikomersilkan? Atau sengaja ditutup-tutupi dengan agenda zakat, sedekah pembersihan hati?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu, banyak informasi yang bisa diperoleh dari orang-orang seperti ini. Tentang peristiwa-peristiwa magis, tentang telepati, tentang komunikasi dengan penghuni lautan, gunung-gunung, tentang peristiwa alam yang ganjil, tentang tafsir mimpi yang unik dan pada dasarnya masuk akal lantaran semata-mata permainan kata-kata, dan tentang manusia yang mampu membaca masa depan. Dan pada malam-malam sejak pertengahan Maret ini, saya sering mematikan lampu kontrakan dan berkunjung ke pondok beliau itu, sekadar untuk mencari saudara, teman ngobrol, sekaligus mendapat informasi.. awalnya betul-betul betah, karena informasi tentang manajemen diri betul-betul masuk. Katanya itu adalah ilmu ‘Tulisan’, ilmu yang langsung bermanfaat bagi orang banyak..!! ilmu yang dilakoni langsung, tidak sekadar ‘katanya’ atau teori semata.. dalam tataran ini selalu betul, dan masuk akal!! Namun, lagi-lagi, hati-hati, di balik ini Ujung-ujungnya Duit. Setengah bulan bergaul, namun berbuah kekecewaan. Kini saya mulai ragu dengan semua kata-katanya, yang benar dan salah, saya kini berani mengambil sikap, bahwa banyak perangkap dalam kata-katanya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melihat perangkapnya, kita harus menjabarkan sedikit metode atau ‘racun’ halusnya dulu, dimana berkali-kali korban ditohok dengan kata-kata, setiap memasuki ruang baru kita harus bodoh lagi, naik jenjang kita bodoh lagi. Betul juga katanya, tapi kita juga punya benak sendiri untuk mengatasi kebodohan itu, dengan modal yang dulu-dulu, entah dari pengalaman pribadi, pengalaman orang lain, atau dari televisi dan buku-buku. Justru, setiap memasuki ranah perjuangan kita harus berakal, tenang, dan penuh kesiagaan!! Bagi orang yang menggunakan otaknya, memang susah menjadi orang bodoh.. hehee.. Belum lagi dengan adagiumnya, “masalah kalau dipermasalahkan akan jadi masalah”, hahaha.. bulshit,, masalah memang harus dipermasalahkan, diurai, diteliti, ditemukan benang merahnya untuk bisa terpecahkan, terkendalikan. Bukannya kita mau diperbudak oleh masalah, tapi kita ingin menanganinya, mengatasinya, untuk kebaikan hidup itu sendiri. Sehingga dari masalah itu lahirlah pemahaman-pemahaman baru, ilmu-ilmu baru. Pengetahuan hadir lantaran munculnya masalah di masyarakat. Tak mungkin ada teknologi tepat guna kalau tidak dipermasalahkan masyarakat sebelumnya. Tak mungkin lahir ilmu-ilmu kalau tidak dipertanyakan sebelumnya oleh para filsuf-filsuf dan pemerhati-pemerhati keadaan manusia.. Memang titik akhir sudah ditentukan tuhan, tapi bagaimana kita mengatasi keinginan itu, dengan tekad yang kuat, sehingga cita-cita tercapai, tentu dengan kuatnya hasrat, semangat, berpikir dan bekerja rajin. &lt;b&gt;Tuhan Maha Tahu&lt;/b&gt; apa yang kita usahakan.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang rezeki, adagiumnya, rezeki itu harus diletakkan di tangan, agar mudah direbut dan dikeluarkan, makanya ada istilah garis tangan. Filosofinya nyambung juga, lantaran memang rezeki itu diatur oleh tuhan lewat Malaikat Israfil-nya, tapi tidak seujub-ujub begitu. Rezeki itu punya asal-usul juga, ada hukum kausalitas di dalamnya. Dimana zaman ini pembagian rezeki sangat ditentukan oleh kecakapan personal dalam menangani sebuah permasalahan. Tentu mereka-mereka yang memiliki kapasitas intelektual, emosi, dan kepemimpinan yang baiklah yang dominan mendapatkan hadiah rezeki itu. Dan rezeki juga menyapa bagi mereka yang tidak pantang menyerah untuk melihat peluang, melihat kebutuhan-kebutuhan masyarakat terkini yang akan dikelolanya menjadi sebuah produk. Nah, tanaman kita, bukan sekadar menanam uang dengan berbuat kebaikan, kebaikan pun harus jelas pada siapa dulu!! Tapi menanam uang dengan belajar dengan baik, bekerja dengan baik, dan berhubungan dengan orang dengan cara yang baik-baik. Begitulah pikiran sederhana saya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin rasanya kembali membincangkan tema-tema filsafat, yang lebih rasional bersama teman-teman di Makassar.. sebagian kawan saya di sini pada percaya sama yang aneh-aneh, yang melingkar-lingkar, yang katanya bersifat ‘batin’, sehingga saya pun terpaksa ikut arus, membuat saya penasaran untuk menambah khasanah wawasan keilmuan. Namun, sayang lagi-lagi berbenturan dengan rasionalitas saya. Untung, kalau tak menemukan salah, saya tak mungkin mendapatkan cahaya kebenaran. Tapi, kesalahan jangan sampai berlarut-larut, ini pun barangkali sebagai peringatan bahwa kita harus kembali belajar, dan tak henti-hentinya belajar dimana pun kita berada. Ilmu yang sudah kita pegang dulu, tak boleh kita lepas pada waktu dan tempat yang berbeda. Ilmu menjadi pegangan pada batang yang kuat, yang ilmiah dan rasional.. !! mohon ampun pada akalku yang sempat tersirap.. kini aku sangat menginginkan buku-buku filsafat dan agamaku yang tertinggal di rumah..   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi di kampung ‘Kayu Besar’ ini, dimana saya seorang diri warga Makassar, dikelilingi oleh orang-orang asing, yang ramah dan tak ramah. Saya tidak sekadar meneliti kepiting, tapi juga meneliti aktivitas kerohanian terselubung ini. Mencoba melihatnya dari dalam, lebih lantaran penasaran!!, karena hal-hal seperti ini tak ada di Makassar.. juga lebih untuk mencari pertemanan, dimana komunitas-komunitas perbincangan sangat lengang di kampung Kayu Besar ini. Dan mulanya saya merasa beruntung mendapatkan komunitas yang satu ini, yang pada akhirnya mengecewakan juga.. hehe..  Orang disini pada memikirkan bagaimana caranya bertahan hidup. Maklum, penghuni kampung ini kebanyakan para buruh migran yang bekerja di pabrik-pabrik. Jadi, kehidupan saya berkecimpung dengan orang-orang kelas menengah dan kebanyakan kelas bawah. Kelas bawah yang wataknya juga banyak yang tak beres. Setan ‘picik’ tidak memandang kelas, kemerdekaan dan kesadarannya pun terhadap kemanusiaan kadang lebih janggal juga dari golongan bawah. Prangkap penyakit hati, iri dan dengki kadang berkubang dalam kelas bawah ini. Mesti diingat kata bang Napi, “waspadalah-waspadalah, kejahatan terjadi bukan karena niat buruk, lebih karena adanya kesempatan!!”, kata ini sangat ampuh untuk membedah kondisi masyarakat Jakarta. Tapi, ada baiknya juga hidup dalam lingkungan begini,  karena saya dapat merasakan langsung kerasnya hidup di Jakarta. Meski sebenarnya saya masih mendingan, karena kerja semau saya saja, dan seperti tak ada tekanan. Saya bisa bebas tidur siang di kamar, tanpa ada yang mengganggu. (laboratorium dekat sekali dengan kamar kontrakan, jadi tinggal melangkah saja untuk mengamati perkembangan kepiting). Namun, satu saja kekurangannya, saya kini bekerja seorang diri. Lagi-lagi sendiri.. hehehe..  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan terakhir saya, lebih baik, dalam mengejar kerohanian itu, kita jangan melupakan akal.. harus masuk akal!! Akal yang mengendarai nafsu.. itu yang betul.. bukan dengan mematikan akal dan meningkatkan hati.. khawatirnya, hati adalah bualan-bualan saja untuk menundukkan akal.. dan.. jika ada yang membimbing dengan meminta duit, itu termasuk tidak masuk akal!!..  dan saya tidak takut akan hari depan.. saya tidak mau masa depan saya direcoki dengan hal-hal yang sok ‘magis’. Saya ingin berjuang sendiri, hanya saya dan Tuhan lah yang mengatur, itu saja. Tuhan-lah tempat saya bergantung. Saya menyerahkan diriku pada-Nya. Entah jadi apa, itu urusan aku dan Tuhan. Bukan dengan yang lain,  termasuk pada orang-orang yang mengaku-ngaku, ‘suci’ itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, hati-hati dengan Jakarta, aqidah pun bisa didagangkan dengan kata-kata bergula, retorik handal!!.. seperti kepiting-kepiting malang di samping kamarku ini.. hemm..  entahlah, mungkin saya juga yang silap.. semoga Tuhan Melindungi kita terhadap hal-hal yang tidak masuk akal ini.. aamiin.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kelurahan Kayu Besar, 1 April 2011&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-6830648543524496229?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/6830648543524496229/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=6830648543524496229' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/6830648543524496229'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/6830648543524496229'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2011/04/hati-hati-dengan-jakarta.html' title='Hati-Hati dengan Jakarta!!'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-zwE7BtISHe4/TbKkp1w1YfI/AAAAAAAAAUE/sOcbsR1TVMA/s72-c/penipu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-8001553648052340223</id><published>2011-04-02T11:58:00.000+08:00</published><updated>2011-04-02T12:00:22.026+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ilmiah'/><title type='text'>Pemandu di Dunia Sastra, Dick Hartoko dan B. Rahmanto (M)</title><content type='html'>&lt;b&gt;Makrostruktur&lt;/b&gt; : istilah-istilah dari ilmu bahasa mutakhir. Makrostruktur bersangkutan dengan struktur sebuah teks seluruhnya atau bagian-bagian besar yang sering menentukan jenis teksnya, misalnya pembagian menurut bab-bab, struktur ruang dan waktu, point of view dalam sebuah narasi. Dalam puisi struktur menurut bait-bait, pola bunyi, skema rima, struktur tematis, dan sebagainya. &lt;br /&gt;Mikrostruktur berkaitan dengan bagian-bagian teks yang lebih kecil dan terbatas, misalnya bagian-bagian kata, bagian kalimat atau kalimat-kalimat, fragmen-fragmen sejauh diteliti lepas dari struktur dan menyeluruh. Di sini dipelajari gaya bahasa, aliterasi, metafora, inversi dan sebagainya. Unsur-unsur mikrostruktur, bila sering terjadi, dapat mempengaruhi makrostruktur, misalnya kalau mikrostruktur diulangi, diganti, dikontraskan, dan sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Manggala&lt;/b&gt; : bait-bait pembukaan dalam sebuah kakawin yang mengandung pujian dan permohonan terhadap seorang dewa atau raja (yang sering dianggap sebagai penjelmaan seorang dewa), supaya penyair (kawi) dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik sehingga sang dewa berkenan bersemayam di dalam syair itu bagaikan dalam sebuah candi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Manierisme&lt;/b&gt; : sebuah istilah yang seperti Barok, semula menunjukkan sebuah gaya dalam seni bangun dan kemudian dipakai juga dalam sastra. Dalam bidang sastra terdapat tiga arti. Semula manierisme merupakan periode krisis yang memadai peralihan dari Renaissance ke Barok. Secara khusus merupakan suatu aliran tertentu di dalam sastra Barok di Italia, Spanyol, Prancis, Inggris dan Jerman. Sifat-sifatnya ialah penyusunan kata-kata yang dibuat-buat, sering dipinjam dari bahasa Latin, tidak jelas, sok ilmiah, acuan pada mitologi klasik, berbau retorika (penggunaan antithesis, anafora, metafora, hiperbola, pleonasme, dan sebagainya). Menurut E.R. Curtius setiap periode sastra diakhiri dengan manierisme. Istilah manierisme ada konotasi negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Manifes Kebudayaan&lt;/b&gt; : Pernyataan sikap sejumlah seniman dan budayawan yang ingin mempertahankan otonomi seni dalam kehidupan, lantaran pada masa itu dunia kehidupan seniman dipaksa untuk menerima slogan ”Politik sebagai Panglima” yang dipelopori oleh Lekra dengan realisme sosialismenya. Pertama kali dimuat dalam lembaran budaya ‘Berita Republik’, 19 Oktober 1963, kemudian dimuat kembali secara lengkap dengan penjelasannya di majalah ‘sastra’, September/Oktober 1963, nomor 9/10. Teks lengkapnya sbb :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manifes Kebudayaan&lt;br /&gt;- Kami para seniman dan cendekiawan Indonesia dengan ini mengumumkan sebuah Manifes Kebudayaan, yang menyatakan pendirian, cita-cita dan politik kebudayaan nasional kami.&lt;br /&gt;- Bagi kami kebudayaan adalah perjuangan untuk menyempurnakan kondisi hidup manusia. Kami tidak mengutamakan salah satu sektor kebudayaan di atas sektor kebudayaan yang lain. Setiap sektor berjuang bersama-sama untuk kebudayaan itu sesuai dengan kodratnya. &lt;br /&gt;- Dalam melaksanakan kebudayaan nasional, kami berusaha mencipta dengan kesungguhan yang sejujur-jujurnya sebagai perjuangan untuk mempertahankan dan mengembangkan martabat diri kami sebagai bangsa Indonesia di tengah-tengah masyarakat bangsa-bangsa.&lt;br /&gt;- Pancasila adalah falsafah kebudayaan kami.&lt;br /&gt;Jakarta, 17 Agustus 1963&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para penandatangannya antara lain: HB. Jassin, Trisno Sumardjo, Wiratmo Sukito, Zaini, Bokor Hutasuhut, Goenawan Mohamad, A. Bastari Asnin, Bur Rasuanto, Soe Hok Djin, D.S. Moeljanto, Taufiq A.G. Ismail, Gerson Poyk, Boen S. Oemarjati, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Masnawi :&lt;/b&gt; Jenis puisi Melayu lama yang berasal dari sastra Arab-Parsi. Jumlah larik dalam setiap baitnya agak bebas, dengan skema rima berpasangan dua-dua (a-a-b-b-c-c ... dan seterusnya), dan berisi puji-pujian untuk pahlawan.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Materialisme : &lt;/b&gt;studi sastra materialis mendekati sastra dari sudut materialisme dialektis (teori sejarah materialisme). Menurut teori ini sastra didominasi oleh faktor-faktor materialistis. Determinasi ini dapat terjadi pada berbagai macam taraf.&lt;br /&gt;- Di luar karya sastra, yakni dalam sektor sosio-ekonomis yang lewat ideologi mempengaruhi karya ybs. Pengarang termasuk kelas tertentu, dipengaruhi oleh masyarakat sekitarnya, seluruh tata ekonomi dsb. &lt;br /&gt;- Di luar karya sastra, tetapi langsung berkaitan dengan produksi materialnya (sikap penerbit, percetakan), pemasaran, iklan dsb.&lt;br /&gt;- Di dalam karya sastra, yakni karya sebagai karya bahasa. Yang penting yaitu sejauh mana bahasa yang dominan diolah atau tidak.&lt;br /&gt;Ideologi materialisme dialektis menghubungkan sastra dengan sejarah serta sastra dengan sektor sosio-ekonomis.&lt;br /&gt;Di dalam studi sastra materialistis terdapat dua aliran.&lt;br /&gt;- Sastra dianggap sebagai realisasi dan materialisasi ideologi, mencerminkan ideologi yang sedang berkuasa.&lt;br /&gt;- Sastra membuka kedok ideologi itu dan merupakan suatu kritik terhadap ideologi yang berkuasa. &lt;br /&gt;Kedua aliran ini tidak saling berlawanan tetapi saling melengkapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Melodrama: &lt;/b&gt;dari kata “melos” yang berarti nyanyian.&lt;br /&gt;1. Sejak zaman renaissance sampai abad ke-18 suatu perpaduan antara nyanyian dan drama, semacam opera.&lt;br /&gt;2. Kemudian berkembang menjadi suatu jenis drama tersendiri. Isinya berkisar pada konflik antara si jahat dan si baik. Yang baik selalu menang, yang jahat pasti kena hukuman. Tak ada bobot psikologis ; ini ditutupi dengan gaya patetis, sentimental, efek yang dibuat-buat (munculnya sebuah kerangka, roh, guntur dan petir). Dalam dunia pentas melodrama mendampingi ”Gothic novel”. M. Lewis, yang terkenal sebagai pengarang The Monk (Gothic Novel), juga menulis The Castle Spectre (melodrama), 1797. &lt;br /&gt;3. Dewasa ini kata sifat “melodramatis” menunjukkan sebuah cerita pentas atau film yang cengeng, sentimental, tidak sungguh-sungguh. Banyak lakon “srimulat” dan ludruk bersifat melodramatis.&lt;br /&gt;Metabahasa: kata “meta” berarti di bawah, di belakang, bersama dengan. Bentuk bahasa yang mengatakan sesuatu mengenai sesuatu bahasa lain (bahasa objek, misalnya komunikasi literer). Metabahasa tidak mengatakan sesuatu mengenai kenyataan, melainkan hanya mengenai gejala-gejala dari bahasa objek. Pembahasan mengenai sebuah karya sastra termasuk metabahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Metafora:&lt;/b&gt; kata Yunani yang berarti melimpahkan arti. Bersama dengan metonimi bentuk kiasan (tropos) yang paling sering dipakai. Menurut pandangan tradisional metafora terjadi bila kata yang satu dipakai sebagai pengganti yang lain, berdasarkan kemiripan arti ataupun kontras. Atau bila kata tertentu dipakai menurut suatu arti yang mirip, tetapi sekaligus berbeda dari artinya yang biasa. Dengan demikian metafora dipandang sebagai perumpamaan, tetapi tanpa menyebut dasar perbandingan dan partikel perbandingan. Misalnya, “Jago-jago kita pasti akan menang” (pemain-pemain Indonesia berani seperti jago-jago sabung). Atau, “akhirnya datang juga Arjuna impiannya”. “Dengan suara beludru” (suara lembut seperti beludru). &lt;br /&gt;Menurut peristilahan strukturalis sebuah metafora menggantikan sebuah semeem (kata) dengan sebuah semeem lain, karena kedua kata itu memiliki satu atau lebih banyak semen (komponen arti yang paling kecil) bersama (teori subtitusi). Antara semen-semen yang dimiliki bersama dan semen-semen yang tidak dimiliki bersama terjadi ketegangan, tetapi persamaan parsial, (hanya sebagian) dianggap cukup untuk mengusulkan persamaan total. Misalnya, “tanganku adalah lembu yang mengabdi kepadamu” (Lucebert). Salah satu fungsi tangan ialah kerja, tetapi masih ada banyak fungsi lain. Salah satu fungsi lembu ialah bekerja untuk petani yang memilikinya. Fungsi-fungsi lain dikesampingkan dan hanya persamaan ditonjolkan. &lt;br /&gt;Sebuah pendekatan lain mendefinisikan metafora berdasarkan lingkungan tempat ia berfungsi. Proses metaforis dapat dilukiskan sebagai interaksi antara berbagai isotopi, misalnya antara dunia yang hidup dan yang tidak hidup, antara dunia insani dan hewani, antara erotik dan bahasa dan seterusnya. &lt;br /&gt;Dalam pemakaian metafora terdapat berbagai bentuk atau tipe pemlimpahan, misalnya pelimpahan warna (hari-hari gelap), pelimpahan bunyi (Ampera bergema di mana-mana), sinestesi (warna hangat), personifikasi atau animalisasi (amanat penderitaan rakyat, anjing menggonggong-kafilah berlalu), pembendaan atau refleksi (dari abstraksi ke sesuatu yang konkret, misalnya “hari depan merupakan beban”), alegori, yaitu pelimpahan dari sesuatu yang abstrak ke sesuatu yang manusiawi (dalam sebuah pawai alegoris kejahatan, misalnya digambarkan seperti seorang raksasa buas).&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Metamorfose:&lt;/b&gt; dari kata Yunani “metamorfosis” yang berarti perubahan bentuk. 1. Manusia dapat berubah menjadi hewan, pohon dan sebaliknya . sering diceritakan dalam mitologi, khusus di dunia timur (misalnya anjing yang mengikuti para Pandawa sampai ke pintu surga ternyata seorang dewa). 2. Judul sebuah karya sastra yang membahas perubahan-perubahan serupa itu, misalnya Metamorphoses karangan Ovidus (penyair latin) atau Die Verwandlung karangan Kafka (1915).&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Metateks:&lt;/b&gt; 1. Setiap teks yang membahas sebuah teks lain (misalnya sebuah resensi). 2. Terjemahan, saduran dan parodi juga dapat dianggap sebagai metateks. Disebut teks sekunder sejauh mengacu kepada teks-teks lain dengan cara yang dapat diketahui. 3. Sebetulnya setiap teks mengandung sebuah unsur metatekstualitas karena setiap teks mengacu kepada teks-teks lain (lihat intertekstualitas) dan mengandung suatu refleksi terhadap dirinya. Jarak antara teks dan metateks menjadi makin kecil bahkan dihapus, seperti misalnya dalam dekonstruksionisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Metonimi:&lt;/b&gt; bentuk gaya atau ungkapan (tropos) yang menggantikan kata yang satu dengan kata yang lain, karena adanya suatu kaitan (kecuali kemiripan atau kontras, lihat metafora). Kaitan tersebut dapat bersifat &lt;br /&gt;- Pars pro toto (bagian mewakili keseluruhan), “sebuah armada sebanyak 20 layar)”&lt;br /&gt;- Totum pro parte (keseluruhan mewakili bagian), “Indonesia mengalahkan Malaysia” (kesebelasan indonesia).&lt;br /&gt;- Pembuat mewakili hasil buatannya, misalnya “menteri tiba dengan menumpang sebuah (pesawat) Fokker”.&lt;br /&gt;- Akibat mewakili sebab, misalnya “rupanya anak itu kehilangan lidahnya” dari pengucapannya.&lt;br /&gt;- Bentuk tunggal dari bentuk jamak (emansipasi wanita), wadah dari isi (berilah satu cangkir saja), tempat dari para penghuni (Yogyakarta memberontak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Metrum:&lt;/b&gt; susunan suku kata silih berganti dalam sebuah bait. Metrum berbeda dari bahasa sehari-hari karena urutan suku kata yang tidak menonjol memperlihatkan suatu pola tertentu. Sifat penonjolan itu berbeda-beda dari bahasa yang satu ke bahasa yang lain. Dalam bahasa Latin, Yunani, Arab dan Jawa Kuno ada suku kata yang panjang  dan yang pendek, sedangkan dalam bahasa Inggris, Prancis, Belanda dan Jerman misalnya ada suku kata yang ditekankan dan tidak ditekankan. &lt;br /&gt;Fungsi metrum ialah mendukung eufoni (enak didengar), tetapi ada juga nilai semantis. Pola metrum yang tepat mendukung isi dan makna sebuah sajak. Dalam teknik persajakan Barat klasik dibedakan misalnya antara yambe (u-), trochea (-u), spondea (--), daktilus (-uu), anapest (uu-) dan amfibrachys (u-u).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mimesis: &lt;/b&gt;kata Yunani yang berarti meniru. Istilah dari filsafat seni dan ilmu sastra. Maksudnya, seni meniru, mencerminkan atau mewujudkan kembali “alam” atau kenyataan. Arti asli istilah ini ialah mengungkapkan, mewujudkan, maka dari itu meniru. &lt;br /&gt;Konsep ini untuk pertama kali dipakai oleh Plato yang melihat dunia seni (khusus seni lukis dan pahat) sebagai peniruan ide-ide abadi lewat benda-benda yang nampak di dunia ini. Padahal alam dunia yang nampak hanya suatu bayangan mengenai dunia nyata, alam idea. Jadi, meniru bayangan merupakan suatu usaha yang tidak bermutu. Dalam tulisannya yang berjudul “Prihal Negara”, Plato hanya menyediakan tempat kelas 3 bagi para seniman. &lt;br /&gt;Aristoteles mengubah pandangan ini secara radikal, yaitu dalam poietika. Seniman memilih unsur-unsur dari kenyataan lalu mewujudkannya menurut suatu konsep tertentu yang menampakkan kebenaran universal. Seniman tidak menjiplak kenyataan, melainkan menampilkan apa yang mungkin juga terjadi (probability). &lt;br /&gt;Pada zaman renaissance pengertian mimesis dikaitkan dengan “imitatio”, mengikuti contoh para seniman klasik, meniru mereka dengan terutama memperhatikan kaidah-kaidah keteraturan, keharmonisan dan logika. Bukan kenyataan yang ditiru sang seniman, melainkan “kenyataan yang indah”, yang diseleksi. &lt;br /&gt;Aliran romantik memberontak terhadap pengertian neoklasisisme ini dengan menekankan meluapnya emosi-emosi secara spontan, tanpa perhitungan apa pun. Seni bukanlah suatu “imitatio” melainkan “creatio”. Sedangkan realisme dan naturalisme juga ingin menampilkan kenyataan, tetapi kenyataan yang juga menampilkan hal-hal yang kasar, yang hina dan kotor. &lt;br /&gt;Para teoritisi modern lebih terbuka bagi pandangan Aristoteles yang asli, yang tidak dapat disamakan dengan imitasi atau penjiplakan. Dalam kritik sastra pendekatan mimetis meneliti, sejauh sebuah karya sastra mencerminkan kenyataan atau menafsirkan kenyataan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mitos&lt;/b&gt;: dari kata Yunani “mythos” yang berarti kata yang diucapkan. Semula mitos dilawankan dengan logos. Mitos ialah cerita seorang penyair, sedangkan logos laporan yang dapat dipercaya, sesuai dengan kenyataan. Sekalipun demikian, maka pada zaman kuno pun dibedakan dua lapisan dalam mitos, ialah ide yang melatarbelakangi cerita, dan perwujudan naratif yang tidak perlu ditafsirkan secara harfiah.&lt;br /&gt;Cerita mengenai dewa-dewa, pahlawan-pahlawan dari zaman beuhula. Lewat tradisi lisan yang panjang akhirnya mengendap dalam berbagai macam jenis sastra (epos, tragedi).&lt;br /&gt;Mitos simbolis atau spekulatif yang menafsirkan secara simbolis tata semesta alam atau tata masyarakat.&lt;br /&gt;Mitos aetologis yang dalam bentuk cerita menerangkan suatu praktek (larangan atau perintah, adat dan sebagainya). Jung dengan psikologi-dalam serta Levi-Strauss dengan antropologi strukturalis memperlihatkan, bahwa mitos-mitos itu mempunyai arti yang sangat dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Monografi: &lt;/b&gt;suatu penelitian ilmiah mengenai sebuah objek yang dibatasi dengan jelas, misalnya mengenai seorang pengarang tertentu, atau satu karya tertentu atau aspek tertentu dalam karyanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7763869518177992466-8001553648052340223?l=bontocina-kaizen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/feeds/8001553648052340223/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7763869518177992466&amp;postID=8001553648052340223' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/8001553648052340223'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7763869518177992466/posts/default/8001553648052340223'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bontocina-kaizen.blogspot.com/2011/04/pemandu-di-dunia-sastra-dick-hartoko.html' title='Pemandu di Dunia Sastra, Dick Hartoko dan B. Rahmanto (M)'/><author><name>Idham Malik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03291018248638052413</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_tFCKR_gnJnY/SIY168z2RJI/AAAAAAAAABw/6pjkpU8TChE/S220/DSC_0825.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7763869518177992466.post-4138640753278718065</id><published>2011-03-29T11:29:00.000+08:00</published><updated>2011-03-29T11:29:45.634+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ilmiah'/><title type='text'>Pemandu di Dunia Sastra Dick Hartoko dan B. Rahmanto (K-L)</title><content type='html'>&lt;b&gt;Kaba :&lt;/b&gt; Jenis prosa lirik dari sastra Minangkabau tradisional yang dapat didendangkan. Para pendengarnya jauh lebih tertarik pada cara menceritakannya dibanding isi yang diceritakan. Kemungkinan variasi dan versi sangat besar. Kaba termasuk sastra lisan yang dikisahkan turun temurun. Contoh kaba yang terkenal adalah ‘Sabai Nan Aluih’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kabuki:&lt;/b&gt; Bentuk pentas yang di Jepang sangat populer. Semula merupakan tarian yang dibawakan oleh sejumlah wanita dengan iringan musik. Karena kelakuan para penari wanita itu makin asusila, maka keluarlah sebuah larangan, sehingga sampai sekarang ini semua peran wanita dibawakan oleh pria. Bentuk pentas ini berkembang menjadi teater sepenuhnya dan mencapai puncak sukses pada bagian kedua abad ke 18 dengan karya-karya yang semula ditulis oleh Cikamatsu Monzaemon bagi teater marionet (lihat ‘bunraku’). Kaitan dengan seni tari dan marionet masih nampak dengan jelas. Kabuki tidak berhaluan realistis. Riasnya fantastik, gerak geriknya kaku, perkembangan alur lamban. Kabuki kadang-kadang mirip dengan opera, kadang-kadang dengan balet, kadang kala bahkan menyerupai semacam upacara, sekalipun lebih merakyat daripada pentas No. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kakawin&lt;/b&gt;: Sejenis puisi yang ditulis dalam bahasa Jawa Kuno dan yang mempergunakan metrum dari India. Digubah antara abad ke-10 sampai abad ke-15, untuk bagian besar di kalangan kraton Kediri dan Majapahit. Penyair disebut kawi. Beberapa kakawin terkenal misalnya Ramayana, Arjunawiwaha dan Nagarakertagama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kanon:&lt;/b&gt; Dari kata Yunani “kanoon” yang berarti tolok ukur. Maka berarti pula contoh, norma, hukum, daftar. Dalam agama kristen daftar kitab yang resmi diterima sebagai bagian alkitab, yang diilhami oleh Tuhan. Lawan apokrif, ialah kitab yang tidak secara umum dan resmi diterima sebagai bagian Alkitab. Pada zaman sastra klasik Yunani-Romawi daftar karya agung yang secara wajib harus dibaca  oleh para siswa yang juga merupakan contoh untuk ditiru (imitatio). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Karakter:&lt;/b&gt; Drama karakter menghubungkan gejolak batin dengan perbuatan lahiriah secara psikologis. Perbuatan lahiriah hanya penting sejauh menghadapkan tokoh utama dengan masalah eksistensinya serta perkembangan egonya. Tema-tema yang ditampilkan ialah kebebasan pribadi, makna penderitaan, kekuasaan masa yang silam. Pada akhir abad yang lalu jenis pentas ini sangat populer (Ibsen, Nora dan Cekov, Paman Wanya). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Katharsis :&lt;/b&gt; Kata Yunani yang berarti pembersihan. Dalam Peri Poietikes Aristoteles melukiskan efek yang diakibatkan oleh pementasan sebuah tragedi terhadap para penonton. Penonton turut menghayati nasib yang dialami oleh tokoh utama dan diombang-ambingkan oleh rasa takut dan belas kasih. Penonton mengadakan instrospeksi dan jiwanya lalu dibersihkan dari noda dosa (moral) atau secara psikologis ia lalu merasa lega, tekanan batinnya terurai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kawi&lt;/b&gt;: Dalam bahasa Sanskerta, kata kawi semula berarti seorang yang mempunyai pengertian yang luar biasa, seorang yang bisa melihat hari depan, seorang bijak; tetapi kemudian dalam sastra Sanskerta klasik, kata kawi memperoleh arti yang khas, yaitu seorang penyair (lihat kakawin).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kerangka bingka&lt;/b&gt;i: Cerita kerangka bingkai (frame story). Sebuah cerita yang mencakup satu atau beberapa cerita lain (story within a story, misalnya cerita Droogstoppel dalam Max Havelaar). Kadang-kadang cerita kerangka bingkai itu hanya berfungsi sebagai titik awal bagi sebuah cerita lain yang dibawakan oleh satu (seribu satu malam) atau beberapa juru dongeng (Decamerone). Kadang-kadang cerita dalam dan cerita kerangka bingkai mencapai suatu kesatuan organik (Canterbury tales).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kidung&lt;/b&gt;: Jenis puisi Jawa Pertengahan yang mempergunakan metrum-metrum asli Jawa. Kata Kidung dan kata-kata yang diturunkan darinya seperti mangidung dan sebagainya, berarti lagu, bernyanyi dan kata-kata ini muncul dalam berbagai prasasti sejak periode paling awal. Kata-kata ini juga dipakai dalam teks-teks prosa awal dam kombinasi angigeliangidung (menari dan menyanyi), misalnya dalam Wirataparwa 19 dan Uttarakanda 3. Kata mangidung juga dipakai untuk melukiskan bagaimana sebuah kakawin dikembangkan. Konon, ketika Arjuna menggubah sebuah kakawin pendek ia merasa demikian terharu, sehingga di tengah-tengah sebuah bait ia berhenti. Tilottama, seorang bidadari yang baru dinikahi dan bersembunyi di belakang sebatang pohon, meneruskan kakawin itu sambil mangidung sebuah baris tamat gubahannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kitsch&lt;/b&gt;: Seni semu, seni yang murah, picisan, yang seringkali hanya ingin menonjolkan kekayaan si pembelinya. Oleh Eco, seorang ahli linguistik Italia, pernah disebut sebagai “sebuah dusta struktural”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Klasisisme:&lt;/b&gt; dari kata “klasik”, sekelompok karya seni yang umum diterima sebagai karya-karya agung yang patut ditiru dan dijadikan contoh dan tolok ukur. Semula terbatas pada karya-karya seni Yunani-Romawi, kemudian juga bagi karya-karya agung dari kemudian hari di Eropa (misalnya musik ciptaan Bach, Handel, Mozart dan Beethoven termasuk musik klasik Barat). Tetapi juga dalam kalangan seni budaya di luar Eropa kita berbica
