semoga blog ini dapat menjadi media inspirasi informasi berguna dan sebagai obat kegelisahan..

Sejarah Islam dalam Benak Jalil Mangalia

 Di Banggai Kepulauan Islam punya jalan ceritanya sendiri. Ia jauh dari cerita Perlak dan Barus, apalagi tentang Walisongo. Tapi, jika ditelisik usianya, mungkin dekat dengan cerita Ratu Shima Kerajaan Kalingga. Bagaimana tidak, di Pulau Peling ini terdapat makam seorang Ulama yang bertarikh 168 Hijriah, berdekatan dengan makam bangsawan Banggai, anak raja yang ditinggalkan, bernama Lipuadino atau Fuadin, makamnya lebih tua lagi, 68 Hijriah.

Saya pun terpikir untuk melihat langsung makam itu. Jadilah pada Senin, 9 September 2024, saya menyinggahi makam itu di Toi-Toi, Lolantang, Bangkep, setelah perjalanan 3 jam dari Salakan dengan mengendarai motor Revo Fit. Saya melewati gerbang makam dan langsung dihadang oleh seekor sapi yang tampak kaget. Saya maju saja, sapi itu pun menghindar, memberikan saya jalan untuk masuk ke dalam hutan yang ribut oleh suara tonggerek.

Sampai di kompleks makam, saya tak berlama-lama, sekadar membacakan Alfatihah dan salawat. Dari jauh, saya juga melihat makam Fuadin, namun tak mampu lagi pergi lihat, walaupun hanya beberapa langkah. Suasana hutan yang ribut membuat keberanian saya ciut untuk berlama-lama. Saya pun meninggalkan makam itu, dan melanjutkan perjalanan ke Lumbi-Lumbia.

Baru pada Sabtu, 14 September 2024 saya bertemu dengan Jalil Mangalia, yang telah menuliskan artikel “Islam Tertua di Indonesia Ada di Banggai” dalam blog pribadinya, cooljalil.blogspot.com. Jalil kebetulan ada di Salakan, ketemulah kami pada sore hari pada halaman sebuah café.

Mulanya saya memberinya buku “Manusia Laut dan Manusia Gunung”, kisah-kisah Kampung Alor. Saya bilang dalam tulisan itu terdapat beragam cerita, termasuk di dalamnya tentang suatu kampung tua, yang bernama Bampalola, kampung Islam pertama, dan juga tempat manusia pertama yang orang di sana sebut sebagai ‘Raja Tanah’.

Jalil menyambut, “Di sini ada juga seperti itu, sebagai manusia pertama, disebutnya Duli Bausul, itu di pegunungan Sosan, kemudian dilanjutkan oleh Duli Mabuli, ibaratnya sebagai manusia sebagai pemimpin ummat, yaitu Nabi Nuh,” kata Jalil. Badan saya terdorong ke belakang, agak kaget mendengar Nabi Nuh di Pulau Peling. Jalil mengatakan, kapal nabi Nuh pertama kali membuang jangkar di sini, saat itu dia melihat ada daratan, tak lain adalah pegunungan To’olong. Lalu Nuh mengutus Gagak Peling untuk melihat situasi pulau tersebut. Gagak tak pulang, ia hanya mengitari pulau. Nuh pun mengutus merpati untuk memastikan daratan tersebut. Merpati kembali, dengan serbuk-serbuk tanah di kakinya.

“Dari tiga belas jangkar, di sini tempat jangkar pertama diturunkan,” kata Jalil. Ini berarti juga sebagai klaim, masyarakat Sea-Sea sebagai gen tua atau ras manusia. “Jangkar-jangkar lain diturunkan di belahan pulau lain, jadilah ras Afrika, Hindia, Cina, dll,” ujar Jalil. Apa yang dijelaskan Jalil adalah cerita rakyat dari wilayah Buko, dan Jalil mengakui tak terdapat bukti fisik, hanya berdasar sejarah tutur. Nabi Nuh pun turun dari kapal, dan bertemu dengan seorang gadis yang keluar dari bambu atau peling. Nuh pun menikah dengan gadis tersebut dan dikarunia sembilan orang anak, delapan laki-laki dan seorang perempuan. Anak Perempuan itu pun menetap di Malanggong, sedangkan seorang anak laki-laki menetap di Montomisan. Anak-anak yang lain tersebar di seluruh negeri.

Sebelum Agama Islam diterima di Banggai, masyarakat Banggai sudah terlebih dahulu mengenal Tuhan Yang Maha Tunggal, mereka menyebutnya Temeneno. Kepercayaan itu pun menjadi cikal bakal pada kepercayaan Tauhid, lalu juga dipercayai, Adi Saka, raja pertama yang dipercayai menyatukan masyarakat Banggai, yang sebelumnya terpisah-pisah dalam bentuk kerajaan-kerajaan kecil, turut membantu menyebarkan Islam ke seluruh Kerajaan Banggai, seperti Buko, Bulagi, Balukan/Banggai, Bokan, Tompotika. Anak Adi Saka dengan putri Yamadin dari Bolukan diberi nama Lipuadino atau Fuadin.

Adi Saka dalam cerita pun merantau cukup lama di Pulau Jawa, di sana Adi Saka menikahi putri Raja Padjajaran. Fuadin pun menyusul Adi Saka untuk meminta restu untuk menjadi raja sekaligus menetap di Jawa dalam rangka belajar, karena kekosongan kekuasaan di Banggai. Fuadin pun mendapat restu, tapi ia meminta adik tirinya yang bernama Adi Sabol untuk terlebih dahulu kembali ke Banggai untuk menyiapkan penyambutan. Sayangnya, justru Adi Sabol yang justru yang diangkat menjadi raja, karena para Basalo mengira Adi Sabol sebagai Fuadin. Gagal menjadi raja, Fuadin berangkat ke Batui untuk menitipkan burung Maleo, sekembali dari Batui, kapal Fuadin sandar di Lolantang. Pada akhirnya ia menetap di sana dan menikahi putri Basalo Salaup. Fuadin fokus mengajarkan agama Islam di sana. Ia pun dianggap manusia sempurna, kemudian dimakamkan di Lolantang.

Kemudian Imam Sya’ban datang melalui jalur sutra Cina. Sebelum ke Pulau Peling, Imam Sya’ban sempat tinggal di Tidore, lantaran kapalnya rusak. “Mengenang kapalnya itu, Imam Sya’ban membuat alat musik berbentuk perahu, di Bugis dikenal sebagai kecapi,” ujar Jalil. Jadi, Imam Sya’ban melanjutkan syiar agama Islam di Pulau Peling, yang sebelumnya sudah dirintis oleh Adi Saka dan Fuadin.

Saya pun mengomentari, kalau Islam Alor justru dibawa oleh ulama Ternate. Jalil menimpali, oh itu sudah islam abad ke 16, di Peling juga memperoleh pengaruh Ternate, khususnya Tobelo. Namun, sayangnya pengaruhnya justru buruk, sebab Kerajaan Banggai diluluhlantakkan oleh Ternate. “saat itu Banggai punya hubungan baik dengan Kerajaan Goa-Tallo (Makassar). Tapi karena Makassar sudah kalah dengan Belanda, jadinya Ternate bisa masuk ke Banggai dengan menggandeng Belanda,” ujar Jalil.

“Wow, perjanjian Bongayya efeknya sampai sini ya Pak Jalil,” kataku. Lalu saya baca tulisan Jalil soal ini, saat penyerangan itu, bangsawan-bangsawan Banggai sedang tidak di wilayah kerajaan, karena sedang melamar seorang putri Bugis. Ada juga artikel yang saya baca, kalau kapal-kapal Bugis-Mandar-Makassar banyak bersandar di Kepulauan Banggai, dan bersama bajak laut Tobelo cukup merepotkan kapal-kapal laut Belanda yang mengangkut hasil hutan dan laut Mountong di kawasan Teluk Tomini.

Cukup banyak kami perbincangkan, termasuk di dalamnya tentang penyebaran Austronesia, termasuk di dalamnya penemuan lukisan dinding gua-leang di Maros, yang menurut Jalil sebagai bukti bahwa Sulawesi memiliki peradaban yang tua. Jalil juga sempat menyebut pengaruh Sawerigading dengan peradaban Banggai, namun kami kekurangan waktu untuk mendiskusikan hal ini, lantaran Jalil harus kembali ke Kambani, desa tempat ia menetap di Kecamatan Buko Selatan.

Mengunjungi makam dan ngobrol dengan Jalil Mangalia, pun meyakinkan saya, masih banyak rahasia di Pulau Peling ini, baik dapat mengubah narasi penyebaran Islam di Nusantara, ataupun dapat menguak rahasia yang bisa menjadi penyebab keberhasilan masyarakatnya di masa kini, ataupun yang menjadi penghambat kemajuan masyarakat. Sebab, saya punya keyakinan, jalan atau proses sejarah suatu bangsa sangat mempengaruhi pembentukan Lembaga politik, sosial dan ekonomi, yang nantinya mempengaruhi masyarakat untuk tumbuh atau malah sebaliknya, menjadi masyarakat yang kerdil.
 
 
 

 




0 komentar:

Sejarah Islam dalam Benak Jalil Mangalia