semoga blog ini dapat menjadi media inspirasi informasi berguna dan sebagai obat kegelisahan..

Ariyanto Hidayat (In Memoriam)

 

Hari ini, air mata saya beberapa kali meminta untuk menetes, setiap saya melihat postingan, kabar, foto, cerita tentang Ariyanto Hidayat. Hari ini juga saya diliputi perasaan kehilangan, yang sebenarnya jarang saya rasakan. Orang-orang dekat saya masih hidup, orang tua, saudara, keluarga inti, dan sahabat-sahabat saya masih muda-muda dan terlihat sehat. Beberapa teman yang mendahului memang membuat saya sedih, tapi itu hanya sebentar. Tapi kali ini saya membutuhkan waktu untuk mencerna perasaan kehilangan ini.

 

Ariyanto Hidayat, almarhum, masih bercanda dengan saya kemarin, melalui whatsapp group, Ketika saya kirim artikel opini “Kaum Intelektual Tidak Boleh Diam” karya Martinus Joko Lelono, Kak Ari membalas, “Diam2 merayap saja… wkwkwkwk”. Senin kemarin saya masih diskusi Panjang soal rencana ceramah Hilmar Farid, tentang berfikir kepulauan. Saya bilang, itu masih beraroma darat. Kak Ari bercanda, “kita beramai-ramai ke laut dalam rangka sedimen laut…hehehe..”. Kak Ari menjelaskan kalau laut dan gunung itu tidak terpisah, tapi tergantung skala prioritas kebutuhan siapa yang akan dipenuhi. “Dulu, petani, pedagang, pelaut, penyelam, sampai penjual pasir. Tergantung kebutuhan,” kata Kak Ari.

 

Itulah karenanya saya senang berdiskusi dengan Kak Ari, sampai hari-hari terakhir di hidupnya, ia tak berhenti untuk mengajak berfikir holistik, rasional, objektif, dan mengedepankan aspek kebudayaan.

 

Saya mengingat-ingat forum-forum bersama Kak Ari di ruangan Lephas, Kampus Unhas, tahun 2011-2015. Saya biasa ke sana bersama Sasli dan Rahmat untuk bertemu Kak Alwy Rachman. Biasanya Kak Ari sudah duluan di sana. Kami menandai motor kuningnya. Biasa juga kita bercakap-cakap di halaman Lephas sambil menunggu Kak Alwy. Sering juga gabung Kak Uya, dan senior yang lain. Belakangan cukup banyak orang yang bergantian ke sana, seperti Jikun, Kak Asra, Kak Irma. Apalagi saat seru-serunya Kak Alwy mementori komunitas LAW Unhas yang diketuai Ulla, serta mulai ramainya jagad intelektual Makassar melalui Kelas Literasi Makassar, tulisan-tulisan peserta kelas banyak dimuat di kolom literasi Tempo Makassar.

 

Kak Ari menjadi murid atau bolehlah dibilang ketua kelas kami di Lephas. Bahkan kadang-kadang, malah sering kali Kak Ari yang menjadi sumber informasi, sementara Kak Alwy yang lebih banyak mendengar. Saya masih mendapat momen-momen serius, percakapan-percakapan mendalam tentang studi linguistik, kebudayaan, politik, sosial dan filsafat, melalui potongan-potongan istilah yang kemudian dielaborasi secara mendalam oleh Kak Alwy.

 

Kak Ari selalu hadir dalam setiap momen yang melibatkan Kak Alwy, dia pembelajar yang cepat, dan saya pun menjadi semakin dekat dengan Kak Ari. Setelah saya memperoleh pekerjaan sebagai pegawai WWF Indonesia, semakin seringlah saya bertemu kak Ari, dan sejak saat itu lebih banyak di warkop, sesekali di toko buku Papirus.

 

Masa-masa itu, saya betul-betul belajar banyak dari Kak Ari, juga dari senior-senior yang lain, seperti Kak Uya dan Kak Asratillah, kadang-kadang Kak Awi Mn, juga dengan teman-teman, Rahmat, Opik, Sasli, Jikun, Dayat, serta teman-teman dari kampus UNM dan UIN, yang mana kita diikat semua oleh semangat literasi dan diskusi. Biasanya, diskusi berjalan alot dan santai, tapi selalu temanya berat, dan pada diskusi-diskusi itu, Kak Ari selalu menyelipkan humor. Membayangkan ekspresi Kak Ari yang ketawa setelah melontarkan humor. Membuat saya bertambah sedih.

 

Perkembangan berikutnya, Kak Ari selalu saya libatkan dalam program pendampingan petambak WWF Indonesia. Ia saya undang ke Pinrang untuk menjelaskan materi penguatan aspek sosial dan strategi pengembangan sebuah lembaga. Seru melihatnya, karena Kak Ari membuat ketawa para petambak-petambak itu. Begitu halnya sewaktu saya undang dia ke Takalar untuk ketemu petani rumput laut, memberi semangat ke petani rumput laut, lagi-lagi membuat orang-orang tua itu ketawa terpingkal-pingkal. Begitu halnya untuk penguatan tim internal saya sendiri, bagaimana anggota saya mempunyai wawasan yang kuat, mental baja, dan berfikir kontekstual dan problem solving. Saya undang Kak Ari jadi pemateri fasilitator baik untuk fasilitator petambak maupun para pengorganisir penanaman mangrove. Materinya unik, tak ada di pelatihan fasilitator yang lain. Sebab, itu adalah perasan dari bacaan buku, pengalaman pribadi, dan hasil malam-malam diskusi dengan Kak Alwy Rachman.

 

Ilmu Kak Ari tak habis-habis, selalu ada, dan menarik untuk didengar. Karena itu juga saya mengajak dia untuk melakukan studi lingkungan petambak rumput laut di Cenrana Bone. Kak Ari menumpang di mobil Avanza yang saya supiri. Sempat saya khawatir, karena setiap Kak Ari naik ke mobil, mobil menjadi berat sebelah :D. Saya juga sempat khawatir karena kami harus mengendari perahu katinting, Alhamdulillah, kami bisa tiba dengan selamat di Desa Latonro. Di sana, dia justru lebih nyambung dengan Pak Desa, bagaimana tidak, lama dia menjadi fasilitator PNPM di sebuah desa di Kab. Gowa.

 

Hal penting hubungan saya dengan Kak Ari, sebab, salah satu mentor mental saya adalah Kak Ari. Kak Ari selalu memberikan penjelasan alternatif-alternatif mengenai langkah-langkah taktis dalam pendampingan masyarakat, yang sebelumnya tidak saya pikirkan. Dia juga sangat serius Ketika membicarakan faktor kompetensi dan penggunaan tools-tools. Saya biasa merasa shock jika berhadapan dengan Kak Ari, lantaran superioritasnya. Meski begitu, dia adalah mentor yang baik dan sangat perhatian. Dia enak diajak ngobrol, hingga berjam-jam dan berpindah-pindah tempat. 

 

Kak Ari mengikuti semua agenda intelektual saya maupun ritus hidup dewasa. Seperti saat saya menerbitkan buku “Perikanan atau Perikiri?”, Kak Ari selalu hadir dalam forum diskusi sebagai peserta dan penanya pertama. Dia juga saya angkat jadi penasehat group Aquaculture Celebes, sehingga dia menjadi orang yang bisa memberikan penerangan dari kami-kami yang lebih junior. Kak Ari bebas berkomentar di grup itu, sampai di hari-hari terakhir ini.

 

Begitu halnya di tahap-tahap kehidupan. Kak Ari datang di acara nikah dan menghadiahkan buku ‘Kado Pernikahan’, pernikahan menjadi ritual untuk mendewasakan diri. Kak Ari datang di acara aqiqah anak-anak saya. Bahkan, setiap persinggahan saya di Makassar, sejak merantau di Berau dan Alor, Kak Ari selalu menyertai. Juga menjadi penasehat yang baik saat saya bermasalah dengan seorang yang juga kenalan Kak Ari.

 

Kak Ari, kamu sudah tiada, katanya kamu sempat membincangkan keabadian dengan seorang kawan mu. Siang tadi kamu diantar ke rumah orang tuamu di Toraja. Tiba-tiba saya mengenang malam tahun baru 2018, kami rombongan Aquaculture Celebes merepotkanmu dini hari, kami meramaikan rumahmu di Toraja. Menghabiskan lauk yang dimasak oleh ibumu. Kami junior yang kurang ajar. Terimakasih telah menjadi Pembina dan teman yang hangat selama ini. Semoga Kak Ari tenang di sana, dan mendapat teman ngobrol. Jangan lupa, siapkan kursi juga, jika tugas kami di dunia sudah selesai.  

 





0 komentar:

Ariyanto Hidayat (In Memoriam)