semoga blog ini dapat menjadi media inspirasi informasi berguna dan sebagai obat kegelisahan..

Alwy Rachman untuk Ahyar Anwar



Tergerak hati saya untuk menulisnya kembali. Seorang manusia yang terus mencoba untuk menjadi dirinya sendiri. Diri yang merasai dunia apa adanya, dengan sebungkus rokok, segelas kopi dan sebuah pertemuan. Ketiga hal itu menandakan dirinya hadir untuk menebar gagasan dan gelitik.

Ya, semalam saya dengan kelelahan memangkas jarak ke Lephas Unhas, untuk menikmati sunyi yang menyengat. Di depan pintu ruang, Saya melihatnya terbaring, punggungnya sakit. Saya tak tahu apa pertanda dari menutupnya mata Kak Alwy dengan tangan terselungkup. Lama ia terbaring, saya mendengar dari Kak Ary kalau Kak Alwy sepanjang hari duduk untuk interviuw. Kami pun berbincang dalam lingkaran amoeba, bersama Wahyu, Rahmat dan Dijkun, Kak Ary dan seorang mahasiswa yang tidak saya tahu namanya. Kami Ketawa-ketiwi saja menertawai tingkah dosen-dosen kita yang makin lucu sekaligus garing.  

Kak Alwy duduk dan besandar. Ia tiba-tiba dengan serius dan semangat bercerita tentang dosen-dosen sastra yang baik dahulu. Seperti Mattulada yang memarkir mobilnya di kejauhan kemudian berjalan kaki ke jurusan dengan topi koboi di kepalanya. Ia bercerita bagaimana Mattulada meminta menyodorkan uang ke mahasiswanya kemudian meminta untuk membuat api unggun di malam hari, lalu Mattulada datang membawa puisi. Kak Alwy bercerita tentang lucunya seorang professor sastra. Dimana tas mengajarnya sering tertukar dengan tas dapur istrinya, suatu ketika tas ia bawa ke kelas berhamburan buku dan sayur kangkung. Professor itu pun sering lupa kalau ia mobilnya masih di kampus, sebab ia ke rumah karena di antar mahasiswanya. Lalu kembali ke kampus membawa motor kecilnya untuk mengambil mobil, setiba di Kampus, ia pun kembali bingung bagaimana turut membawa motor kecilnya itu. “orang pun dibuat bingung ketika ia meninggal, di rumahnya yang penuh buku itu tak ada sarung. Kami terpaksa mencarikan sarung di tempat lain untuk menutup jenazahnya,” kata Kak Alwy.

Kak Alwy bercerita tentang dosen yang tak tua dengan baju yang selalu tak terkancing, mondar-mandir di antara mahasiswa yang lagi asyik bermain gitar. Dosen itu pun ikut bernyanyi la la li li li, hingga 10 atau 15 lagu. Dosen itu dengan gayanya sendiri memodifikasi motor kebanggaannya. Yang sering dipakainya pulang balik ke kampus. Namun dengan motor kebanggannya itulah dia pergi dan menghadap.

“Ah, sayang mereka pergi rata-rata di usia tak tua,” lanjut Kak Alwy. Kami pun membandingkan dengan dosen-dosen sekarang, yang selalu mengatur prilaku mahasiswanya, dengan menutup diri dalam kepalsuan jabatan dan profesi. Bersembunyi dalam hukum yang ia buat dengan gegabah, memangsa dan mengorbankan jiwa dan kreatifitas mahasiswanya. Sekarang dunia kemahasiswaan adalah dunia yang hampa. Dunia yang tak memiliki pesona, tak menyengat. Sudah jarang dosen yang mau berbagi dengan mahasiswanya, dosen yang mau berlama-lama mendengar keluhan dan harapan mahasiswanya. Dalam kondisi seperti itu, wajar saja mahasiswa tak betah dan ingin segera keluar dari kampus. Dan itu pula yang diharapkan oleh para birokrat. Kampus yang berbau teknokrat. Kampus yang lebih mementingkan ukuran-ukuran, indikator-indikator, strata-strata, dibandingkan pertemuan, rokok, dan secangkir kopi.

Pukul 12.00, pertemuan usai. Kami berniat pulang ke tempat masing-masing. Di antara kesunyian itu saya duduk di bangku cokelat teras lephas menghadap ke gedung megah kehutanan. Pak Alwy datang, “Idham bulan depan kita kumpul untuk membicarakan literasi”. Tapi ada kalimat yang tak saya mengerti, “kita tinggal berdua penulis literasi”.

Saya tiba di sekretariat identitas, selangkah kaki saya di pintu identitas mustafa datang berbisik. “Kak, Kak Ahyar meninggal dunia,” ucapnya samar-samar. Kabar itu berasal dari Kak Supa dan kami memeriksa informasi itu melalui facebook milik Ahyar Anwar. Betul, beliau meninggal di rumah sakit Grestelina pukul 22.00 WITA.

Kemudian saya membaca status Erni Aladjai, “Saya percaya orang baik selalu lekas menemui tuhannya”.

Dan pagi ini, kematian penulis dan budayawan itu, saya teringat dengan cerita-cerita Kak Alwy semalam, tentang dosen sastra yang lucu, mempesona, dan banyak yang mendahuluinya.

Inna lillahi wa inna lillahi rojiuun. Semoga Ahyar Anwar tenang dan mendapat tempat di alam sana.

Sekretariat Identitas, 28 Agustus 2013





0 komentar:

Alwy Rachman untuk Ahyar Anwar