semoga blog ini dapat menjadi media inspirasi informasi berguna dan sebagai obat kegelisahan..

Surat untuk Pemimpin



Siang ini, Saya ingin berbagi kegelisahan dengan mu wahai pemimpin, tentang hidup, orang-orang dekat kita, dan mereka yang direndahkan.


Saya tak tahu siapakah mereka yang direndahkan itu? Mungkinkah mereka yang sengaja tak kita lirik ketika kita mengendarai motor. Mereka yang lengannya terulur menengadah, dengan kulit legam dan bercorak. Saya tak tahu juga kenapa saya selalu tak mengulurkan selembar atau pun dua lembar, apakah hati ini sudah membatu? Mungkinkah kita cendrung memikirkan diri kita sendiri?

Saya tak tahu kenapa negeri ini tak maju-maju, padahal jembatan emas sudah didirikan. Proklamasi kemerdekaan telah menggema, dengan selongsong jiwa yang terbakar, akan rasa dendam pada penderitaan. Menderita? Mungkinkah ini sebab kita tak biasa menatap penderitaan, seperti orang-orang tua kita dulu yang setiap hari melihat yang derita, turut merasa sakit akibat luka rakyat banyak.

Yah, saya curiga ini terjadi karena kita-kita ini tak merasa derita itu, kita kurang menyapa mereka yang lemah, kurang simpatik dengan yang kurang, kita seakan-akan berada di atas lapisan awan yang dengan nyaman melihat orang-orang mati kelaparan di bawah lapisan kita itu. Saya curiga akan hal itu, sebab dorongan untuk berbuat mulanya muncul dari rasa, olah rasa.

Saya juga heran kenapa orang-orang sekarang kurang peka terhadap mereka yang di pinggir itu? Itu bisa dilihat dari karya-karya sastra kita, yang kurang simpatik, kurang mengangkat jurang sosial, dan persoalan kelas sosial. Kita menutup diri pada tempurung kelas kita. Saya mendeteksi rasa itu, kita takut akan terjerumus pada lubang derita. Kita takut pada rasa lapar yang mendera. Lantas, kenapa kita tidak melawan? Melawan budaya patronase yang sudah berlendir, melawan budaya hak istimewa (nepotisme), melawan budaya korup, memperoleh aset yang bukan haknya.

Kita tak berdaya melawan suatu sistem yang berjamur, sistem yang sudah kelewat basah. Dimana banyak mulut yang telah menikmati, banyak tangan yang telah menjamah. Kita lelah melawan sodara-sodara kita yang tak mengerti nasib derita tetangga-tetangganya, yang dengan enteng dia sering ucap dan sebut. Kita kadang tak sadar telah membincangkan nasib orang miskin di lobi-lobi hotel, dengan jas perlente, dengan sepatu mengkilap. Namun apa yang terjadi, apa yang diperoleh orang miskin? Mereka hanya memperoleh janji dan janji. Kata-kata manis. Pemimpin adalah mereka yang punya kemampuan berkata manis dengan sedikit punya bakat bermuka tembok.     

Saya lelah melihat sistem kepemimpinan di negeri ini, yang tak jemu-jemu menggerus, mengekspolitasi apa-apa saja yang bisa direbut. Pemimpin di negeri ini adalah mereka yang tak punya mata batin untuk merasakan dampak dari perbuatannya. Pemimpin di negeri ini adalah mereka yang lemah mentalnya, yang dengan gampang disogok, diberi gula-gula oleh pihak asing. Asing yang justru selalu kita bela atas nama investor, atas nama lapangan kerja. telah mempermalukan bangsa kita. Asing telah menyedot kekayaan kita, lewat kontrak-kontrak kerjasama yang tak seimbang. Kita selalu terlena terhadap kemajuan-kemajuan yang telah kita capai. Kita terlalu cepat terkesima oleh gemerlap lampu-lampu reklame. Kita terlampau tergoda oleh sorot kamera bioskop, oleh mentereng gedung mall. Kita terlampau percaya pada pasar, pada dagang, pada optimisme tiap-tiap orang. kita terlampau yakin terhadap kebaikan orang asing, terhadap kemanisan kata-kata para pemimpin.

Saya tak percaya pada pemimpin. Apalagi pemimpin yang tahunya hanya buat lagu. Yang taunya hanya memamerkan body, lalu dengan liris berkata-kata. Bahwa ia dituduh, ia disudutkan. Ia terlalu mudah merasa tersakiti. Tapi beliau tidak gampang merasakan sakit rakyatnya sendiri. Beliau sudah terlampau nyaman dengan fasilitas yang ia peroleh. Dengan begitu banyak perusahaan yang telah beliau buat, tentu untuk memenangkan tender-tender milik pemerintah. ia sebenarnya tak sadar, kalau ia memakan uangnya sendiri, memakan uang rakyat.

Terimakasih telah membaca suratku..
 Idham Malik





0 komentar:

Surat untuk Pemimpin