semoga blog ini dapat menjadi media inspirasi informasi berguna dan sebagai obat kegelisahan..

Buku-Buku dan Kenangan di Koran Identitas Unhas

 Menemukan ‘Identitas’ merupakan karunia besar dalam hidup saya. Saya mengingat hari itu, pada pertengahan Juni 2005, Saya datang ke kampus seperti orang kesasar. Di kampung tak ada kegiatan, di fakultas juga begitu, saat itu berlangsung libur semester. Lalu, saya melihat-lihat pamflet yang tertempel di dinding kantin Universitas Hasanuddin (Unhas), wah, sedang dicari mahasiswa yang berminat magang di Penerbitan Kampus Identitas.

 

Kebetulan, koran ini sudah sering saya baca sewaktu masih Sekolah Menengah Atas (SMA), lantaran kakak saya setahun sebelumnya sudah menjadi mahasiswa Unhas di Kedokteran, sering membawa koran ini ke rumah kami di Maros. Koran ini juga saya lihat sering tercecer di koridor perikanan, dan biasanya saya ambil satu eksemplar untuk dibaca.

 

Berjalan-jalanlah saya ke kantor koran itu, sembari membawa dua lembar essai tentang kenapa ingin bergabung dengan identitas. Saya mendengar belakangan, Redaktur Pelaksana, Nilam Indah Sari, terkesan dengan isi essai itu. Saya pun disambut oleh senior yang menangani magang, yaitu Kak Faika Burhanuddin. Bahagia rasanya, menjadi bagian dari sesuatu komunitas kecil tapi punya gengsi besar. Meski dilalui dengan rasa lelah luar biasa. Maklum, ketika itu juga bersamaan dengan padatnya jadwal kuliah semester 3 program studi Budidaya Perairan (BDP). Kuliah dan identitas bertempur waktu, akhirnya kuliah terpelanting.

 

Saya mendahulukan belajar di identitas, yang saat itu masa genting-gentingnya, menemani senior wawancara, membuat tulisan pendek berupa kampusiana dan kronik, rutinitas rumah tangga (menyapu, mencuci piring, belanja makanan dll), mengikuti acara-acara kampus, hingga melalui masa penggodokan magang.

 

Pada masa ini, kuliah saya hancur dengan IPK hanya 1,5, di dalam kelas saya sering mengantuk dan tertidur, selalu terlambat masuk kelas dan tidak mengikuti jadwal laboratorium. Bagaimana tidak, saya sering telat tidur lantaran nyamuk di identitas yang dapat membuat kita terbang. Puncaknya, bapak saya yang juga alumni perikanan tahun 1970-an datang ke fakultas untuk mengecek nilai saya, kaget melihat hampir semuanya nilai D, dia datang ke kantor identitas dan mengajak saya pulang ke rumah.  

 

Pada Desember 2005, setelah ritual screening, saya pun diterima sebagai staf desain dan tata letak (layouter), padahal tidak ada bakat di bidang itu. Kebetulan, teman-teman magang tahun itu tidak ada yang berminat menjadi layouter, saya pun menumbalkan diri. Saya memperoleh ilmu layout dari Kak Akkir, yang tangannya sangat lincah mendesain tata letak koran. Kadang-kadang saya juga belajar dari Kak Amran Saliwu dan Sahrul Mandatikupadang, layouter yang lebih senior, juga Kak Arifuddin Usman, yang jauh lebih khatam, karena sudah bekerja di Koran Tribun Timur Makassar.

 

Biasanya, saya meluangkan waktu untuk membaca buku sembari menunggu berita dari teman-teman reporter. bacaan yang dominan saat itu adalah karangan-karangan sastra. Saat magang saya sudah mulai berkunjung ke Rumah Biblioholic di lorong depan kampus, meminjam edisi National Geografic, novel-novel dan kumpulan cerpen. Saya mengingat sangat menikmati kumpulan cerpen A.A Navis, novel ‘Negeri Senja’ Seno Gumira Ajidarma, novel Cala Ibi karya Nukila Amal, dan yang trend saat itu, ‘Laskar Pelangi’ karya Andrea Hirata. Sebenarnya, ketertarikan terhadap dunia cerpen ini lantaran membaca kumpulan cerpen identitas yang berjudul ‘Saya Halima dari Pidie’, yang saya lupa beli dimana, kemudian buku karangan Rahmat Hidayat yang berjudul ‘Perempuan yang Mencintai Still Got the Blues’. Dua buku itu sudah saya baca sebelum bergabung di penerbitan semi profesional itu.

 

Ketika bergabung, saya pun berkenalan dengan Erni Aladjai, teman magang yang sudah sering menulis cerpen, bahkan cerpennya sudah terlebih dulu diterbitkan oleh identitas sebelum dia bergabung di dalamnya. Sayangnya, saat itu, ekosistem diskusi buku belum aktif, kami masih konsentrasi belajar menulis berita, lebih banyak membaca koran Kompas dan edisi Majalah Tempo, sehingga tampaknya tak berlangsung diskusi-diskusi konstruktif mengenai buku-buku sastra. padahal, teman yang lain juga pecinta buku, seperti Gita Candra dan Suriana Anas. Saya sempat meminjam buku ‘Catatan Harian Anne Frank’ dari Gita.

 

Karena itu, saya pun mulai belajar menulis cerpen dan catatan harian yang bernuansa esai pribadi. Beruntung ada komputer identitas, yang biasanya saya pinjam di malam hari untuk menulis. Tak terasa, selama menjadi layouter, catatanku panjang juga, saya menulis tentang apa saja, sampai suatu waktu saya memiliki ide untuk membuat cerpen dan memuatnya di identitas atas izin secara rahasia oleh Redaktur Pelaksana (Redpel) saat itu pada 2006, Abdul Chalid Bibbipariwa. Padahal ada aturan untuk tidak boleh menerbitkan karya staf koran kampus. Saya betul-betul lupa judulnya, tapi inti cerpen itu tentang manusia kamar, yang membuat cerita tentang kehidupan seorang gadis, lalu gadis itu seperti hidup. Tampaknya, saat itu saya terpengaruh oleh Cerita Manusia Kamar Seno Gumirah, dicampur cerita Frankenstein karya Mary Shelley yang menghidupkan orang, dan kisah Rahwana yang menahan Sinta. Saya sempat tersipu, saat bertemu dua orang di koridor yang berbeda, menanyakan siapa identitas penulis cerpen itu, yang tentu hanya nama samaran.

 

Perbincangan tentang buku semakin menarik saat mulai akrab dengan Gunawan Mashar. Dia selalu bercerita tentang kisah ‘Seratus Tahun Kesunyian” karya Gabriel Garcia Marques, juga buku ‘Olenka’ karya Budi Darma. Dari Kak Gun inilah saya memperoleh dasar keterampilan jurnalistik, dalam menulis sebuah karya secara literer dan ‘human interest’ saat penggodokan di masa magang. Saya pun membaca buku ‘One Hundred Solitude’ dan beruntung dapat membelinya dengan harga murah, hanya Rp. 5000 di toko buku. Saya pun menemukan karya Budi Darma yang berjudul ‘Orang-Orang Bloomington’. Kedua karya itu membentuk dasar cara menulis, khususnya menulis kisah. Terbawa-bawa hingga kini, cerita deskriptif naratif, dialogis, bermuatan sejarah, politik, dan bernuansa magis.

 

Kesenangan tersendiri saat hari-hari terima gaji di identitas, kami beberapa orang reporter biasanya meluangkan waktu belanja buku di Gramedia. Keberuntungan saya sempat membeli dua buku jurnalistik bernuansa Sejarah karya Policarpus Swantoro, berjudul ‘Masa Lalu Selalu Aktual’ dan ‘Dari Buku ke Buku, sambung menyambung jadi satu’. Kedua buku itu saya sudah baca berkali-kali, pertama tentang peristiwa-peristiwa politik tahun 1970-1980 an, kedua tentang ilmuan-ilmuan Kolonial Belanda yang mengulas tentang dunia Sejarah, antropologi, dan politik. Kedua buku ini tentu mempengaruhi pola penulisan saya tentang peristiwa masa lalu selalu aktual, yang akhirnya saya pun pada 2020 dan 2021 menerbitkan “Gerundelan Peristiwa 1 dan Gerundelan Peristiwa 2/Corona dan Kebangsatan”.

 

Sayang sekali, karena tidak punya cukup uang, saya gagal membeli buku ‘Beautiful Mind’ karya Sylvia Nasar. Saya hanya membaca ala kadarnya di gramedia. Tapi saya melihat buku ini ada di shopee, akan saya beli nanti. Tahun berikutnya, saat menjadi redaktur, waktu membaca semakin banyak, pekerjaan sudah berkurang karena banyak diambil alih oleh tingkat di bawah. Saya pun mulai mencicipi karya yang bermuatan sains, yang saat itu lagi trend membaca karya Frintjof Capra. Saya pun membaca satu-satu, pertama ‘Web of Life – Jaring-Jaring Kehidupan’, kemudian’The Hidden Connetion’ dan ‘The Turning Point’, terakhir ‘Sains Leonardo’. Tahun sebelumnya, saya menemukan kisah Frintjof Capra dari Jurnal Balairung tentang Lingkungan. Serta membaca buku Karya Prof. Mappajtanji Amin tentang Paradigma Sains Baru, jjuga buku tentang paradigma Holistik Prof Radi A Gani yang bukunya tercecer di identitas. Lantaran itu, pada edisi khusus identitas tahun 2006, saya menyumbangkan esai berjudul, ‘Sampah dan Prinjof Capra’.

 

Karya-karya Capra ini membolak-balik pikiran saya, yang saat SMA dan awal masuk kuliah sudah paten, khususnya tentang agama, tapi saya membaca argumen-argumen ilmiah Capra di buku Hidden Connection menimbulkan bibit keragu-raguan tentang asal usul, sebab, penjelasannya lebih mendalam dibanding hanya paparan bukti dari Charles Darwin. Pemikirannya tentang kehadiran sesuatu dari ketiadaan atau autopoesis, memberikan suatu makna khusus tentang kehidupan.

 

Tahun terakhir di Identitas, saat saya bertugas jadi Redaktur Pelaksana (Redpel), menjadi tahun penuh tantangan. Pada tahun itu, 2008, saya sengaja mengambil cuti hingga satu tahun, agar bisa konsentrasi mengawal Koran Kampus identitas. Pada masa itu, saya memperoleh pengalaman memimpin organisasi, mengawal penerbitan, dan berkomunikasi dengan pihak-pihak eksternal, seperti rektorat dan pejabat kampus, para aktivis mahasiswa, serta terkoneksi dengan jejaring senior-senior. Pada masa ini saya beruntung didampingi oleh Koordinator Liputan (Korlip) yang gercap, yaitu Muhlis Dahlan, sehingga urusan-urusan penerbitan dapat dikelola secara profesional, sedangkan saya meluangkan waktu untuk komunikasi eksternal, sebab saat itu lagi hangat-hangatnya diskusi kampus terkait isu Badan Hukum Pendidikan (BHP) dan maraknya demonstrasi penolakan RUU BHP.

 

Terkait dengan buku, tahun 2008 itu juga menurutku tahun penuh kenangan, sebab kami menyelenggarakan ‘Identitas Book Fair’ yang cukup megah bertemakan isu lingkungan hidup. Jadi, area ‘pocci’ tempat kami menjual buku bersama kawan-kawan penerbit juga dihiasi tanaman dalam pot, juga kolam ikan di tengahnya, selain itu, dalam pembelian buku akan dihadiahi bibit pohon. Saya berterimakasih atas kerja keras panitia, dalam hal ini reporter tahun itu, ‘Dewi dkk’ dan magang ‘Anies dkk’. Setelah Book Fair usai, kami belanja buku untuk kebutuhan perpustakaan identitas sekitar Rp. 1 juta, saya meminta panitia untuk memilih buku dari yang tersedia untuk perpustakaan. Kemudian, pada akhir tahun, dalam penyelenggaraan Ulang Tahun Identitas, identitas mensponsori penerbitan buku ‘Api Curian Promotheus’, Kumpulan esai Ishak Ngeljaratan yang nama pena Dg. Pasau di koran identitas.

 

Di tahun itu juga saya tenggelam dengan buku ‘Rumah Kaca’ dan ‘Bumi Manusia’ Pramodya Ananta Toer. Buku filsafat belum terlalu, yang saya khatam cuma ‘Dunia Sofie’, begitu halnya dengan kajian sejarah, saya hanya terpapar P. Swantoro. Sebenarnya baru setelah saya selesai di identitas, yaitu tahun 2009, saya berkenalan dengan dunia filsafat dan Sejarah, dengan buku filsafat Murtodha Muttahari, Frans Magnis Suseno, F. Budi Hardiman, Setyo Wibowo, Bagus Takwin, hingga Donny Gahral Adian. Kumpulan esai terbaik karya Goenawan Mohammad, Mahbud Djunaedi, Jalaluddin Rachmat, Abdurrahman Wahid (Gusdur), Dhaniel Dhakidae baru pada 2010, setelah saya bekerja di Jakarta pada 2010-2011. Walaupun Kumpulan esai Radhar Panca Dahana dan Sritua Arif sudah saya baca sejak redaktur tahun 2007 dan catatan Amien Rais pada 2008. Sebenarnya, saya agak menyesal baru berkenalan dengan mereka diujung kuliah dan banyak bahkan setelah menganggur sepulang dari Jakarta.

 

Meski begitu, iklim akademis dan intelektual sudah terbangun sejak menjadi reporter-layouter di koran kampus identitas. Saya memiliki kepercayaan diri untuk menulis secara jujur hal-hal apa saja yang saya yakini adalah kebenaran berkat lingkungan kepenulisan di identitas, dengan beragam rutinitas dan perayaan, seperti identitas book fair, diskusi buku, pelatihan menulis, menjadi pemateri di beragam fakultas, mendengar cerita-cerita para guru seperti Ishak Ngeljaratan, Kak Alwy Rachman, Kak SM. Noor, kak Dahlan Abu Bakar, Supa Athana, Gunawan Mashar, iklim-iklim itu yang justru saya rindukan sekarang, hidup di kota kecil dengan kehidupan literasi yang terbatas.     

 

Tulisan ini telah terbit di Buku Kenang-Kenangan para alumnikoran kampus identitas.



0 komentar:

Next Posting Lama
Buku-Buku dan Kenangan di Koran Identitas Unhas