semoga blog ini dapat menjadi media inspirasi informasi berguna dan sebagai obat kegelisahan..

Tambah Ilmu Kepiting di Takisung


Tak salah kiranya pepatah yang mengatakan bahwa hijrah itu dapat merubah hidup. Formula ini sudah dipermantap oleh kanjeng nabi Muhammad SAW saat hijrah ke Yastrib (Madinah), di kota korma itu nabi mendapat sambutan meriah, sekaligus dapat memanej ummat menjadi lebih kokoh. Adagium besarnya yaitu, “jika kamu hijrah untuk menemukan Allah, maka kamu akan mendapatkan Allah. Dan jika kamu hijrah untuk mendapatkan istri, kamu akan mendapatkannya.” Ya, Muhammad sendiri sudah mewanti-wanti bahwa segala sesuatu tergantung niat. Jadi mulailah sesuatu dengan niat yang baik...

Tampaknya, hukum alam sekaligus hukum tuhan yang ditemukan nabi itu berlaku pula di sini. Makanya saya hendak melaksanakan hukum tersebut, dari induksi ke deduksi. Apakah betul hukum tersebut berlaku pula pada diri dan lingkungan saya? Menjawab hal itu, mau tak mau saya harus mulai dengan satu niat, pelajari kepiting...

Ampuh juga niat tuh, semangat program studi kembali membuncah dalam dada saya, bukan lagi dalam hal arogansi organisasi, tapi bersangkut paut dengan penemuan kembali ilmu budidaya tersebut. Yang sebelumnya terombang-ambing dalam samudera pikiran, kecamuk hati. Berbekal dengan sedikit acuan analisis, saya memberanikan diri ke Takisung ini. Tapi, kalau dalamannya kurang, saya tak luput terhadap ancang-ancang lain. ya, taktisinya dengan tekun belajar memanfaatkan waktu yang dikit ini. Konkritnya saya bawa banyak buku perikanan ke Takisung sini, dan belajarnya ya di sini..

Buku yang saya bawa adalah buku-buku dasar, seperti Biologi Laut, Laut Nusantara, Budidaya Perairan, yang lain adalah selingan macam Genetika, dan dua novel terjemahan. Buku-buku laut dan ikan itu baru kali ini saya serius tengok-tengok. Sebelumnya, lihat sampulnya saja sudah malas, apalagi baca isinya. Hehe...

Selain santap pelan-pelan buku itu, saya juga lakukan pengamatan langsung. Ya, mengamati tingkah laku senior saya, Kak Alam yang sudah jago soal kepiting. Saya belajar banyak sama dia, jadi temukan banyak hal baru sama orang Barandasi Maros yang terlihat tekun ini.

Pelajaran Pertama, yaitu penanganan awal kepiting. Di takisung sini saya baru pertamakali lihat empat jenis kepiting bakau secara bersamaan. S. olivacea, S. Serrata, S. Parammosain, S. Transqubarica. Empat jenis kepiting itu pun baru saya dapat bedakan, kalau olivacea yang biasa disebut kepiting merah duri antara tangkai matanya tak tajam, Serrata tampak tajam, Parammamosain berduri tajam dan berwarna hijau, sementara Transqubarica juga berwarna kehijauan tapi duri antar tangkai matanya tak setajam paramammosain.

Pembedaan spesies itu berkait dengan biologi kepiting, khususnya morfologi. Ya, hal ini penting dipahami, setahu saya daya hidup, laju molting, pertumbuhan dipengaruhi pula oleh perbedaan spesies. Sebab, perbedaan itu menunjukkan perbedaan habitat. Perbedaan habitat memastikan perbedaan fisiologi tadi. Sehingga dalam kondisi tertentu pada media budidaya, ada yang mampu bertahan karena sesuai dengan habitat alaminya, ada yang mesti adaptasi sebentar, ada pula yang tak lama saja bertahannya. Tentunya, ini berguna dalam operasional budidaya, kita dapat memastikan spesies mana saja yang cocok untuk tambak model seperti ini atau seperti itu.

Misalnya, kepiting merah (S. olivacea) punya daya tahan lebih pada salinitas rendah, lantaran sesuai dengan habitat alamiahnya, biasa hidup pada sungai-sungai yang kadar intrusi pasang surutnya rendah. Hal lain yang sedikit saya pahami adalah kepiting jenis transqubarica, dimana proses pengerasan kulit pasca molting lebih cepat dibanding kepiting lain. menyangkut hal ini, teknisnya biasa para pekerja sontak membenamkannya dalam air tawar untuk mengurangi laju pengerasan..

Pengetahuan biologi berikutnya adalah identifikasi kepiting yang tak layak ditanam di media budidaya (box crab, red). Saya sekadar memperhatikan Kak Alam kasak-kusuk menyortir kepiting. Matanya tajam, jemarinya lincah, otot lengannya kuat. Perpaduan kecerdikan alami itu membantunya menyeleksi kepiting sesegera mungkin. Sesekali ia menggerutu sendiri, lalu berceloteh tentang masalah yang dihadapi. Ringkas tapi jelas, perpaduan akan ketakjuban baru dan pengetahuan sebelumnya yang sudah seperti bukit (khusus kepiting).

Pengetahuan bologi khusus yang berkaitan dengan alam adalah selera makan dan molting. di sini saya baru tahu bahwa kepiting itu doyan makan kalau mendapat pasokan air baru, menurut Kak Alam, ini sesuai dengan kebiasaan makan di habitatnya, dimana kepiting rakus makan saat terjadi pasang (air tinggi). Ilmu yang lainnya adalah molting, di sini juga saya paham bahwa kepiting biasanya ramai-ramai molting pada saat menjelang bulan gelap dan bulan terang. Lagi-lagi sesuai penerimaan warna dan panjang gelombang yang sesuai dengan gejolak fisiologis dalam tubuh kepiting yang sudah masuk fase premolt.

Melihat itu, saya bengong-bengong saja, apalah saya ini yang meski sudah bergelut dengan dunia kepiting beberapa bulan lalu, tetap saja selalu merasa kosong. Mungkin, baru jempol saya yang menembusi dunia mahluk berkerapas itu. So, tampak bodoh saja jadinya.

Dari aktivitas senyap itu, saya menyerap beragam identifikasi. Sebut saja, bahwa kepiting yang tak boleh diambil adalah kepiting yang warnanya sudah pucat, kadang kemerah-merahan, kehijau-hijauan, atau berwarna buram. Selain itu, kepiting yang terjangkiti parasit seperti bola permen karet putih menggantung. Yang lain adalah kepiting yang sudah lemas tak bertenaga, kepiting yang copot capit-capitnya, kepiting yang kaki renangnya (preopoda) kurang aktif. Di samping kepiting yang telah bertelur, bisa diamati dengan mengintip cela antara kerapas punggungbelakang. Sebab, jika telah bertelur, yakin saja bahwa kepiting tersebut tak akan molting, so percuma saja diperlihara. Sebaliknya, kepiting betina yang hendak dewasa, maksudnya sudah masuk dalam fase menginjak masa perkawinan justru mengalami percepatan molting. Apalagi jika disandingkan dengan kepiting jantan dewasa di sisinya, dalam satu kamar bo.. yah pastinya kepiting-kepiting itu berasyik masyuk melepas karapasnya.

Mengamati kanda menyortir, saya pun dapat tambahan ilmu dalam hal memilih kepiting yang sudah hendak molting, jadi masa pemeliharaannya menjadi lebih singkat. Teknisnya tinggal menerawang kaki renangnya, apakah kepiting itu sudah masuk dalam fase premolt atau belum. Premolt adalah masa persiapan molting pada kepiting. Biasanya, jika fase ini sudah tiba, kepiting pada malas makan. Jadi tak usahlah diberi pakan. Kalau menurut pengalaman petani tambak kepiting Takisung yang lain, dapat diamati para retakan punggung jika dipencet, khususnya pada sisi epimeralnya. Hipotesis lain datang lagi dari Kak Alam, bahwa premolt dapat dikenali dengan melihat warna di preopodanya, yaitu agak kemerah-merahan. Tapi, barusan diralat kembali olehnya karena beberapa kepiting yang preopodnya demikian juga termasuk lambat molting.

Setelah disortir, barulah diadaptasikan atau aklimatisasi, yaitu proses pengenalan kepiting terhadap habitat barunya. Memperkenalkan aroma airnya, kandungannya. Pengenalannya pun perlahan-lahan, supaya hewan itu tidak kaget kemudian ngambek hidup. Aklimatisasi diawali dengan memercik-mercikkan air ke badan kepiting, menyiramkan air tambak sedikit demi sedikit. Setelah dua tiga kali, kemudian di celupkan ke dalam tambak sekian detik, angkat dan celupkan lagi. Jangan direndam terlalu lama, karena bisa saja ia kehilangan keseimbangan dan membiarkan dirinya hanyut (sulit adaptasi, osmoregulasi).

Tentunya sebelum adaptasi, terdapat perlakuan khusus pada saat pengangkutan atau saat transportasi. Baiknya, bibit budidaya kepiting lunak itu tak dibiarkan mengalami kekeringan. So, sebelum diberangkatkan dari pusat pengumpulan bibit, terlebih dahulu dibasahi dengan air laut, ditempatkan dalam styrofoam yang dihujani banyak lubang-lubang kecil di sisi kanan, kiri dan bawahnya. Pada bagian atas, punggung kepiting-kepiting itu dilapisi oleh lap atau baju basah. Setelah bagian atasnya ditutup, juga dilapisi oleh terpal untuk menahan sinar matahari langsung ke styrofoam. Untuk antisipasi, sebaiknya disiapkan sebotol dua botol aqua air laut atau payau yang tutupnya dilubangi. Sehingga dalam perjalanan dapat disemprot-semprotkan.

Pelajaran kedua adalah perlakuan. Maksudnya tingkah laku kita terhadap kepiting. Saya rasa pemahaman ini sangat berharga, karena selain menyayangi sesama mahluk tuhan, juga dapat meminimalisir gejala stress pada kepiting. Kalau kepiting sudah stress, keseimbangan fisiologis tubuhnya pun terganggu, sehingga daya tahan tubuhnya menurun, memberi peluang terhadap parasit, virus, dan fluktuasi kualitas air untuk menerobos dan merusakkannya dari dalam. Saya juga punya keyakinan bahwa, segala sesuatu yang diperlakukan baik pasti akan menghasilkan efek baik. Seperti hukum alam, kodrat atau geraknya Isac Newton “aksi dan reaksi”. Reaksi tergantung aksi yang diberikan. Hukum ini meliputi segala sesuatu yang eksistensi di alam raya, dimana pun ia berhimpun.

Sesuai premis awal kita bahwa segala sesuatu tergantung niat. Karena dalam alam ini saling kena mengenai, antara logika dan mistik, rasio dan spritualitas, Abstrak dan konkrit. Kalau dicermati lewat kacamata indra memang tak sesuai, karena hukum yang berlaku bukan hukum alam an sich, tapi hukum tuhan yang terselubung dalam gelombang-gelombang mikro, partikel-partikel halus yang tak mampu kita tangkap. Kadang, sesuatu yang kecil dapat berefek besar, atau yang besar berefek kecil. Maklum saja, bahwa realitas yang kita ketahui adalah realitas yang sesuai dengan kita, jadi yang tak sesuai dilenyapkan saja. Sehingga yang tampak sembenarnya realitas bentukan kita atau yang berhasil kita tangkap, belumah realitas yang sebenarnya.

Penjelasan panjang lebar ini berkenaan dengan perlakuan kita terhadap kepiting. Yang dalam dimensi ruh saling terhubung. Karena pada dasarnya kita ini satu, diciptakan dari satu sumber. Kalau menurut Darwin ya dari satu nenek moyang, berangkat dari perjalanan sejarah yang begitu panjang, sehingga apa yang ada dalam kepiting juga ada dalam diri kita. Sementara menurut Muhammad SAW, bahwa semua ciptaan itu hidup, menyembah kepada tuhan. Ini terangkum jelas dalam kitab suci, bahwa gunung, lautan, matahari, serta segala benda menyembah kepada-Nya. Muhammad saw saja, menamakan benda-benda kecintaannya dengan nama yang indah, sebut saja Sulfikar, pedang nabi. Menyimak hal ini, pedang saja kok disayang-sayang, apalagi kepiting, mahluk hidup yang gunanya juga besar untuk kehidupan manusia.

Banyak pula hal baru yang didapatkan. Tapi, nantilah saya uraikan hal-hal baru itu. Ok bro...

Idham Malik
10 Juni 2009





0 komentar:

Tambah Ilmu Kepiting di Takisung