semoga blog ini dapat menjadi media inspirasi informasi berguna dan sebagai obat kegelisahan..

Cerita Liar tentang Negeri Timur Leng


Memang enak tinggal di hutan. Apalagi kalau pikiran lagi kacau, uhh semua akan lebur di sana. Cair, leleh, hangat, lembut bercampur baur. Perjuangan, kemandirian, kegetiran bergelut dengan alam liar. Meretas asa dalam kesendirian. Mencoba lari dari kebisingan, riuh, dan teriakan orang-orang. Melepas beban, seraya lupa pada penantian layla pada majnun. Seperti bingkai yang melukiskan Shirin yang menatap Husrev dari balik jendela yang tertutup salju. Salju yang bening, bercahaya, lalu jatuh. Husrev yang menunggang kuda dan hendak minggat dari distrik. Mata mereka bertemu, cukup lama. Sampai akhirnya Husrev berpaling dan memacu kuda putihnya menuju cakrawala. Perpisahan yang risau, perpisahan yang tak dikehendaki. Karena cinta tanpa kekuatan tak akan berdaya.

Pernah juga cerita dari negeri di timur leng. Seorang raja yang mendekati uzur meminang seorang gadis cina yang cantik jelita. Raja itu memiliki seorang putra, putra yang hebat dalam perang, penasehat ulung dan sering mengusulkan ide-ide cemerlang. Waktu berjalan, belakangan sang pemuda ternyata diam-diam jatuh cinta kepada ibu tirinya. Ibu yang sebenarnya umurnya tak beda jauh dengan dirinya. Gadis cina yang sering ia hayalkan dan mimpikan saban malamnya. Sampai pada suatu senja ia memberanikan diri mengungkapkan isi hatinya. Semerbak wewangian bertaburan pada pakaiannya. Setangkai bunga mawar ia selipkan di kantong celananya. Ia menghadang kereta ibunya di tengah perjalanan, sebelum masuk di gerbang istana. Dengan tertunduk sambil berlutut, ia menunggu sang ibu muncul dari balik tirai keretanya. Kereta yang saat itu hanya ibunya saja, tanpa didampingi sang raja. Dadanya tegap saat ia menyatakan cintanya. Cinta yang tak biasa. Cinta yang tak ditakdirkan. Ibunya malu tersipu-sipu, mukanya masam, lalu kembali menutup tirai keretanya. Roda kereta bergerak, semakin kencang meninggalkan putra mahkota dengan debu-debu yang berterbangan.

Selir menceritakan kejadian itu pada sang raja. Putra mahkota akhirnya diasingkan, dikurung dalam rumah tahanan. Hari-hari putra mahkota dihabiskan dalam ruang itu. Ia hanya ditemani seorang penjaga. Penjaga yang ternyata mahir melukis dalam diam. Ia pun mencoba melukis pada malam-malamnya. Ia pun mulai membuat ilustrasi dengan iluminasi-iluminasi yang menyayat hati. Ia melukiskan hatinya yang patah, melukiskan wajah ibu tirinya yang mulus, yang menawarkan kebeningan. Ia melukiskan kesepiannya. Ia melukis dengan emosinya, dengan mata hatinya. Kuas di jemarinya menari, bergoyang-goyang. Menggores-gores dengan tekun, penuh ketelitian. Lukisan yang dibuat ditemani air mata yang berderai-derai. Lukisan yang jika ditatap membuat hati kian terbuka, seperti melihat kesunyian yang tampak. Seperti malam-malam tanpa angin. Seperti burung merpati yang kesepian dalam kurungan, tanpa teman, tanpa cinta.

Pagi yang cerah. Pagi di mana daun-daun murbei berguguran. Sementara meranggas, mencoba bertahan hidup di kala gersang. Mengorbankan organ, mengurangi beban. untuk memperoleh zat bernama oksigen. Sang raja datang bertandang, mengetuk-ketuk pintu yang terbuat dari jati. Pembantu membiarkannya masuk, membiarkannya menatap sekeliling rumah, rumah yang sebenarnya tak layak dihuni seorang putera mahkota. Ia kemudian mengkorek-korek sesuatu, membongkar-bongkar bungkusan. Mengamati setiap lembar kertas, perkamen. Di antara kertas-kertas itu ia melihat wajahnya yang masam, yang lagi cemberut. Ia dalam lukisan itu sementara meremas-remas janggut dengan tangan penuh darah. Nampak angkuh dengan Mata merah menyala seperti mengeluarkan api. Tampak embun putih dari dengusan di kedua lubang hidungnya. Sang raja lalu mengurut-urut dada.

Raja masih diam dalam kebingungannya. Merasa bersalah atas prilakunya. Ia pun mengamati lukisan lain. Pada lukisan itu tampak wajah istrinya. Wajah yang cerah. Mata sipit dengan bulu-bulu lentik. Batang hidung yang mancung, meluncur landai dari pangkal hingga ujung. Dengan dahi yang sempit. Lukisan yang sangat mirip dengan aslinya. Sang raja kemudian berfikir, apa yang membuat putranya menjadi begitu telaten, begitu detail dalam menggores lekukan-lekukan wajah gadis cinanya. Apakah mata hatinya kian terbuka, hingga ia dapat melihat istrinya dalam kelam. Atau malah putranya telah terus menerus membayangkan istrinya sepanjang waktu. Saat putranya merenung di atas kasur yang penuh dengan kutu busuk, ketika duduk di kursi goyang sambil mencicipi hidangan bubur ayam yang dibuat penjaga.

Putra mahkota yang tak punya aktivitas lain selain berbaring, bersantai di kursi goyang, kemudian melukis sepanjang hari. Busana hitamnya yang terbuat dari kain beludru sudah luntur dan nampak pucat, mengeluarkan aroma lumut. Garis wajahnya makin tegas, wajah yang diam, dengan mata yang terus terbuka, menatap dedaunan yang gugur atau awan-awan yang bergoyang. Dahinya mengkerut saat mengingat tirai merah kereta ibunya tertutup, membuat wajah ibunya nampak samar-samar. Ia pun terus berhalusinasi, menghayalkan ibu tirinya berada di dekapannya, sedang mengecup dahinya kemudian bermain cinta di atas ranjangnya yang kotor dengan remah-remah roti berserakan. Menghayalkan ia bersama gadis cina itu di atas pelana. Menyusuri padang rumput menguning. Kedua tapak kakinya menggenjot bokong kuda, sebelah tangannya melingkar di perut ramping ibu tirinya. Hal itulah yang membuatnya sesekali tersenyum.

Putra mahkota memungut kembali semangatnya saat mempelajari cara melukis dari penjaganya. Memorinya ia pusatkan menjadi partikular, melingkar membentuk ruang episentrum. Ia kemudian menggoreskan isi hatinya, semangatnya yang lenyap, sebuah wajah yang garang didampingi wajah yang kemilau. Wajah yang membuat orang tersenyum dan terpesona akan kecantikannya.

Sang raja tak tahu kalau putranya sudah bersiap di belakangnya. Putra yang sementara bersungut-sungut, mendengus-dengus. Saat raja berbalik, pandangannya jadi gelap, ia lalu tersungkur. Jubah kembang-kembangnya jadi merah, perutnya bocor dengan belati yang bercokol merobek lambungnya. Ia tak dapat berucap sepatah kata pun, pikirannya kosong, nampak kebingungan. Matanya menerawang, tak berkedip dengan tatapan tajam ke wajah putranya. Wajahnya pucat dengan mulut yang tetap terbuka sampai napas terakhirnya putus. Sementara putra mahkota, dengan wajah dingin kemudian tersenyum kecut, lalu tertawa. Tawa yang girang, keras dan membuat bulir-bulir air matanya jatuh. Tawa yang untuk pertama kalinya terdengar di ruangan itu. Tawa yang memecah kesunyian, penuh kemenangan.

Idham Malik,
2007



0 komentar:

Cerita Liar tentang Negeri Timur Leng