semoga blog ini dapat menjadi media inspirasi informasi berguna dan sebagai obat kegelisahan..

Berbagi Cerita tentang Teater Ali Topan


Adakah cahaya berasal dari kekuasaan? Tepatnya kekuasaan yang berangkat dari kelebihan materi, dimana segala-galanya sudah mudah di beli dan dijajaki. Dalam kategori kekuasaan ini, kita tidak berbicara ranah pemerintahan, negara atau dinasti-dinasti, tapi kekuasaan di dalam rumah, dalam sebuah keluarga. Yah.. setidaknya cahaya itu bernama Ali Topan, tokoh imajinatif Teguh Esha, pengarang novel legendaris “Ali Topan Anak Jalanan”.

Novel yang ngetop dan telah difilmkan pada pertengahan tahun 80-an ini berkisah tentang pemberontakan seorang pemuda bernama Ali Topan, terhadap penindasan moral yang dilakukan oleh orang tuanya, guru di sekolahnya, dan juga para orang-orang dewasa yang ‘sok’ berkuasa. Ali Topan anak orang kaya, cerdas, menyukai musik (Beatles, Bob Dylan, Koes Bersaudara, hingga sajak-sajak Rendra), namun kehidupannya lebih banyak habis di jalanan. Bersama ketiga sobat karibnya, ia nongkrong di jalan-jalan Jakarta, mengisi waktu bersama orang-orang kecil (pengamen, pengemis, pedagang asongan, hingga pelacur), iseng mengganggu orang berpacaran di taman lawang, babak belur ketika berkelahi dengan seorang perampok di sebuah terminal. Ia, berprilaku Hippyes, hidup di jalanan adalah kebebasan, kedamaian, sesuai dengan tipikal pemuda tahun 60-an yang sudah benci perang, amuk terhadap gaya romantik dan klise, dan memilih luntang lantang menikmati lagu Bob Dylan sembari menghisap candu.. Ohh..

Dan, pada Sabtu malam itu, 16 April kemarin, Ali Topan tampil lagi di Gedung Graha Bakti Budaya/Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan wajah dan konsep berbeda. Kini ia berwajah teater musical, dimana para aktor aktrisnya berdialog dengan melantunkan syair, suasana diterangi permainan cahaya dan grafis, pentas digerakkan dengan perubahan-perubahan setting seketika. Dan tentu, musik setia menemani, lirih dan gemuruh, sesuai suasana hati cerita yang dipertunjukkan. Penonton pun duduk rapi di balkon dan ruang utama. Tak berbicara, mungkin berbicara dengan dirinya sendiri. Tak ada riak, semua mata tertuju pada lampu sorot, semua telinga dengan cermat menikmati dialog merdu para pemain, yang lebih bernada lirih, dan barangkali tragik.

Syahdan, dalam cerita versi teater ini, Ali Topan yang diperankan Dendy Mulya Pasha Hamid (mantan vokalis Kunci) lebih masuk ke ranah konflik, suasana selalu tegang. Cukup berbeda dengan versi film 80-an-nya yang terkesan kocak dan komikal. Malam itu, sehabis para pemain bernyanyi dan menari bersama di sebuah panggung berlatar pinggir jalanan, dengan gaya tari yang dipoles kontemporer, adegan dimulai dalam sebuah rumah mewah, perabot, sofa mahal dan sebuah pojok kamar yang dindingnya bertuliskan “This is a House, not Home”, itulah kamar Ali Topan.

Dalam adegan itu, Mbok Iyem dan Ujang si pembantu rumah kebingungan menghadapi pertengkaran Ayah dan Ibu Amir (orang tua Ali Topan), rumah pun digambarkan ingin rubuh dengan teriakan dan makian dua orang dewasa itu. Tiba-tiba Ali Topan datang, menghardik mereka berdua. Tingkah anak muda itu sontak dicap kurang ajar, lantas dirubungi dengan ceramah kasar kedua orang tuanya. “Monyet,” kata sang ayah.. Dan.. Ali Topan cuma berkata, “kalianlah yang mengajarkan tindak kurang ajar ini”.. Topan merasa kesal dengan ayahnya yang cuma mementingkan bisnis kotornya serta selalu pergi pagi dan pulang pagi lagi, lebih memilih bersama gadis-gadis muda yang selalu ia cabuli di banding berbagi kasih dirumah mewahnya. Di lain pihak, ibunya lebih mementingkan kelompok arisannya, yang berisi tante-tante girang, yang selalu memesan “gula-gula”/gigolo untuk dinikmati sebagai hadiah arisan. Dalam potongan adegan ini, sutradara menggambarkan keluarga kaya namun tak bahagia, kasih melempem, membuat Ali Topan merana sendiri, kehilangan cinta kedua orang tuanya.

Kemudian, di Jalanan itu ia mendapatkan cinta yang lain, dari seorang perempuan kaya bernama Anna Karenina/diperankan oleh Kikan Namara (mantan Vokalis Cokelat). Namun, Anna anak seorang bangsawan yang kaya dan angkuh, ia pun tak bebas keluar rumah sekadar untuk menemui sang pujaan hati, Ali Topan. Hingga tiba pada sebuah pesta ulang tahunnya, yang sebenarnya tak disenangi Anna lantaran terlalu megah dan hanya diperuntukkan untuk kawan sejawat orang tuanya saja. Pesta itu pun dirancang oleh Boy, lelaki yang dengan ketat menjaga Anna, Boy berlagak ingin melindungi Ana dari anak-anak yang dianggap tidak beres itu, padahal dia sebenarnya menginginkan Anna lantaran kecantikan dan warisan kekayaannya kelak. Lelaki picik.! Pada pesta itu, Anna sedikit bersemangat, karena ia mendengar kabar kalau Ali Topan akan datang. Namun sayang, Ali yang tiba dengan suara motor yang meraung-raung itu dengan kasar diusir oleh orang tua Anna. Dan.. konflik pun kian menanjak..

Cerita berikutnya, Anna lari dari rumah dan menemui Topan di jalanan. Mereka berdua pun sepakat pergi menjauh dari kekuasaan para orang tua. Ali Topan berkata, ”cinta pun ingin mereka kuasai, ingin mereka urus-urusi”, dimanakah letak kebebasan itu ? kemerdekaan itu ? apakah hati juga harus tergadai oleh aturan-aturan, tradisi, atau pun keinginan orang tua ? polemik dalam diri hadir menggejolak dan ternyata ia menangkan sendiri. Mereka menuju pantai, dan berkasih-kasihan di sana, kebebasan hadir, rasa aman dan damai ada pada diri masing-masing. ”Saya merasa aman di dekatmu Ali Topan”,,, percikan ungkapan cinta dua orang yang sudah terbiasa hidup dalam kungkungan keluarga. Musik mengiringi gejolak hati, nada-nada syahdu gemuruh cinta. Yang terlepas, seperti garuda yang terbang bebas, atau seperti lumba-lumba yang berenang lincah nan anggun.

Dan., kisah ditutup dengan adegan tragik, Ali Topan di tahan polisi karena dituduh telah melarikan Anna dan dianggap menyembunyikan narkoba. Sementara Anna Karenina, sepi sendiri dalam penjara kamarnya. Hidup mewah namun serasa seperti boneka, tak ada kehendak, tak ada kebebasan, segalanya sudah diatur oleh orang tua, mulai dari sekolah, teman pergaulan hingga.. cinta.! Dan, ia pun memilih mati.. itulah mungkin satu-satunya jalan menuju kebebasan.!

Rasa sedih bergumul, dan pentas selesai. Aritulang sang sutradara memberi hormat. Sepertinya, saya tak ingin beranjak, rasa seperti masih tertinggal di panggung itu. Kepuasan memuncak, diri dikembalikan lagi ke yang hidup. Mungkin, teater ini tidak membuat kita semakin cerdas atau semakin berani, tapi setidaknya dapat memberi kita ‘rasa’. Yang barangkali sudah tergerus oleh kebiasaan-kebisaan keseharian. Rutinitas sehari-hari yang membuat kita jadi beku, tak peduli terhadap kasih dan sayang. Bahwa ternyata dalam diri kita terdapat samudera yang tak bertepi, cinta yang melampaui tubuh. Bahkan merelakan tubuh. Cinta pun bebas dan tak kalah. Kerena cinta tak pernah kalah, mungkin hanya pura-pura kalah..

Sabtu Pagi, 23 April 2011



0 komentar:

Berbagi Cerita tentang Teater Ali Topan