semoga blog ini dapat menjadi media inspirasi informasi berguna dan sebagai obat kegelisahan..

Gerak Cinta Gunawan, Dari ‘Manu-manu’ hingga Mappetuada’

Terik siang itu menemani langkahku menuju Duren Tiga, halte pemberhentian menuju Kosan Mr Gunawan M, Saudara Tua seperguruan di identitas Unhas. Pada Sabtu 2 April itu, adalah hari terakhir buat persiapan menjelang acara lamaran atau Mappetuada ke Cempaka Putih, kediaman Aci, calon mempelai perempuan yang selama ini menjadi kekasih setia Bang Gun. Kekasih yang menemaninya sejak 2008 silam, dengan segala lembah gunung perjalanan cinta hingga tiba di gerbang perkawinan yang waktunya tak lama lagi.

Siang itu, Kak Gun sudah bersama dua saudaranya yang sengaja dikirim langsung dari Makassar untuk diperkenalkan pada acara lamaran itu. Namanya Eni yang perempuan dan Emi (laki-laki) yang paling bungsu. Di kamar 22 itu kami berkelabat kata tentang apa saja, baik itu tentang lagu, lirik, hingga karya sastra. Perbincangan yang tak asing bergaung di kamar lantai dua ini. Dalam kemeriahan yang diselingi ketawa-ketiwi itu, sesekali kak Gun tampak gelisah. Gelisah terhadap kelangsungan nasibnya pernikahannya yang tinggal menghitung hari.

Pernikahan Bugis mesti dilaluinya untuk mempererat tali persaudaraan antar keluarga kedua mempelai. Tradisi pernikahan dengan melibatkan rentetan tradisi dan interaksi antar anggota keluarga besar masih dianggap sakral dan tentu mengandung nilai dan pengetahuan. Nilai inilah yang hendak dipertahankan, ditengah kecamuk modernitas yang tak jelas arahnya. Setidaknya, dari ritual-ritual ribet ini dapat menjadi ajang silaturahmi antar keluarga, sehingga dapat saling memahami satu sama lainnya. Dengan begitu, tak ada lagi prasangka setelahnya, tak ada lagi tipu muslihat, karena dalam rangkaian ritual itu semua sudah diperlihatkan, sejak dari bibitnya, bobotnya dan bebetnya..

Dengan segala ketenangannya itu kak Gun menjalani fase kehidupan ini, dengan mengorbankan sesuatu yang lebih bersifat material, tenaga, pikiran, dan juga melibatkan sekian banyak kenalan. Tapi cinta pada materi itu terkalahkan terhadap cinta pada yang berdegup, pada yang tersenyum dan menyenangkan hati. Jadi, cinta mengalahkan cinta, cinta ini lah mungkin kelak akan melahirkan pundi-pundi baru yang tak bernyawa itu. Di sini, saya tidak memandang duit digunakan untuk membeli gadis dari orang tuanya, tapi kebalikannya, duit telah kalah terhadap energi kebersamaan dan kenangan itu.. kenangan selalu menjadi tema perbincangan besar saya dengan kak Gun, bahwa yang menjadi basis kehidupan kita adalah kenangan.. apaguna hidup tanpa kenangan... Dan kenangan akan berbunga indah jika bersama kekasih kita tentunya.. hehe..

Pada Sabtu malam itu, saya dan Kak Gun bergerak ke rumah Najwah Abdullah, adik Husein Abdullah untuk bertemu dengan Prof Faisal Abdullah, staff ahli kementrian olahraga yang menjadi wali utama Kak Gun untuk berhadapan dengan orang tua dan keluarga besar Aci. Sebentar saja kami di rumah yang mewah itu, untuk segera bertandang ke Cempaka Putih, kediaman Aci, untuk melanjutkan ritual ‘Manu-manu’. Ritual ini merupakan rangkaian persiapan lamaran atau mappetuada, dimana pelamar dan walinya mendiskusikan dengan alot tentang proses lamaran nanti, serta tetak bengek perlakuannya. Pada sesi ini pun akan terlihat kekuatan keluarga pelamar untuk mempengaruhi keputusan keluarga yang ingin dilamar. Intinya, manu-manu ini untuk lebih meyakinkan keluarga besar mempelai masing-masing, bahwa mereka tidak salah pilih menantu, bahwa menantunya ini juga setara atau melebihi kadar nilai keluarganya. Begitulah tafsiran sederhana saya, yang juga orang bugis namun tak terlalu mengerti bugis.

Kami menyusuri lorong-lorong sempit nan ramai, kendaraan berkumpul dan macet. Dalam keriuhan itu, Prof Faisal mengangguk-angguk tenang, “besok kita undang Andi Puang Baukuneng, anak dari A. Bau Massepe’ pahlawan bugis asal Sidrap. Orang tua ini pernah menjadi penasehat spiritual Presiden Habibie dan Wakil Presiden Jusuf Kalla dulu..,” ungkapnya. Saya duduk di belakang dan menjadi pendengar saja, tapi saya yakin akan banyak hal menghebohkan akan terjadi besok.. hehe..

Keluar dari gang-gang itu, mobil langsung memutar masuk ke jalan cempaka putih tengah. Akhirnya tiba di depan rumah Aci yang sudah tampak ramai oleh kedatangan keluarganya dari Sidrap, Sulawesi Selatan. Kursi-kursi plastik telah berjejer rapi di halaman rumah, bapak-bapak dan pemuda-pemuda tampak duduk santai, merokok dan menikmati hidangan kue di atas meja plastik. Di depan saya terlihat juga anak-anak kecil keluar masuk rumah main kejar-kejaran. Orang-orang ini adalah sepupu-sepupu dan paman Aci. Saya pikir, tradisi ini juga menjadi momentum penting untuk merekatkan tali persaudaraan dalam keluarga besar itu. Kalau tak salah, sekitar 30 keluarganya datang, mulai dari nenek, paman, tante, sepupu, dan mungkin keponakan-keponakan.

Saya duduk di ujung kursi, sembari menunggu kunjungan manu-manu itu usai. Prof Paisal dan Kak Gun sudah duduk beralas karpet di ruang tamu, menghadapi orang tua Aci beserta paman-pamannya. Mereka lagi membincangkan konsep acara besok. Saya melihat raut wajah paman-paman itu, datang satu persatu masuk dalam ruang tamu. Terlihat begitu tegang, leher meninggi, dan mata tajam. Seorang paman terlihat menerawang ke pepohonan sebelum masuk ke ruang itu. Tampaknya, perbincangan malam ini akan menjadi keputusan final terhadap belitan konsep acara lamaran dan perkawinannya kelak.

Beruntung, Kak Gun mendapatkan wali yang tepat, yakni Prof Faisal, dosen hukum ini cukup lihai dalam memainkan situasi dan perdebatan. Kondisi psikologis keluarga calon kak gun dengan mudah ia kuasai. Maklum, beliau adalah guru besar bidang hukum yang memang keahliannya dalam bidang debat kata-kata. Orang bugis itu harus dibesarkan dengan kemegahan, serta deretan orang-orang berpengaruh, karena disitulah letak harga dirinya. Apalagi keluarga Aci ini merupakan keluarga besar di Sidrap, saudara-saudara bapak dan ibunya banyak menjadi pejabat pemerintahan di daerah itu.

Sehingga, waktu dalam negosiasi malam itu, langsung saja ia mengatakan bahwa pihak GM ingin mendatangkan A. Baukuneng. Ayah Aci senang mendengar nama besar itu, wajahnya sontak cerah lantaran rumahnya akan kedatangan guru orang Bugis tersebut. Bagaimana tidak, Habibie dan Pak JK saja cium tangan sama sosok ini. Masih dalam kondisi terkesima, beliau kembali menceritakan kepada saudara-saudaranya tentang sosok A. Baukuneng ini. Setelah penyebutan nama itu, suasana pun menjadi cair.

Pagi hari, suasana di kamar 22 boleh dibilang santai. Kami masih berleha-leha hingga pukul 10.00, dimana semua anggota sudah bersih-bersih tubuh. Saya pun memanggil taksi untuk berangkat ke rumah Prof Paisal yang terletak di Kompleks Bendungan Hilir (Benhil). kami berpenampilan rapi, Kak Gun menggunakan kemeja lengan pendek berwarna putih dan dibalut jas hitam, Eni mengenakan kebaya kuning dengan riasan wajah yang mentereng, sementara Emi berbusana batik cokelat, dan saya sendiri menggunakan kemeja lengan panjang hitam bergaris-garis putih. Kami pun melaju ke Benhil.

Pukul 12.30, kami tiba di Benhil dan disambut hangat oleh Prof Faisal dan istri dan anaknya. Kami menunggu hingga pukul 15.00, dimana semua undangan mulai datang dan berkumpul di halaman. Pada waktu itu, beragam elemen turut mendukung kak Gun, mulai dari keluarga besar Prof Paisal, adiknya Najwah Abdullah dan suaminya, Najwah dikenal sebagai mantan juara III putri Indonesia yang saat itu juara I-nya direbut oleh Aliah Rohali, dan tante-tantenya. Bu Najwah waktu itu terlihat sangat anggun, mengenakan busana serba merah. Prof Paisal juga mengajak kolega-koleganya yang ada di Jakarta seperti seorang anggota DPR, dan beberapa tokoh penting yang tidak saya ketahui jabatannya. Diundang pula seorang habib dengan busana kebesarannya, beliau pun membawa rombongan penabuh rebana yang siap menghibur tuan rumah dengan lagu-lagu islami. Di samping itu, tidak ketinggalan teman-teman Kak Gun sendiri, yang terdiri dari para wartawan detik dan teman-teman angkatan di kampus Unhas dulu.

Menjelang pemberangkatan, suasana riuh oleh bunyi gendang melagukan lirik salawat nabi. Para tamu sudah siap-siap berangkat, mobil yang disediakan sebanyak tujuh buah, dan semuanya terisi penuh.. saat itu saya menggandeng paket buah-buahan, dan naik di mobil milik Menpora bersama santri rebana sarungan itu. Mobil yang saya tumpangi berada pada urutan paling belakang, mobil-mobil ini melaju beriringan dengan kecepatan 80 km/jam. Kendaraan-kendaraan ini bebas melaju kencang lantaran di depannya sudah dikawal dua anggota Polisi lalu lintas mengenakan motor, yang memandu jalan kami agar tidak terkena macet. Pokoknya mirip dengan iringan kendaraan pejabat negara saat kunjungan dinas, padahal ini adalah rombongan para pengantar lamaran, belum pi pernikahannya. Sampai-sampai pak Polisi itu menghadang jalan Sudirman untuk membiarkan rombongan mobil kami melintasi jalan. Ini merupakan peristiwa luar biasa, karena sangat jarang pak Polisi menghadang jalur Sudirman, karena Jalur ini bukan untuk di tahan-tahan. Untung saat itu tak ada pengemudi yang protes.. hehe..

Tiba di Cempaka Putih, pasukan Rebana siap di sisi pagar masuk dengan menggemuruh gendang dan menyanyikan lagu.. suasana pun menjadi riuh, senyum-senyum tampak berkembang.. debar tegang terbang hinggap di awan-awan. Yah.. suasana menjadi cair.. kami masuk satu persatu, buah-buahan itu saya letakkan ditengah hidangan kue-kue bugis. Saya pun menyingkir hingga ke sudut, duduk di dekat penabuh rebana. Di dalam rumah, saat semua tamu sudah duduk, rebana kembali ditabuh.. rumah pun terasa bergetar, gendang memaksa orang terdiam dari kesibukan pikirannya. Setelah itu, acara pun dimulai dengan pembukaan.

Perwakilan dari pihak keluarga Aci berdiri dan membuka acara, bersopan-santun terhadap para tamu, memperkenalkan pihak keluarga perempuan mulai dari ayah, ibu dan paman-pamannya. Paman-paman Aci pun berdiri satu persatu, dengan senyum yang masih tampak tertahan. Dan tibalah giliran pihak Kak Gun menunjuk perwakilannya. Yang dipanggil adalah Puang Baukuneng. Tapi yang sigap berdiri adalah Prof Paisal, sontak mengambil mikeropon, “Puang Baukuneng lagi serak, jadi saya ditugaskan untuk mewakili beliau. Keluarga Gunawan Mashar sangat senang dengan acara ini, namun orangtua beliau tidak sempat hadir, karena alasan kesehatan. Saya merasa ingin menangis melihat acara yang sukses ini. Gunawan mengajak dua adiknya ke sini, yaitu Muhaimin, yang karena tergesa-gesa belum sempat ke salon (rambut Emi berdiri dan keriting/hadirin sontak tertawa), dan seorang lagi bernama Eni. Kami-kami ini mewakili keluarga utama Gunawan karena hubungan kami yang sudah sangat dekat,” ucap Prof Paisal. Iya pun menunjuk anggota rombongan yang hadir, seperti anggota DPR, dan pejabat-pejabat penting lainnya. Setelah itu, kedua belah pihak merundingkan kesepakatan akhir dan menandatanginya bersama. Akhirnya keputusan final telah ditentukan, tinggal menunggu waktu untuk agenda berikutnya, yaitu akad nikah beserta pestanya yang akan diselenggarakan di Makassar, 2 -3 Juli nanti.

Peristiwa ini seperti direstui oleh Tuhan. Rombongan yang diajak Prof Paisal kebanyakan adalah keluarganya yang berketurunan arab-Pare-Pare. Pada deretan ibu-ibu itu, nampak sekali wajah-wajah arab mereka, sementara keluarga Besar Aci juga mempunyai keturunan Arab, lihat saja wajah kekasih Gunawan ini yang terlihat betul hidung arabnya. Sehingga, keluarga sementara ini seperti saling nyambung dan sengaja dicocok-cocokkan. Hadir pula Eni/adik Gunawan yang duduk dekat dengan Puang Baukuneng, dari jauh, ia tampak seperti gadis arab juga.. jadi, secara psikologis, ini barangkali juga menimbulkan kebanggaan di pihak tuan rumah. Entahlah.. saya kan cuma tebak-tebak saja.. hehe

Acara bergeser ke santap penganan, saya mencicipi dua buah barongko, senang dapat menikmati kue ini di kota Jakarta.. dan senang melihat segala kekhawatiran akan pernikahan bugis akhirnya usai diujung lidah yang berasa manis barongko ini. Satu tahapan telah kak Gun lewati dengan legowo, jika tak demikian, jangan salah kalau nanti ia masuk rumahsakit lantaran stress memikirkan semua ini. Lantas, sudah jalannya seperti ini, maka jalani sajalah. Masalah itu harus dirambah dan dituntaskan, biarlah yang sudah-sudah berakhir dengan manis, seperti rasa barongko ini.

Walaupun keluarga Kak Gun tak besar, tapi ia mempunyai jaringan terhadap orang-orang besar, yang serta merta rela hadir untuk menyemangatinya. Jadi, tak rugi kalau kita punya banyak teman. Teman adalah harta yang tak ternilai.. begitulah kesimpulan saya.. tapi, hati-hati juga kalau berteman, karena banyak teman makan teman.. hehehe.. bravo kak Gun..!!

Idham Malik, PK. identitas Biro Jakarta
Kapuk, 6 April 2011, setelah diedit



0 komentar:

Gerak Cinta Gunawan, Dari ‘Manu-manu’ hingga Mappetuada’