semoga blog ini dapat menjadi media inspirasi informasi berguna dan sebagai obat kegelisahan..

Nurdinomic?

Sepanjang karir bacaan saya, terdapat dua istilah yang saya peroleh dan terdengar mirip, yang keduanya terkait dengan strategi tokoh tertentu dalam pengembangan ekonomi sebuah bangsa, yaitu Clintonomic dan Habibienomic.
Clintonomic merupakan strategi khas presiden Clinton dalam mengatasi ekonomi negeri Paman Sam, yang identik dengan pengelolaan pasar. Clinton mensiasatinya dengan melandasi ekonomi dengan prinsip kebebasan oleh Jhon Locke, sedikit mencampur pendekatan ekonomi sosial Kennet Galbraith dan sentuhan kritis pemikiran Karl Marx, untuk mendefinisikan ulang konsep ekonomi yang tidak sepenuhnya liberal dan konservatif (seperti dipraktekkan oleh Reagen), dengan pemerintah sebagai regulator.
Sedangkan Habibienomic adalah khas peta pemikiran Presiden Habibie, dengan menekankan pada strategi penguatan teknologi berbasis sumberdaya manusia untuk peningkatan nilai tambah ekonomi. Untuk menjalankan strateginya ini, Habibie mengirim banyak mahasiswa keluar negeri untuk mempelajari teknologi di negara-negara lain, dengan bersumber dari anggaran negara. Habibie juga menggunakan anggaran untuk membiayai industri berteknologi tinggi, seperti industri pesawat terbang. Namun, strategi ini menuai banyak kritik, karena dinilai dahsyat menguras anggaran negara. Meski secara konseptual menarik, namun secara kontekstual belum dapat menampung ide brilian seorang Habibie.
Apakah ada lagi nomic-nomic yang lain? tentu masih banyak, salah satunya Hillarynomic dan mungkin Obamanomic. Tapi, saat ini saya ingin mengulas strategi pengembangan ekonomi yang dijalankan oleh seorang Bupati di Sulawesi Selatan, yaitu Nurdin Abdullah, Bupati Kabupaten Bantaeng. Nurdin tidak mengurus negara-bangsa, tapi menggawangi sebuah kawasan kecil, seluas 395,8 Km2. Dari berita-berita yang saya baca, Nurdin berhasil mengangkat derajat Bantaeng, yang sebelumnya masuk dalam kategori daerah miskin, menjadi daerah yang makmur dengan pertumbuhan ekonomi 9,2 persen.
Seorang Nurdin mengawal ekonominya dengan mengembangkan pertanian-perkebunan di desa-desa. Hal tersebut ditempuh dengan penguatan kelembagaan ekonomi desa, yang dalam hal ini BUMDES (Badan Usaha Milik Desa). Setiap Bumdes disokong dana Rp. 100 juta dan difasilitasi mobil untuk operasional Bumdes. Pada desa-desa itu juga menggunakan keahliannya dalam bidang agrikultur untuk mengatasi persoalan pertanian, seperti mengembangkan benih berbasis teknologi, bekerjasama dengan Seamo Biotrop, penanaman sistem legowo - 21, untuk peningkatan kuantitas produksi produk pertanian. Di tingkat hilir, Nurdin mengembangkan industri pengolahan hasil pertanian, agar hasil kebun petani dapat diolah di daerah sendiri, hingga produk-produk olahan dapat dinikmati juga oleh masyarakat setempat. Menurut seorang kawan, Nurdin tidak memaksakan konsep ke warganya, tapi juga meminta warganya untuk ikut berkontribusi dari segi pemikiran-atau istilah kerennya bersifat partisipatoris.
Inovasi Nurdin cukup banyak, jadi jika diutarakan satu persatu bisa menyebabkan jenuh, hingga tulisan ini menjadi boyak. Misalnya, dari segi kesehatan, kenyamanan kota atau tata kota, adanya kawasan industri, dan pelayanan ekstra pada masyarakat Semua itu berbasis pengetahuan yang dalam dan kemampuan mengolah jaringan baik dalam negeri maupun luar negeri. Apa yang menyebabkan keajaiban-keajaiban itu tiba-tiba muncul di ujung jari Nurdin?
Harus kita ketahui bahwa sebelumnya Nurdin telah berkiprah di skala yang lebih kecil, yaitu sektor swasta, dia malang melintang untuk penguatan bisnisnya, yang dalam hal ini bisnis kayu dan juga perikanan. Selain itu, Nurdin juga terbiasa menjalankan sesuatu dengan perhitungan yang matang, latar belakang akademisi dengan gelar professor bidang kehutanan tentu menjadi faktor utama untuk memastikan bahwa metodelogi dalam pengambilan keputusan dapat betul-betul tepat sasaran. Dua kompetensi yang terhimpun dalam sosok Nurdin, yaitu kompetensi wirausahawan dengan kemampuan manajerial tingkat tinggi, dan kompetensi ilmuwan, dengan pendekatan saintifik-empiris-rasional membantu dalam identifikasi masalah dan identifikasi solusi. Kompetensi tambahan yang dimiliki lantaran dua basis tadi, yaitu koneksi yang kuat. Nurdin tahu cara meyakinkan rekanan untuk mewujudkan misi pembangunan daerahnya. Nurdin memanfaatkan segala hal untuk menunjukkan hasil kerjasamanya kepada publik, entah melalui momentum pertemuan tingkat daerah, PORDA, pelatihan-pelatihan, wisatawan, kunjungan-kunjungan studi banding, hingga memanfaatkan media massa untuk promosi, terlepas juga terdapat kritikan-kritikan dari media massa.
Metodelogi Nurdin untuk mendatangkan uang ke daerahnya, ternyata mulai dipelajari oleh kepala daerah atau politikus lain. Hal ini saya ketemukan sewaktu berbincang dengan warga Pinrang, yang mengatakan bupati Pinrang, Aslam Patonangi banyak belajar dari strategi Bantaeng dalam mengundang investor. Aslam memfasilitasi Sanghai Berlian untuk membangun gudang rumput laut di Pinrang, dengan metode pelayanan yang mirip dengan gaya Nurdin, seperti penguatan pada pelayanan perizinan hingga mendampingi calon investor hingga ke tingkat kementerian.
Contoh lain, waktu saya berkunjung ke Tual - Maluku Tenggara, sempat bertemu dengan Ali Mardana, anggota DPR Kota Tual asal Bulukumba. Ali mengaku banyak terinspirasi dengan gaya kepemimpinan seorang Nurdin dalam membangun daerah. Nurdin katanya punya kemampuan dalam memanfaatkan jaringan-hubungan luar negeri untuk mendatangkan manfaat bagi daerah. Dari bantuan-bantuan luar negeri terlebih dahulu, kemudian disambut dengan bantuan-bantuan dari dalam negeri. Kata Ali, kementerian berlomba-lomba untuk memasukkan program di Bantaeng. Mereka merasa yakin bahwa program akan berjalan baik jika dilakukan di Bantaeng. Sementara, kabupaten-kabupaten lain, masih terlihat kesulitan untuk mengajukan usulan pembangunan untuk daerahnya. Untuk itu, Ali mencoba memanfaatkan jaringannya, khususnya jaringan Unhas, jaringan ICMI, jaringan orang Bugis-Makassar, juga untuk pengembangan kota Tual.
Nah, dua contoh di atas secara tidak langsung menunjukkan bahwa Nurdin ternyata punya pengaruh kepada para pemimpin di daerah lainnya. Dengan dua contoh yang saya temukan ini, saya tidak tahu, apakah pola ekonomi Nurdin ini mempunyai ciri khas khusus, sehingga dia dapat menjadi model-patron? Untuk itu saya perlu mendalaminya lagi sehingga saya tidak salah mengambil kesimpulan. Saya juga belum begitu kenal beliau, pernah ketemu, itupun sekilas di ruang tunggu bandara Soekarno-Hatta tahun 2015 lalu.
Mengamati gaya kepemimpinan dan konsep pembangunan ekonomi daerah seorang Nurdin, apakah pantas kita sematkan pula istilah Nurdinomic untuk pemimpin kharismatik dan dicintai rakyatnya ini? Saya hanya mengira-ngira, pembacalah yang menentukan. 




0 komentar:

Nurdinomic?