semoga blog ini dapat menjadi media inspirasi informasi berguna dan sebagai obat kegelisahan..

Ramai-Ramai tentang Cina

Dalam novel Putri Cina, Shindunata dengan ciamik menggambarkan bagaimana etnis Cina, diperlakukan tidak adil di Nusantara. Melalui kisah Putri Cina (anak Kaisar Cina) yang tidak lain istri Brawijaya V (raja terakhir Majapahit) yang lalu diceraikan dan dikawinkan pada anaknya Arya Damar si Penguasa Palembang saat hamil 7 bulan, unsur Cina menjadi penting untuk kepentingan sesaat para penguasa, sekaligus menjadi korban juga untuk menyelamatkan kekuasaan politik.
Tersebutlah sang Putri yang berkunjung ke Jawa untuk menemui anaknya, Raden Patah yang sudah terdengar kemahsyurannya dalam menyebarkan agama Islam setelah berguru pada Sunan Ampel. Saat tiba di jantung Majapahit, kerajaan itu sudah luluh lebur akibat serangan Raden Patah, yang tak bukan putra Brawijaya sendiri. Dalam kondisi yang tak menentu itu, dia lalu mengunjungi negeri baru yang makmur, yaitu Medangkumulan. Di negeri ini, dia mendapati raja yang dahulunya bijaksana berubah menjadi lalim lantaran bisikan nafsu untuk mempertahankan kekuasaan.
Di situ pula ia menyadari bahwa setiap terjadi kerusuhan, kaumnya selalu menjadi kambing hitam. Mulanya memang kaumnya dipuja, karena keuletannya dalam urusan dagang dan akumulasi modal, namun ketika kondisi ekonomi politik balau, si Cina lah yang disalahkan, secara beramai-ramai.

                          Sumber : Istimewa

**
Di karyanya yang lain, yaitu "Kambing Hitam : Teori Rene' Girard, dijelaskan lebih detail tentang asal muasal pengkambinghitaman. Kambing Hitam hadir di ujung keresahan, saat setiap pihak mencari titik selamat, di sisi lain semua pihak punya potensi menjadi korban. Untuk itu, agar semua selamat, haruslah ada satu yang dikorbankan . Kekerasan model begini menurut Girard dapat menimbulkan penyelamatan. Termasuk selamatnya para penguasa dari kecaman rakyatnya. Atau selamatnya semua suku pribumi dalam segala bencana keruntuhan, yang disebabkan oleh kelemahan diri sendiri.
Begitu halnya dengan Cina, yang bahu membahu membangun Nusantara, dari banyak sisi, mulai dari menggiatkan perdagangan di pesisir utara Jawa, menyebarkan agama Islam hingga ke jantung kerajaan-kerajaan hindu, membantu melawan penjajah Eropa, dan memperlihatkan tabiat kerja keras saat diperbudak oleh penguasa Belanda di Deli Serdang sebagai buruh perkebunan karet dan tembakau, yang karena kemampuannya dalam mengatur keuangan, banyak yang naik kelas dan memulai usaha kecil-kecilan, dan akhirnya menjadi pengusaha kelas kakap (sumber Cina menjadi budak perkebunan tahun 30-an, dari buku Greet Mak, Abad Bapak Saya).
Kelompok yang telah menjunjung tinggi semangat asimilasi pada masa Orba ini pada akhirnya selalu dicerca dengan alasan ekslusifitasnya, dan mentalitas ekonominya (homo economicus). Dan buntutnya adalah konflik berdarah, seperti peristiwa kerusuhan 98 yang korbannya toko-toko dan gadis-gadis keturunan Cina. Krisis ekonomi, yang disebabkan oleh ketidaksanggupan pemerintah dalam menjaga ekonomi kita tetap stabil, akhirnya ditumpahkan dengan membunuh Cina.
**
Saat ini, Cina lagi yang jadi top perbincangan, di koran-koran, di warkop-warkop, dan di group group whatsapp. Lantaran pemerintah kita banyak teken kerjasama dengan Cina, mulai dari utang luar negeri, kereta cepat, hingga tenaga kerja untuk aktivitas pembangunan infrastruktur. Hal ini tentunya menimbulkan kerisauan lagi, karena Cina yang di seberang sana, masih kadang-kadang dihubungkan dengan Cina yang di dalam sini, bersama kita sebagai warga Indonesia.
Cina yang di seberang sana, yang dulu kita sama-sama dijajah oleh fasisme Jepang, dalam catatan sejarah, tidak terlalu ada sangkut pautnya dengan kemerosotan ekonomi politik kita. Memang, dahulu, Kubilai Khan, yang menguasai Dinasti Yuan yang China, pernah hampir menerkam Singosari, namun sempat ditangkis oleh Raden Wijaya. Itu pun bukan dari Cina yang asli, tapi dari Cina yang Mongol.
Cina di seberang sana, adalah kawan senasib kita dalam memperjuangkan kebebasan-emansipasi manusia semesta. Mesti dengan gaya yang berbeda. Dahulu, kita sama-sama negeri petani, Cina berjalan lambat namun pasti, kita dengan tergesa-gesa mengembangkan pertanian dalam deretan REPELITA, namun terjebak juga dalam krisis pangan, meski sejenak berbuih dalam swasembada pangan (katanya).
Poros Jakarta - Peking pernah mengalami masa bulan madunya, dengan beragam pekik revolusi. Saat mahasiswa Indonesia ramai-ramai belajar ke Cina, mengikuti sunnah Rasul. Meski, dengan cepat menjadi benci pasca 65, karena Cina bermerek merah, dan merah di Indonesia dianggap penghianat bangsa. Namun, karena Cina juga berganti baju, dengan adagium Deng Xiaoping (pemimpin Cina), terserah kucing putih atau kucing merah, yang penting dapat menangkap tikus. Akhirnya Cina dapat bekerjasama lagi dengan Indonesia. Di saat Indonesia mesra-mesranya juga dengan Jepang untuk pasar mobil dan produk teknologi Negeri Matahari.
Buntutnya, keturunan Cina di Indonesia sendiri lah yang menjadi agen utama dalam perbaikan hubungan Indonesia - Cina. Tentu melalui urusan bisnis. Cina keturunan menjadi perantara barang-barang murah dari Cina tersebar ke Indonesia, mulai dari silet, sumpit, mangkuk, peniti, jarum, handphone hingga motor Cina. Barang-barang itu demikian mudahnya diproduksi di Cina, karena surplus tenaga kerja. Cina berhasil memanfaatkan bonus demografinya.
Cina di sana bangkit, karena betul-betul memanfaatkan sumberdaya manusia dan alam mereka, dengan kekuatan politik satu atap. Mereka membangun infrastruktur dimana-mana, dengan kecepatan super, warganya juga bekerja siang malam untuk pengembangan ekonomi. Ujungnya adalah surplus dengan tingginya pertumbuhan ekonomi, Orang Kaya Baru (OKB) melunjak dimana-mana. OKB Cina pun banyak meluangkan waktunya untuk berjalan-jalan ke luar negeri, Amerika, Eropa, dan juga Indonesia. Sambil jalan-jalan, mereka pun menanamkan investasinya, yang terlanjur melimpah dan sudah mulai jenuh di negaranya.
Pada 2012, ekonomi RRC jenuh, pertumbuhan ekonomi menurun. Indonesia juga kena getahnya (berdasarkan artikel dalam : Menatap Indonesia 2016, Kompas). Indonesia yang dulunya banyak diuntungkan oleh pertumbuhan ekonomi Cina, melalui ekspor bahan mentah (raw material), akhirnya berdampak fatal terhadap eknomi kita. Harga rumput laut turun drastis, harga produk-produk pertanian yang lemparannya ke cina anjlok. Yang menderita adalah petani rumput laut, nelayan yang selama ini menikmati harga tinggi dari aktivitas ekspor ke negeri Bambu.
Akhirnya, Indonesia juga meniru Cina, dari segi semangat membangun infrastruktur, yang harapannya ke depan sangat mendukung pengembangan industri, sehingga produk ekspor ataupun untuk konsumsi industri atau pasar dalam negeri sudah dalam bentuk setengah jadi atau produk hilir. Peningkatan nilai tambah ini pastinya akan mengembalikan kondisi perekonomian kita, dengan tidak lagi bergantung pada pasar bahan mentah ke Cina, yang disinyalir hingga 80%. Mumpung, pasar dalam negeri kita mencapai 50% dan usia kita sedang mekar-mekarnya (bonus demografi).
Jokowi meminta utang ke Cina (sebenarnya untuk menutupi utang pada negara-negara barat : utang adalah pengikat komitmen kerjasama, selain untuk memperlancar pembangunan infrastruktur), mempekerjakan orang Cina, bekerjasama dalam bidang usaha transportasi dengan Cina, tidak dengan akal bolong begitu saja. Tentu ada alasan-alasan bernas, untuk menguatkan posisi strategis kita pada geopolitik ekonomi antar bangsa-bangsa. Tentu, dalam diplomasi ada deal-deal tertentu, yang menguntungkan bangsa kita. Saya percaya pada kemampuan diplomatik para diplomat-diplomat kita, termasuk yang berada di negeri Cina.
Pun pemerintah tidak menutup mata untuk menangkis atau tersedia alternatif selain Cina. Dengan membangun ekonomi Asia Tenggara, dengan skema Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), negara kita bisa sedikit menghindar dari Cina, dengan bekerjasama dengan sesama negara Asia Tenggara.
Gitu deh, akhirnya saya terprovokasi dengan isu Cina belakangan ini. Melihat Pemerintah mempekerjakan tenaga Cina sebesar 100 ribu orang, saya kira tidak masalah, dan sebanding dengan Malaysia yang mempekerjakan tenaga dari Indonesia yang jumlahnya jauh lebih banyak.
Namun, entah sampai kapan bulan madu ini bertahan... ? Dan bagaimana ujung dari bulan madu ini? Jika ekonomi kita merosot entah karena apa, apakah kelak akan menjadikan keturunan atau orang Cina kambing hitam lagi? Wallahu alam.

Tamalanrea, 12 Mei 2016




0 komentar:

Ramai-Ramai tentang Cina