semoga blog ini dapat menjadi media inspirasi informasi berguna dan sebagai obat kegelisahan..

Iwan Dento Berbagi Energi

 Saya menyambanginya pada Senin, 10 Juli 2023 lalu, di cafe rumah ke 2 Rammang-Rammang, Kabupaten Maros. Saat melangkah masuk setelah menapaki beberapa anak tangga, terlihat Kak Iwan sedang merapikan susunan batu depan bangunan yang sepertinya akan dia rancang menjadi perpustakaan. Ia tampak kaget setelah saya menyapanya, lalu dilanjutkan dengan senyum damai.


Ia meminta kami, saya, istri dan anak-anak untuk duduk di kursi halaman rumah. Belum kami duduk, berdatangan tamu yang jumlahnya belasan dari arah kanan bawah. Tamu-tamu ini sepertinya dari luar daerah, logatnya membawa angin Jakarta. Belum lagi beberapa di antaranya berpenampilan kekinian. "Ayok teman-teman, kita minum kopi santan," kata nona berkacamata.

Kami pun menyingkir ke rumah kapal, sembari mengajak Ahimsa mengamat-amati bukit-bukit kars di kejauhan sana. Lalu, keberadaan belalang sembah menjadi permainan anak-anak, membuat kami betul-betul terhibur. Belalang ini bisa manjat atau dipancing menggunakan lidi.

Sambil melayani tamu-tamu dengan kopi santan, Kak Iwan akhirnya duduk di papan depan rumah yang membujur ke luar. Melihat ke luar ada yang beda, kini sungai terhalang baruga, lalu pemandangan ke bawah masih terlihat curam dengan rimbun pepohonan liar. jalan setapak ke arah sungai tak terlihat jelas. Kini, arah ke bawah terdapat atap seng berwarna biru, ke depannya ada susunan batako-halaman parkir yang luas, tampak beberapa pantat mobil terselip di antara batang-batang serupa ketapang kencana.

"Ini ada rapat panitia peresmian Desa Wisata besok," kata Kak Iwan. Saya pun mengambil waktunya sekian menit untuk ngobrol, di antara bejibun tamu.

"Tanggal 16 nanti ada Jambore Ruang di Kebun Raya Enrekang, anak-anak muda yang berpikiran bebas berkumpul di situ untuk saling berbagi energi," ujar Kak Iwan. Ia menyebutnya itu sebagai salah satu bentuk dari konsep ekonomi tanding. Ia menyebutnya Jambore Ruang, sebagai bentuk perjuangan untuk menghidupkan ruang bersama atau kemampuan untuk mengendalikan ruang sendiri yang memiliki budaya dan sejarah.

Iwan mengidentifikasi ada sekitar 20 lembaga/komunitas/unit usaha yang berkumpul di Kebun Raya, ada dari Bone, Bulukumba, Bantaeng, Pangkep, Barru, dll. Anak-anak muda itu memiliki keunggulan masing-masing, seperti memiliki kerajinan tangan, kegiatan komunitas baca, komunitas diskusi warkop, komunitas berkebun dan bertani, dan inti dari pertemuan itu, bukan dalam rangka merencanakan sesuatu, tapi saling memperlihatkan apa yang sudah dikerjakan atau Iwan bahasakan untuk saling berbagi energi.

"Jambore ini nol rupiah, bahan baku disediakan secara gotong royong oleh masing-masing lembaga/komunitas. Misalnya beras dari Pinrang, Ikan dari Pangkep, dll. Nanti akan ada dapur umum untuk mengolah itu dikonsumsi secara bersama," tambah Iwan, yang pada 2023 ini memperoleh anugerah Kalpataru kategori perintis lingkungan.

Saya menyimaknya dengan hikmat. Serasa saya berada di satu alam berfikir. Kerja-kerja Iwan adalah salah satu strategi kunci untuk mendorong anak-anak muda untuk tinggal di kampung dan membenahi kampungnya sendiri-sendiri. Sebagaimana yang ia contohkan sendiri. Bersama orang-orang di kampung, membenahi Rammang-Rammang, hingga orang-orang Kota berdatangan membawa berkah ke Kampung. Ia mencoba untuk bilang, rebut kembali, ayo ke kampung.

Kampung-Kota ini menjadi salah satu kegelisahan utama anak muda, tersirat sewaktu diskusi buku Air Mati Perikanan pada Jumat, 7 Juli lalu. Kenapa banyak anak muda yang tidak lagi berminat menjadi petani dan petambak? Kenapa anak muda rata-rata memilih untuk keluar kampung? ini menjadi pertanyaan sentral sewaktu diskusi.

Dengan agak segan pun saya menjawab, anak muda punya pemikiran yang rasional, boleh jadi memang anak muda kurang melihat potensi atau masa depan untuk tinggal di kampung, melihat kegiatan-kegiatan pertanian dan perikanan yang semakin lama kian surut. Orang-orang tua juga berfikir untuk menyudahi penderitaan yang ia lalui, dan berharap anaknya tidak melanjutkan penderitaannya.

Pun, kita harus melawan itu, saya bilang, dengan melakukan tindak arus balik kebudayaan. Membalik paradigma yang sudah terbangun kokoh, kalau tinggal di kampung itu kuno/kampungan. Tinggal di kampung itu baik. Ada banyak uang yang dapat beredar di kampung. Orang bisa melakukan banyak hal di kampung, misalnya dengan berkebun, beternak, menjadi nelayan, menjadi pedagang antara, dengan memanfaatkan kekuatan teknologi informasi dan kekuatan jaringan.

Kita perlu melihat kembali seperti apa kurikulum pendidikan mendistorsi kita untuk menjauh dari kampung. Makanya, pendidikan-pendidikan alternatif perlu dibangun, seperti yang dilakukan oleh Toto Raharjo melalui Salam (Sekolah Alam). Sekolah ini mendidik anak-anak muda untuk berfikir kritis, objektif, memiliki analisa yang kuat untuk bertahan hidup dan mengembangkan kampung halaman. Tujuan dari pendidikan Salam yaitu melatih anak-anak muda untuk bekerja dengan memanfaatkan anugerah alam sekitarnya, agar mereka dapat hidup dan tak perlu keluar dari kampung untuk ke kota. Pendidikan yang dibangun adalah pendidikan yang mencintai alam, budaya, dan manusia di sekitar kampung sendiri.

Pun tinggal di kampung membuat kita memiliki cukup banyak keunggulan, diantaranya kekuatan fisik, yang mana kita akan banyak bekerja secara fisik, membuat tubuh kita terlatih dan bugar. Di kampung juga mendorong kita untuk menumbuhkan kesadaran sosial yang lebih tinggi, interaksi sosial kita menjadi hidup, dan kebutuhan-kebutuhan sosial kita akan terpenuhi. Kita akan sehat secara sosial.

Seperti yang diungkapkan oleh Amartya Sen, kalau kehidupan di desa harus dilihat tidak hanya dari segi ketidakadaan materi tapi juga bentuk kesejahteraan yang lain. Tubuh sehat bugar, kesehatan mental, usia yang panjang, kebebasan untuk berfikir, keterpenuhan hubungan sosial keluarga dan adat, itu aspek-aspek kesejahteraan yang luar biasa, yang kadang-kadang tidak dinilai dengan baik. Para peneliti lebih banyak melihat kepemilikan uang untuk pemenuhan kebutuhan hidup, tidak dilihat seperti apa kekuatan/kemampuan/kapabilitas yang dimiliki baik individu maupun sosial untuk memperoleh penghidupan secara luas.

Kehadiran Iwan Dento, apalagi dengan popularitasnya sebagai penerima hadiah Kalpataru, pun semoga menjadi jangkar yang kokoh untuk penguatan kemandirian gagasan dan ekonomi akar rumput. Kita merindukan kehadiran sosok yang mampu membuktikan diri untuk keluar dari jebakan kehidupan yang palsu dan mementingkan diri sendiri.

Iwan Dento membuktikan itu. Ia mengusung jargon-jargon akar rumput, seperti ekonomi tanding, kemandirian, gotong royong, hidup merdeka/berfikir merdeka, yang ia bandingkan dengan 'Sekolah tapi bodoh', 'merdeka tapi bingung', 'mendorong pertanian tapi merusak alam'.

Iwan pun mengajak saya ikut ke Enrekang, cuma saya bilang, haduh, saya sepertinya di Kampung Istri. Melihat kambing, entok, mendengar cerita-cerita kampung, sembari menyicil-nyicil laporan kegiatan yang tertinggal di Alor, yang juga kampung saya yang baru, kampung besar Pulau Alor.

Saya pun memberinya buku "Air Mati Perikanan", di dalamnya ada ulasan tentang perbincangan Saya dengan Iwan Dento sembari menyeruput kopi santan. Semoga ulasan tentang dirinya dalam buku itu, tidak berlebihan, sehingga betul-betul menjelaskan sosok Iwan beserta serabut-serabut pikiran yang kebetulan saat itu terlintas untuk didiskusikan.

Selamat Kak Iwandento atas anugerah Kalpataru-nya. Tetap rendah hati dan tidak tenggelam dalam rayuan-rayuan gelar. Tetap menjadi jangkar dan suluh bagi anak-anak muda untuk terus menghidup-hidupi energi alam, bersinergi dengan alam dan kehidupan kampung.








0 komentar:

Iwan Dento Berbagi Energi